Sepuluh tahun kutempa satu pedang, namun ujungnya belum pernah diuji. Hari ini kuperlihatkan padamu, siapa yang punya urusan tak adil? Aku memiliki sebuah pedang, yang mempertanyakan segala ketidakadi
Kabupaten Yan terletak di pedalaman pegunungan, hutan lebat dan rerumputan subur, membuat kehidupan rakyat jelata berjalan damai dan tenteram. Di kabupaten Yan hanya ada satu jalan utama yang dilapisi batu biru, di kedua sisinya berjajar rumah makan, kedai teh, pegadaian, dan berbagai usaha lainnya, para pedagang dan buruh lalu-lalang, suasananya begitu ramai.
“Nenek, tolong dua mangkuk mi soba dengan kuah domba, ya!” Seorang pemuda yang mengenakan pakaian kasar, usianya belum genap dua puluh, duduk santai di bangku kayu dan berseru nyaring. Wajahnya hitam manis, berbentuk persegi dengan alis tebal dan garis-garis tegas, meski tak tampan, namun jelas gagah dan bersih. Matanya lincah, memandang ke sana kemari, penuh semangat.
Seorang pendeta tua berwajah penuh kerutan, berjanggut kambing yang jarang, dan mengenakan jubah tambal warna biru keabu-abuan, menyipitkan mata sekecil celah, menatap pemuda itu dengan kesal, “Bukankah pagi tadi kau sudah makan? Kenapa minta makan lagi!”
Pemuda itu menarik satu bangku lagi mendekat ke kaki sang pendeta, setengah kesal setengah bercanda, “Guru, harus pakai logika dong. Anda sudah tua, makan atau tidak sama saja, tapi saya masih dalam masa pertumbuhan! Lihat langit, sebentar lagi matahari tenggelam, masa makan malam juga mau dilewati langsung tidur?”
Pendeta tua itu menarik bangku itu, “Makan ya makan, cerewet sekali kau!”
“Nak dan tuan, kalian beruntung, hari ini baru saja potong domba muda.” Nenek penjual itu membungkuk, namun tangannya yang membawa dua mangkuk besar tetap stabil, wajahnya tersenyum ram