Bab Tiga: Menyimpan Gunung Sumeru dalam Biji Sesawi
Chen Qingwu kembali ke rumah hampir pukul delapan tiga puluh malam. Kakeknya, Chen Changsheng, sedang mendorong sepeda listrik dengan tergesa-gesa bersiap keluar mencarinya.
“Chen Qingwu, kenapa baru pulang?” Melihat cucunya sudah kembali, sang kakek menghentikan sepedanya, berjalan cepat mendekat, meraih lengan seragam sekolah Qingwu sambil menatapnya dari atas ke bawah. “Tidak terjadi apa-apa, kan?”
Chen Qingwu menggeleng. “Tidak.”
“Lalu kenapa pulang setelat ini?”
“Tadi di jalan bertemu teman sekelas, ngobrol sebentar jadi terlambat.”
Barulah kakeknya menghela napas lega. “Baiklah, kamu belum makan, kan? Mau makan apa? Biar Kakek masakkan.”
“Aku sudah makan, Kek. Aku mau mandi lalu kerjakan PR.”
“Baik, baik, baik, segera sana.”
Chen Changsheng tidak berkata apa-apa lagi dan langsung masuk ke studio kerjanya.
Chen Qingwu pergi mandi. Setelah mandi, ia duduk di halaman dan membuka sebotol soda jeruk nipis. Hal-hal yang terjadi di tempat les di Istana Remaja tadi masih ingin ia ceritakan pada kakeknya, jadi ia bangkit dan masuk ke studio kerja sang kakek.
Chen Changsheng sedang duduk tegak di depan meja ukir, menggenggam pisau ukir kecil. Ujung pisaunya menari halus di atas biji zaitun, serpihan-serpihan kecil jatuh, dan wajah seorang tua yang ramah serta murah senyum perlahan muncul dari permukaan biji itu. Selain wajah itu, di bagian belakang biji zaitun mungil ini sudah terukir jelas gunung batu dan pepohonan sebagai latar.
Dulu Chen Qingwu sering mendengar kakeknya berkata, “Semesta dalam setitik biji,” ia tak mengerti maksudnya sampai suatu hari melihat langsung karya sang kakek, barulah ia paham, sejarah dan budaya, matahari dan bulan, langit dan bumi, semua bisa terangkum dalam sebiji kecil ukiran.
“Sudah selesai PR-mu secepat ini?” Kakeknya menoleh dan menghentikan pekerjaannya ketika melihat Qingwu masuk.
“Belum.”
“Lalu, ada apa?”
Chen Qingwu sempat bingung bagaimana memulai, ketika ia masih mencari kata-kata, sang kakek sudah kembali menunduk, fokus penuh pada pisau ukir di tangannya.
“Kalau tidak ada apa-apa, cepat selesaikan PR-mu. Kakek juga sedang buru-buru menyelesaikan pekerjaan.”
Belakangan ini, kakeknya memang sedang mempersiapkan pameran ukiran biji zaitun. Setiap hari sejak pagi hingga senja, pisau ukir tak pernah lepas dari tangannya. Chen Qingwu jadi tak berani sembarangan mengganggunya.
“Baik, Kek.”
Saat berbalik, matanya sempat melirik ke deretan pisau ukir berbagai ukuran yang tersusun rapi di atas meja. Saat kakeknya tidak memperhatikan, ia mengambil satu dan keluar dari studio.
Keesokan harinya adalah hari Selasa.
Saat hendak berangkat sekolah pagi itu, Chen Qingwu teringat akan bertemu Duan Jincheng di sekolah. Ia sudah merasakan canggung luar biasa, namun setibanya di sekolah, ternyata Duan Jincheng hari itu izin dan tidak hadir.
Tempat duduk Duan Jincheng berada di dekat jendela koridor. Sepanjang pagi, bunga kelas Tiga, Xu Xiaoxiao, bolak-balik berdiri di depan jendela itu.
“Xu Xiaoxiao benar-benar niat banget,” kata sahabatnya, Wu Minya, mendekat dan berbisik pelan.
Memang, dulu secara tidak sengaja, pelatih sekolah menautkan benang persahabatan antara Chen Qingwu dan Wu Minya. Setelah penjurusan IPA dan IPS di kelas dua SMA, mereka kebetulan kembali sekelas dan bahkan menjadi teman sebangku, membuat persahabatan mereka semakin erat.
“Dia ngapain?”
“Nunggu Duan Jincheng. Katanya hari ini ulang tahun Duan Jincheng, Xu Xiaoxiao sudah siapkan kado ulang tahun spesial, tapi orangnya nggak datang, jadi kadonya nggak bisa diberikan, makanya dia terus menunggu.”
Chen Qingwu hanya mengangguk pelan. Mengingat tatapan dingin pemuda itu semalam, hatinya terasa sesak.
“Nanti sepulang sekolah, kelas kita akan tanding basket lawan kelas tiga. Kamu mau nonton nggak?” Wu Minya mengganti topik.
“Tidak usah.”
“Kamu mau les lagi?”
Chen Qingwu sempat ingin menceritakan kejadian kemarin di Istana Remaja pada Minya, tapi setelah dipikir-pikir, ia benar-benar tidak tahu harus memulainya dari mana.
“Iya, soalnya sudah dibayar.”
Sejak masuk SMA, nilai Chen Qingwu selalu biasa-biasa saja, terutama matematika yang sangat buruk, selalu menjadi beban saat ujian. Kakeknya, Chen Changsheng, sangat khawatir, sampai mendaftarkan berbagai les matematika untuknya, tapi tak pernah ada hasil. Akhirnya, sang kakek memilih membayar mahal untuk les privat satu lawan satu di Istana Remaja.
Sepulang sekolah, Wu Minya dan beberapa teman perempuan sekelas pergi ke lapangan untuk menonton pertandingan basket, sementara Chen Qingwu seperti biasa menggendong tas berat menuju Istana Remaja.
Guru privat satu lawan satu yang mengajar Chen Qingwu bermarga Wei, berkacamata tanpa bingkai, suka mengenakan kemeja bergaris, penampilannya kalem, tapi cara bicaranya sangat menarik.
Awalnya, Chen Qingwu cukup menyukai guru ini, sampai kemarin ia baru sadar, Wei Mingwei tidak hanya terlihat sopan, ternyata juga bejat, benar-benar bejat dalam arti sesungguhnya.