Bab 134 Mengundang Makan
Pada tengah hari di hari terakhir tahun penanggalan lunar, Jiang Dashan pulang dengan menerjang badai salju. Penampilannya tampak menua sepuluh tahun, persis seperti adik dari Kakek Jiang. Dengan pakaian yang berantakan, ia duduk terkulai di atas kang sambil menyantap semangkuk besar mi kering.
Nenek Jiang, meski kesal dengan sikap putranya yang tidak tahu diri, tetap merasa iba karena itu adalah darah dagingnya sendiri. Sudah berbulan-bulan tidak bertemu, dan melihat putranya yang tampak begitu menyedihkan, ia segera memberi tahu menantunya dan turun tangan memasakkan semangkuk mi untuk putranya.
Jiang Dashan tidak datang dengan tangan kosong. Ia membawa dua paket bingkisan, masing-masing berisi sepuluh kati beras kualitas terbaik, lima kati daging babi berlemak, dua ikat bihun, dan dua potong kain besar.
Setelah selesai makan, Jiang Dashan menggosok tangannya dan bertanya kepada Kakek dan Nenek Jiang, "Ayah, Ibu, bagaimana dengan makan malam tahun baru nanti? Saya berencana pergi ke sana sebentar untuk menemui anak dan cucu."
Kakek Jiang mengetuk pipa tembakau miliknya, lalu menjawab dengan tatapan sayu, "Terserah kau saja. Kalau mau makan di rumah keluarga anak kedua, silakan. Kalau mau makan di sana juga boleh. Besok siang kita makan di rumah keluarga anak kedua, suruh semua anak dan cucumu datang."
Jiang Dashan menyahut, lalu turun dari kang dan pergi mencari Jiang Erhe. Keduanya duduk di sebuah ruangan. Jiang Dashan mengeluarkan sebungkus rokok dan menawarkannya pada sang adik. Awalnya Jiang Erhe menolak, namun melihat kakaknya yang tampak begitu terpuruk, ia pun menerimanya. Jiang Dashan segera menyalakan korek api untuk menyalakan rokok adiknya.
Jiang Erhe merasa sedikit terkejut; ini pertama kalinya sang kakak menyalakan rokok untuknya. Setelah keduanya mengisap rokok dalam diam, barulah Jiang Dashan berkata, "Yue'e sudah dibebaskan beberapa hari lalu dan sekarang sudah kembali ke keluarga He. Soal Yue'e, kami memang bersalah pada Momo dan Aiju. Anak itu sudah terlalu aku manja hingga hatinya sedingin es. Kami yang gagal mendidiknya. Aku tidak berharap kalian memaafkannya, anggap saja dia bukan siapa-siapa, dan mulai sekarang tidak perlu lagi berhubungan dengannya."
Jiang Erhe terdiam sambil terus mengisap rokoknya. Apa yang dikatakan kakaknya memang benar, tetapi masalah ini tidak bisa dilupakan begitu saja. Ini menyangkut nyawa manusia. Yue'e begitu kejam hingga tega menipu Aiju agar datang. Jika bukan karena Momo yang kebetulan melihat dari atas atap rumah sebelah, mungkin mereka tidak akan pernah bisa melihat Aiju lagi, bahkan tidak akan tahu bagaimana ia mati. Memikirkan hal itu, Jiang Erhe ingin sekali mencincang Jiang Yue'e demi melampiaskan kebencian di hatinya.
Melihat reaksi adiknya, Jiang Dashan tahu masalah ini tidak bisa dianggap selesai begitu saja. Namun, ia benar-benar tidak punya tenaga lagi untuk mengurus putrinya. Setelah bersusah payah mengakhiri hubungannya dengan janda itu, ia merasa sangat lelah. Kej