Bab Dua Puluh Empat: Bertemu Kakak Beradik Keluarga Wang
Mobil itu terus melaju di jalanan Kota Selatan. Gu Ziqing duduk di kursi penumpang depan dengan wajah penuh amarah, jelas sekali ia masih kesal. "Orang-orang itu benar-benar keterlaluan, mereka menganggap kita apa, kok bisa ada orang setebal muka itu?"
Mu Wanwan hanya bisa tersenyum pahit, "Ziqing, untuk apa marah-marah soal orang yang tidak ada urusannya dengan kita? Inilah wajah asli manusia di akhir zaman. Kalian nanti juga akan tahu, demi sejumput makanan, ada yang tega mengkhianati pasangan, mengkhianati saudara, bahkan menjual anak dan perempuan. Itu sudah biasa."
Mendengar itu, semua orang dalam mobil terdiam.
"Wanwan, cepat lihat, bukankah itu sepupu laki-laki dan sepupu perempuan kita?" Mu Qingyu tiba-tiba menghentikan mobil, menunjuk ke depan, ke arah dua orang yang sedang dikejar sekelompok zombie.
"Ayo kita lihat, kenapa mereka bisa ada di sini?" Mu Wanwan mengernyitkan dahi. Bukankah satu keluarga kakek sudah dijemput oleh orang suruhan kakek ke Ibu Kota seminggu yang lalu? Kenapa sepupu perempuan dan laki-laki masih ada di sini?
Dengan bergabungnya tiga orang dari pihak Mu Wanwan, sekelompok zombie itu pun segera disingkirkan. Wang Bing'er dan Wang Chenxi terengah-engah duduk di dalam mobil, napas mereka masih terputus-putus. Mu Qingyu, sambil mengemudi dan menatap penampilan mereka yang lusuh, menggoda, "Wah, Bing'er, bukankah kamu pernah bilang kamu paling hebat? Coba ceritakan ke kakak, kenapa sekarang malah jadi seperti anak anjing yang malang begini?"
"Tutup mulutmu!" Candaan Mu Qingyu yang tanpa maksud itu benar-benar menusuk perasaan, membuat Wang Bing'er langsung naik pitam.
Mu Qingyu menggaruk hidungnya dengan wajah tak bersalah, dalam hati mengeluh, sepertinya ia lagi-lagi menginjak ekor kucing. Wang Bing'er sebetulnya namanya saja yang manis, kalau kecantikan Mu Wanwan ibarat pesona yang sulit dilupakan, dan kecantikan Gu Ziqing bagaikan air jernih yang mengalir tenang, maka Wang Bing'er adalah kecantikan yang menyala-nyala, garang dan membuat orang susah menahan diri. Dan sifatnya pun memang sesuai dengan penampilannya, gampang meledak seperti petasan. Maka setiap kali bertemu, dengan sedikit saja usikan dari Mu Qingyu, Wang Bing'er pasti berubah jadi macan kecil yang selalu siap bertarung.
Melihat pola interaksi yang sudah sangat mereka kenal antara sepupu perempuan dan kakaknya sendiri, Mu Wanwan dan Wang Chenxi saling pandang dan tersenyum. "Sebenarnya ada apa? Bukankah kalian seharusnya ada di Ibu Kota?" Pada akhirnya, Mu Wanwan tak tahan untuk tidak menanyakan rasa penasarannya.
Wang Chenxi menundukkan kepala dengan lesu, menatap Wang Bing'er dengan rasa bersalah, lalu mulai menceritakan apa yang mereka alami selama perjalanan ini. Ternyata, setelah mereka tahu dari orangtua Mu Wanwan bahwa Wanwan dan Qingyu akan tetap tinggal di daerah Selatan, mereka pun ingin keluar untuk berlatih. Mereka lebih dulu pergi ke Kota Z, tapi saat itu Mu Wanwan sudah dalam perjalanan ke Kota Selatan. Setelah mendengar hal itu dari paman mereka, keduanya pun buru-buru menuju ke Kota Selatan. Di perjalanan, mereka bertemu dengan empat teman kuliah Wang Chenxi yang sedang berwisata ke Kota J. Demi saling menjaga, mereka memutuskan untuk berjalan bersama.
Tak disangka, di tengah perjalanan, wabah akhir zaman meletus. Dua bersaudara Wang punya kekuatan khusus dan sebelum itu pun sudah berlatih fisik, jadi mereka tidak terlalu khawatir. Namun empat teman mereka hanyalah orang biasa. Awalnya, semuanya tidak ada masalah, mereka bersama-sama mengumpulkan makanan, dan kalau ada zombie, dua bersaudara itu yang menanggung. Tapi ketika hampir sampai di Kota Selatan dan teman-teman tersebut tahu kalau Wang bersaudara tetap ingin ke sana, mereka ribut, memaksa agar Wang bersaudara harus mengantar mereka ke tempat yang aman lebih dulu, kalau tidak dianggap pengkhianat dan tidak layak jadi teman.
Tentu saja Wang bersaudara menolak, sehingga mereka pun bertengkar. Tak disangka, keesokan harinya, keempat orang itu membawa kabur mobil dan ingin membawa serta semua persediaan yang sudah mereka kumpulkan bersama. Lebih parahnya lagi, dari mereka ternyata ada satu yang diam-diam juga memiliki kekuatan khusus, tetapi disembunyikan. Merasa ditipu, Wang bersaudara tak bisa terima dan sekali lagi terlibat konflik. Dalam kekacauan itu, mereka justru menarik perhatian gerombolan zombie. Melihat situasi itu, keempat orang itu tanpa pikir panjang langsung meninggalkan mereka berdua sebagai umpan, lalu kabur dengan mobil dan semua persediaan. Selanjutnya, Wang bersaudara hanya bisa bertarung sambil mundur, dan saat hampir kehabisan tenaga, untung bertemu dengan kelompok Mu Wanwan.
"Orang-orang itu benar-benar kebangetan," Gu Ziqing yang pertama kali bersuara membela. Ia jadi teringat pada orang-orang menyebalkan yang baru saja mereka temui, dan semakin sedih melihat sifat manusia di akhir zaman.
Mu Wanwan menghela napas, menepuk pundak Wang Bing'er tanpa berkata apa-apa. Bukankah lebih baik sejak sekarang sudah bisa melihat watak orang-orang, daripada nantinya kebaikan hati justru membawa masalah?
"Sudahlah, yang penting kita semua baik-baik saja, dan kita juga sudah bertemu kalian," Wang Bing'er jelas tidak suka suasana jadi terlalu melankolis, buru-buru mengibaskan tangannya.
"Oh iya, ada kabar baik. Waktu akhir zaman mulai, kami sempat menelpon keluarga untuk terakhir kali. Kata mereka, kakek sekarang punya kekuatan indra penciuman, mama punya kekuatan elemen tanah, hanya sayang nenek belum punya kekuatan apa-apa," Wang Chenxi membagikan kabar baik yang ia dengar kemarin.
"Bagus sekali," Mu Wanwan teringat pada sedikitnya orang yang ia temui di jalan yang punya kekuatan khusus. Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah tingginya persentase kekuatan di keluarga mereka sejak awal akhir zaman ini ada hubungannya dengan ramuan-ramuan itu? Sepertinya, hidup kedua kalinya tidak sia-sia, setidaknya keluarganya selamat. Walaupun ke depan akan semakin banyak orang bangkit dengan kekuatan khusus, hasil penelitian setelah akhir zaman membuktikan, semakin awal seseorang berevolusi, kekuatannya akan semakin besar dan evolusinya pun lebih cepat.
"Sayangnya sejak tadi malam, semua alat komunikasi sudah tidak bisa dipakai lagi," Gu Ziqing teringat pada orangtuanya. Saat akhir zaman tiba, ia sedang pingsan karena proses evolusi kekuatan, jadi belum sempat menghubungi keluarga.
"Tenang saja, kemarin pagi aku sempat menghubungi pihak keluarga Mu dan keluarga Gu, semuanya baik-baik saja. Bahkan, kudengar ayahmu dan beberapa anggota keluarga Gu juga sempat koma, aku rasa mereka juga sedang berevolusi seperti kamu. Siapa tahu, mereka pun akan punya kekuatan khusus. Yang penting, keluarga Gu punya orang berkekuatan, jadi tidak perlu takut tidak bisa bertahan di Ibu Kota," Mu Qingyu, yang paham kekhawatiran Gu Ziqing, dengan bangga membagikan kabar yang ia dapatkan.
"Benarkah?" Gu Ziqing berseru kegirangan dan bertepuk tangan. "Wah, itu benar-benar kabar baik."
"Sayang sekali semua persediaan yang sudah kami kumpulkan di jalan hilang begitu saja," Wang Bing'er ikut senang untuk Gu Ziqing, tapi ketika mengingat kembali semua kesialan yang menimpa mereka berdua, mobil dan barang-barang yang sudah dikumpulkan dengan susah payah hilang, ia jadi kesal dan dadanya terasa nyeri.
"Sudah, jangan marah lagi. Jangan lupa, aku punya kekuatan ruang, di dalamnya apa saja ada. Lagi pula, mereka dapat banyak persediaan juga belum tentu itu adalah berkah," Mu Wanwan memeluk pundak Wang Bing'er, menenangkan dengan suara lembut. Ia berkata jujur, di akhir zaman, jika tak punya kemampuan, membawa banyak barang hanya akan mendatangkan bencana.
"Ah, kamu tidak mengerti," Wang Bing'er menepis tangan Mu Wanwan yang memeluknya, masih saja kesal. "Tidak sama, siapa juga yang bakal menolak punya banyak barang? Lagi pula, itu kan hasil jerih payah kami berdua, seharusnya memang milik kami, sekarang barang-barang itu malah diambil orang-orang brengsek itu. Benar-benar tidak ikhlas, aku benar-benar marah!" Wang Bing'er memukuli bantal di kursinya dengan gemas.
Wang Chenxi mengecilkan tubuhnya, semakin merasa bersalah dan berkata lirih, "Kakak, maaf, ini semua salahku. Andai saja aku tidak sebodoh itu mempercayai mereka, pasti tidak akan terjadi hal seperti ini."
"Bing'er, lihat, Chenxi sudah kasihan sekali, kamu masih saja menyalahkan diri sendiri. Waduh, benar-benar gagal," Mu Qingyu bergumam dengan nada meledek.
"Mu Qingyu, kalau kamu tidak bicara juga tidak akan ada yang mengira kamu bisu. Bisa diam sebentar tidak?" Wang Bing'er menatap tajam ke arah Mu Qingyu, lalu berbalik menenangkan Wang Chenxi, "Tidak apa-apa, kakak tidak marah sama kamu. Sebenarnya aku juga bodoh, kan aku juga tidak bisa melihat niat buruk mereka, bahkan sempat membujuk kamu buat membantu mereka."
"Iya, iya, Bing'er, akhirnya kamu mengakui juga kalau kamu bodoh. Chenxi, kamu juga jangan sedih lagi, sudah dengar kan, kamu jadi begitu karena punya kakak yang bodoh," Mu Qingyu sengaja memperkeruh suasana.
"Mu Qingyu, kamu cari mati ya!" Wang Bing'er yang naik darah langsung mengambil bantal dan melempar ke arahnya.
"Hei, aku ini sedang mengemudi, tahu! Kalau kamu terus seperti itu, nanti mobil kita masuk ke kerumunan zombie, jangan salahkan aku," Mu Qingyu tenang-tenang saja, dengan satu tangan menangkap bantal yang dilemparkan Wang Bing'er, lalu memberikan bantal itu ke Gu Ziqing yang duduk di samping, agar bisa digunakan sebagai sandaran.
Wang Bing'er melihat rangkaian gerakan Mu Qingyu, lalu tersenyum penuh arti, "Baiklah, aku tidak percaya dengan adanya Ziqing, gadis cantik kita, kamu akan tega menabrakkan mobil ke gerombolan zombie."
"Sudah, Bing'er, jangan ribut terus," Gu Ziqing melihat tiga orang di kursi belakang menatapnya dengan pandangan penuh tanya, ia pun jadi malu.
"Wah, Wanwan, lihat, Ziqing malu, nih! Cepat ceritakan sama aku gimana rasanya jadi lampu pengganggu sepanjang jalan ini," Wang Bing'er menarik tangan Mu Wanwan dengan wajah penuh rasa ingin tahu. "Aku ini sepupumu lho, jangan bela kakakmu dan kakak ipar, kalau tidak aku putus hubungan sama kamu."
Mu Wanwan hanya bisa menggeleng, lalu mendekat ke telinga Wang Bing'er dan mulai bercerita pelan beberapa kejadian lucu. Wang Chenxi di sampingnya pun langsung memasang telinga, penuh semangat mendengarkan.
"Mu Wanwan, coba saja kamu berani cerita lagi, sudah makin tebal kulit ya," Gu Ziqing pura-pura hendak menggulung lengan bajunya, siap-siap seolah mau bertarung.
"Kak Bing'er, Chenxi, tolong aku!" Mu Wanwan tertawa, bersembunyi di belakang Wang Bing'er.
Suasana dalam mobil penuh tawa, Mu Qingyu memandang penuh sayang pada semua orang yang sedang bercanda, bibirnya pun tak bisa menahan senyum.