Bab 070: Tanda Cinta
Aku tertegun sejenak, dia mau apa lagi sekarang? Aku memandangnya dengan bingung, jantungku berdetak makin kencang. Tadi dia bilang aku dan Xiaoyue memakai cincin pasangan itu lucu, jangan-jangan dia juga mau ikut bermain? Tapi sialnya, memakai barang antik sungguhan seperti ini buat main-main, ini benar-benar bikin deg-degan!
Sekarang semua orang memakai cincin emas murni, sedangkan aku kalau keluar rumah pakai cincin bermata delima begini, bukankah terlalu mencolok? Selain itu, harta tak boleh dipamerkan, kalau sampai bertemu perampok, bisa-bisa jari langsung dipotong!
“Kok masih bengong? Sini, pakaikan ke tanganku!” ujar Yuelan, melihat aku melamun, lalu menegurku lagi.
“Oh!” Aku pun perlahan berjalan mendekat.
Sampai di depannya, jantungku berdebar-debar, permata itu benar-benar menyilaukan. Aku mengambil salah satu cincin itu, tapi dia malah memarahi, “Bodoh, itu yang berbentuk naga, punyamu. Aku harus pakai yang berbentuk burung phoenix.”
Kepalaku langsung berdesing, benar-benar aku harus memakainya! Dan ini lagi, cincin naga dan burung phoenix, artinya sudah jelas sekali!
Dengan hati-hati aku mengambil cincin itu, sangat indah, ukirannya halus, tampaknya juga sudah lama, emasnya agak menghitam. Ia pun mengulurkan tangan kanannya dengan tenang. Aku menatap matanya, pandangan kami saling bertemu.
Dengan tatapan, dia menyuruhku lanjut, jadi aku menunduk, lalu menyarungkan cincin itu ke jari manisnya yang ramping.
Setelah terpasang, dia mengangkat tangannya di depan mata, memeriksa dengan saksama, tampak begitu senang, benar-benar bahagia.
“Sekarang giliranku, aku pakaikan ke kamu!” katanya sambil mengambil cincin berbentuk naga.
“Benda semahal ini, kalau aku pakai keluar rumah, takutnya aku bakal dirampok, nyawaku bisa melayang!” gurauku.
“Tak perlu takut, kalau ada yang membunuhmu, aku akan balaskan dendammu!” ujarnya sambil tersenyum.
Aku hanya bisa terdiam. “Kenapa kamu bukan berpikir untuk selalu melindungiku, malah mikir kalau aku mati baru kamu balas dendam? Apa gunanya itu!”
“Laki-laki kok malah ingin dilindungi perempuan? Malu-maluin!” dia mencibir.
Aku benar-benar tak bisa berkata-kata, rasanya benar-benar dibungkam olehnya.
Saat aku melamun, cincin itu sudah melingkar di jariku. Beberapa hari lalu, aku dan Xiaoyue masih memakai cincin perak sepasang, sekarang mendadak berubah, dari cincin murah puluhan ribu jadi cincin antik bermata delima yang tak ternilai.
Lalu Yuelan mengucapkan sesuatu yang langsung memecahkan lamunanku. Kukira dia hanya bercanda, tapi ternyata dia berkata, “Di tempatmu sini, laki-laki dan perempuan saling mengikat janji memang pakai cara begini, kan?”
Aku menelan ludah, lalu mengangguk, “Iya, sepertinya di seluruh dunia juga begitu, memang di tempatmu tidak?”
“Di tempatku, tanda cinta tidak tentu, tapi kebanyakan warisan keluarga, seperti giok atau gelang,” jawab Yuelan.
“Lalu kita ini apa?” tanyaku dengan mata membelalak.
“Ikat janji, tentu saja!” jawabnya lugas.
Aku langsung membeku, mana ada yang sejujur ini?
Kutundukkan kepala, memandang cincin itu, sangat indah, cocok juga di jariku, jadi aku tak berkata apa-apa.
“Cincin ini harus selalu kamu pakai, kapan pun di mana pun, bahkan saat mandi pun harus tetap dipakai!” Tiba-tiba Yuelan berhenti tersenyum dan berkata, “Kalau berani melepasnya, aku akan pergi memotong jari Wu Xiaoyue.”
“Aduh…” Aku benar-benar tak bisa berkata-kata. Aku pakaikan cincin ke Xiaoyue, dia mau potong jari Xiaoyue; sekarang kalau aku lepas cincin ini, dia juga mau potong jari Xiaoyue. Kasihan sekali Wu Xiaoyue, apa salah dia sampai apes begini!
Tapi setelah kupikir-pikir, memang Wu Xiaoyue apes gara-gara aku, dan aku gara-gara Yuelan!
Aku mengangkat tangan, mengamati cincin di jariku dengan saksama, dia juga begitu, memperhatikan cincinnya, kadang mengelus dengan tangan kanan.
Kami berdua tak berkata apa-apa, hanya sesekali saling melirik, di antara empat mata itu, makna yang dalam tak perlu diucapkan.
“Malam ini, bisakah kamu tidak pergi?” Lama sekali, aku baru mengangkat kepala menatapnya.
Dia sempat tertegun, tak berkata apa-apa, tidak setuju, tidak juga menolak.
Tentu saja, maksudku hanya ingin dia menemani, bukan untuk melakukan apa-apa, hanya seperti sebelumnya, dia tidur di ranjang guru.
Dia berdiri, memandangku, lalu berjalan ke arah saklar lampu, dan dengan satu sentuhan, lampu pun mati.
Dia kembali ke sisi ranjang, lalu langsung berbaring.
Aku hanya memandangi ranjang di seberang, kadang memejamkan mata untuk merasakan cahaya yang mewakilinya, kadang membuka mata, tak bisa melihat jelas wajahnya, tapi bisa melihat siluetnya.
Sayangnya, malam ini tidak ada bulan!
Aku berusaha keras menahan kantuk, tak membiarkan diriku tertidur. Namun menjelang subuh, di saat manusia paling mengantuk, aku tidur-tidur ayam, semalaman terbangun puluhan kali, setiap kali terjaga, memastikan dia masih di situ, lalu tidur lagi.
Akhirnya aku pun tertidur, tapi saat subuh, terdengar suara desingan, aku tiba-tiba terbangun, melihat Yuelan sudah pergi, melesat keluar dari jendela atap.
Aku menengadah menatap jendela itu, melamun sampai leherku pegal baru kuturunkan pandangan.
Sepertinya jendela atap ini memang tak boleh pernah ditutup, ini adalah pintu pulangnya Yuelan, tak bisa kututup.
Tuhan memang benar, saat menutup satu pintu, pasti membukakan satu jendela!
Tadinya aku ingin tidur lagi mengisi tenaga, siapa sangka baru saja rebahan, kakek sudah masuk kamar, melempar beberapa buku ke atas selimutku.
Aku terlonjak bangun, mengusap wajah yang masih mengantuk, melihat buku-buku itu, semuanya buku tua berjilid tali, buku langka yang kemarin disebut kakek. Aku melirik judul-judulnya: “Kitab Pemakaman”, “Ilmu Kubur dan Tongkat Terbalik”, “Kitab Menggetarkan Naga”, “Lima Keajaiban Yin-Yang”, “Kitab Tempat Tinggal Kaisar Kuning”!
Aku menatap kakek dengan bingung, bertanya, “Kakek, saya disuruh baca semua ini? Buat apa?”
“Untuk melengkapi dua buku yang diberikan gurumu kemarin. Kalau kamu sudah paham betul isi buku-buku ini, nanti kakek akan bimbing lagi. Setelah itu, kamu akan punya keahlian sendiri. Kalau kakek sudah tiada, kamu tetap bisa hidup,” kata kakek dengan serius.
“Kakek, jangan bicara aneh-aneh. Kakek pasti panjang umur,” ujarku dengan wajah masam.
“Aku tak ingin hidup selama itu. Hidup lama itu makin berat, makin lama makin lelah, kakek sudah capek, ingin istirahat,” jawabnya tanpa tersenyum, jadi aku tak berani bercanda lagi.
Aku berkata, “Kalau pun kakek meninggal, bukankah masih ada kakak dan kakak ipar? Masa mereka tega menelantarkan saya?”
Dengan satu tamparan, kakek menepuk kepalaku, memarahi, “Kenapa kamu selalu ingin bergantung pada orang lain seumur hidup? Tak adakah keinginan untuk mandiri? Xiaofan, seharusnya kamu belajar berdiri sendiri. Kakek bisa tua, kakak dan kakak iparmu juga bisa tua. Kamu harus belajar membantu mereka, bukan malah menambah beban.”
Tatapan kakek begitu rumit, alisnya berkerut. Aku tiba-tiba teringat, kakek pernah bilang tak setuju kakak dan kakak ipar bersama, katanya tak akan ada akhir yang baik, bahkan katanya kalau bukan satu meninggal, ya yang lain, atau malah keduanya.
Aku langsung merasa sedih, hati terasa berat. Kakek khawatir, kalau dia sudah tiada, kalau ramalan buruk itu terjadi pada kakak dan kakak ipar, tak ada lagi yang mengurusku. Kalau aku tak bisa mandiri, bisa-bisa hidupku terancam.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu berkata pada kakek, “Kakek, saya mengerti. Kakek tenang saja, saya tak ke mana-mana, akan belajar sungguh-sungguh di rumah.”
“Bagus, itu baru benar. Sekarang pergi cuci muka, sarapan dulu, habis itu baru baca,” kata kakek dengan lega melihat aku mulai mengerti.
“Baik.”