Bab 9 Menegakkan Keadilan
Perhatian Batalion Kedua Belas seketika teralih dari Liang Xin yang terhuyung dan jatuh tersungkur ke tanah. Semua orang menoleh ke arah sumber suara dan mendapati bahwa itu adalah Chen Xi.
Dengan wajah tegas dan sorot mata tajam, Chen Xi melangkah dari ujung kerumunan menuju instruktur dan Liang Xin dengan langkah yang mantap. Meskipun orang-orang di kamp militer cenderung meremehkan pangeran yang berasal dari Kerajaan Jing ini, namun karena statusnya sebagai putra dari permaisuri Kerajaan Leng yang kini bertahta di istana, mereka seketika terdiam dan saling berpandangan.
Chen Xi biasanya tidak suka menonjolkan diri, namun hari ini ia merasa tidak tahan melihat sekelompok orang yang merasa superior itu menindas Liang Xin, seorang pangeran yang tidak memiliki siapa pun untuk diandalkan. Rasa keadilan dalam dirinya meluap.
Ji Mingchen yang terbiasa bersikap sombong dan arogan tidak merasa terintas sedikit pun untuk menghormati pangeran kecil tersebut, karena ia merasa bahwa Kerajaan Leng masih dikuasai oleh kaisar dan putri mahkota.
"Wah, hebat sekali ucapan Pangeran! Jika Anda bilang ingin menggantikannya, mengapa tidak Anda sendiri saja yang mengangkat beban seratus kati ini? Biarkan kami semua melihat apakah pangeran Kerajaan Leng benar-benar memiliki kekuatan sebesar itu?"
Mendengar ucapan Ji Mingchen, orang-orang yang bersembunyi di balik kerumunan mulai berbisik-bisik.
"Benar, benar sekali!"
"Memangnya dia pikir dia siapa!"
Chen Xi tidak sudi melirik orang-orang yang dianggapnya tidak berharga itu. Dengan tatapan penuh penghinaan, ia berjalan dan berdiri di samping Zhang Jun.
Instruktur Zhang Jun mendekati Chen Xi dengan suara rendah, "Yang Mulia, tidak perlu melakukan ini... Jika belum terlatih, mengangkat beban berat secara paksa pasti akan menyebabkan cedera!"
Liang Xin, yang merasa sangat berterima kasih atas bantuan Chen Xi, berusaha bangkit dengan tubuhnya yang lemah dan memberi isyarat kepada Chen Xi untuk berhenti. "Yang Mulia, dengarkan saya! Tidak sepadan."
Chen Xi tidak merasa takut. Ia merasa percaya diri karena saat berada di Kerajaan Jing, sang ibu permaisuri telah memanggil guru-guru terbaik untuk mengajarinya enam seni utama. "Tidak ada salahnya mencoba!"
Di antara enam seni—tata krama, musik, memanah, berkuda, kaligrafi, dan matematika—kemampuan yang paling lemah baginya adalah memanah dan berkuda dalam militer, namun kemampuannya tidaklah seburuk itu.
Zhang Jun menatap Chen Xi dengan pandangan yang teguh, membuatnya semakin pening. Kelompok sandera yang dibentuk oleh pihak atasan benar-benar menyulitkan para perwira lapangan yang bertanggung jawab atas pelatihan. Menghadapi sekelompok rekrutan baru yang terdiri dari berbagai pangeran dan kerabat istana, sekadar merapikan hubungan mereka saja sudah cukup membuatnya kewalahan.
"Baik! Karena Pangeran Xi sendiri yang menawarkan diri, silakan." Zhang Jun berdeham dan berkata kepada prajurit Batalion Kedua Belas lainnya, sembari menunjuk mereka yang tidak patuh, "Kalian! Kalian semua! Perhatikan baik-baik, sebentar lagi kalian sendiri yang harus melakukannya."
Bejana perunggu yang terbuat dari campuran tembaga merah dan timah itu berbentuk persegi dengan empat kaki. Berdiri di depan bejana tersebut, Chen Xi memilih bejana seberat seratus kati. Bagi seorang pemuda yang belum terlatih atau hanya memiliki sedikit latihan fisik, berhasil mengangkat bejana seberat seratus kati adalah hal yang langka.
Chen Xi mengencangkan otot perutnya, sedikit menekuk lutut ke arah luar, lalu membuka kedua tangan untuk mencengkeram sisi kiri dan kanan bejana.
"Perhatikan semua! Gerakan Yang Mulia sangat teratur. Ingat, punggung harus tetap tegak! Pusatkan seluruh kekuatan pada pusat energi (dantian)!" Zhang Jun yang merasa lega mulai menjelaskan teknik tersebut kepada para prajurit lainnya.
Bejana itu berat, Chen Xi merasa seolah-olah beban tersebut menekan bahunya dengan kuat. Mungkin karena sudah sebulan tidak berlatih, atau karena penyakit dingin yang membuatnya mengurung diri selama beberapa bulan terakhir, Chen Xi menarik napas dalam-dalam. Dari posisi terendah, ia mengangkat bejana itu dengan kuat, tubuhnya perlahan tegak mengikuti gerakan tersebut.
Prajurit lain di lapangan latihan menatap setiap gerak-gerik Chen Xi dengan sorot mata meremehkan. Mereka semua ingin melihat Chen Xi gagal dan dipermalukan. Tidak ada yang berharap ia berhasil; mereka semua menunggu ia membuat kesalahan.
Chen Xi tidak terpengaruh, ia hanya fokus memusatkan semangat dan kekuatannya.
"Perhatikan semua! Lutut harus sejajar dengan arah jari kaki, jangan menekuk ke dalam, jaga keseimbangan!" Zhang Jun menjelaskan poin-poin penting dalam latihan berdasarkan demonstrasi Chen Xi.
Detik demi detik berlalu, butiran keringat mulai muncul di dahi Chen Xi. Dalam posisi setengah jongkok, ia mendorong pinggulnya ke belakang, mengerahkan seluruh tenaga dari lengan dan pinggulnya secara bersamaan. Saat ini, ia telah mengangkat bejana itu hingga setinggi pahanya.
Ekspresi Chen Xi semakin teguh. Ia mencari cara terbaik untuk menumpu beban tersebut, menopang bejana perunggu di tangannya tanpa goyah sedikit pun. Liang Xin dan Zhang Jun adalah orang yang paling tegang di tempat itu; mereka sangat berharap Chen Xi bisa menyelesaikan angkatan tersebut. Meskipun hanya sebagai penonton, telapak tangan mereka terus berkeringat.
Chen Xi mengatur napasnya. Ia tahu benar bahwa mengangkat bejana lebih mengandalkan teknik dan daya ledak. Kini, ia hanya perlu mengangkat bejana itu ke atas bahu dan menguncinya untuk menyelesaikan gerakan tersebut.
"Menurutku, jangan memaksakan diri jika tidak mampu! Jangan berpura-pura menjadi pahlawan." Ji Mingchen bersedekap dengan wajah yang seolah menunggu pertunjukan, terus mengoceh dengan tujuan mengacaukan napas dan fokus Chen Xi.
Saat proses mengangkat bejana memasuki tahap akhir, Chen Xi dengan terampil membuka kedua sikunya ke depan, mengencangkan perut, dan mendorong bejana itu ke atas. Ia sadar bahwa di kamp militer, hanya kekuatan yang bisa memenangkan rasa hormat dan pengakuan.
"Bagus! Sungguh luar biasa!" Instruktur Zhang Jun menunjukkan ekspresi setuju dan bersiap untuk bertepuk tangan demi memuji sang pangeran.
Namun di luar dugaan semua orang, tepat saat bejana perunggu seberat seratus kati itu hendak diangkat di atas kepala, terdengar suara dentuman keras! Bejana yang dipegang Chen Xi seketika jatuh menghantam tanah.
Gerakan Chen Xi selanjutnya adalah menolong Liang Xin yang tiba-tiba jatuh pingsan kembali. Chen Xi memeriksa napasnya, lalu memeriksa kelopak matanya.
Chen Xi menatap Zhang Jun dengan wajah lelah namun sorot mata yang teguh, "Instruktur Zhang, Liang Xin harus segera dibawa ke tabib militer!"
"Cepat bawa!" Zhang Jun melambaikan tangan, memerintahkan beberapa prajurit barisan depan untuk membantu Chen Xi membawa Liang Xin pergi.
Para prajurit di bawah tidak berani berkomentar lagi. Meskipun Chen Xi tidak menyelesaikan gerakan terakhirnya, ia telah menunjukkan kekuatan dan kebaikan hati yang cukup. Kini, semua orang terpaksa menilai ulang sosok Chen Xi, yang awalnya hanya dikenal sebagai sandera dari Kerajaan Jing, kini menjadi pangeran Kerajaan Leng yang penuh kontroversi.
Zhang Jun menatap anak buahnya dengan wajah serius. "Ji Mingchen, kau yang paling banyak bicara! Sekarang giliranmu!" Suara Zhang Jun bergema di lapangan latihan, memberi isyarat agar Ji Mingchen maju.
Ji Mingchen mengangkat bahu dengan enggan. Ia sangat membenci semua jenis pelatihan militer.
Chen Xi dan yang lainnya telah membawa Liang Xin pergi dengan tergesa-gesa menuju tabib militer.
"Mulai semuanya! Jangan ada yang bermalas-malasan!" Suara sang instruktur terasa lebih dingin daripada angin musim dingin. Para prajurit menggerutu dalam hati namun tidak berani bersuara. Saat mereka mencoba mempraktikkan gerakan tadi, barulah mereka sadar betapa sulitnya hal itu. Meski menderita di bawah tekanan, mereka hanya bisa bertahan dalam diam.
Di Batalion Kelima pasukan infanteri, Shen Mubai mendengarkan demonstrasi instruktur dengan saksama, namun matanya sesekali melirik ke arah Xie Mian yang tidak jauh dari sana. Xie Mian yang mengenakan seragam militer tampak jauh lebih tampan dan gagah, memberikan kesan wibawa yang luar biasa di balik aura cendekiawannya.
Saat menoleh, Shen Mubai menyadari He Lan sedang menunggu di pinggir. Ia segera keluar dari barisan dan bertanya, "Bagaimana hasilnya?"
"Menjawab Yang Mulia, dua tim dari wakil komandan dan kepala keamanan telah menggeledah seluruh kamp secara rahasia. Tidak ditemukan hal yang mencurigakan di antara para prajurit..." Suara He Lan semakin mengecil di akhir kalimat. Ia teringat berbagai hal yang belum berhasil ia selesaikan untuk sang pangeran, sehingga ia merasa malu untuk mengatakannya.