Bab Tiga Puluh Empat: Bunga Kelas
“Terima kasih.” Chen Qingwu menerima semprotan itu. “Sebenarnya, setiap tahun di musim seperti ini, rinitis saya memang selalu kambuh, bukan karena pergi ke taman untuk membahas soal.”
“Istirahat dulu, jangan sampai memengaruhi ujian,” kata Duan Jincheng.
Chen Qingwu seperti baru tersadar dari mimpi.
Benar juga, ujian yang terpenting, siswa bodoh tak layak banyak berpikir!
Chen Qingwu segera menyesuaikan diri, lalu fokus penuh pada ujian.
Ujian bulanan selama tiga hari pun segera usai.
“Akhirnya selesai juga!” Wu Minya bersandar di meja, seluruh tubuhnya seperti sayur layu, lemas tak berdaya. “Qingwu, aku merasa soal ujian kali ini susah sekali, pasti aku bakal ‘mati’ mengenaskan.”
“Nilainya saja belum keluar, sudah buru-buru vonis diri sendiri, bukankah terlalu cepat?”
“Aduh, memang beginilah, ada yang kelebihan air sampai kebanjiran, ada yang kekeringan sampai tandus. Kamu satu ruangan ujian dengan Duan Jincheng, kan? Kudengar si jenius Duan itu bahkan selesai lebih cepat dan langsung mengumpulkan jawabannya, benar nggak?”
Chen Qingwu mengingat-ingat, Duan Jincheng memang hanya pada ujian pertama yang mengumpulkan lebih awal, ujian-ujian berikutnya dia duduk manis sampai waktu habis.
“Bukannya ujian pertama itu Bahasa? Kok bisa ujian Bahasa selesai cepat, aneh juga ya,” kata Wu Minya.
Chen Qingwu hanya menggumam pelan. Ia sempat terpikir, mungkinkah dia mengumpulkan lebih awal demi membelikan semprotan hidung untuknya, tapi akal sehatnya segera mengingatkan agar tak terlalu berharap.
Diam-diam menyukai seseorang itu adalah manis yang getir, sedang terlalu percaya diri itu getir yang manis—dua-duanya sama-sama tak enak.
Seminggu kemudian, nilai ujian bulanan semua mata pelajaran telah keluar.
Chen Qingwu dan ketua kelas dipanggil wali kelas, Bu Hou, ke ruang guru untuk membantu menginput nilai.
“Chen Qingwu! Nilai Matematikamu kali ini meningkat pesat!” Guru Matematika yang biasanya selalu kecewa padanya, kini di depan para guru lain memujinya dengan suara lantang.
Chen Qingwu tak pandai berkata-kata indah, juga tak bisa mengucapkan “semua karena bimbingan Anda”, jadi ia hanya bisa tersenyum lebar dengan canggung.
Ia melihat kertas ujiannya di atas meja Guru Matematika. Sejak masuk SMA, belum pernah ia mendapat nilai semencolok ini. Ia menatap coretan merah di kertas itu, hatinya seolah dipenuhi kembang api yang meledak indah.
Akhirnya, ia bisa dengan bangga berkata pada Duan Jincheng: “Lihat, aku tidak mempermalukanmu sebagai guruku, kan!”
Setelah selesai menginput nilai dan keluar dari ruang guru, waktu sekolah pun telah usai.
Chen Qingwu tak sabar ingin mencari Duan Jincheng, berharap bisa membagikan kabar bahagia ini sebelum hari berakhir. Ia tahu, Duan pasti akan senang untuknya, bahkan mungkin akan merasa lebih bangga daripada saat dirinya sendiri jadi juara satu.
Kebetulan Duan Jincheng sedang turun tangga.
Chen Qingwu melihat sosoknya sekilas di lorong, hendak memanggil, tapi tiba-tiba dari pojok lorong muncul seorang gadis.
Gadis itu berambut pendek model siswa—sebuah gaya rambut yang hanya cocok untuk wajah yang benar-benar cantik. Chen Qingwu sendiri pernah memotong seperti itu, hasilnya malah jelek sampai tak berani bercermin. Namun di wajah gadis ini, gaya rambut itu malah membuatnya makin memesona.
Dia adalah bunga kelas dari Kelas Tiga, Xu Xiaoxiao.
Xu Xiaoxiao menepuk bahu Duan Jincheng, seolah sengaja ingin menakut-nakutinya, tapi Duan Jincheng sama sekali tak terkejut. Xu Xiaoxiao pun langsung manyun, menunjukkan ketidakpuasan.
Mereka berdua berbincang di lorong. Chen Qingwu memang tak bisa mendengar apa yang mereka katakan, tapi ia bisa merasakan, mereka pasti sudah janjian hendak pergi ke suatu tempat bersama.
Benar saja, tak lama Xu Xiaoxiao berjalan di depan, membuka jalan, dan Duan Jincheng mengikutinya. Mereka asyik bercakap-cakap, Xu Xiaoxiao bergerak dengan penuh semangat, kegembiraannya tampak jelas.
Matahari terbenam di ufuk barat, membuat bayangan keduanya memanjang.
Chen Qingwu berdiri diam di tempat, memandangi mereka dari kejauhan. Kebahagiaan besar yang sempat memenuhi dadanya, tanpa ia sadari, telah perlahan-lahan menghilang hingga tak tersisa.