Jilid Satu Pedang Baja dan Hati Sejati Bab Lima Belas Aku Memiliki Sebilah Pedang
Serangan Beruang Hitam menandai dimulainya pertempuran besar. Tujuh atau delapan kepala perampok, masing-masing dengan keahlian sendiri, serentak menerjang lelaki bertudung hujan yang hendak mengejar Beruang Hitam. Meskipun jumlah perampok kali ini tak banyak, mereka semua adalah prajurit tangguh yang nekat bertaruh nyawa, menyerang tanpa ampun. Senjata mereka berbeda-beda, begitu pula cara menyerang, namun satu hal yang sama: setiap jurus mengincar maut. Jika sebelumnya ia masih bisa mengandalkan kelincahan tubuhnya untuk mengelak di antara gerombolan perampok rendahan, kini setelah mereka tersingkir, geraknya terkekang, tak lagi leluasa. Setiap tebasan pedang sulit membuahkan hasil, bahaya mengancam di setiap detik.
Kepala perampok melihat situasi mulai terkendali, akhirnya bisa bernapas lega, pikirannya sedikit tenang. Sementara Si Parut belum menyerah pada niat kabur, ia terus mengawasi perubahan di medan laga—begitu situasi memburuk, ia siap melarikan diri secepat kilat.
Beberapa dentuman petir terdengar lirih, lalu hujan mulai reda. Langit yang tadinya gelap mendadak cerah, rembulan malu-malu mengintip dari sela awan, seolah ingin menyaksikan siapa yang akan menang.
Di hutan lebat dekat perkampungan, sebuah payung kertas berminyak berwarna hitam tetap terbuka, seakan tak rela setitik pun hujan membasahi pakaian orang di bawahnya.
"Tuan Muda, perlu bantuanku?" tanya seorang pelayan perempuan muda nan jelita, memandang ke tengah arena dengan payung berat di tangannya, nada suaranya sarat perhatian.
Di bawah payung itu, seorang lelaki muda berbalut jubah putih bersih, rambut panjang keperakan terikat sederhana di belakang kepala, namun tetap tampak rapi dan bebas. Kulitnya pucat, wajah tampan, tatapan bening, jari-jarinya panjang dan indah—bahkan para wanita pun akan iri melihat tangan itu.
Tuan Muda yang disebut itu tersenyum menawan, "Bantu? Untuk apa?"
"Kalau tidak dibantu, semua perampok di gunung ini akan ia tumpas habis! Bagaimana kalau nanti Sang Sesepuh bertanya?" pelayan jelita itu berseru cemas.
Tetapi Tuan Muda tetap tersenyum, "Pegang saja payungmu baik-baik. Biar saja para dungu itu mati, apa urusanku? Kalau Sang Sesepuh bertanya, suruh saja ia tanya pada bangsawan di Ibu Kota, kenapa pelihara orang-orang tak berguna seperti mereka."
Bukan hanya sepasang tuan dan pelayan di hutan yang memperhatikan pertempuran itu. Seorang lain pun turut mengamati situasi. Ia berpakaian jubah abu-abu yang sudah kuyup, namun tampak tak peduli, berdiri diam memeluk golok di dalam hutan. Usianya tak lebih dari dua puluh, wajahnya tampan, alis pedang tajam, sorot matanya dingin dan tajam seperti kilat.
Hujan memang sudah reda, namun hati si pendekar muda belum juga tenang, sebab para perampok di gunung itu belum habis. Ia mengernyit, lalu tiba-tiba wajahnya cerah, seolah baru saja mengambil keputusan—aku punya sebilah pedang untuk menuntut keadilan dunia, dan jika itu belum cukup, aku masih punya satu pedang lagi untuk mengajarkan hukum pada kalian.
Sang pendekar muda menangkis penyerangan dengan pedang, lalu menepuk kotak pedangnya dengan tangan kosong. Sebuah suara nyaring terdengar: sebilah pedang panjang melompat keluar dan mendarat di tangannya. Begitu kedua pedang tergenggam, auranya berubah drastis—ada semangat membara di matanya, seakan dunia akan ia jelajahi dengan dua pedang di tangan, debu dunia ini akan ia tapaki sepuasnya.
Sejak menggenggam dua pedang, gaya bertarungnya berubah sangat agresif dan tajam. Ia melompat ringan, melemparkan salah satu pedang lurus ke arah kepala perampok yang menggenggam pena hakim; tanpa menoleh, tubuhnya melesat bagai rajawali memburu kelinci ke kepala perampok lain.
Tusuk, tebas, sabet—setiap gerakan pedang lebih cepat dari sebelumnya, memburu kepala musuh di depan. Kepala perampok yang memegang pena hakim mengelak pedang terbang itu, mendengus meremehkan, tapi suaranya langsung terhenti. Pedang yang melesat tadi tiba-tiba berputar, membuat lengkungan sempurna, melayang kembali dan tepat menggorok lehernya.
Dalam gelap, pendekar muda kembali menusukkan pedang, terdengar denting tajam, ia menahan golok kepala perampok, lalu tanpa menoleh, tangan kosongnya menyambut pedang yang berputar kembali. Dengan gerakan cepat, ia mengubah pegangan pedang dan menebaskan dari belakang.
Kepala perampok, kendati tangguh, tak sempat menangkis dua pedang sekaligus. Melihat goloknya lengket di pedang lawan dan tak sempat menangkis serangan kedua, ia nekad melepaskan senjata dan mencoba mundur ke barisan teman, berharap bisa menyusun kekuatan. Namun, rencana seringkali dikalahkan kenyataan. Pedang sang pendekar tiba-tiba terlepas dari tangannya, melesat ke arah kepala perampok. Ia tak mungkin menghindar; secara reflek kedua tangan terangkat menahan, tapi ia bukan Buddha bertubuh baja. Hasilnya fatal: ia tewas seketika.
Semua terjadi begitu cepat, dua kepala perampok tewas sekejap, membuat para kepala lain bergidik ngeri. Kepala perampok utama hampir saja terjatuh dari kursinya, sementara Si Parut berubah pucat pasi, wajahnya tak habis-habis diliputi syok dan heran.
Pendekar muda bermodalkan dua pedang terus menyerang tanpa memberi kesempatan lawan bernapas. Dua pedangnya terkadang di tangan, kadang dilempar berputar, gerakannya aneh dan sulit ditebak. Beberapa perampok veteran pun belum pernah melihat ilmu pedang seperti ini; mereka terkagum-kagum, hanya saja taruhannya nyawa, terlalu mahal untuk dipelajari.
Beberapa saat kemudian, hanya tersisa dua orang di arena. Tangan Beruang Hitam yang menggenggam tombak mulai gemetar, punggungnya seakan digores pisau hingga ke ubun-ubun. Ia sudah tak punya keberanian bertarung, tak berani lari karena tahu ia takkan bisa lebih cepat dari pedang itu. Berbalik berarti mati.
Kepala perampok pun maju dengan golok sembilan cincin di tangan; ia tahu Beruang Hitam sudah tamat, tak berdaya, tinggal menanti nasib seperti babi di sembelih. Si Parut tak pernah diharapkan bantuannya—ia tak pernah sungguh-sungguh berpihak.
"Sebelum bertarung lagi, aku ingin tahu, sebenarnya apa dendam besar antara kita? Kenapa kau harus membantai semua saudara-saudaraku di gunung ini?" kepala perampok berdiri dengan golok di tangan, menatap pemuda yang sudah kelelahan.
Pendekar muda menginjak jasad Beruang Hitam yang besar seperti gunung, menyobek ujung pakaian Beruang Hitam untuk menyeka darah di pedangnya, lalu menatap kepala perampok, "Tak ada dendam, hanya kebetulan lewat, dan ingin menuntut balas bagi ribuan rakyat di Pegunungan Mang."
"Ah, kenapa tidak bilang dari tadi! Urusan balas dendam gampang, di gudang belakangku penuh dengan emas dan permata, ambillah sesukamu. Kalau kurang, aku masih punya simpanan pribadi, akan kuberikan semua. Bagaimana?" kepala perampok jelas tak ingin bertaruh nyawa dengan orang gila di depannya. Uang bisa dicari, nyawa sekali hilang tiada gantinya, jika bisa berdamai, buat apa mati konyol.
Pendekar muda menggeleng, "Darah harus dibalas darah, dan darah yang tumpah sekarang—belum cukup!"
"Anak muda, kekuatanmu hanya di puncak tingkat enam, aku pun sama. Satu lawan satu, siapa yang menang belum tentu. Apalagi setelah semua ini, kau masih punya tenaga? Lebih baik mundur, dunia masih luas, tawaranku tadi tetap berlaku," kepala perampok mencoba membujuk.
Namun pendekar muda tetap menggeleng, "Mundur? Jika aku mundur, hatiku takkan tenang! Jika aku mundur, keadilan takkan ada. Hanya dengan menumpas kalian, dunia bisa kembali jernih, barulah pedang ini tidak sia-sia, barulah hatiku puas!"
"Jadi tak ada lagi yang perlu dibicarakan!" kepala perampok mengibaskan goloknya, menarik napas dalam, siap bertarung mati-matian.
Di hutan, orang di bawah payung menggeleng, "Sebenarnya masih bisa bertarung, sayang sekali ia tak punya tekad untuk bertaruh nyawa, hanya berpikir menyelamatkan diri sendiri; dari semangat saja sudah kalah! Sudahlah, tak perlu menonton lagi!" Ia benar-benar berbalik meninggalkan tempat itu, tak sudi menoleh sedikit pun.
"Tuan Muda, tunggu aku! Kalau bajuku basah, celaka nanti!" pelayan cantik itu berlari mengejar, mengangkat payung berat di atas kepala.
Awan menghilang, rembulan bulat menggantung tinggi, tanpa kejutan, kepala perampok pun tumbang, kalah telak. Level enam yang ia kuasai memang nyata, sayang sekali tak tersisa semangat bertarung; bagi pendekar muda, kepiawaian goloknya cuma indah dipandang, tak ada gunanya. Ia mungkin bisa menipu perampok kampungan, tapi kalau benar-benar bertualang, sudah lama ia jadi santapan anjing.
Pendekar muda memasukkan pedang ke dalam kotaknya, memandang ke arah Si Parut yang melarikan diri, namun tak mengejar. Bukan karena ia tak mau, tapi kekuatan di tubuhnya sudah habis, satu langkah pun terasa berat. Ia tahu benar, setelah membunuh kepala perampok, tadi ia cuma pura-pura masih kuat demi menakuti kepala terakhir itu; kalau harus menghadapi satu pendekar level enam lagi, ia tak yakin bisa selamat.
Tiba-tiba dari hutan terdengar jerit ngeri, mengejutkan burung-burung dan membuat pendekar muda waspada, mendengar suara desingan halus mendekat.
Pendekar muda mengernyit, sebab sosok abu-abu melesat seperti burung elang, auranya menakutkan dan tajam, sama sekali tak disembunyikan.
Plak! Orang berjubah abu-abu itu melempar tubuh Si Parut ke lumpur, lalu menangkupkan tangan, berseru, "Keluarga Nangong—Nangong Shou! Aku punya dendam pribadi dengan Si Parut, harus kuakhiri sendiri. Para perampok yang kabur pun sudah kutuntaskan. Membunuh yang memang harus dibunuh, menyelamatkan yang layak diselamatkan—kau hidup bebas dan berani, itulah hakikat hidup seorang pria!"
Nama Nangong Shou sangat tersohor di Dinasti Daqian, salah satu dari Empat Tuan Muda Terbesar, dikenal tegas dan membenci kejahatan. Ia hanya mengenal hitam dan putih, tak ada abu-abu, begitu sederhana tapi menakutkan. Goloknya telah menumpas banyak penjahat kelas kakap; selama ada bukti, bahkan bangsawan pun berani ia penggal.
Pendekar muda tak meragukan identitasnya; tak perlu ragu, ahli yang hampir mencapai tingkat guru besar tak perlu bermain tipu. Kalau ingin, dari tadi ia bisa menebasnya dengan satu sabetan, untuk apa bertele-tele. Ia pun membalas hormat, "Sudah lama mendengar nama besarmu, hari ini bisa bertemu sungguh suatu kehormatan!"
"Aduh, apa gunanya nama besar, apa itu kehormatan? Kalau kau anggap aku saudara, panggil saja kakak!" Nangong Shou tertawa lepas.
Persahabatan antarmanusia kadang memang sesederhana itu—satu kejadian, satu kalimat, bisa menjadi sahabat seumur hidup.
Angin malam dan sisa gerimis menemani seorang pemuda berdiri sendiri menumpas perampok di gunung, sebaris kalimat "Aku punya sebilah pedang, menuntut keadilan dunia" menggambarkan watak sejati seorang pahlawan. Pahlawan menghargai pahlawan, setetes darah jadi sumpah persaudaraan. Di sebuah kedai teh kecil di ibu kota, seorang tamu bersuara lantang meneguk tehnya, menuntaskan kisah yang diceritakan. Di sudut, seorang lelaki berjubah abu-abu memeluk goloknya, tersenyum puas mendengar kisah itu.
Wang Danfeng yang sudah setengah mabuk, masih belum puas. Andai pendekar muda dalam cerita itu benar-benar ada, ia ingin sekali bertemu dan berbincang dengannya. Sebab sang pendekar telah melakukan apa yang selalu ia impikan—mengembara dengan pedang, menikmati hidup. Wang Danfeng berjalan menuju gerbang Wang, mulutnya masih bergumam, "Aku punya sebilah pedang, menegakkan keadilan dunia..."