Bab Seratus Dua Belas: Sangat Mencintaimu
Duan Jincheng hanya melakukan dua hal setiap hari di halaman kecil Chen Qingwu: menemani Xiao Chengzi bermain dan menunggu paket.
Namun, langit bisa berubah tanpa diduga, manusia bisa tertimpa kemalangan kapan saja, dan perusahaan kurir bisa mengalami gangguan hingga paket-paket pun hilang.
Paket milik Duan Jincheng sudah tiba di Kota Chu menurut informasi pelacakan, tetapi setelah itu tidak ada kabar lagi. Setelah menunggu dua hari tanpa menerima pemberitahuan pengantaran, Duan Jincheng menelepon untuk menanyakan keadaan. Ia justru diberi tahu bahwa paketnya hilang. Sikap perusahaan kurir dalam menangani masalah itu sangat cepat; sore harinya, Duan Jincheng sudah menerima uang ganti rugi atas paket tersebut.
Namun, siapa yang membutuhkan sedikit uang ganti rugi itu?
Yang ditunggu Duan Jincheng adalah barang di dalam paket!
Tak ada pilihan lain, ia hanya bisa pasrah dan membeli ulang.
Setelah Chen Qingwu menceritakan hal itu kepada Wu Minya melalui telepon, Wu Minya tertawa selama sepuluh menit penuh tanpa berhenti.
“Sayang, kalau begitu kenapa kau tidak membelikannya?”
“Aku sangat sibuk beberapa hari ini. Lagi pula, dia tidak mengizinkanku membelinya. Katanya, barang-barang yang dipakai pria harus dipersiapkan sendiri oleh pria.”
“Bagus juga. Ternyata sang aktor terbaik cukup menghormati perempuan.”
Memang, Duan Jincheng selalu sangat menghormati perempuan. Meskipun setiap malam ia tersiksa oleh hasrat, demi tidak melukai Chen Qingwu, ia lebih memilih menahan diri dan tak pernah bertindak gegabah tanpa perlindungan.
“Kau sibuk sekali beberapa hari ini? Ada waktu untuk makan tengah malam bersama? Mu Yiyang kebetulan sedang berada di Kota Chu. Bagaimana kalau kita bertemu?” ujar Wu Minya.
“Boleh bertemu, tapi tunggu sampai siaran langsungku selesai. Siaranku berakhir pukul sembilan. Kalian sempat?”
“Tentu. Mau bertemu di mana?”
“Bagaimana kalau di rumah saja? Kita pesan makanan.”
“Baik. Tak perlu memesan juga, kami akan membungkusnya dan membawanya kemari. Nanti kirimkan saja apa yang ingin kau makan ke ponselku, biar aku yang membelikannya.”
“Baik.”
Malam itu, Wu Minya datang ke rumah bersama Mu Yiyang untuk makan tengah malam.
Keempatnya sudah bukan lagi anak-anak muda canggung seperti dahulu. Ketika kembali bertemu, muncul perasaan aneh seolah-olah mereka telah melintasi ruang dan waktu.
Mengetahui mereka akan datang, Duan Jincheng sudah lebih dahulu membereskan meja dan kursi di halaman. Debu serta daun-daun kering telah ia lap hingga bersih.
Wu Minya dan Mu Yiyang seolah-olah memborong seluruh jajanan dari satu ruas jalan. Aneka makanan ringan memenuhi meja hingga hampir tak tersisa tempat. Duan Jincheng, yang biasanya tidak pernah makan tengah malam, bahkan membuat pengecualian dan makan cukup banyak malam itu.
Mungkin karena suasananya, malam itu Chen Qingwu dan Wu Minya terus mengobrol tentang orang-orang serta berbagai kejadian semasa SMA. Mereka membicarakan seseorang yang baru-baru ini mereka temui dan kini sedang merintis usaha, perusahaan miliknya berkembang pesat, atau seseorang yang telah menikah dan dikaruniai seorang bayi mungil yang sangat menggemaskan.
Kedua perempuan itu terus asyik berbincang. Duan Jincheng memang sejak dulu sedikit bicara, sedangkan Mu Yiyang selama bertahun-tahun juga telah ditempa menjadi jauh lebih tenang dan dewasa. Kedua pria itu hanya duduk diam menikmati sedikit arak, sesekali mengangkat cangkir dan bersulang.
Angin malam terasa sejuk. Beberapa lampu temaram menerangi halaman, cahayanya bergetar lembut sementara bayangan pepohonan bergoyang. Orang-orang di sekeliling meja minum arak dan menikmati sate tusuk, diselimuti kehangatan serta ketenteraman.
Pertemuan itu baru berakhir lewat tengah malam.
Karena sama-sama minum, Wu Minya dan Mu Yiyang hanya bisa memanggil pengemudi pengganti untuk mengantarkan mereka pulang.
Ketika keduanya berdiri di halaman menunggu pengemudi itu, Wu Minya tiba-tiba teringat sesuatu.
“Mu Yiyang, mana hadiahnya?”
Mu Yiyang ragu sejenak sebelum menjawab, “Masih di dalam mobil.”
“Untuk apa kau menyimpannya di mobil? Cepat ambil dan berikan kepada mereka.”
Mu Yiyang menuruti perkataannya. Ia membuka pintu mobil dan mengeluarkan sebuah kotak hadiah kecil dengan kemasan yang indah.
“Datang berkunjung saja sudah cukup, kenapa masih membawa hadiah?” Chen Qingwu melirik Wu Minya. Ini sama sekali bukan gaya Wu Minya.
Wu Minya hanya tersenyum tanpa menjawab, lalu memberi isyarat kepada Mu Yiyang. Mu Yiyang berjalan ke hadapan Duan Jincheng dan menyerahkan kotak kecil itu kepadanya.
“Ini untukmu, Kawan.”
“Untukku?”
“Ya.”
Duan Jincheng tampak penuh kebingungan, tetapi tetap menerima kotak itu dan mengucapkan terima kasih.
“Jangan dibuka dulu. Bongkar setelah kami pergi. Aku jamin kalian pasti menyukainya,” kata Wu Minya.
Begitu ia selesai berbicara, pengemudi pengganti tiba.
“Kami pergi dulu, Sayang.”
Wu Minya menghampiri Chen Qingwu dan memeluknya sejenak. Dengan nada menggoda, ia berbisik di telinga Chen Qingwu, “Nikmatilah malam yang indah!”
Chen Qingwu samar-samar sudah menebak isi hadiahnya. Ia mencubit lengan Wu Minya pelan, sementara Wu Minya terkikik dan menarik Mu Yiyang pergi.
Setelah keramaian berakhir, halaman kembali sunyi.
Duan Jincheng menimang-nimang kotak hadiah itu di tangannya, lalu mengguncangnya dekat telinga.
“Haruskah kubuka?” tanyanya.
Wajah Chen Qingwu telah memerah. “Buka saja.”
Duan Jincheng merobek pembungkus kotak itu dengan tangan kosong.
Astaga. Dua kotak kondom Okamoto langsung jatuh dari tangannya.
Duan Jincheng terdiam.
---
Chen Qingwu membereskan sampah di halaman, sementara Duan Jincheng membersihkan meja dan kursi dengan selang air.
Malam telah larut, tetapi keduanya belum merasa mengantuk.
Setelah halaman selesai dibersihkan, mereka bersama-sama naik ke lantai atas.
Selama dua hari terakhir, Duan Jincheng dengan sadar tidur di kamar lamanya. Namun, ketika tiba di ujung lorong malam itu, ia tidak berbelok menuju kamarnya. Ia justru mengikuti Chen Qingwu menuju kamar perempuan itu.
Ada hal-hal yang tak perlu diucapkan dengan jelas. Keduanya sudah saling memahami.
Begitu Chen Qingwu membuka pintu kamar, pria di belakangnya langsung melingkarkan tangan ke pinggangnya. Dengan satu gerakan, ia membalikkan tubuh Chen Qingwu dan menekannya ke balik pintu.
Lampu kamar tidak dinyalakan.
Cahaya bulan yang masuk dari jendela menjadi satu-satunya sumber penerangan di ruangan itu.
Dalam kegelapan, ciuman Duan Jincheng jatuh tepat di bibir Chen Qingwu.
Lembut, penuh kasih, dan mendalam—tak satu pun kata itu cukup untuk menggambarkan ciuman tersebut. Chen Qingwu dapat merasakan bahwa Duan Jincheng telah mencurahkan seluruh kesabarannya ke dalam ciuman itu.
Ciuman tersebut adalah kunci yang membuka pintu menuju dunia lain.
Dalam kegelapan, mereka berpelukan dan melangkah maju bersama, hingga akhirnya terjatuh. Saat itu, Chen Qingwu mencium aroma buah persik putih yang begitu dikenalnya.
Baik suasana di sekeliling maupun pria di hadapannya membuatnya merasa aman. Ia sama sekali tidak merasa takut ataupun ingin mundur.
Ia tahu bahwa dirinya bersedia.
Tenggelam ataupun terbang menuju langit, selama bersamanya, ia bersedia melakukan apa pun.
Pemanasan berlangsung lama dan cukup, tetapi pada saat terakhir, Chen Qingwu tetap menitikkan air mata karena rasa nyeri. Tubuhnya seakan terbelah menjadi dua, namun jiwanya justru merasakan kepenuhan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Pengalaman pertama itu berakhir terlalu cepat, seperti membeli es krim cantik yang baru dijilat beberapa kali tetapi sudah jatuh ke tanah.
Duan Jincheng jelas merasa menyesal dan tidak puas. Setelah Chen Qingwu pulih, mereka kembali melanjutkan hingga akhirnya keduanya benar-benar merasakan manisnya.
Di suatu saat ketika mereka berpelukan, pikiran Chen Qingwu melayang tanpa arah. Jadi, resonansi pada frekuensi yang sama antara dua jiwa ternyata juga dapat diraih dengan cara seperti ini.
Setelah semuanya usai, Duan Jincheng menyalakan lampu.
Chen Qingwu meringkuk di balik selimut. Rambut di dekat pelipisnya basah oleh keringat dan menempel di telinga, sementara rona merah di wajahnya yang pucat belum juga memudar.
“Haruskah aku memandikanmu?” bisik Duan Jincheng di telinganya.
Chen Qingwu terlalu lelah untuk berbicara. Ia hanya mengangguk.
Duan Jincheng menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, ia kembali menggendong Chen Qingwu keluar.
Seprai tempat tidur telah kusut dan kotor sehingga tak mungkin dipakai tidur lagi.
“Mau tidur di kamarku?” tanya Duan Jincheng.
Keempat anggota tubuh Chen Qingwu terasa lemas. Ia tidak ingin bolak-balik berpindah tempat, terlebih ia agak sulit tidur di ranjang yang bukan miliknya. Saat ini, yang ia inginkan hanyalah tidur nyenyak di ranjangnya sendiri.
“Di dalam lemari ada seprai bersih. Ganti saja.”
“Baik.”
Duan Jincheng membuka lemari dan mengambil seprai untuk menggantinya. Ketika menoleh kembali, Chen Qingwu sudah tertidur di sofa.
Rambut hitamnya terurai di atas bantal, bibir merahnya terkatup rapat, dan napasnya teratur.
Duan Jincheng berjalan mendekat, lalu berjongkok di hadapannya. Ia menatap Chen Qingwu sejenak dalam diam, sebelum tak kuasa menunduk dan kembali mengecup bibirnya.
“Chen Qingwu.”
“…”
“Aku sangat mencintaimu.”