Bab Empat Puluh Empat: Otak Pembelajar
Ucapan Duan Jin Cheng barusan secara tidak langsung menjelaskan bahwa ia dan Xu Xiaoxiao tidak memiliki hubungan apa-apa, setidaknya, sama sekali bukan hubungan seperti yang dibayangkan Chen Qingwu. Hujan yang sejak libur Mei terus membayangi Chen Qingwu akhirnya mulai reda.
Namun, mungkin Xu Xiaoxiao sendiri tidak merasa bahwa ia dan Duan Jin Cheng tidak ada hubungan. Sejak pintu minimarket itu tanpa sengaja terbuka, perseteruannya dengan Chen Qingwu pun resmi dimulai.
Kelas Tiga dan Kelas Enam memang berjauhan, tapi tetap berada di lantai yang sama. Saat latihan pagi atau pergi ke kantin untuk makan, naik turun pun tetap menggunakan tangga yang sama, jadi sesekali pasti berpapasan.
Setiap kali bertatap muka, tatapan Xu Xiaoxiao pada Chen Qingwu selalu penuh kebencian seolah telah diwariskan turun-temurun.
“Apakah kau punya utang padanya?” Wu Minya juga menyadari kebencian Xu Xiaoxiao pada Chen Qingwu.
“Tidak,” jawab Chen Qingwu.
“Lalu apa masalahnya? Menurutku ekspresinya seram sekali, seperti ingin menerkammu hidup-hidup.”
Akhirnya Chen Qingwu tak tahan juga, ia pun menceritakan pada Wu Minya soal dirinya yang mengikuti les dengan Duan Jin Cheng, serta kejadian dramatis di minimarket.
“Ya ampun, pantas saja nilai matematikamu bisa meningkat pesat, ternyata diam-diam kau mendapat bimbingan khusus dari Duan Jin Cheng. Orang hebat yang kau sebut-sebut itu ternyata dia, benar kan?”
Chen Qingwu mengangguk.
“Pantas saja Xu Xiaoxiao begitu membencimu. Semua orang tahu dia menyukai Duan Jin Cheng, itu bukan rahasia lagi di angkatan. Kau sedekat itu dengan Duan Jin Cheng, kalau aku jadi dia, aku juga pasti benci padamu.”
“Aku benar-benar tidak ada apa-apa dengan Duan Jin Cheng, dia hanya membantuku mengerjakan tugas,” jelas Chen Qingwu.
“Qingwu, kadang aku pikir kau cukup cerdas, tapi kadang juga terasa ada yang kurang. Jelas-jelas Duan Jin Cheng itu menyukaimu. Kalau dia tidak suka padamu, buat apa dia repot-repot membimbingmu setiap hari? Kau juga bukan anak kandungnya,” Wu Minya menyimpulkan dengan pengalaman bertahun-tahun membaca novel romansa. Menurutnya, Duan Jin Cheng jelas-jelas menyukai Chen Qingwu, hanya saja belum mengatakannya.
Namun Chen Qingwu tetap tidak setuju dengan pendapat Wu Minya. “Yaya, bukan begitu. Duan Jin Cheng tidak punya perasaan apa-apa padaku. Dia mau membantuku belajar itu karena aku pernah membantunya.”
Itulah alasan paling masuk akal yang bisa Chen Qingwu pikirkan.
Bagaimana mungkin Duan Jin Cheng menyukainya? Xu Xiaoxiao saja, yang begitu cantik, tak mampu menggoyahkan tekad belajarnya, apalagi dirinya?
Lagi pula, selama ini mereka mengerjakan tugas bersama, Duan Jin Cheng memang tidak pernah menunjukkan tanda-tanda ambigu yang bisa membuat Chen Qingwu baper atau menebak-nebak. Kalau memang suka, meski lewat perkataan tidak, pasti ada lewat sikap atau tatapan. Tapi Duan Jin Cheng justru selalu bersikap biasa saja, tanpa bahasa tubuh ataupun sorot mata yang berbeda, sangat pandai menyembunyikan perasaannya jika memang ada.
Wu Minya pun merasa bahwa analisis Chen Qingwu cukup masuk akal.
“Baiklah, aku tidak tahu apakah Duan Jin Cheng suka padamu atau tidak, tapi aku yakin, kau pasti menyukainya!” kata Wu Minya penuh keyakinan.
Chen Qingwu buru-buru memberi isyarat agar temannya diam. “Pelan-pelan, jangan asal ngomong. Sekarang aku cuma ingin fokus belajar.”
Sungguh.
Saat ini, Chen Qingwu benar-benar hanya ingin membuang segala pikiran soal cinta dan hanya menyisakan otak untuk belajar.
Bagaimanapun juga, nilai Duan Jin Cheng sangat bagus, sedangkan peringkatnya sendiri masih jauh di bawah. Nanti, saat ujian masuk universitas, peringkat mereka pun mungkin akan sejauh itu. Tiga tahun masa SMA adalah waktu yang sangat penting dalam hidupnya. Jika ia tertinggal terlalu jauh di jalan ini, mungkin seumur hidup ia hanya bisa menatap punggung Duan Jin Cheng dari kejauhan.
Ia tidak berharap perasaannya pasti akan berbalas, namun ia juga tidak ingin suatu hari nanti, saat mengenang masa mudanya, mengenang orang yang pernah ia sukai, masih menyisakan penyesalan karena merasa “tak pantas”.