Bab 16: Kepastian
Setelah terguncang selama empat jam, mereka tiba di desa sebelum hari benar-benar gelap. Yao Huazhi merasa khawatir kalau lelaki di rumah seharian ini tidak makan dan minum dengan baik. Begitu masuk halaman, ia langsung berseru, “Yaozu, kamu beri makan babi dan ayam. Momo, tambahkan air ke dalam panci, nyalakan tungku. Aiju, ayo aduk-aduk tepung, malam ini kita buatkan semangkuk mi daging untuk ayahmu, kita perempuan kalau lapar minum bubur saja, kalau tidak lapar cukup teh!”
Setelah pembagian tugas itu, Jiang Momo meletakkan barang-barangnya dan buru-buru mencuci tangan serta wajah, baru kemudian ke dapur untuk merebus air. Sambil menunggu air mendidih, ia diam-diam membuka antarmuka pengelolaan ruang rahasianya, lalu memanen gandum angkatan keempat yang sudah matang.
Sejak panen pertama, Jiang Momo sudah pernah mengeluarkan gandum itu untuk melihatnya—bulir-bulir sudah terlepas dari batangnya, masih berkulit, dikemas dalam karung-karung lima puluh kilogram, satu mu (sekitar seperenam hektar) menghasilkan sepuluh karung.
Artinya, hasil panen gandum dari pertanian rahasianya adalah seribu jin per mu. Sampai sekarang, Jiang Momo sudah mengumpulkan empat puluh ribu jin gandum. Awalnya ia enggan menjualnya, namun kemudian sadar, kalau tidak dijual dan diputar, pertaniannya tidak akan naik tingkat. Kalau tidak naik tingkat, fungsinya hanya sebatas menanam saja. Peternakan ikan, unggas, sapi, dan sebagainya tak akan bisa dimiliki.
Maka ia pun menyisakan satu mu untuk dijadikan benih dan mengunci sisanya, sementara yang lain dijual. Ia lalu mulai membeli benih lobak putih, wortel, dan sayuran-sayuran lain yang hanya butuh empat jam untuk tumbuh, bisa dijual, dan diam-diam diambil sedikit sebagai tambahan lauk untuk keluarga.
Di desa, setiap rumah memiliki sepetak tanah garapan pribadi dan kebun sayur kecil. Hasil dari dua tempat ini adalah milik keluarga masing-masing, tidak perlu disetorkan, tidak dikenai pajak. Biasanya, lahan pribadi itu ditanami tanaman pangan berproduksi tinggi untuk mencukupi kebutuhan pokok keluarga, sementara kebun di halaman depan digunakan untuk menanam sayur.
Saat musim semi tiba, Yao Huazhi bersama suami dan anak-anaknya menanam lobak putih, wortel, sawi, kentang, ubi, kacang panjang, kacang merah, cabai, dan tomat di kebun mereka.
Lobak putih yang ditanam di rumah memang tampak subur, tapi umbinya di bawah tanah tidak begitu besar. Namun Jiang Momo punya solusi. Ia diam-diam menanam lobak hasil pertanian rahasianya ke dalam tanah, lalu pura-pura terkejut di depan ibunya, “Ibu, lihat! Ada lobak besar di sini!” Ia segera mencabutnya, memasukkan lobak kecil ke dalam gudang rahasianya, dan mengeluarkan yang besar, seolah-olah itu hasil panen sendiri.
Ternyata benar, Yao Huazhi mengira lobak yang baru berumur dua bulan itu sudah besar dan siap dipanen. Jadilah keluarga mereka punya tambahan lauk. Beberapa hari kemudian, wortel juga mulai bisa dimakan. Tentu saja, semua itu hasil ‘panen’ Jiang Momo.
Benih gandum tidak bisa dikeluarkan terang-terangan, tapi bisa diam-diam dimasukkan ke dalam gentong penyimpanan pangan. Di desa, hasil panen biasanya disimpan beserta kulitnya agar tetap segar, lalu dikeluarkan dan diolah sesuai kebutuhan. Inilah celah yang dimanfaatkan Jiang Momo, meskipun ia tahu orang tuanya sangat teliti, terutama ayahnya yang seorang akuntan, selalu hafal stok pangan di rumah.
Karena itu, ia tak berani menambah terlalu banyak. Setiap kali menggiling tepung, ia hanya menambahkan dua-tiga jin saja secara diam-diam.
Usai makan malam, Yao Huazhi mengolah semua daging yang dibeli menjadi daging asin untuk persediaan, lalu mencampurkan air panas yang sudah disiapkan anak-anak untuk berbersih diri. Baru selesai, terdengar suara suaminya berseru, “Ibu anak-anak, Momo, mari ke kamar, ada yang perlu dibicarakan!”
Jiang Momo melirik ibunya, yang kemudian berkata pada Aiju dan Yaozu yang penasaran, “Kalian habis mandi langsung masuk kamar, mungkin ayah kalian mau tanya soal kejadian Momo jatuh tempo hari.” Keduanya mengiyakan, selesai mandi lalu masuk ke kamar. Setelah memastikan mereka sudah di dalam, Yao Huazhi menggandeng Momo ke kamar sebelah timur.
Begitu masuk, terlihat kamar penuh asap rokok. Yao Huazhi langsung menepuk bahu suaminya dengan kesal, “Ngapain sih ngerokok di sini, cepat matikan, malam-malam gini mau tidur gimana?”
Ayah Jiang tidak marah, ia hanya tertawa canggung dan perlahan mematikan rokoknya. Hari sudah gelap, Yao Huazhi pun menyalakan lampu minyak tanah.
Dalam cahaya temaram, Jiang Momo melihat raut wajah ayahnya yang tampak berat, ia tak tahan bertanya, “Ayah, ada apa? Sudah dapat kabarnya?”
Yao Huazhi juga terdiam, menatap suaminya cemas. Ini menyangkut masa depan putri sulungnya. Selama ini ia pura-pura tenang, padahal hatinya kacau. Meski, seandainya batal menikah pun, dampaknya tetap buruk bagi putrinya. Sulit kelak mencarikan jodoh lagi.
Perasaan ayah Jiang pun sama, bagaimana pun, ini hal yang menyakitkan bagi anak. Semua ini salah mereka juga, hanya melihat permukaan, tak menyelidiki lebih dalam. Kalau tidak, tentu tak akan terjebak di situasi sulit seperti sekarang.
Namun Jiang Momo malah tersenyum, “Ayah, Ibu, menurutku kalian seharusnya senang.”
Yao Huazhi menatap kesal pada anak bungsunya, “Ngomong apa sih kamu, kakakmu mau batal tunangan, kita malah senang!”
Jiang Momo tertawa, memeluk ibunya. Yao Huazhi kesal, mencubit kening anaknya, dan Jiang Momo pura-pura kesakitan.
Yao Huazhi mencibir, “Dasar kamu suka iseng!”
Jiang Momo yang nakal itu tersenyum, “Aku kan nggak mau Ayah dan Ibu sedih, nanti susah tidur, pasti bakal insomnia.”
Ayah Jiang tersenyum getir, “Soal yang kamu bilang itu sudah aku selidiki, dan hampir pasti benar. Bahkan, ada sepupu jauh keluarga Li, sekitar tiga atau empat tahun lalu, usianya sebelas dua belas tahun, pernah tinggal di keluarga Li sebentar. Tak lama, anak itu hilang. Keluarga mereka ribut besar, akhirnya keluarga Li bilang sudah jadi tanggung jawab mereka, ganti rugi, selesai begitu saja.”
Jiang Momo melongo, sungguh tak habis pikir, ternyata si mulut besar dari keluarga Li sekeji itu, anak sebelas-dua belas tahun pun tak dilepas.
Awalnya, ayah Jiang tidak ingin membicarakan hal seperti ini di depan anak-anak, tapi ia juga merasa mereka sudah cukup besar untuk tahu sisi gelap masyarakat. Ada orang yang kelihatannya lurus dan jujur, tapi hatinya hitam pekat.
Yao Huazhi mendesis penuh amarah, “Manusia bejat seperti itu, kenapa langit tidak menurunkan petir buat membinasakan dia!”
Jiang Momo menenangkan, “Untung saja kita tahu lebih awal. Coba kalau teman sekelasku tidak cerita, aku juga tidak anggap serius dan tidak bilang ke rumah, kakak kan bisa celaka. Kudengar ibunya si mulut besar itu juga bukan orang baik, sudah menikah pun pasti sulit bercerai!”
Yao Huazhi dan ayah Jiang langsung paham kenapa tadi putri mereka bilang seharusnya bersyukur, memang betul, untung masalahnya terungkap lebih awal. Jadi, memang ada yang patut disyukuri.
Yao Huazhi ingin besok langsung ke keluarga Li untuk membatalkan pertunangan. Ayah Jiang juga setuju, tidak perlu menunggu, makin lama makin banyak masalah. Namun Jiang Momo menolak.
Keduanya mengerutkan kening menatap Momo. Ia menjelaskan, “Orang keluarga Li itu sulit dihadapi. Kita nggak boleh datang dengan tangan kosong. Lebih baik kita punya sesuatu yang bisa menggenggam mereka, supaya mereka mau membatalkan pertunangan dengan lapang dada, dan jangan sampai akhirnya menyalahkan kakakku, bilang dia yang tidak baik dan sebagainya.”