Bab 48 Jika Kau Kabur Lagi, Akan Kupatahkan Kakimu
Halaman (1/3)
“Apakah ini tidak apa-apa?” Gadis itu menggigit bibir, alis dan matanya tampak cemas. “Tidakkah kami akan merepotkan Bibi?”
“Tidak, tidak, sama sekali tidak merepotkan.”
Bibi Fan memang berhati hangat. Ia segera membawa kedua gadis itu pulang.
Bibi Fan adalah penduduk asli Lin’an. Keluarganya telah turun-temurun tinggal di sana dan memiliki latar belakang yang baik. Hanya saja, suaminya telah lama meninggal. Selain seorang putri yang sudah menikah, di rumah itu hanya tersisa seorang putra yang tinggal bersamanya.
“Sekarang dia sedang pergi bekerja. Nanti menjelang sore kalian bisa bertemu dengannya.”
Sambil menjelaskan, Bibi Fan menuangkan air panas untuk menyeduh teh dan memberikannya kepada mereka. “Cuacanya sedingin ini, kalian pasti kedinginan, bukan? Cepat minum teh hangat untuk menghangatkan tubuh.”
Sang majikan dan dayang menerima teh itu sambil mengucapkan terima kasih. Mereka memang kedinginan, tetapi tidak segera meminumnya. Cangkir itu hanya digenggam, sementara mata mereka berkeliling mengamati keadaan sekitar.
Rumah itu benar-benar rumah rakyat biasa.
Meski agak miskin, tempat itu dirawat dengan bersih. Di balik pagar bambu halaman, bahkan dipelihara beberapa unggas.
Menjelang sore, putra Bibi Fan pulang.
Ternyata dia hanyalah seorang pemuda berusia empat belas atau lima belas tahun. Ia menyeringai, memperlihatkan gigi putihnya. Begitu melihat dua gadis cantik muncul di rumah, ia menggaruk kepala dan tersenyum malu-malu.
Bibi Fan memperkenalkannya. “Namanya Fan Hui, anak kedua dalam keluarga. Kalian cukup memanggilnya Tuan Muda Kedua.”
Tuan Muda Kedua Fan masih muda dan sifatnya pun banyak bicara. Melihat Yingniang dan dayangnya, ia merasa sangat penasaran dan terus bertanya ini itu.
Yingniang menjawab semuanya satu per satu. Namun ketika menceritakan alasan kedatangannya, matanya kembali memerah dan ia menundukkan pandangan dengan sedih.
Tanpa sadar, pemuda itu telah mengorek kesedihannya.
Bibi Fan menepuk kepala putranya dengan wajah tak senang. “Kau ini banyak sekali bicara! Bertanya ini dan itu tanpa habisnya. Cepat pergi dan rapikan kamar kakakmu.”
Tuan Muda Kedua Fan pun disuruh pergi.
Bibi Fan memandang Yingniang. “Maaf, ya! Dia masih muda dan pikirannya dangkal. Jangan hiraukan dia.”
Lalu ia melanjutkan, “Kalian tinggal saja dengan tenang di rumahku. Kakaknya menikah dua tahun lalu, jadi kamarnya sedang kosong. Hanya saja, kamarnya agak sederhana. Jangan sampai kedua Nona merasa tidak nyaman.”
“Bibi terlalu sungkan.”
Yingniang berbicara dengan suara lembut, benar-benar seperti seorang gadis dari keluarga terpandang. “Bibi bersedia menampung kami berdua saja sudah membuat kami sangat berterima kasih. Mana mungkin kami merasa tidak nyaman? Bibi tenang saja. Setelah menerima balasan surat, aku akan meminta orang dari kampung halaman datang menjemput. Saat itu, biaya tempat tinggal dan makanan akan kami bayarkan kepada Bibi dalam bentuk uang tunai.”
“Aduh, jangan, jangan.”
Bibi Fan segera melambaikan tangan dan menolak. “Aku hanya merasa kasihan kepada kalian berdua dan ingin melakukan sedikit kebaikan. Jangan membuatku merasa sungkan dengan berkata seperti itu.”
Sungguh, ia memang orang yang baik hati.
Halaman (2/3)
Ia sama sekali tidak mencurigai Yingniang dan dayangnya. Bagaimanapun, mereka hanyalah dua gadis yang tampak lemah lembut. Terlebih lagi, setiap gerak-gerik Yingniang menunjukkan sikap seorang gadis dari keluarga terpandang, sehingga Bibi Fan tidak punya alasan untuk menaruh curiga.
Ketika keluar dan bercerita kepada orang-orang, ia hanya mengatakan bahwa kedua gadis itu sungguh malang.
Seorang gadis muda yang tiba-tiba tertimpa kemalangan, tanpa ayah dan ibu di sisinya, hanya ditemani seorang dayang—memang benar-benar menyedihkan.
Para tetangga pun menghela napas prihatin.
Ketika datang lagi untuk melihatnya, mereka benar-benar mendapati seorang gadis yang sangat cantik. Rasa iba mereka pun semakin besar. Ditambah lagi, Yingniang berbicara dengan suara lembut, alisnya sedikit menurun, dan wajahnya tampak manis serta pemalu. Hal itu membuat mereka semakin iba dan tak tega, sehingga untuk sementara banyak yang datang membantu.
Melihat makanan dan pakaian yang dikirim oleh para tetangga, Caiyan berdecak pelan. “Nona, sebanyak ini tidak akan habis kita makan, bukan?”
Tentu saja tidak akan habis.
Yingniang merapikan semua pemberian itu, lalu mengantarkannya ke kamar Bibi Fan.
“Tidak boleh, tidak boleh.” Bibi Fan segera melambaikan tangan. “Ini diberikan orang lain untuk Nona. Bagaimana mungkin aku menerimanya?”
“Bibi terimalah,” kata Yingniang. “Bibi telah berbaik hati menyelamatkan kami. Aku sungguh berterima kasih dari lubuk hati. Semua ini juga tidak mungkin kubawa pergi, jadi biarlah Bibi menerimanya sebagai wujud niat baikku.”
Ia selalu berbicara dengan begitu pantas dan penuh pertimbangan.
Bibi Fan tidak dapat terus menolak. Ia hanya bisa menerima pemberian itu, lalu bertanya dengan penuh perhatian apakah Yingniang sudah mengirim surat kepada keluarganya dan apakah sudah menerima kabar.
“Untuk sementara belum ada kabar.”
Wajah Yingniang tampak murung. Ia menggelengkan kepala. “Keluargaku tinggal sangat jauh dari Lin’an. Surat pergi-pulang mungkin membutuhkan waktu. Sepertinya aku masih harus merepotkan Bibi selama beberapa hari lagi.”
“Apa salahnya?” Bibi Fan benar-benar sangat baik hati. “Tinggallah di sini sesuka kalian.”
Saat itu, sudah dua hari sejak Yingniang melarikan diri.
Sepanjang perjalanan, ia memperhatikan bahwa iring-iringan kereta bergerak cepat. Setiap tiba di suatu tempat, mereka hanya berhenti sebentar untuk memperbaiki keadaan sebelum kembali berangkat. Paling lama pun mereka hanya tertahan dua hari.
Mungkin saat ini rombongan Xie Yun sudah meninggalkan Lin’an. Namun demi memastikan semuanya aman, ia tetap memutuskan untuk menunggu dua hari lagi sebelum berangkat kembali ke Jiangzhou.
Yingniang telah mempertimbangkan semuanya dengan matang. Selama beberapa hari itu, ia juga lebih banyak berdiam diri di rumah dan sebisa mungkin tidak menampakkan diri di luar.
Namun di mata Bibi Fan, sikap itu tentu tampak seperti kesedihan akibat kemalangan yang menimpanya. Karena itu, hari ini ia bersikeras mengajak majikan dan dayang tersebut keluar berjalan-jalan.
“Hari ini ada festival kuil di jalan! Ramai sekali. Nona sudah sampai di Lin’an, berarti itu memang sudah takdir. Bagaimanapun, kita harus pergi melihat-lihat.”
Lalu ia berkata lagi, “Di belakang festival kuil itu ada Gunung Guanyin. Kuil di Gunung Guanyin sangat ampuh. Kalau Nona tidak ingin pergi ke festival untuk menghibur diri, kita bisa naik ke Gunung Guanyin dan meminta petunjuk.”
Kali ini Yingniang tidak bisa terus menolak. Ia hanya dapat ikut pergi bersama mereka.
Di hadapan rupang Buddha, gadis yang baru saja tertimpa kemalangan itu berlutut di atas bantal sembahyang dan berdoa dengan tulus. Ia memohon petunjuk dari langit, lalu mengambil dua batang ramalan.
Halaman (3/3)
Setelah diperhatikan dengan saksama, keduanya ternyata merupakan pertanda paling buruk.
Gadis itu sedikit mengernyit dan meminta dua batang ramalan lagi.
Namun kali ini, hasilnya tetap pertanda paling buruk.
Gadis itu tidak mau meminta lagi. Ia bangkit sambil berpegangan pada tangan Caiyan. “Kuil ini rupanya tidak ampuh. Mari kita pergi ke tempat lain.”
Ia berbalik hendak pergi, tetapi begitu menoleh, ia mendapati seseorang menghalangi jalan di hadapannya.
Setelah dua kali berturut-turut memperoleh pertanda terburuk, hati Yingniang memang sudah tidak enak. Kini orang itu malah berdiri begitu tidak sopan di hadapannya. Balai Buddha itu luas, pintunya pun lebar, tetapi dia justru berdiri tepat di tengah jalan dan menghalangi langkahnya. Wajah Yingniang pun seketika menjadi tidak sedap dipandang. Ia mengangkat mata, hendak melihat siapa orang itu.
Begitu pandangannya terangkat, ia langsung ketakutan setengah mati. Ia buru-buru menundukkan kepala, menarik Caiyan, dan hendak melarikan diri.
“Lari ke mana?”
Orang di hadapannya menyadari gerakannya. Suaranya terdengar dingin dan jernih. “Kalau kau lari lagi, akan kupatahkan kakimu.”
Nada suaranya tidak keras, tetapi ancaman dalam perkataannya sangat jelas.
Mana berani Yingniang terus berlari?
Ia berbalik, seolah-olah baru saja menyadari kehadirannya.
Wajahnya tampak terpaku dan terkejut, penuh ketakutan yang menyedihkan. “Yang Mulia Marquis, akhirnya aku bisa bertemu dengan Anda.”
Ia tampak begitu teraniaya, seolah-olah telah mengalami ketidakadilan terbesar di dunia.
Tanpa memedulikan bahwa mereka berada di luar, ia menutupi wajahnya, lalu menerjang ke dalam pelukan pria itu. Air matanya berjatuhan, sementara suaranya tersendat oleh isak tangis. “Hamba kira Yang Mulia Marquis sudah pergi dan hamba tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Anda.”
Sungguh, ia tampak begitu malang dan penuh penderitaan.
Xie Yun menunduk memandanginya. Nada suaranya datar. “Oh? Rupanya kau begitu tidak rela berpisah denganku. Kalau begitu, mengapa kau melarikan diri?”
“Apa yang Yang Mulia katakan?”
Yingniang mendongak menatapnya dengan wajah penuh kebingungan. Di sudut matanya masih menggantung air mata yang belum jatuh, berkilauan seolah hendak tumpah. Pemandangan itu sungguh mampu menggugah hati siapa pun.
“Kapan aku hendak melarikan diri?”
Xie Yun jelas-jelas mengetahui semuanya, tetapi berpura-pura tidak tahu. Alisnya yang tampan sedikit terangkat saat ia ikut memainkan sandiwara itu.
“Kalau bukan hendak melarikan diri, mengapa kau berada di sini?”