Bagian Pertama Bab Lima Puluh Dua: Serangan di Sungai Liu
Kisah Langit Melanglang tanpa Hambatan
Babak kedua hari ini telah tiba.
Penanganan yang dilakukan oleh sang kaisar sangatlah sederhana, cepat, namun juga amat cerdik.
Ia memerintahkan Yang Kongqun untuk membawa pulang cucunya dan mendidiknya dengan baik. Bukannya menjatuhkan hukuman, sang kaisar malah memberikan hadiah sepuluh keping emas. Kepada Yang Kongqun, ia juga mengucapkan kata-kata yang menenangkan dengan ramah dan penuh senyum. “Semua ini hanyalah tingkah anak kecil, apa-apaan bicara memberontak segala, hahaha, bukankah ini hanya bahan tertawaan saja? Kalian berdua orang tua datang ke sini hanya untuk mengerjai aku, ya?” Begitulah kata-kata asli sang kaisar. Seolah-olah ia ingin menyampaikan bahwa perkara sekecil ini tak perlu sampai ke hadapannya. Ia tampak sama sekali tak memperdulikannya.
Ia memerintahkan Ling Zhan untuk membawa pulang cucunya dan membimbingnya dengan baik. Ia juga memberikan sepuluh keping emas, ditambah sebuah tongkat giok putih sebagai penenang hati bagi sang anak. Pada akhirnya, dengan seolah tanpa sengaja, ia berkata, “Oh iya, selir kesayanganku bilang padaku, sudah lama ia tak pulang ke rumah, ingin kembali menjenguk keluarga.”
Selain itu, tak ada lagi tindakan apa pun.
Kedua lelaki tua itu kemudian membawa cucu masing-masing keluar dari istana. Salah satunya tampak muram dengan sorot mata tajam, seolah hendak memangsa manusia. Sementara yang satu lagi tersenyum ceria penuh kebahagiaan, bagaikan musang yang baru saja menangkap induk ayam.
Meski sang kaisar seolah tak berkata apa pun, sikapnya yang menenangkan Yang Kongqun sudah menunjukkan ke mana ia berpihak. Dalam seluruh kejadian ini, yang jelas-jelas dirugikan adalah Ling Tian; keluarga Ling-lah yang sebenarnya patut dihibur oleh sang kaisar. Namun, sang kaisar justru tak berkata sepatah pun pada mereka, malah menenangkan pihak yang telah memaki dirinya. Di sinilah letak keanehannya.
Terutama bagi Yang Kongqun, hatinya bagai tumpah ruah rasa: asam, manis, pahit, pedas, asin, semuanya bercampur aduk. Dengan kecerdikannya sebagai rubah tua, mana mungkin ia tak menyadari ada yang janggal? Ia terus berpikir: menghiburku, tapi menghadiahkan giok putih kepada mereka. Giok putih… apa maksudnya? Jelas itu pertanda bahwa apa yang dilakukan keluarga Ling sangat berkenan di hati sang kaisar. Artinya, keluarga Yang telah melakukan sesuatu yang tak sesuai kehendaknya? Semakin dipikirkan, semakin tidak enak rasanya. Putri keluarga Ling ingin pulang menjenguk keluarga, lalu mengapa harus disampaikan di depanku?
Saat hendak keluar dari gerbang istana, Yang Wei menatap Ling Tian dengan penuh kebencian dari balik sepasang matanya yang sipit. Namun Ling Tian sama sekali tidak memperdulikannya. Dalam hati ia berkata: Nak, kau masih terlalu hijau. Ingin melawan aku? Kau belum cukup layak.
Kakek Ling keluar dari gerbang istana dengan wajah berseri-seri, mengangkat Ling Tian ke atas pundaknya sambil memanggilnya dengan penuh kasih sayang, seolah telah melupakan sepenuhnya peristiwa pertunangan yang gagal dengan keluarga Xiao yang sebelumnya membuatnya sangat kecewa...
Atas keinginan keras Ling Tian, ia tetap mengikuti Guru Besar Qin keluar kota untuk mengunjungi sahabat. Hanya saja, waktunya mundur setengah hari dari rencana semula.
Ling Tian duduk di dalam kereta dengan wajah berseri-seri, melihat ekspresi penuh warna di wajah Guru Besar Qin, dalam hati ia menahan tawa penuh kepuasan.
Saat ini, Guru Besar Qin benar-benar merasa tertekan! Segala sesuatu yang terjadi adalah ulah Ling Tian, dan upaya memaksimalkan keuntungan situasi pun berasal dari idenya. Ia sendiri sejak awal hanya duduk di dalam kereta, tidak melakukan apa-apa. Tapi pada akhirnya, ia malah dianggap sebagai pahlawan terbesar dalam kejadian ini! Tuan Besar Ling Zhan hampir saja memperlakukannya bak dewa...
Para penasihat yang biasanya memandang rendah, kini malah menghormatinya sebagai guru, sangat sopan; menganggapnya sebagai lambang kecerdikan dan perhitungan...
Andai saja ia memang punya andil, itu masih mendingan. Tapi kali ini ia mendapat kehormatan tanpa berbuat apa-apa. Dengan karakter Guru Besar Qin yang lurus dan tegas, bukannya merasa bangga, ia justru seperti sedang disiksa! Dalam waktu singkat, ia sudah merasa kelelahan batin...
Dengan tergesa-gesa ia berpamitan, hampir-hampir melarikan diri dari kediaman keluarga Ling, baru sempat menyeka keringat dingin di dahinya. Saat melihat biang kerok utama masih tertawa puas, seketika amarahnya memuncak, tanpa mempedulikan lagi soal takdir langit, ia langsung menarik si bocah, hendak menampar pantatnya.
Melihat situasi tak menguntungkan, Ling Tian segera bersikap serius, berkata dengan nada ragu, “Ada yang aneh dalam kejadian hari ini. Ada satu hal yang tak bisa kupahami.” Sambil menggaruk kepala, ia berpura-pura bingung.
Tangan Guru Besar Qin yang hendak menampar pun terhenti, tanpa sadar bertanya, “Apa yang membuatmu bingung?” Dalam hati ia heran, apa pula yang tidak bisa dipahami oleh bocah cerdik ini? Pasti sesuatu yang luar biasa. Ia sama sekali tak sadar bahwa amarahnya sudah teralihkan oleh satu kalimat Ling Tian...
Dalam hati Ling Tian menahan tawa, perlahan turun dari pangkuan Guru Besar Qin, berkata, “Semakin kupikirkan, semakin terasa aneh. Hari ini aku keluar kota, sejujurnya ini pertama kali sejak kecil, tapi anehnya, justru langsung bertemu putra sulung keluarga Yang yang memperebutkan jalan denganku. Bukankah itu terlalu kebetulan?”
Guru Besar Qin tertegun, tanpa sadar jadi waspada, “Maksudmu, ada orang dalam kediaman yang membocorkan kabar? Kalau begitu, masalah ini sangatlah serius.”
Ling Tian nyaris tertawa terbahak-bahak. Dalam hati ia berkata, andai ini memang jebakan yang dirancang keluarga Yang, mana mungkin aku bisa menang mudah? Lagi pula, mereka takkan mengirim si tolol Yang Wei. Namun wajahnya tetap tenang, terus mengalihkan pembicaraan, berbicara dengan sangat lihai hingga Guru Besar Qin tampak serius, mengelus janggut di dagu, termenung.
Ling Jian tetap duduk di dalam kereta seperti patung kayu, seolah tak mendengar percakapan mereka. Namun sorot matanya yang samar-samar tersenyum cukup membuktikan bahwa ia memahami maksud Ling Tian.
Dengan diiringi salam dan hormat prajurit penjaga gerbang, roda kereta perlahan meluncur keluar kota. Mereka berbelok menuju arah tenggara.
Di depan, sungai Liuliu telah menanti.
Di tengah hutan pohon willow, mengalir sungai kecil selebar enam meter. Permukaan sungai telah membeku. Dari kejauhan, tampak bagai sabuk giok yang terhampar di atas tanah bersalju.
Di seberang sungai, bangunan tua yang nyaris runtuh itulah Paviliun Raja Fu yang ingin diperiksa Ling Tian.
Ling Tian menjulurkan kepala keluar jendela, memandang hutan willow di kejauhan dengan tatapan penuh ejekan. Ya, kalau dugaanku benar, jika Ling Kong ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menyingkirkanku, maka di sinilah waktu dan tempat terbaik.
Kereta berjalan di atas salju, menimbulkan suara berderit. Beberapa pengawal menunggang kuda di sisi kiri dan kanan, waspada menengok ke segala arah, perlahan-lahan mendekati hutan willow.
Tiba-tiba terdengar suara peluit, puluhan orang berbaju bulu putih dan penutup wajah, bersenjata busur serta pedang, melompat keluar dari balik pepohonan. Dalam sekejap mereka sudah mendekat hingga kurang dari seratus meter dari kereta.
Pemimpin mereka mengangkat tangan, berseru dingin, “Serbu! Habisin semua, jangan biarkan seorang pun lolos!”
Bersamaan dengan itu, terdengar suara desingan: puluhan anak panah besi meluncur bak hujan belalang, ujungnya berkilauan kebiruan—jelas telah dilumuri racun mematikan!