Bab 54: Antusiasme yang Luar Biasa
"Aku tidak ikut, pergilah dan cepatlah kembali. Rumah tidak perlu dikhawatirkan, Ibu bilang beliau akan datang menemuiku dalam beberapa waktu ke depan," ucap Li Xirou dengan bulu mata yang teragkat turun, menyembunyikan tatapan matanya.
Entah apa yang sedang bergolak di dalam hatinya.
"Baiklah, aku ikuti katamu," jawab Lu Ming sambil tersenyum.
"Mari kita makan," ujar Li Xirou mengalihkan pembicaraan.
Sambil berucap demikian, ia memerintahkan para pelayan untuk menghidangkan makanan.
Lu Ming tidak berkata apa-apa lagi, lalu duduk dan mulai makan.
Belakangan ini, kepiawaian memasak Li Xirou semakin meningkat.
Lu Ming bahkan merasa agak canggung jika sehari saja tidak mencicipi masakan buatan istrinya itu.
Sementara itu, Li Xirou mulai membereskan barang-barang untuk suaminya.
Perjalanan ke kota prefektur memakan waktu beberapa hari.
Pakaian ganti dan keperluan lainnya tentu saja harus dibawa.
Malam harinya, setelah menikmati kehangatan perpisahan sementara, mereka pun jatuh tertidur pulas.
Keesokan paginya, Lu Ming melirik sejenak ke arah istrinya yang masih tertidur lelap karena kelelahan, lalu melangkah keluar kamar dengan tubuh segar bugar.
Setibanya di halaman depan, Zhang Meng sudah menanti di sana. "Tuan, semuanya sudah siap."
Setelah terobosannya dalam ranah kultivasi, pria itu kini tidak lagi terlihat renta seperti dahulu.
Mengenakan pakaian ketat berwarna hitam dengan otot-otot yang menonjol, di usianya yang telah memasuki kepala empat, meski tampak lebih sarat pengalaman hidup, ia juga memancarkan ketenangan seorang veteran.
Sebuah pedang tergantung di pinggangnya.
Saat berdiri di tempat, ia memancarkan wibawa yang cukup kuat.
"Apakah peraknya sudah dibawa?"
"Tuan, sudah diambil dari bagian keuangan, genap lima ribu liang," jawab Zhang Meng buru-buru.
"Bagus, ayo berangkat."
Sambil berucap, Lu Ming melangkah keluar.
Zhang Meng memimpin belasan pengawal yang mengekor di belakang.
Rombongan itu menunggang kuda dan langsung melaju menuju kota prefektur.
Menembus pegunungan dan melintasi perjalanan panjang.
Beberapa hari kemudian, mereka akhirnya tiba di Prefektur Hongdu.
Berdiri di luar gerbang kota, menatap benteng yang menjulang tinggi dan penuh jejak sejarah di hadapannya, Lu Ming merasakan gelombang kemelankolisan di dalam dadanya.
Selepas kekacauan tahun depan, tempat ini pastinya akan menorehkan lebih banyak kisah baru.
Hanya saja, entah apakah kota ini masih mampu bertahan.
Setelahnya, ia menuntun kudanya memasuki kota.
Saat kembali tiba di luar Toko Lingfeng, ia merasa jauh lebih tenang ketimbang kedatangannya yang lalu.
Ia memimpin orang-orangnya melangkah masuk ke dalam.
Tokonya sangat luas, namun para pembelinya pun tidak sedikit, semuanya berniat membeli senjata.
Suasana di dalam tampak riuh.
Kendati demikian, penjaga toko yang pernah ia temui sebelumnya langsung mengenali Lu Ming dalam kerumunan itu di pandangan pertama.
Pria paruh baya itu segera menyongsong dengan senyum lebar di wajahnya. "Silakan masuk, Tuan. Saya akan segera menyuruh orang menyeduhkan teh untuk Anda."
"Baiklah!" Lu Ming mengangguk dan berjalan ke bagian dalam.
Setelah duduk di ruang tamu di samping, seorang pelayan menghantarkan teh harum.
Sang penjaga toko pun mendekat dan bertanya, "Entah apa tujuan kedatangan Tuan kali ini? Barang apa yang ingin dibeli?"
"Besi Hitam, aku butuh Tiga Ratus Jin Besi Hitam," ucap Lu Ming terus terang.
Pupil mata sang penjaga toko sedikit menciut. Kendati Keluarga Baili kaya raya, transaksi bernilai puluhan ribu liang perak tetaplah sebuah pesanan besar.
"Pesanan sebesar ini di luar wewenang saya, Tuan. Mohon tunggu sebentar, saya akan segera memanggil Tuan Muda."
Lu Ming tidak keberatan dan mengangguk setuju. Penjaga toko itu pun berlari kecil keluar.
Sekitar seperempat jam kemudian, tampak seorang pria bertubuh sangat gemuk berlari masuk. Baili Fei saat ini jauh lebih gempal dibandingkan saat terakhir kali mereka berjumpa. "Haha, kunjungan Saudara Lu benar-benar membuatku merasa kurang menyambut dengan layak.
Aku tadi baru saja melihat-lihat di toko lain, jadi agak terlambat melayani, mohon dimaafkan."
Usai berkata demikian, ia maju dan langsung menggenggam erat tangan Lu Ming.
Sesaat kemudian, Lu Ming merasakan sensasi berminyak, lalu melepaskan genggaman itu tanpa kentara.
Memandang wajah gemuk Baili Fei, ia bertanya, "Tuan Muda Baili, apakah persediaan Tiga Ratus Jin Besi Hitam itu bisa disiapkan sekarang?"
"Bisa, tentu saja bisa! Tadi sebelum ke sini aku sudah mengeceknya, stok di gudang masih ada tiga ratus lima puluh jin. Aku akan berikan semuanya untuk Tuan sesuai harga tiga ratus jin saja," kata Baili Fei sambil tertawa riang.
"Tuan Muda Baili, mana boleh begitu!" Memberikan cuma-cuma lima puluh jin bukanlah angka yang kecil.
"Apa yang Tuan katakan ini! Jika Anda menganggapku sebagai kawan, terimalah Besi Hitam itu. Namun jika tidak menganggapku kawan, maka adik ini akan mengantarkannya sendiri ke kediaman Anda lain hari," ujar Baili Fei pura-pura bersedih.
"Baiklah, aku akui Tuan Muda Baili sebagai kawanku."
Lu Ming mengangguk.
Meskipun ia tidak tahu mengapa Baili Fei begitu antusias, tetapi karena perkataan telah sampai pada titik ini, menolaknya pun terasa tidak pantas.
"Haha, begitulah seharusnya! Mulai sekarang, apa pun yang Saudara butuhkan, cukup kirimkan pesan singkat saja. Selama aku mampu menyediakannya, aku pasti tidak akan menolak," ucap Baili Fei tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu ke depannya aku tidak akan sungkan lagi. Mengenai Besi Hitam kali ini, biarkan dikirimkan ke Kabupaten Fenglei seperti sebelumnya, lalu aku akan membayar peraknya, bagaimana?"
"Tentu saja boleh, barang-barang akan dimuat ke gereta dan diberangkatkan hari ini juga," jawab Baili Fei semringah.
"Kalau begitu sudah diputuskan, aku pamit undur diri dulu." Lu Ming merasa agak canggung menghadapi keramahan tuan muda keluarga bangsawan ini.
"Saudara, aku sudah menyiapkan arak pilihan dan memesan jamuan makan. Tidakkah kita makan bersama dulu sebelum pergi?"
Baili Fei menawarkan.
Kali ini, Lu Ming merasa sulit untuk menolak. Lagi pula, orang itu baru datang sudah memberikan barang dan menawarkan persahabatan, jika makan sepiring nasi saja enggan, itu akan sangat tidak menghargai.
Ia hanya bisa mengangguk dan berkata, "Baiklah!"
Ia juga ingin melihat bumbu apa yang sebenarnya sedang disembunyikan oleh Baili Fei di balik semua ini.
"Baguslah! Menara Yunshui telah kusewa seluruhnya, mari kita berangkat sekarang." Lu Ming dalam hati mengagumi kemurahan hati Baili Fei. Menara Yunshui adalah rumah pelacuran dan hiburan terbaik di Prefektur Hongdu, tidak hanya menyajikan makanan lezat, tetapi juga wanita-wanita tercantik.
Tempat itu adalah pusat berkumpulnya orang-orang kaya di seluruh Prefektur Hongdu.
Pria itu bahkan menyewa seluruh bangunan Menara Yunshui hanya untuk dirinya.
Inilah ketangguhan finansial sebuah keluarga bangsawan besar, jamuan makan tunggal ini saja diperkirakan cukup untuk memperlengkapi ratusan prajurit.
Namun, keterkejutannya itu tidak ia tampakkan di wajahnya.
Setelah mengangguk, ia mengikuti langkah Baili Fei dan membawa para pengawalnya keluar.
Menara Yunshui dibangun bersandar pada aliran sungai, terletak di bagian selatan Kota Hongdu.
Bangunan itu memiliki tiga lantai, benderang oleh cahaya lampu sepanjang hari, dan saat ini hari mulai senja.
Begitu melangkah masuk ke dalam, Lu Ming sedikit tertegun oleh kemewahan di tempat itu.
Benang emas melilit tirai jendela, sementara pilar-pilar batu dibungkus dengan sabuk giok.
Wangi harum menerpa wajah, berpadu dengan pemandangan wanita-wanita berbusana tipis yang memanjakan mata.
Suara tawa renyah berderai membuat siapa pun takjub.
"Saudara Lu, mari kita ke lantai tiga."
Sambil berbicara, Baili Fei menarik tangan Lu Ming menaiki tangga.
Tanpa perintah darinya, para wanita hanya mengikuti dengan hati-hati di belakang, meskipun ada hasrat terpancar di mata mereka, tak seorang pun berani mendekat secara langsung.
Sesampainya di lantai tiga, Lu Ming dan Baili Fei duduk di tempat masing-masing.
Seiring lambaian tangan tuan rumah, para wanita itu pun berhamburan mendekat.
Sementara itu, di luar Menara Yunshui, Zhang Ming berlari tergopoh-gopoh. Beberapa hari lalu melalui beberapa rekan, ia dengan susah payah berhasil mendekati Baili Fei, berniat membeli lebih banyak pasokan biji-bijian melalui jalur keluarga bangsawan tersebut.
Hari ini, saat datang mencari sang tuan muda dan mendengar bahwa Baili Fei sedang menjamu seorang tamu agung di Menara Yunshui, ia berniat mencoba peruntungannya.
Namun, baru saja tiba di depan pintu, ia dicegah oleh para pengawal yang berjaga di luar.
"Saudara sekalian, aku Zhang Ming dari Keluarga Li. Mohon bantuannya untuk menyampaikan pesan bahwa aku ingin menemui Tuan Muda Baili, apakah berkenan?" Sambil berkata demikian, ia menyelipkan sekeping perak.
Pengawal itu menimbang-nimbang perak di tangannya, lalu menatapnya dengan dingin dan berkata, "Tunggu sebentar."
Baru setelah itu ia berbalik dengan langkah lambat menaiki tangga.
Keluarga Li mungkin dianggap lumayan di Prefektur Hongdu, tetapi di hadapan tokoh-tokoh besar sesungguhnya, mereka bukanlah apa-apa.
Di saat yang sama, Lu Ming sedang minum ditemani oleh Baili Fei yang begitu penuh perhatian.
Tepat pada saat itu, seorang pengawal berjalan mendekat dan berbisik pelan di telinga sang tuan muda.
Baili Fei mengerutkan kening, mengangkat cawan araknya untuk berdenting dengan cawan Lu Ming seraya berkata, "Saudara Lu Ming, ada seseorang bernama Zhang Ming ingin menemuiku, apakah kau mengenalnya?"
Lu Ming mengangkat alisnya. Orang ini jelas sedang menyindir; jika ia mengaku kenal, maka Zhang Ming akan dipersilakan naik.
Sebaliknya, jika ia mengaku tidak kenal, orang itu kemungkinan besar akan diusir.
Rupanya, Baili Fei sudah mengetahui hubungannya dengan Keluarga Li.