Bab Tujuh Puluh Dua: Mari Makan Bersama
Mobil kecil itu melaju kembali ke studio.
Hu Tu sedang duduk di halaman, menikmati sinar matahari. Begitu melihat Duan Jincheng kembali, ia langsung berdiri dan menghampiri.
"Kok kamu pulang dengan tangan kosong, sarapanku mana? Mana sarapanku!" Hu Tu sudah terlalu lama kelaparan, hingga untuk bicara saja ia nyaris kehabisan tenaga.
"Tidak beli."
"Aduh, Bang, aku nunggu kamu pulang sambil nahan lapar sampai sekarang, gula darahku hampir anjlok. Susah payah nunggu kamu, eh, malah dibilang nggak beli sarapan?" Hu Tu mengejar Duan Jincheng, "Terus, kamu tadi ke mana?"
Duan Jincheng tidak menjawab.
"Lari pagi," Chen Qingwu yang baru saja masuk mengikuti dari belakang, menjawab untuknya.
"Bukannya kamu sudah lari pagi? Kenapa masih lari lagi?"
"Kamu kemarin pagi kan sudah sarapan? Kenapa hari ini minta sarapan lagi?" Duan Jincheng menatap Hu Tu, jelas merasa ia terlalu banyak bicara.
Hu Tu menyerah, "Sudahlah, kasih aku kunci mobil, aku beli sendiri."
Duan Jincheng mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya, lalu melemparkan begitu saja pada Hu Tu, "Mobilnya di Taman Qingshan. Tapi aku saranin, jangan sekarang ke sana, nanti malam saja baru ambil."
Sebagai asisten Duan Jincheng yang merupakan artis papan atas, Hu Tu juga cukup dikenal publik, hampir setara dengan selebriti kecil. Jika sekarang ia pergi ke Taman Qingshan untuk mengambil mobil dan sampai ketahuan orang, pasti langsung muncul gosip bahwa orang yang mencurigakan di taman tadi adalah Duan Jincheng.
"Taman Qingshan di mana?"
"Toh kamu bakal naik taksi, perlu tahu alamat tepatnya?"
Hu Tu berpikir, memang masuk akal juga.
"Ya udah, setidaknya kasih tahu kira-kira seberapa jauh, biar aku bisa siap-siap mental."
"Empat puluh lima kilometer."
"Empat puluh lima kilometer? Serius, kamu lari pagi sejauh itu? Padahal kamu sudah lari lima kilometer sebelumnya?" Hu Tu terkejut sekaligus khawatir, "A Cheng, kamu benar-benar nggak apa-apa? Dari tadi malam kamu sudah..."
"Tutup mulut."
"Tapi..."
Tatapan tajam Duan Jincheng langsung mengunci Hu Tu.
Hu Tu pun langsung menurut, meski perutnya tidak mau kompromi, berbunyi "kruuk kruuk" penuh pemberontakan.
"Tunggu! Satu pertanyaan lagi, kalau nggak ada mobil, gimana aku beli makan siang? Aku sungguh sudah kelaparan, kalau sampai makan siang juga nggak dapat, aku bisa tumbang."
"Kamu benar-benar sudah keblinger, nggak bisa naik taksi apa?"
"Oh, iya juga."
Chen Qingwu yang mendengarkan percakapan mereka merasa iba pada Hu Tu yang harus naik taksi dalam keadaan lapar hanya demi makan siang. Maka ia pun berkata, "Kebetulan aku mau masak, kalau kalian tidak keberatan, makan siang ini makan saja di tempatku."
"Setuju, setuju, setuju!"
Duan Jincheng belum berkata apa-apa, Hu Tu sudah duluan menyambut dengan tepuk tangan. Ia benar-benar tidak ingin repot-repot lagi hanya untuk sesuap nasi.
Chen Qingwu menoleh pada Duan Jincheng. Ia tahu, meski ia dan Hu Tu sudah sepakat, keputusan tetap ada pada Duan Jincheng, karena bagaimanapun, ia adalah bos Hu Tu.
Duan Jincheng sedang bersiap naik ke atas untuk mandi. Sejak pagi ia sudah dua kali berkeringat, tubuhnya terasa lengket. Mendengar Chen Qingwu menawarkan makan siang, ia jadi tertarik.
"Kamu bisa masak?" Gambaran tentang Chen Qingwu di benaknya masih tertinggal sepuluh tahun lalu, ketika satu-satunya peran Chen Qingwu di dapur hanyalah mengganggu.
"Bisa," jawabnya, sudah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan. Tapi mana mungkin manusia seumur hidup tidak pernah berkembang.
"Kalau begitu, terima kasih, Bu Guru Chen," ujarnya sambil tersenyum.
---
Chen Qingwu naik ke atas untuk berganti pakaian, lalu langsung masuk dapur dan mulai sibuk.
Ekspresi Duan Jincheng tadi, setengah mengejek, benar-benar membakar semangatnya. Ia tertawa seperti itu, jelas tidak percaya ia mampu menguasai dapur. Justru hari ini, ia ingin menunjukkan kemampuannya.
Jiajia, yang mendengar Chen Qingwu akan mengundang Duan Jincheng makan siang, pun datang membantu.
"Untung tadi pagi aku sempat belanja bahan makanan," kata Jiajia.
"Iya, untung sekali."
"Biar aku bantu cuci sayur saja, Kak Qingwu."
"Baik."
Chen Qingwu mengeluarkan semua bahan yang akan digunakan dari kulkas, Jiajia mencuci, ia sendiri memotong dan menata.
Masakan utama hari ini adalah daging babi kecap, bebek rebus bir, dan udang kecil pedas, lalu ada ikan kakap dan iga sapi bawang putih yang harus dikukus kemudian, sup ayam jamur sudah mendidih pelan-pelan di panci tanah liat, tinggal beberapa tumisan kecil yang harus ia masak nanti.
"Kak Qingwu, ini sudah cukup buat kita makan setengah bulan," Jiajia menghitung piring di meja, "Ada belasan jenis lauk, apa nggak kebanyakan?"
Soalnya mereka cuma berempat.
"Namanya juga pertama kali menjamu orang, masa meja makan saja nggak penuh?" jawab Chen Qingwu sambil tersenyum.
"Benar juga, pelit-pelit nggak cocok dengan gengsinya aktor pemenang penghargaan."
"Aku mau mulai menumis, kamu tolong rapikan ruang makan ya."
"Siap."
Chen Qingwu menyalakan alat penghisap asap, lalu mulai menumis lauk satu per satu, setiap selesai satu lauk, ia letakkan di meja dapur belakang, semua berjalan teratur.
Tengah-tengah menumis, ia mendengar langkah kaki di belakang. Dikira Jiajia sudah kembali, ia tidak menoleh sampai ponselnya tiba-tiba berdering di atas dispenser.
"Jiajia, tolong ambilkan ponselku," pinta Chen Qingwu sambil menumis kembang kol kering, masakan yang sangat mengutamakan pengaturan api dan tidak bisa ditinggal. Ia tidak sempat berpaling, "Lihat siapa yang telepon, tolong angkatkan."
"Bang Shu," suara Duan Jincheng terdengar di belakang.
Chen Qingwu terkejut, baru hendak menoleh, ponselnya sudah menempel ke telinganya.
"Qingwu!" suara Feng Wenshu terdengar jelas di ujung telepon.
Chen Qingwu belum sepenuhnya sadar, Duan Jincheng mengangkat alis, memberi isyarat agar ia menerima panggilan itu.
"Bang Shu."
"Tidak terjadi apa-apa setelah kamu pulang, kan? Orang yang pakai mantel hitam itu tidak macam-macam padamu, kan?"
Chen Qingwu melirik Duan Jincheng, dalam hati bergumam, orang itu sekarang berdiri di sampingku, bahkan sedang mengangkatkan ponsel untuk menerima telepon darimu.
"Tidak apa-apa, Bang Shu, jangan khawatir. Aku sudah di rumah."
"Syukurlah, aku cuma takut dia punya niat buruk sama kamu."
Chen Qingwu kembali melirik Duan Jincheng. Ia mengangkat kepala, tepat beradu pandang dengannya. Entah kenapa, hatinya jadi gelisah, gerakan menumisnya pun jadi kacau. Padahal, jarak antara Duan Jincheng, dirinya, dan ponsel tidak lebih dari satu siku. Suara mesin penghisap asap di dapur cukup bising, harusnya ia tidak bisa mendengar percakapan mereka.
"Tidak kok, Bang Shu, nanti aku hubungi lagi, sekarang aku lagi masak."
"Baik, baik, kamu lanjutkan saja dulu."
"Iya, sampai jumpa."
Telepon di seberang lebih dulu ditutup, Duan Jincheng pun melepaskan ponsel saat layar sudah padam.
"Kok kamu ada di sini?"
Baru saja bertanya, tiba-tiba api besar menyembur dari wajan—minyak terlalu panas dan terbakar.
"Ah!"
Selama bertahun-tahun belajar memasak, baru kali ini Chen Qingwu menghadapi situasi seperti ini. Ia panik, refleks melempar spatula dan mundur ke belakang.
Tepat di belakangnya berdiri Duan Jincheng. Dalam kekacauan, ia menabraknya.
Duan Jincheng baru saja mandi, aroma segar dari tubuhnya menembus pekatnya bau asap dapur.
Agar Chen Qingwu tidak terjatuh, ia sempat menahan pinggangnya—hanya sebentar saja, tapi cukup untuk membuatnya berdiri tegak. Setelah itu, Duan Jincheng segera maju ke depan, mematikan alat penghisap asap, mengambil tutup panci, dan dengan cekatan menutup wajan yang terbakar.
Tutup panci terpasang rapat, api besar pun padam seketika.
Melihat bahaya telah berlalu, Chen Qingwu menghela napas lega, tapi ingatan tentang pelukan singkat itu membuat pikirannya melayang.
Duan Jincheng menoleh, melihatnya masih terpaku. Mengira ia masih syok, ia tak kuasa menahan senyum, lalu mengejek dengan suara sangat pelan, "Hebat sekali."