Bab 44 Para Pewaris Tahta Membentuk Kelompok

Curvar-se e Render-se manifestação posterior de Chen 4408kata 2026-07-31 14:10:39

Chen Xi merasa sedikit terkejut, mengapa Liang Xin begitu tertarik dengan kisah tentang seorang putri dan pemuda bangsawan tersebut.

Ia tidak punya banyak tenaga untuk membahasnya lebih jauh dan segera mendesak Liang Xin untuk bergegas, "Keluar dari gunung ini dulu!"

Langit di Tebing Guiyou perlahan-lahan meredup, awan hitam yang berat bergelayut rendah seolah hendak menekan bumi. Angin malam bersiul di antara pegunungan, membuat pepohonan bergoyang dan mengeluarkan suara bergemerisik.

Saat berada di dalam gua, Chen Xi sudah merasakan tekanan udara yang pekat menyelimuti, menciptakan suasana yang muram dan menyesakkan. Alam seolah memberi pertanda akan adanya perubahan besar yang siap meletus kapan saja.

Tak lama kemudian, suara gemuruh petir terdengar dari kejauhan, bagaikan auman dari raksasa, membuat hati bergetar.

Tetesan air hujan mulai jatuh ke tubuhnya, dari rintikan kecil berubah menjadi badai yang lebat. Suara petir pun semakin bersahutan, kadang terdengar samar dan pecah, kadang pula menggelegar berat. Bumi bergetar mengikuti gemuruh tersebut, sementara rerumputan dan pepohonan meliuk-liuk diterpa badai.

Chen Xi dan Liang Xin berjalan tergesa-gesa menyusui jalan setapak yang berkelok-kelok di antara pegunungan. Mereka harus keluar sebelum jalur pegunungan ditutup!

Namun sepanjang perjalanan, mereka tidak melihat satu pun rekan mereka. Besar kemungkinan rombongan besar telah lebih dulu keluar dari pegunungan!

Dengan ekspresi tegas, Chen Xi memandang Liang Xin yang terengah-engah dan bermandi keringat di sampingnya, lalu berkata.

"Cuaca ini sangat buruk, kita harus segera menuju ke jalur keluar!"

Liang Xin yang penakut kini basah kuyup bagaikan ayam sayur, merasa semakin ketakutan setengah mati, khawatir mereka tidak akan bisa keluar dari Tebing Guiyou.

"Baik, baik, aku dengar darimu."

Keduanya mempercepat langkah, berjalan terburu-buru menuju ke depan. Menginjak jalan pegunungan yang tidak rata, tanah yang tadinya sudah buruk kini menjadi sangat berlumpur akibat terbasuh air hujan. Permukaan tanah menjadi sangat licin, membuat perjalanan menjadi luar biasa sulit.

Sepatu bot Chen Xi dan Liang Xin terus-menerus terperosok ke dalam lumpur tebal, memaksa mereka mengerahkan tenaga untuk melepaskannya. Air hujan telah merendam pakaian mereka, melekat erat di kulit dan membuat tubuh mereka yang sudah kelelahan terasa semakin berat.

Setiap langkah yang lambat membawa risiko tertinggal, tetapi setiap langkah yang terlalu cepat membuat mereka takut terperosok semakin dalam ke kubangan lumpur. Mereka terpaksa berjalan dengan sangat hati-hati, kadang menghindari genangan air kotor di bawah kaki, kadang melompati batu-batu lancip yang menonjol.

"Sepertinya lewat sini." Di tengah hujan deras, penglihatan Liang Xin menjadi buram karena air hujan. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dengan susah payah untuk melihat jalan di depan, rambutnya tampak kusut bagaikan jerami yang terendam air.

Chen Xi melihat Liang Xin menghentikan langkahnya, sementara di depan mereka terbentang hutan lebat yang menghalangi jalan!

Melihat kebingungan di wajah Chen Xi, Liang Xin berkata lagi, "Tadi, Pangeran Tu dan aku bersama rombongan besar menunggu di jalur ini untuk keluar dari gunung."

Chen Xi berdiri tanpa daya di tengah hujan, tubuhnya terasa seolah terendam di dalam gua es. Rasa dingin yang menusuk tulang membuatnya bergetar tanpa kendali, dan luka di jari telunjuk kanannya—yang kehilangan kuku—terasa sangat nyeri hingga menusuk hati. Ia mati-matian mengibaskan lengannya, mencoba melepaskan pakaian basah yang berat itu, tetapi air hujan terus mengguyur dari langit, membuatnya merasa tidak memiliki tempat untuk bersembunyi.

Sekelilingnya sunyi senyap tanpa ada siapa pun. Dari situ Chen Xi menyimpulkan bahwa seluruh pasukan telah mundur, dan jalur pegunungan telah ditutup!

Rasa tak berdaya seketika membuncah di dalam hatinya.

Dengan susah payah ia mengangkat kepalanya, menatap hutan lebat yang membentang di kejauhan. Hanya rasa bingung dan putus asa yang memenuhi dirinya.

Liang Xin, yang wajah dan seluruh tubuhnya dihantam keras oleh air hujan, mengusap air dari wajahnya dengan pandangan yang kabur. Ia menyadari kegelisahan Chen Xi, lalu berkata, "Yang Mulia, jalan keluar seharusnya sudah dekat. Mari kita lanjutkan perjalanan."

Chen Xi tidak menghiraukan Liang Xin yang berwajah menyedihkan itu, ia tampak terpaku. Di pegunungan liar yang dilanda badai hebat ini, bertahan seperti ini bukanlah jalan keluar!

Akhirnya Liang Xin kembali bersuara, mengalihkan topik pembicaraan dengan harapan bisa membuat Chen Xi bangkit kembali dari pertanyaannya.

"Yang Mulia, bisakah sekarang Anda menceritakan kelanjutan kisah itu kepada saya?"

Karena didesak terus oleh Liang Xin, Chen Xi perlahan menjawab, "Putri dalam cerita itu adalah Putri Negara Liang."

Ia memandang Liang Xin, yang bahunya membungkuk dengan wajah basah oleh air hujan dan dipenuhi rasa terkejut.

"Negara Liang... Putri Negara Liang? Kalau begitu, mungkinkah dia adalah bibi dari Pangeran Xie?"

Chen Xi membiarkan air hujan terus meresap dengan keras, membasahi rambut dan pakaiannya. Tatapannya begitu kosong dan penuh kekecewaan, bagaikan seorang anak yang kehilangan arah. "Tidak, kita harus merunutnya lebih jauh ke masa lalu. Putri Negara Liang yang diusir dari silsilah keluarga, Xie Wei."

"Dia juga nenek dari pihak ibuku," tambahnya pelan, seolah-olah sedang menceritakan kisah orang lain.

Di tengah hujan badai yang begitu lebat, Liang Xin yang tampak seperti kepiting rebus kuyup seketika membelalakkan matanya mendengar kebenaran itu. Ia sangat terkejut hingga tubuhnya terpaku di tempat. Ia menatap kosong ke arah Chen Xi di hadapannya dengan ekspresi tidak percaya, bibirnya sedikit terbuka tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

Liang Xin merasa pusing tujuh keliling akibat "badai" yang ia picu sendiri ini. Tanpa sengaja, ia telah mengorek rahasia terbesar Chen Xi!

Pangeran Negara Jing, yang kini menjadi pangeran kekaisaran Negara Ling, ternyata memiliki hubungan yang begitu rumit dengan Negara Liang!

Berbagai emosi bercampur aduk di dalam hatinya. Ketakutannya pada suara petir yang menggelegar kini lenyap, sebab seluruh jiwanya merasa seolah disambar petir sungguhan.

Meskipun penakut, ia sangat memahami kebenaran bahwa semakin sedikit bertanya dan berbicara, semakin aman hidup seseorang. Namun, Chen Xi justru menceritakan segalanya kepada dirinya tanpa ada yang ditutupi. Menanggung kepercayaan sebesar ini adalah sebuah tantangan besar.

Ia harus menjaga mulutnya rapat-rapat dan membawa rahasia ini hingga mati di dalam perutnya jika ingin bertahan hidup!

Bagian (1/3)

Sebelum Liang Xin sempat menenangkan hatinya, Chen Xi telah lebih dulu memulihkan eksporsinya seperti sedia kala, bertindak dengan tenang dan wajar.

"Kamu sangat terkejut, bukan? Aku hanya menceritakan hal ini kepadamu seorang diri, bahkan Pangeran Xie pun tidak mengetahui rahasia ini."

Liang Xin tentu saja bersumpah dengan gemetar, menjamin bahwa ia tidak akan pernah membocorkannya. "Aku bersumpah tidak akan pernah mengatakan sepatah kata pun! Aku bersumpah di tempat ini! Jika aku melanggar, biarkan aku disambar petir!"

"Aku mengatakannya karena aku mempercayaimu. Namun, ada satu hal yang hanya bisa kau bantu untuk menjelaskannya."

Liang Xin menatap Chen Xi, yang berdiri dengan tangan di punggung sementara sorot matanya tiba-tiba menjadi tajam. Apa pun risikonya, menyeberangi lautan api atau mendaki gunung pedang, ia Liang Xin pasti akan mempertaruhkan nyawanya!

Di dalam tenda militer Shen Mubai dari Resimen Pasukan Pejalan Kaki.

Shen Mubai mengalami luka berat namun pikirannya melayang-layang. Ia setengah berbaring di atas ranjang, sementara perhitungan dan strategi di dalam hatinya tidak sedetik pun berhenti.

He Lan, yang sebelumnya ia utus keluar, datang dengan terburu-buru dan menghadapnya dengan ekspresi penuh arti di wajahnya.

Shen Mubai tahu, segalanya telah berada di dalam genggamannya.

"Yang Mulia! Seluruh prajurit baru telah mundur dengan selamat, dan penutupan gunung telah selesai. Setelah daftar nama diperiksa, ditemukan dua orang yang hilang."

Shen Mubai, dengan rona kebahagiaan terpancar di matanya, pura-pura tidak tahu dan bertanya, "Oh? Siapa kedua orang itu?"

"Lapor Yang Mulia, mereka adalah Pangeran Liang Xin dari Negara Shun dan Pangeran Kekaisaran Xi. Saat penutupan gunung, mereka berdua tidak dapat ditemukan."

Secercah kilatan licik melintas di dasar mata Shen Mubai, namun langsung ia sembunyikan kembali.

Ia tahu musuhnya telah mati, dan posisi pewaris takhta miliknya kini telah kokoh tak tergoyahkan, tidak ada seorang pun yang bisa mengguncangnya.

Meskipun luka-lukanya belum sembuh, ia harus segera mengumpulkan kekuatannya untuk memperkokoh kedudukannya. Rencana awalnya adalah menggunakan dalih pelatihan prajurit baru, yang sebenarnya bertujuan untuk memperluas pengaruhnya atas para pangeran dari berbagai negara vasal. Namun rencana baik itu justru dikacaukan oleh Lin Yue yang tiba-tiba ikut campur.

Pasukan prajurit baru akan segera kembali ke Changye dalam beberapa hari ke depan. Ia harus memanfaatkan kesempatan terakhir ini untuk merangkul dan menyuap kelompok para pangeran demi meletakkan fondasi yang kokoh bagi masa depan kenaikannya takhta. Hanya dengan dukungan dan ketundukan dari berbagai negara vasal, Negara Ling bisa berada dalam kedamaian abadi.

"He Lan, uruslah hal ini. Malam ini juga, adakan jamuan di dalam tendaku dan undanglah para pangeran untuk hadir."

He Lan, yang cekatan sebagai pelayan pribadi Putri Mahkota, tentu sangat terampil dalam menangani tugas semacam ini. Yang ia khawatirkan hanyalah dua pangeran yang belum juga diketahui nasibnya dan tidak bisa hadir.

Melihat He Lan ragu-ragu dan tidak kunjung bergerak, Shen Mubai menegurnya dengan suara tegas.

"Kenapa belum pergi juga?!"

"Tetapi Pangeran Liang dan Pangeran Xi... nasib mereka masih belum diketahui..."

Mengapa He Lan menjadi semakin ragu-ragu akhir-akhir ini?

Shen Mubai menghentikan kata-kata yang hendak diucapkannya lebih lanjut. "Jangan banyak bicara. Laksanakan saja!"

Tanpa kehadiran Chen Xi dan Liang Xin, ini justru adalah pertolongan dari langit!

Jika hanya Chen Xi yang menemui celaka, semua pandangan penuh kecurigaan pasti akan langsung tertuju padanya dan menganggap dirinyalah yang mencelakakannya.

Namun sialnya, Liang Xin yang tidak penting itu juga gagal keluar dan ikut menjadi korban tewas bersama di pegunungan liar ini.

Dirinya, Shen Mubai, tetap bersih tanpa noda dan tidak bersalah.

Setiap tahun, jumlah orang yang tewas dalam pelatihan di pegunungan liar selalu berkisar antara lima hingga enam orang.

Tahun ini, hanya ada dua orang.

Bahkan jika Kaisar menyalahkan mereka, itu hanyalah bukti bahwa Tebing Guiyou memang sangat berbahaya, dan Chen Xi sangat malang!

Tidak lama kemudian, waktu jamuan tiba.

Di dalam tenda, cahaya lilin yang bergoyang memancarkan wewangian yang lembut. Shen Mubai duduk di kursi utama, menyapu pandangannya satu per satu ke arah tata letak tempat duduk para pangeran. Xie Mian tentu saja duduk di sisi terdekatnya, sementara Pangeran Negara Ning, Tu Ziyong, yang merupakan sosok hangat dan bisa diandalkan, juga diatur duduk di sisi lainnya. Pangeran-pangeran lainnya duduk melingkar memanjang dari sisi Xie Mian dan Tu Ziyong.

Jamuan yang berbentuk melingkar itu dipenuhi dengan berbagai hidangan lezat yang menggugah selera. Meskipun berada di kamp militer, jamuan yang diadakan atas titah Putri Mahkota tentu tidak akan kalah kualitasnya dengan jamuan di dalam istana.

Para pangeran dipandu oleh He Lan untuk menempati tempat duduk masing-masing, "Yang Mulia, silakan lewat sini."

Hidangan pertama yang disajikan adalah daging panggang bebek yang segar dan renyah. Kulitnya yang berwarna keemasan tampak sangat lezat dan renyah, bahkan hanya dengan melihatnya saja sudah membuat air liur menetes. Berbagai hidangan daging lainnya juga disajikan, kaya rasa namun tidak membuat enek. Seluruh pangeran telah menderita kesengsaraan yang luar biasa di Tebing Guiyou dan kelaparan selama beberapa hari.

Jika sebelum datang ke Resimen Pasukan Pejalan Kaki, hidangan mewah semacam ini hanyalah makanan sehari-hari bagi para pangeran.

Tetapi bagaimana bisa makanan mewah saat ini terasa begitu lezat bagaikan bantuan di tengah badai salju? Jamuan ini benar-benar datang di saat yang paling tepat!

Bagian (2/3)

Sebelas pangeran duduk dengan tegap, sementara mata mereka berbinar-binar menatap hidangan lezat, dan sesekali mereka mengobrol akrab dengan sang Putri Mahkota di kursi utama.

Pewaris takhta Negara Ling begitu menunjukkan keramahan, bagaimana mungkin para pangeran tidak menyambutnya dengan baik?

Meskipun mereka memiliki kebanggaan sebagai kaum bangsawan, masing-masing dari mereka juga merupakan orang-orang licin yang pandai menjilat dan memuji. Sifat penjilat dan sanjungan itu keluar silih berganti, membuat Shen Mubai tersenyum lebar dan merasa sangat bangga hingga beberapa kali ia hampir merasa dirinya adalah wanita jelita yang mampu meruntuhkan berbagai negara.

Pangeran Negara Song, Ji Mingchen, tentu saja menjadi yang terdepan. Dengan mulut manisnya, ia memuji Shen Mubai hingga membuat sang Putri Mahkota hampir tertawa terbahak-bahak.

"Bukannya aku ingin melebih-lebihkan! Putri Mahkota kita ini, bahkan jika ditempatkan di antara berbagai negara pun, adalah wanita tercantik yang tiada tara dan mempesona. Tapi coba pikir, bukankah ini sangat menjengkelkan?! Putri Mahkota menguasai sastra sekaligus bela diri, kesempurnaan seperti ini bahkan membuatku sebagai seorang pria merasa minder!"

Meskipun isi hati para pangeran tidak sejalan dengan perkataan mereka, semuanya tetap ikut bersikap penjilat.

"Tentu saja! Betapa mulianya Yang Mulia Putri Mahkota. Dulu, bahkan sebelum aku datang ke Negara Ling, aku sudah sangat ingin melihat langsung paras cantiknya!"

Pangeran Negara Zheng, Tu Qilin, yang selalu tampak dingin, juga ikut bersuara pada waktu yang tepat, "Sejak dahulu wanita cantik mampu memanah dan berkuda, barulah aku percaya bahwa di antara para pahlawan pun terdapat wanita."

Tu Qilin menuangkan arak hingga penuh, lalu bangkit berdiri untuk bersulang kepada Shen Mubai.

Selain Xie Mian dan Ji Mingchen, para pangeran lainnya mengangkat gelas arak mereka dan serentak berdiri, berebut untuk menyampaikan siulang kepada Putri Mahkota.

"Sambil mabuk aku menyalakan pelampu untuk mengamat pedang, dalam mimpi aku kembali mendengar tiupan sangkakala di perkemahan pasukan."

Pangeran Negara Xiang, Ke Vikai, memimpin untuk memberikan ucapan selamat, namun langsung digoda oleh Ji Mingchen yang mengetuk-ngetukkan sumpitnya ke pinggiran cangkir arak hingga berdenting nyaring.

"Menurutku, kalian semua harus tahu diri. Yang Mulia, apakah beliau ini sosok yang bisa kalian ajak bersulang sembarangan?!"

Suasana menjadi lebih santai dari biasanya, dan mereka semua berbicara dengan bebas.

Shen Mubai tahu betul bahwa Ji Mingchen sedang menggodanya, namun ia tidak bisa mundur begitu saja.

"Begini saja, tiga gelas pertama akan aku tuangkan untuk bersulang kepada kalian semua!"

Riuh rendah terdengar dari bawah, "Gelas pertama ini aku persembahkan untuk semua saudara di sini, bertemu sahabat lama terasa kurang meski seribu cangkir."

Sambil berkata demikian, Shen Mubai mendongak dan menenggaknya hingga tandas, lalu menunjukkan cangkir kosongnya kepada semua orang.

"Gelas pelindung ini, aku persembahkan untuk Ziyong. Karena telah memberikan pelindung wajah buatan ibunya kepadaku, sehingga aku terhindar dari racun kabut beracun."

Para pangeran langsung bersorak-sorai, melontarkan candaan kepada Tu Qilin. Mereka tidak menyangka Tu Qilin yang tampak jujur itu ternyata cukup cerdik dalam menyelipkan niat tersembunyi untuk mempersembahkan harta kepada Putri Mahkota.

Tu Qilin sendiri tidak menyangka Putri Mahkota akan mengingat hal tersebut, padahal sehelai pelindung wajah kecil bukanlah barang yang begitu berharga. Wajahnya merona merah karena sorakan para pangeran. Dengan perasaan malu-malu ia menggaruk telinganya dan mengangkat cangkir sebagai bentuk penghormatan balasan kepada Shen Mubai.

"Gelas ketiga ini, aku persembahkan untuk Xie Qing dan Mingchen, kalian berdua yang telah menyelamatkanku dari jurang kematian!"

Gelas ketiga Shen Mubai inilah yang sesungguhnya tulus, sementara cangkir-cangkir sebelumnya hanya sekadar penutup agar tujuannya tidak terlihat terlalu mencolok.

Sambil berbicara, Shen Mubai menunduk untuk menuangkan arak ke dalam cangkirnya sendiri hingga penuh hampir tumpah.

Ji Mingchen yang tersenyum nakal dan Xie Mian yang memancarkan senyum hangat, keduanya bangkit berdiri dan mendekati Shen Mubai. Mana mungkin ada orang yang menolak arak dari seorang Putri Mahkota?

Tepat saat tangan Shen Mubai memegang cangkir arak dan hendak membawanya ke bibir, tiba-tiba gerakannya dicegah secara mendadak!

Itu adalah Xie Mian!

"Yang Mulia sedang tidak enak badan, biarkan aku yang menghabiskan kedua gelas ini." Usai berkata demikian, Xie Mian mengambil cangkir di tangan Shen Mubai dan cangkirnya sendiri, lalu meneguk semuanya sekaligus tanpa henti.

Para pangeran yang tadinya menghentikan gerakan mereka kini mencium aroma keintiman yang samar, dan serentak bersorak meriah.

"Wah! Pangeran Xie kita benar-benar sangat menyayangi Putri Mahkota, bahkan sampai membantunya meminumkan arak! Membuat kami seolah-olah terlihat seperti sedang menindas Yang Mulia saja! Benar begitu, kan?" Ji Mingchen tidak pernah absen menggoda, dan yang lainnya pun turut mengikuti sambil bersorak gembira.

Wajah Shen Mubai terasa panas membara, semua ini gara-gara rombongan pengacau ini! Ia mengangkat pandangannya untuk menatap Xie Mian, dan mendapati bahwa tatapan Xie Mian juga sedang menatapnya lekat-lekat.

Belum sempat ia menikmati kehangatan suasana tersebut lebih lama, suara yang paling tidak ingin ia dengar justru terdengar dari arah tirai tenda.

Suaranya terdengar jelas, namun wujudnya belum nampak.

"Kakak, jamuan yang begitu meriah ini! Bagaimana bisa aku absen?"

Bagian (3/3)