155 Terluka Parah (Bagian Pertama)
Melihat ekspresi Mo Xu, Su Qing mendesah dalam hati. Orang yang terikat oleh norma dan etika duniawi mungkin memang tidak bisa menerima sikapnya yang blak-blakan.
Suasana di dalam gua kembali sunyi. Su Qing merasa kelopak matanya begitu berat, tetapi ia tetap berusaha menahannya.
Akhirnya, saat ia hampir menyerah pada rasa kantuknya, Mo Xu angkat bicara, "Aku akan bertanggung jawab!"
Sudut bibir Su Qing berkedut. Apa yang baru saja didengarnya? Bertanggung jawab? Bertanggung jawab untuk apa?
"Apa? Mo Xu, kurasa lukaku mungkin terlalu parah sampai-sampai aku tidak dengar dengan jelas apa yang kaukatakan."
Mo Xu membusungkan dadanya, nada suaranya terdengar tegas, "Kukatakan, meskipun tadi itu kulakukan demi membalut lukamu, aku tetap akan bertanggung jawab!"
Kali ini Su Qing mendengar dengan jelas. Ia menolehkan kepalanya. Meskipun ia memiliki perasaan yang sedikit berbeda terhadap Mo Xu, ia tahu betul bahwa perasaannya belum sampai pada tahap menyukai pria itu secara romantis. Ia hanya menyukai sifat Mo Xu yang hangat dan menyenangkan, yang memberikan rasa nyaman dan damai.
Namun, ini bukanlah rasa suka antara pria dan wanita!
"Mo Xu, apakah kau merasa menyukai diriku? Kau tahu sendiri, aku tidak mempermasalahkan hal-hal semacam ini, jadi kau tidak perlu merasa harus bertanggung jawab karenanya. Kupikir kau hanya berniat menyelamatkanku saja. Siapa pun tidak akan sanggup melihat rekan seperjuangannya mati di depan mata hanya karena tidak mendapatkan pengobatan tepat waktu, bukan? Kau tidak perlu merasa memiliki tanggung jawab apa pun karena alasan ini, dan aku justru tidak ingin kehidupan kita yang semula menjadi kacau karena hal seperti ini."
Mo Xu masih ingin mengatakan sesuatu ketika Mu Yuchen kembali, "Sudah tidak ada orang dari Bei Qi di luar. Kita kembali sekarang?"
Su Qing bangkit berdiri, langkah kakinya terhuyung dan hampir terjatuh. Mo Xu tidak bisa membantunya karena masih duduk di lantai, sementara Mu Yuchen mengulurkan tangan untuk menopangnya. Namun, pemuda itu langsung menarik tangannya kembali seolah tersengat aliran listrik. Untung saja Su Qing sudah bersiap-siap, kalau tidak, ia pasti sudah tersungkur ke tanah.
"Kenapa hari ini aku begitu sial? Pertama dilempar begitu saja oleh Jenderal Duan seperti sampah, lalu Tuan Muda Mu juga berbuat begini...?"
"Jenderal Duan?"
Napas Su Qing tertahan sejenak. "Hari ini Jenderal Duanlah yang menyelamatkanku... dan kalian. Dia sebenarnya sengaja memanggil semua orang Bei Qi untuk kembali."
Keduanya merasa bingung. Bagaimana Su Qing bisa tahu? Lagi pula, untuk alasan apa Jenderal Duan menyelamatkan mereka? Padahal status mereka adalah musuh!
Napas Su Qing menjadi sedikit tersengat, "Bisakah kita kembali dulu? Nanti akan aku jelaskan..."
Ia melangkah dengan guyuran beban yang berat di kakinya. Satu, dua, tiga langkah...
Bruuk.
Ia jatuh ke tanah dan pingsan. Mo Xu melangkah maju, menatap wajah wanita itu sementara kata-kata Su Qing tadi terngiang di benaknya...
Su Qing, apakah kau benar-benar tidak ingin mengacaukan kehidupan kita yang semula? Tetapi, Su Qing... tahukah kau betapa sulitnya hal itu untuk diwujudkan? Setelah mengetahui siapa dirimu sebenarnya, apakah kau pikir aku bisa mempertahankan kehidupan yang seperti semula?
Kedua pemuda itu menggendong Su Qing di punggung mereka dan berjalan menuju Sungai Perbatasan. Tiba-tiba terdengar teriakan dari kejauhan, "Berhenti, siapa kalian?!"
Gawat. Ternyata mereka adalah prajurit Bei Qi!
Mo Xu melirik ke arah Mu Yuchen, yang juga tampak kebingungan. Bukankah seharusnya para prajurit Bei Qi sudah ditarik mundur? Bagaimana mungkin masih ada yang tertinggal di sini?
Dari suara langkah kaki yang terdengar, jumlah mereka sekitar belasan orang, tidak terlalu banyak. Namun, saat ini Mo Xu tidak bisa bergerak bebas karena harus melindungi Su Qing. Jika Mu Yuchen harus menghadapi belasan orang seorang diri sambil melindungi Su Qing dan Mo Xu, ia tidak akan sanggup!
Keduanya saling bertukar pandang. Saat ini tidak ada pilihan lain selain bertarung hingga titik darah penghabisan. Su Qing sama sekali tidak boleh jatuh ke tangan Bei Qi, terlebih lagi setelah mereka berdua mengetahui identitas aslinya, semakin mustahil bagi mereka untuk membiarkan wanita itu jatuh ke tangan musuh. Mu Yuchen berkata, "Kau pergi duluan, aku akan menahan mereka sebisa mungkin."
Mo Xu tidak membuang waktu untuk sungkan. Ia menggendong Su Qing di punggungnya dan berlari kencang menuju arah Sungai Perbatasan.
Para prajurit Bei Qi melihat hal itu dan mata mereka langsung berbinar penuh kemenangan, "Itu orang yang kita cari! Tangkap mereka!"
Belasan prajurit itu langsung menyerbu secara bersamaan. Mu Yuchen hanya mampu menahan lima orang, sementara sisanya berhasil melewati pemuda itu dan mengejar Mo Xu.
Melihat Sungai Perbatasan sudah berada tepat di depan mata, Mo Xu berpikir dalam hati, apakah pada akhirnya ia benar-benar tidak mampu membawa Su Qing kembali dengan selamat?
Benar, bahkan jika mereka berhasil melewati Sungai Perbatasan, masih ada jarak yang cukup jauh sebelum mencapai markas militer. Jika orang-orang Bei Qi terus mengejar tanpa henti, ia bahkan mungkin tidak akan bisa menyeberangi sungai tersebut...
Tiba-tiba, suara meringkik seekor kuda terdengar. Wajah Mo Xu seketika berseri-seri karena gembira. Itu si Lei!
Ia mendongak menatap ke arah Sungai Perbatasan, dan benar saja, ia melihat seekor kuda berbulu merah darah berlari kencang ke arah mereka. Mo Xu membaringkan Su Qing bersandar pada sebatang pohon, lalu berbalik untuk menahan para pengejar yang datang.
Si Lei berlari dengan sangat cepat. Tepat ketika bilah pedang seorang prajurit hendak menebas Su Qing, kuda itu sudah tiba di tempat kejadian dan langsung menandjang pria tersebut hingga terpental jauh. Kuda itu menundukkan kepalanya, menempelkan wajah panjangnya ke pipi Su Qing, namun wanita itu tetap tidak menunjukkan reaksi apa pun.
Si Lei menggigit pakaian Su Qing, mengangkatnya ke atas punggung, lalu berbalik dan berlari kencang menuju markas militer. Mo Xu dan Mu Yuchen, yang melihat Su Qing telah dibawa pergi oleh si Lei, akhirnya bisa bertarung tanpa beban. Mereka dengan cepat menghabisi para prajurit musuh dan menyusul kembali ke markas.
Xiao Hansu berjalan mondar-mandir di luar tenda dengan perasaan cemas. Mo Xu dan Mu Yuchen, yang telah berganti pakaian bersih, segera menghampirinya. Xiao Hansu bertanya, "Di mana kalian menemukan Su Qing? Bagaimana dia bisa lolos dari Jenderal Duan?"
Keduanya tertegun dan tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya mereka sendiri pun tidak begitu jelas mengenai hal itu. Namun, dari perkataan Su Qing sebelumnya, tampaknya Jenderal Duan sengaja melepaskannya dan bahkan dengan sengaja memanggil mundur seluruh prajurit. Mengenai bagaimana kelompok prajurit kedua bisa muncul belakangan, mereka sama sekali tidak mengetahuinya.
Melihat keduanya terdiam, Xiao Hansu mengira mereka juga tidak tahu apa-apa, sehingga ia tidak berpikir terlalu panjang. Pikirannya saat ini sangat kacau. Ia merasa seolah-olah hatinya dikelilingi oleh lapisan kabut tebal yang membuatnya tidak bisa menemukan jalan keluar. Ia sangat membenci perasaan semacam ini.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Liu Yuntian akhirnya keluar dari tenda. Wajahnya tampak sedikit letih. Di belakangnya mengikuti Ye Lan, yang kedua matanya tampak merah bengkak karena baru saja menangis. Ketiga orang itu dengan cemas menyambutnya, "Tuan Liu..."
Liu Yuntian menggelengkan kepalanya pelan, "Untuk saat ini nyawanya sudah selamat, hanya saja... Nona harus beristirahat total. Karena itu, ia harus meninggalkan medan perang dan pulang ke kediamannya. Jika tidak, dengan wataknya itu, aku tidak bisa menjamin apakah aku masih bisa menyelamatkannya lain kali."
Mengenai sosok Su Qing, jika dikatakan ia egois, ia justru memiliki belas kasih yang luas. Jika dikatakan ia dingin dan kejam, ia sebenarnya sangat baik hati. Namun, jika dibalik, meskipun ia memiliki welas asih, ia sangat melindungi orang-orang terdekatnya. Apa pun yang dilakukan orang lain tidaklah masalah, tetapi orang-orang yang ia pedulikan tidak boleh mengalami sedikit pun celaka. Dan meskipun ia berhati baik, kebaikan itu hanya berupa secercah rasa kasihan; ia tidak akan pernah ragu atau melunak hanya karena rasa iba.
Baik Mo Xu maupun Mu Yuchen sama-sama merasakan secercah kekecewaan, sementara Xiao Hansu tetap memasang ekspresi biasa. Mungkin ini memang jalan yang terbaik. Orang-orang Bei Qi telah berniat menangkap Su Qing, jika ada yang pertama pasti akan ada yang kedua. Saat ini kondisi tubuhnya sedang terluka parah, kembali ke kediaman Marquis adalah keputusan paling tepat.
"Apakah dia akan setuju?"
Liu Yuntian mendengus, "Tentu saja dia tidak akan setuju. Aku sudah menyuruh Shuifeng kembali ke kediaman Marquis untuk menyampaikan kabar ini. Nanti Marquis akan menggunakan alasan bahwa kondisi Su Qing parah dan tidak ingin menjadi beban di medan perang, lalu memohon kepada Kaisar agar memanggilnya pulang. Dengan begitu, mau tidak mau dia harus kembali."
Xiao Hansu tertegun sejenak. Apakah Su Qing benar-benar akan pulang dengan cara seperti itu? Bukankah ia akan menolak titah kekaisaran? Atau bukankah ia akan mengajukan permohonan lain kepada Kaisar? Mengingat perhatian yang diberikan oleh Kaisar Ren kepada Su Qingluo, sebagian besar permohonan wanita itu pasti akan dikabulkan.