Bab Delapan Puluh Sembilan: Aku Memang Tidak Mau Ikut Ujian

Dedaunan jatuh terbang di udara Tuan Kecil Susu 2500kata 2026-02-07 19:49:59

Akhirnya, satu setengah bulan setelah Huizhi dijual ke rumah Tuan Wang, belum sempat Yue’er pergi ke rumah perantara menanyakan kabar, justru Huizhi sendiri yang datang mencarinya.

Namun saat Huizhi masuk, Yue’er sampai tertegun. Ia sudah tak tampak seperti seorang pelayan lagi. Dari pakaian, perhiasan, hingga tatanan rambutnya, semuanya menunjukkan bahwa ia bukan seorang pelayan. Yue’er menggigil, bibirnya bergetar, tak mampu berkata-kata, hanya bisa memegang tangan Huizhi sambil menangis.

Huizhi menarik tangannya, lalu menggulung lengan baju Yue’er dan memeriksa bekas luka di lengannya. “Lukamu sudah sembuh betul?” tanyanya.

Yue’er mengangguk sambil terisak. Huizhi mengeluarkan saputangan, menghapus air mata Yue’er, lalu memeluknya erat, menenangkan, “Jangan menangis lagi. Aku baik-baik saja, hanya saja sekarang aku menjadi selir Tuan Wang. Aku juga tidak perlu bekerja berat, tak kekurangan uang, dan selalu cukup makan.”

“Tidak, kau tak boleh jadi selirnya. Aku sudah mulai mengumpulkan uang, akhir tahun ini aku pasti bisa mengumpulkan sepuluh tael untuk menebusmu keluar. Jangan jadi selirnya, kumohon!” Yue’er menangis hingga kata-katanya pun terdengar tak jelas.

Namun Huizhi tak ikut menangis. Ia menarik tangan Yue’er, meletakkannya di perutnya, lalu berbisik di telinga, “Aku sedang mengandung. Tuan Wang mengira itu anaknya.”

Yue’er langsung terpaku, memandang perut Huizhi dengan tak percaya. Khawatir Yue’er akan mengatakan sesuatu yang tak seharusnya, Huizhi menunjuk ke luar pintu, berbisik, “Aku datang bersama seorang pelayan.”

Yue’er kemudian mengambil mangkuk air, mencelupkan jarinya, lalu menulis dua huruf di atas meja: Chi Yu. Huizhi mengangguk, lalu dengan lembut mengusap tulisan itu sampai bekas airnya menghilang.

Lalu Huizhi mengeluarkan secarik uang perak, memaksakannya ke tangan Yue’er. “Ini uang yang kuambil dari Tuan Wang, katanya untuk membantumu ke ibukota mengikuti ujian. Cepatlah pergi dari sini, pergilah ke Kota Beiping. Temui Pangeran Yan, hanya dia yang bisa melindungimu sekarang.”

Yue’er mengembalikan uang itu kepada Huizhi, bangkit berdiri dengan tegas. “Aku tidak mau uang hasil kau menjual dirimu. Tunggu aku, aku pasti akan segera kembali.”

Ia berlari ke rumah pemilik kontrakan, meminta tiga batang dupa. Ia menancapkan dupa itu ke dalam mangkuk berisi beras dan menyalakannya. Dengan menggenggam tangan Huizhi, ia berkata, “Aku kini tidak punya apa-apa. Maukan kau menjadi saudari angkatku?”

Kali ini Huizhi tak mampu menahan air matanya, mengangguk sambil menangis. Mereka berdua berlutut, membungkuk tiga kali. Sejak saat itu, mereka menjadi saudari angkat, bahkan lebih dekat daripada saudara kandung.

Setelah berdiri, Huizhi kembali menyerahkan uang sepuluh tael itu, berkata, “Sekarang kita sudah jadi saudari, masihkah kau menolak bantuanku? Ambillah uang ini dan berangkatlah ke Beiping. Siapa tahu Pangeran Yan sudah berangkat ke wilayah kekuasaannya.”

Namun Yue’er tetap menolak. Ia membelai lembut perut Huizhi, lalu berbisik kepada jabang bayi, “Nak, tumbuhlah dengan baik, hormatilah ibumu. Suatu saat nanti, jika bibi sudah punya cukup uang, pasti akan membebaskan kalian berdua.”

Dengan suara lembut, Huizhi berkata, “Baiklah, kami akan menunggumu. Aku sudah memohon izin pada Tuan Wang, katanya kau harus pulang ke Beiping dulu, menziarahi makam orang tua, baru kemudian berangkat ke ibukota. Sebulan lagi keluarga Wang akan ada yang pergi ke Beiping, nanti kau ikut bersama mereka, agar aku lebih tenang.”

Huizhi mengulang dua kali kebohongan yang sudah mereka susun bersama Tuan Wang, memastikan Yue’er tidak akan keceplosan di jalan nanti. Yue’er memang tak mengambil uangnya, namun Huizhi sudah membawakan banyak bahan makanan dan kebutuhan lain, terlihat jelas betapa Tuan Wang memanjakannya.

Memang, Tuan Wang kini sudah berusia di atas lima puluh, anak bungsunya pun sudah dua belas tahun. Itu artinya selama dua belas tahun ia tidak lagi memiliki anak. Ketika usia sudah lanjut, selir barunya langsung mengandung sesaat setelah masuk ke rumah, tentu saja hal itu membuat sang tuan sangat bahagia.

Keberhasilan Huizhi menutupi segalanya di rumah Tuan Wang juga berkat pendidikan yang pernah ia terima di keluarga Lin dulu. Tentu saja, semua itu tidak mudah. Pahit getirnya hanya ia sendiri yang tahu, tak perlu diceritakan lebih lanjut.

Namun, akhirnya dalam hidup Huizhi pun hadir sebuah harapan, sebuah bukti bahwa Chi Yu pernah ada di dunia ini. Anak itu adalah penerus hidupnya, saksi cinta dan pernikahan mereka yang singkat.

Yue’er sendiri tidak benar-benar berniat pergi ke Beiping. Ia hanya ingin tetap di daerah ini, terus menyalin buku dan mengumpulkan uang, hingga suatu hari ia bisa membawa Huizhi keluar dan melarikan diri bersamanya.

Barang-barang yang dibawa Huizhi cukup untuk makan sebulan. Dari menyalin buku, Yue’er juga mendapat dua tael lebih. Ditambah sisa uang yang sebelumnya diperoleh saat Huizhi menjual dirinya, kini Yue’er sudah memiliki lima tael.

Ia ingin mengumpulkan lebih banyak uang, agar kelak bisa membantu Huizhi membesarkan anak itu, karena anak itu adalah darah daging Chi Yu. Namun Huizhi tidak mengizinkannya tinggal lebih lama di Hejian, bahkan memaksa mengantarnya naik kereta kuda menuju Beiping.

Beberapa kali Yue’er berusaha kabur kembali, tapi selalu tertangkap dan dikembalikan, karena sebelumnya Huizhi sudah memberi pesan. Katanya, adiknya ini bandel, jika tidak diantar sampai ke Beiping, entah akan lari ke mana lagi.

Kini Tuan Wang sangat memanjakan Huizhi; apa pun yang dikatakannya, pasti dituruti.

Lima hari kemudian mereka tiba di Beiping. Keluarga Tuan Wang masih berniat mengantar Yue’er sampai rumah, tapi ia membentak, “Sudah sampai Beiping, kalian silakan melakukan urusan kalian, jangan terus ikuti aku. Kalau kalian tetap membuntuti, aku akan kirim surat ke kakak, biar dia lapor ke Tuan Wang bahwa kalian menyiksaku di jalan!”

Si kecil ini memang merepotkan selama perjalanan. Mendengar ancamannya, para pengawal pun langsung pergi mengurus urusan masing-masing. Yue’er berjalan beberapa langkah, lalu menoleh sambil melotot ke arah mereka. Ia ulangi itu beberapa kali, membuat para pengawal ketakutan dan melongo. Setelah Yue’er pergi cukup jauh, salah satu pengurus yang lebih tua mengusap keringat di dahinya, “Akhirnya bocah ini pergi juga, benar-benar merepotkan.”

Sopir kereta pun mengusap keringat, “Mengawasi bocah ini, tak pernah bisa tidur tenang semalaman.”

Mereka kemudian kembali ke kereta. Salah satu pembantu mengeluh, “Baru sebentar ke kamar kecil, dia sudah lari sejauh satu li. Benar-benar menakutkan.”

Pengurus itu mengangguk. “Tak salah Tuan Wang dulu berpesan, katanya bocah ini suka berulah, harus diawasi ketat.”

Sisa uang Yue’er hanya lima tael, tentu tidak cukup untuk membeli rumah. Ia mencari rumah kontrakan tak jauh dari sebuah toko buku, lalu menyewa bangunan belakangnya.

Bangunan belakang itu ada tiga kamar. Sebenarnya satu kamar saja cukup, tapi karena ia perempuan dan tak ingin tinggal bersama orang asing, ia sewa ketiganya sekaligus. Keluarga pemilik rumah memang sering menyewakan bagian itu. Penyewa sebelumnya sudah menutup pintu penghubung ke halaman depan, jadi sekarang ia hanya masuk lewat pintu belakang. Jadilah rumah kecil yang terpisah, bahkan tersedia kakus, hanya saja tak ada sumur. Kalau butuh air, harus mengambil dari sumur di halaman depan rumah induk, atau ke sumur umum di gang.

Dengan alasan bahwa adiknya tidak mau menginap di penginapan, Huizhi membawakan satu set perlengkapan lengkap, lalu membelikan panci agar bisa memasak sendiri. Setelah membeli sedikit makanan kering, Yue’er keluar mengambil seember air, hingga kelelahan dan hampir tak sanggup berdiri. Ia merebahkan diri di dipan, tidur sejenak, lalu bangun untuk memanaskan air, membersihkan diri, kemudian mengunci pintu dan tidur nyenyak.

Keesokan harinya, ia pergi mencari toko buku. Upah di Beiping memang lebih besar daripada di Hejian, dan pekerjaannya pun lebih banyak. Yue’er membawa hasil kerjanya ke toko milik keluarga Wang. Ia meninggalkan alamatnya kepada pengurus toko, supaya disampaikan kepada Huizhi. Ke depannya, ia akan sering datang, dan jika Huizhi ingin berkirim kabar, bisa melalui toko itu.

Pengurus toko bertanya kapan ia akan berangkat ke ibukota. Yue’er mendengus, “Untuk apa ke ibukota? Disuruh ikut ujian, aku malah tidak mau.”

Pengurus itu pun bingung. Sudah sampai sejauh ini, seharusnya ia adalah calon sarjana, kenapa justru tak mau ikut ujian?

Tapi lebih baik tidak banyak ikut campur urusan si bocah ini. Pengurus itu pun mengantarnya keluar dengan hormat, kembali bermandi peluh.

Sebenarnya, bukan hanya karena ulah Yue’er saja mereka berkeringat, tapi juga karena musim panas sedang terik, berdiri di bawah matahari sebentar saja sudah bisa membuat tubuh basah kuyup.