Bab Tujuh Belas: Pria Semakin Tua Semakin Memikat
Membawa manusia melintasi jembatan masih cukup mudah, yang jadi masalah sebenarnya adalah kuda perang. Jika bukan karena mata mereka ditutup dengan kain hitam, mustahil mereka mau melangkahkan kaki ke jembatan gantung yang bergoyang-goyang itu. Tentu saja, tidak semua lima ribu ekor kuda perang harus melewati jembatan itu. Xiao Xun meninggalkan dua ribu ekor kuda terbaik di seberang, sebab penyerbuan kali ini hanya menempuh jarak dua ratus li; satu kuda untuk setiap prajurit sudah cukup.
Xiao Xun menatap raut wajah Raja Tombak Xiangxiang di sampingnya, diam-diam terhibur dalam hati, lalu berkata, "Kakak tua, tenanglah. Anda sudah sering menghadapi badai besar, mengapa sekarang jadi tidak sabaran seperti ini?"
Zhang Cheng melirik Xiao Xun sekilas, lalu mendengus, "Setiap detik yang terbuang, kemungkinan penyerbuan kita terbongkar semakin besar. Bagaimana aku bisa tidak cemas?"
Xiao Xun tersenyum tipis dan berkata, "Kakak tua, justru menurutku kita tidak perlu terlalu terburu-buru. Setelah tiga ribu Pasukan Kuda Putih menyeberang, kita bahkan masih punya waktu untuk tidur sejenak. Malam ini kita baru berangkat pun masih sempat. Berangkat terlalu dini justru akan membawa kerugian."
Zhang Cheng menoleh, menatap Xiao Xun dengan tajam, "Kenapa bisa begitu?"
Xiao Xun menepuk bahu Zhang Cheng, "Kakak tua, sepertinya pikiranmu benar-benar sedang dipengaruhi oleh bulan sabit itu. Kalau tidak, dengan kecerdasanmu, mana mungkin tak terpikirkan?"
Mata Zhang Cheng membelalak, "Kalau ada yang ingin kau katakan, katakan saja!"
Pertama, menaklukkan Kota Bazhong, peranmu sebagai Raja Tombak Xiangxiang sangatlah penting. Kedua, sebagai kepala intelijen, jika dia ingin kita merebut Bazhong, maka sebelum kita tiba di sana, jejak kita pasti tidak akan bocor. Dari ketiga informasi itu, ditambah dua hari lalu Chu Ruoyun mati-matian mempertahankan Gerbang Lanke, kita bisa menganalisa bahwa saat ini Bazhong kekurangan pasukan, tapi masih ada ahli yang menjaga.
Zhang Cheng mendengarkan dengan tenang, mulai mengangguk perlahan.
Xiao Xun melanjutkan, "Jadi, kita memang tidak boleh berangkat terlalu cepat. Jarak kita ke Bazhong hanya dua ratus li, dengan berlari kencang, dua atau tiga jam sudah sampai. Jika saat itu kau belum minum penawar racun, kekuatanmu pasti berkurang banyak. Menghadapi ahli yang berjaga di sana, kita justru akan terancam bahaya. Maka dari itu, kakak tua, sebaiknya kau tenang dan jaga kondisi diri, jangan sampai racun bulan sabit itu kambuh lebih awal, itu jauh lebih penting."
Zhang Cheng menatap Xiao Xun seolah sedang menatap makhluk aneh, "Kau ini, benar-benar baru delapan belas tahun?"
Xiao Xun mengangkat bahu, "Ada orang yang memang dewasa sebelum waktunya, ada juga yang makin tua makin pikun. Langit menciptakan manusia beraneka ragam, sedikit perbedaan kecerdasan itu wajar saja. Aduh!"
Zhang Cheng menghantam kepala Xiao Xun dengan keras, hampir saja bocah itu terjatuh dari kursi kayu. Setelah puas, barulah ia tersenyum tipis, "Kau ini, setelah dipermainkan oleh wanita iblis itu dengan waktu, meskipun sekarang sudah hampir pulih, tapi tampangnya tampak seperti pria berumur tiga puluh tahun. Kalau nanti kau bilang ke orang lain umurnu delapan belas, kurasa takkan ada yang percaya."
Xiao Xun sambil memegangi kepala yang sakit, mendadak jadi sangat khawatir mendengar ucapan Zhang Cheng, "Masa sih? Tua sekali, ya?"
Zhang Cheng mengangguk pelan, "Ya. Sepertinya ilmu yang kau pelajari memang hebat, tapi belum cukup tinggi. Hanya bisa membersihkan sisa racun waktu di tubuhmu, tapi tidak bisa memulihkan tampilan luar secara detail."
Xiao Xun meraba wajah tuanya itu, menenangkan diri, "Tiga puluh tahun ya tiga puluh tahun, pria itu justru makin tua makin menarik."
Zhang Cheng tampak sangat senang mendengar kalimat itu, tapi baru saja senyum terukir, Xiao Xun menambahkan, "Tapi kalau sudah setua Anda, ya sudah tak ada menarik-menariknya sama sekali..."
Saat itu, tiga ribu Pasukan Kuda Putih sudah hampir seluruhnya berkumpul di depan Gerbang Lanke. Mereka melihat komandan mereka dilempar begitu saja dari atas gerbang, suara keras membuat gigi siapa pun yang mendengar jadi ngilu.
Setelah melihat jelas siapa yang melempar komandan mereka, tiga ribu Pasukan Kuda Putih sepakat untuk pura-pura tidak lihat dan kembali sibuk mendirikan tenda.
"Dasar kalian, tak tahu balas budi!" Xiao Xun dengan susah payah menopang tubuhnya yang hampir remuk, sambil mengumpat.
***
"Kalian cepat pergi! Biar aku yang menahan dia!" Setelah melihat jelas siapa Wei Wangyou itu, wajah Xue Gui tiba-tiba berubah drastis.
"Saudara Xue, ada apa?" Su Ji, dengan sebilah pedang di tangan, tengah bersiap membunuh Pemimpin Puncak Wangyou yang melayang perlahan mendekat, namun terkejut mendengar ucapan Xue Gui.
"Segera lari!" Xue Gui mengirimkan pesan dengan kekuatan batin, "Aku kenal dia, itu Iblis Tombak! Iblis Tombak Wei Pohuai!"
"Apa?!" Ying Zheng bahkan tak sempat membalas dengan kekuatan batin, langsung berseru kaget, "Bagaimana mungkin dia? Bukankah dia sudah mati?"
"Lalu... bagaimana dengan Pasukan Pedang Langit?" Su Ji tampak enggan.
"Lupakan saja Pasukan Pedang Langit!" Wajah Xue Gui tampak tegang, "Juga lupakan semua pasukan luar. Kalian lekas kabur, kembali ke Lembah Cahaya Surya, suruh Kepala Lembah menyerah. Dua Guru Agung Liao Yuan Zong sudah cukup untuk memastikan kemenangan perang ini, Li Luoxi sedang menjebak kita!"
"Biar aku yang tinggal." Su Ji tiba-tiba berkata, "Saudara Xue, kau yang paling berbakat. Jika kau bisa lolos, Lembah Cahaya Surya masih akan punya dua Guru Agung!"
"Bodoh!" Mata Xue Gui memerah, "Kalian berdua sama sekali bukan tandingannya, satu jurus pun tak mampu menahan. Hanya aku yang bisa mencoba menahan sedikit. Cepat pergi!"
"Cukup!" Suara batin Wei Wangyou tiba-tiba bergema di kepala mereka bertiga, "Jangan saling berebut mati. Karena kalian sudah datang, tinggallah semuanya di sini."
Pengendalian batin?
Xue Gui yang tadinya sudah bertekad bertarung sampai mati, langsung kehilangan semangat begitu mendengar Wei Wangyou bisa sepenuhnya mengendalikan kekuatan batin mereka bertiga. Wajahnya langsung pucat pasi.
Ini jelas bukan kemampuan tahap awal atau menengah ranah Miao Jue, sebab Kepala Lembah Cahaya Surya, Di, yang sudah berada di tingkat menengah pun tak mampu melakukan itu.
"Saudara sekalian," Xue Gui menyerah pada komunikasi batin, langsung berkata, "Kalau begitu, mari kita bertarung sekuat tenaga, jangan nodai nama Lembah Cahaya Surya."
Su Ji dan Ying Zheng pun sadar akan nasib mereka, akhirnya menenangkan hati dan memusatkan seluruh kekuatan mereka pada pedang.
Mereka bertiga adalah guru besar pedang terbaik di Alam Langit Biru, khususnya Xue Gui yang hanya selangkah lagi menuju tingkat Guru Agung.
Namun, selangkah perbedaan kekuatan itu, ibarat jarak ribuan mil. Sebab Wei Pohuai kini hanya selangkah lagi menuju tingkat Dewa Musuh Langit.
Maka, meski bertiga melawan satu, hasil pertarungan tetap sudah bisa ditebak.
Tiga tuan gua Lembah Cahaya Surya gugur dalam satu jurus, tubuh mereka lenyap tanpa bekas.
Dua ribu Pasukan Pedang Langit, habis tanpa sisa.
Komandan pasukan luar Lembah Cahaya Surya, Chu Tianshu, memimpin tiga ratus ribu tentara, menyerah dan beralih kesetiaan pada Liao Yuan Zong.
...
...
***
Di perbatasan antara Wilayah Bashu dan Jiangling, malam begitu pekat, seolah tirai besi menutupi langit, tanpa setitik cahaya pun menerobos.
Malam gelap dengan angin kencang, waktu yang pas untuk membunuh. Xiao Xun menggenggam tombak dengan satu tangan, melompat ke atas kuda.
"Berangkat!" serunya, sambil mengayun tombak panjang di tangan. Tiga ribu Pasukan Kuda Putih bergerak bagaikan arus baja, turun menggelinding dari gunung.
Di bawah gunung, hamparan jalan datar sepanjang dua ratus li terbentang.
Di ujung jalan itulah terletak pusat pemerintahan luar Lembah Cahaya Surya, yaitu Bazhong.
Setelah menempuh perjalanan tiga ribu li, malam ini akan jadi perjalanan terakhir!
―――――――――――――― Pembatas ――――――――――――――
Hari ini, pada jam ketiga malam, jumlah kata akan sedikit lebih banyak dari biasanya.