Bab 49: Lepaskan! Kalau tidak, akan kutebas tanganmu
"Houye, aku difitnah!"
Lin Yingniang memasang ekspresi sedih yang tampak tidak percaya. "Caiyan dan aku jelas-jelas terpisah dari para pengawal Houye di tengah perjalanan berobat. Kami tidak punya sepeser pun uang, tidak pula mengenali jalan, dan benar-benar asing di tempat ini. Kami tidak punya tempat tujuan selain menunggu Houye di Kota Lin'an. Untunglah, setelah sekian lama menanti dan berharap, Yingniang akhirnya bisa bertemu kembali dengan Houye."
Sebuah pernyataan yang sangat mulus tanpa cela. Jika bukan karena mengetahui yang sebenarnya, orang lain pasti akan tertipu oleh penampilan menyedihkannya itu.
Sayangnya, orang yang datang bersama Xie Yun untuk menangkapnya hari ini bukanlah Qing Shan, melainkan Chang Feng—pengawal yang baru saja ia sebutkan.
Chang Feng teringat akan dorongan kuat di punggungnya hari itu, lalu mendengarkan kata "tidak sengaja" yang diucapkan dengan begitu tidak tahu malu. Ia sangat mengagumi bakat gadis itu dalam berdusta secara terang-terangan, hingga sudut bibirnya berkedut tipis tanpa bisa dicegah.
Pemandangan itu tertangkap oleh mata Caiyan. Menyadari tatapan Chang Feng, ia mengatupkan bibirnya dan tersenyum penuh penyesalan.
Chang Feng memalingkan wajahnya.
Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana Caiyan menangis histeris memohon agar ia menyelamatkan tuan mereka.
Tuan dan pelayan itu benar-benar sehati dan sepemikiran, tidak ada satupun yang bisa diandalkan.
Ia sangat berharap Houye yang bijaksana dan tegas itu tidak akan terpedaya oleh tipu muslihat kedua orang ini.
Bagaimana mungkin Xie Yun bisa tertipu? Ia hanya mengikuti alur perkataan Lin Yingniang, lalu berujar pelan penuh makna, "Oh? Aku sungguh tidak tahu, ternyata Nona Kedua Lin begitu mendalam perasaannya kepadaku."
Gadis di dalam pelukannya menangis dengan air mata berlinang bak embun di atas kelopak bunga. "Yingniang sudah lama menjadi wanita milik Houye, wajar jika perasaanku kepada Houye begitu mendalam. Hanya saja, Houye langsung menyalahkan dan memfitnahku tanpa membedakan benar atau salah terlebih dahulu, hal ini sungguh membuat hati Yingniang terpukul."
Dengan kata lain, justru Xie Yun yang bersalah sekarang.
Sudut bibir Chang Feng kembali berkedut. Ia lalu mendengar gadis itu melanjutkan, "Houye tidak tahu, bagaimana cara Yingniang melewati hari-hari ini. Setiap hari hidup dalam kecemasan, makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, takut kalau Houye tidak dapat menemukanku. Bukankah begitu? Hari ini kudengar ada pasar malam di Gunung Guanyin, aku sengaja datang untuk memohon kepada Bodhisattva. Untunglah Yang Maha Kuasa berbelas kasih, Bodhisattva benar-benar mengantar Houye ke hadapan Yingniang."
Sungguh ketulusan yang luar biasa.
Caiyan, yang mengetahui kejadian sebenarnya, hanya bisa menundukkan kepala dengan perasaan bersalah.
Ia tadi jelas-jelas mendengar nonanya memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh di hadapan patung Bodhisattva: "Lindungilah hamba, Bodhisattva, jangan biarkan hamba ditemukan oleh siapa pun, agar hamba dapat kembali dengan lancar ke Jiangzhou."
Bodhisattva rupanya tidak mengabulkan doa itu. Dua ramalan sial berturut-turut justru mengantarkan Xie Yun langsung ke hadapannya.
Lin Yingniang kini dipenuhi dengan rasa penyesalan yang mendalam.
Hari ini ia seharusnya tidak datang ke Gunung Guanyin keparat ini. Tak disangka Xie Yun belum pergi, dan ia justru menubrukkan diri ke hadapannya. Menyesal sekarang pun sudah terlambat, ia hanya bisa terus mengarang kebohongan, berharap bisa menipu pria itu.
Namun, tangisannya yang begitu lama sama sekali tidak mendapat tanggapan dari orang di hadapannya.
Dengan perasaan bersalah, Lin Yingniang menutupi wajahnya dengan sehelai sapu tangan dan mendongak dengan hati-hati. Ia mendapati ekspresi Xie Yun—yang biasanya selalu tenang bagai diselimuti kabut—tiba-tiba berubah drastis. Belum sempat ia bereaksi, tubuhnya sudah ditarik dan didekap erat ke dalam pelukan pria itu.
Aroma dupa kayu gaharu langsung menguar pekat, membuat Lin Yingniang tak bisa melihat apa pun.
Suara dentingan pedang dan bilah tajam yang beradu mendadak pecah di sisi telinganya.
——Seseorang berniat membunuh mereka!
Para pembunuh bayaran datang begitu cepat dan tiba-tiba. Caiyan juga segera ditarik ke belakang punggung Chang Feng untuk dilindungi.
Untungnya, perayaan pasar malam hari ini begitu meriah, sementara area kuil terasa sepi tanpa pengunjung. Hal itu justru memudahkan para pembunuh bayaran untuk bergerak leluasa, maju tanpa ragu demi merenggut nyawa Xie Yun.
Setiap serangan yang dilancarkan sangat mematikan.
Pada mulanya Xie Yun masih bisa menghadapi mereka dengan tangkas dan tenang, bahkan berhasil merebut sepedang dari tangan salah seorang pembunuh. Gerakannya santai dan tidak terburu-buru, sebab ia sudah terlalu sering menjadi sasaran pembunuhan hingga terbiasa menghadapi situasi semacam itu tanpa gentar.
Hanya saja, Lin Yingniang di dalam pelukannya merasa sangat ketakutan setengah mati.
Kejadian kali ini berbeda dengan sebelumnya. Di dalam kereta kuda tempo hari, ia masih bisa menghindar, tetapi kali ini ia harus menghadapi serangan para pembunuh secara langsung.
Bilah senjata yang tajam dan dingin terus-menerus berbenturan dengan keras, menciptakan suara dentingan nyaring yang membuat jantungnya berdegup kencang tak karuan.
Adegan di mana Xie Yun bergeming dan membiarkannya ditangkap di dalam kereta waktu itu masih terbayang jelas di benaknya. Lin Yingniang tidak berani lengah barang sedetik pun; ia menahan napas, berkonsentrasi penuh, dan mendekap Xie Yun erat-erat tanpa berani membagi perhatian sedikit pun.
Meskipun ia berhasil melindungi dirinya sendiri dengan baik, keberadaannya yang menempel pada tubuh Xie Yun membuat ruang gerak pria itu menjadi terbatas di segala sisi.
Xie Yun mengayunkan pedangnya untuk memukul mundur para pembunuh, lalu menyempatkan diri mengulurkan tangan untuk mencengkeram pergelangan tangan Lin Yingniang.
"Lepaskan!"
Seruannya terdengar dingin menusuk tulang, yang justru semakin membuat Lin Yingniang mempererat dekapannya.
Ia tidak boleh melepaskannya.
Jika ia melepaskannya, Xie Yun pasti akan mencampakkannya. Sebagai seorang wanita lemah, bagaimana mungkin ia bisa menangkis serangan para pembunuh itu? Bukankah itu sama saja dengan menyerahkan nyawanya sendiri secara cuma-cuma?
Lin Yingniang telah bertekad bulat untuk terus menempel pada tubuh Xie Yun.
Melihat Xie Yun yang ruang geraknya terkekang, para pembunuh itu saling bertukar pandang lalu berbondong-bondong maju untuk mengepungnya secara bersamaan.
Chang Feng berniat memberikan bantuan, tetapi ia sendiri sedang direpotkan oleh Caiyan.
Nyali Caiyan sama kecilnya dengan Lin Yingniang. Menghadapi situasi semacam itu, wajahnya pucat pasi karena ketakutan, dan ia mencengkeram erat pakaian Chang Feng mati-matian tanpa mau melepaskannya. Chang Feng di satu sisi harus menangkis serangan musuh, di sisi lain ia tertahan oleh pelukan gadis itu, sehingga ia pun tidak bisa membagi diri untuk membantu.
Xie Yun, yang pergerakannya masih direpotkan oleh Lin Yingniang, kembali bersuara di sela-sela pertempurannya melawan para pembunuh.
"Lepaskan tanganmu! Kalau tidak, aku akan menebas pergelangan tanganmu!"
Ancaman itu diucapkan dengan nada yang jelas-jelas diselimuti hawa es.
Lin Yingniang tahu bahwa pria itu sedang marah, dan ia sama sekali tidak meragukan bahwa Xie Yun benar-benar akan melakukan hal tersebut. Hatinya sempat menciut ketakutan, namun genggaman tangannya di tubuh pria itu sama sekali tidak mengendur.
"Silakan tebas kalau berani! Aku tidak akan melepaskannya, mati pun aku tidak mau!"
Lin Yingniang menggertakkan gigi sambil memejamkan mata rapat-rapat.
Ia masih bisa membedakan mana yang lebih berharga antara sepasang tangan atau nyawanya sendiri.
Jika nyawanya melayang, apa gunanya memiliki tangan?
Di tengah perbincangan singkat itu, seorang pembunuh kembali memanfaatkan kesempatan untuk menghunuskan pedangnya ke arah mereka.
Kali ini, target serangan itu adalah Lin Yingniang yang berada di pelukan Xie Yun.
Begitu membuka mata, Lin Yingniang melihat kilatan bilah pedang yang mengarah tepat padanya. Ketakutan yang teramat sangat nyaris merenggut kesadarannya, dan secara refleks ia mendorong tubuhnya bersembunyi di balik punggung Xie Yun. Ia memang selamat, tetapi tindakan itu justru membuat Xie Yun terdorong langsung ke hadapan mata pedang si pembunuh.
Xie Yun buru-buru mengangkat tangan untuk menangkis. Bilah pedang dan bilah pedangnya beradu dengan keras, menciptakan gesekan tajam yang hampir memercikan bunga api.
Karena gerakannya terlalu terburu-buru, bilah pedang tersebut tetap berhasil menggores lengannya dengan berbahaya.
Lin Yingniangmencium aroma darah yang tipis.
Ketika ia membuka mata lebar-lebar dan melihat situasinya, ia berseru panik, "Houye, Anda terluka!"
Lengan kiri Xie Yun terluka, robek oleh sayatan bilah pedang. Begitu ia menggerakkan ototnya sedikit saja, darah segar langsung mengalir menetes.
Pria itu sadar bahwa ia tidak boleh berlama-lama bertarung di tempat itu. Ia lantas mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengayunkan pedang, membuka jalan berdarah, dan menerobos keluar bersama Lin Yingniang.
Para pembunuh di belakang masih terus mengejar tanpa ampun.
Untungnya, tak jauh dari sana terletak lokasi pasar malam yang sedang ramai dikunjungi orang. Xie Yun langsung menarik Lin Yingniang menerobos masuk ke kerumunan, dan dalam sekejap mereka berdua telah tenggelam di tengah lautan manusia.
Para pembunuh itu kehilangan jejak dan tidak mengejar lagi. Lin Yingniang memapah Xie Yun berjalan dengan susah payah di tengah keramaian pasar.
Bilah pedang pembunuh itu ternyata telah diolesi racun. Begitu ketegangannya mereda, Xie Yun kehilangan sisa tenaganya dan ambruk bersandar ke tubuh Lin Yingniang.
Dengan susah payah ia menahan tubuh pria itu, lalu bertanya dengan cemas, "Houye, Anda tidak apa-apa?"
Xie Yun membuka matanya dengan lemah. "Menurutmu bagaimana?"
Ia tadi melihat dengan jelas bahwa bilah pedang itu tadinya mengarah pada Lin Yingniang, tetapi gadis itu justru mendorongnya ke depan untuk menjadi perisai.