Bab 87: Tentang Pasangan Jiang Aiju
Qin Tian mengangguk pada Jiang Momo lalu mengikuti Kapten Tim Dua pergi. Jiang Momo menyeka keringat di dahinya, lalu buru-buru mengenakan topi jerami dan pelindung lengan, mengangkat sabit, dan pergi memanen gandum.
Sampai sore hari, seluruh kelompok produksi baru mendengar kabar bahwa telah ditemukan sebuah mayat di pegunungan, seorang perempuan, selebihnya tidak ada informasi lebih lanjut. Banyak orang melihat Qin Tian berbicara dengan pihak kepolisian, bahkan ada yang curiga apakah kasus ini ada hubungannya dengan Qin Tian. Melihat keadaan itu, Jiang Erhe buru-buru menjelaskan bahwa Qin Tian sebentar lagi akan dipindahkan ke kepolisian kabupaten, agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Barulah para anggota kelompok produksi paham kenapa polisi mencari Qin Tian; ternyata mereka sedang mengurus urusan pekerjaan.
Malam hari setelah makan malam, Jiang Momo menyampaikan pesan Qin Tian kepada ayahnya. Jiang Erhe memikirkannya, merasa bahwa hal ini harus dianggap serius. Bagaimana jika ada anggota kelompok produksi yang tidak sengaja terlibat?
Selesai makan malam, Jiang Erhe langsung mengumumkan lewat pengeras suara, meminta semua orang dewasa dan orang tua, terutama keluarga yang punya anak perempuan, untuk berkumpul di lapangan depan kantor kelompok, ada hal penting yang harus diumumkan.
Mungkin karena peristiwa penemuan mayat di gunung itu sangat mengejutkan, baru beberapa saat setelah pengumuman, lapangan di depan kantor kelompok sudah dipenuhi lautan manusia.
Tahun lalu kelompok sudah memasang listrik, meski tidak semua rumah mau memasangnya karena harus membayar iuran listrik dua yuan setahun. Banyak keluarga tidak mau mengeluarkan biaya itu, jadi tidak memasang listrik.
Tapi kantor kelompok wajib ada listrik. Setelah ada listrik, pengeras suara pun dipasang, jadi lebih mudah untuk menyampaikan pengumuman. Jiang Erhe berencana, kalau akhir tahun nanti ekonomi sudah lebih baik, ingin membeli radio, supaya sore hari bisa menyiarkan siaran radio, seluruh kelompok bisa mendengarkan dan menambah wawasan.
Begitulah, orang-orang datang berbondong-bondong. Jiang Erhe meminta seseorang memegang lampu bohlam yang disambungkan kabel dan berdiri di depannya, sehingga lapangan menjadi terang benderang dengan dirinya sebagai pusat cahaya.
Para anggota kelompok belum pernah melihat pemandangan seperti itu, semuanya memperhatikan dengan ingin tahu.
Jiang Erhe berdeham, lalu berkata keras-keras, “Ada kejadian di gunung, apa yang terjadi tepatnya saya sendiri juga tidak tahu, jadi jangan tanya, kalau tanya saya juga tidak tahu!”
Semua orang tertawa serempak.
Jiang Erhe melanjutkan, “Meskipun kejadian ini tampaknya tidak ada hubungannya dengan kita, tapi sebenarnya ada juga. Karena itu, belakangan ini suasana agak tegang, jadi anak gadis dan ibu-ibu muda sebaiknya jangan keluar rumah kalau tidak perlu, terutama ke kota kabupaten atau pasar, kalaupun harus pergi, pulanglah lebih awal, jangan pulang terlalu malam, bagaimana kalau terjadi sesuatu?”
Jiang Erhe menekankan lagi, “Ini soal besar, semua harus benar-benar memperhatikan, dengar?”
Semua serempak menyahut. Melihat itu, Jiang Erhe tidak berkata lebih banyak, karena memang tidak bisa dijelaskan terlalu detail, nanti malah menimbulkan kepanikan.
Pulang ke rumah, Jiang Momo masuk ke kamar timur dan menceritakan pada ayah, ibu, kakek, dan nenek tentang arti kasus pembunuhan berantai itu.
Keempat orang itu langsung merinding mendengarnya. Nenek Jiang sambil memijat lengannya berkata, “Duh Gusti, kok bisa ada orang seperti itu, apa dia tidak waras?”
Yao Huazhi sampai pucat ketakutan, Jiang Erhe melirik putrinya dan berkata pelan, “Tidak bisa, akhir-akhir ini suruh kakakmu izin saja dulu.”
Jiang Momo berpikir sejenak, lalu berkata, “Nanti aku bicarakan dengan kakakku, tanya pendapatnya dulu.”
Seminggu berlalu dengan kesibukan, panen gandum akhirnya selesai. Qin Tian kembali di dua hari terakhir, setiap hari selesai kerja datang makan di rumah Jiang.
Tapi setelah mendengar ucapan Jiang Momo, Jiang Aiju tidak mau mengambil cuti. Tiga bulan lagi masa pelatihan selesai, dia ingin belajar sebanyak mungkin, apalagi materi pelajaran sekarang banyak praktik, sangat sayang jika tidak ikut.
Ayah Jiang tahu, terpaksa berulang kali berpesan pada Jiang Aiju agar malam hari jangan keluar kamar.
Hari itu, saat Jiang Aiju berangkat sekolah, ayah Jiang sendiri yang mengantar naik gerobak keledai milik kelompok, mengantarnya sampai ke rumah sakit kabupaten baru pulang.
Tapi setibanya di rumah, Jiang Erhe masih saja cemas. Jiang Momo melihatnya lalu bertanya.
Ayah Jiang mengeluh, “Kakakmu selesai pelajaran jam enam sore, sekarang lagi banyak praktik, tiap kali selesai sudah jam tujuh atau delapan malam, setelah makan jadi jam sembilan, saat itu sudah gelap, kalau balik ke asrama aku khawatir sekali.”
Jiang Momo tersenyum, “Ayah, tenang saja, kakak ada yang mengantarnya pulang.”
Jiang Erhe buru-buru bertanya, “Siapa yang mengantarnya?”
Jiang Momo mendekat, berbisik, “Salah satu teman sekelas kakak, namanya Hu Chenglin, masih ingat tidak?”
Jiang Erhe berpikir sejenak lalu menepuk pahanya, “Anak keluarga Hu, dari pabrik kayu di kecamatan, anak bungsu dari tiga bersaudara, teman sekelas kakakmu sejak SD, tiga tahun duduk sebangku.”
Ia lalu bertanya heran, “Hu Chenglin yang mengantar kakakmu?”
Jiang Momo mengangguk, matanya berputar senang, “Kakak bilang, nanti beberapa waktu lagi baru akan cerita ke keluarga.”
Beberapa waktu lagi baru cerita ke keluarga?
Jiang Erhe berpikir, lalu berbisik, “Kakakmu sedang dekat dengan Hu Chenglin?”
Jiang Momo menggeleng, “Tidak tahu, cuma Hu Chenglin sedang mendekati kakak, tapi kakak belum menerima.”
Jiang Erhe mengangguk, urusan asmara bisa dibicarakan nanti, yang penting ada yang mengantar pulang malam hari, hatinya jadi tenang.
Namun saat makan malam, Yao Huazhi sudah tahu kabar itu, langsung menarik telinga Jiang Momo ke dalam kamar.
Tak lama, Jiang Momo yang memang mudah menyerah itu langsung menceritakan segalanya, termasuk soal pernah makan bersama kakak dan Hu Chenglin.
Yao Huazhi membelalak marah, mendengus, “Kamu dan Qin Tian juga makan bareng dengan Hu Chenglin?”
Jiang Momo mengangguk, sedikit bangga, “Itu aku memang sedang menguji Hu Chenglin, menantu masa depan tidak boleh pelit, kalau ke keluarga istri saja pelit, ke istrinya pasti juga tidak baik.”
Yao Huazhi mengetuk kepala putrinya beberapa kali, kesal, “Kenapa tidak dari awal bilang pada ibu?”
Jiang Momo manyun, “Itu kan permintaan kakak, belum tentu cocok, kalau keluarga sudah tahu padahal kakak belum siap, jadi canggung. Aku harus hormati keinginan kakak.”
Yao Huazhi makin kesal, “Sekarang kok malah bilang ke ibu?”
Jiang Momo menjawab, “Karena sekarang keadaannya sangat serius, aku harus buat ayah ibu tenang soal keselamatan kakak.”
Yao Huazhi mendengus, “Kamu selalu saja merasa benar!” Sambil berkata begitu, ia naik ke atas ranjang lalu mulai membongkar lemari.
Jiang Momo ternganga, “Ibu, ibu mau apa?”
Yao Huazhi tanpa menoleh berkata, “Cari kain dan kapas, mau buatkan selimut buat kakakmu. Kalau nanti sudah bicara ke keluarga Hu, hari pernikahannya pasti dekat, takut tidak sempat.”
Jiang Momo melongo di tempat, ini kok langsung bahas pernikahan sih.
Ia berpikir sejenak, merasa ada yang aneh, lalu bertanya heran, “Kalau aku bagaimana, Bu? Kenapa tahu kakak dekat dengan seseorang ibu langsung buru-buru buat selimut, tapi waktu tahu aku sama Qin Tian, ibu tidak buatkan?”
Yao Huazhi mencibir, “Dasar anak bandel, tebal muka sekali. Kamu masih muda, belum perlu buru-buru. Kakakmu itu lugu, habis tahun ini umurnya dua puluh satu, waktu tidak menunggu.”
Walau ucapan Yao Huazhi sudah tidak karuan, Jiang Momo paham juga, ia mengangkat bahu lalu keluar bermain.