Bab tiga puluh lima: Kekasih Ideal
Setelah ujian bulanan selesai, tibalah libur Hari Buruh. Libur Hari Buruh menyatu dengan akhir pekan, jadi ada lima hari liburan. Chen Qingwu menghabiskan hari-harinya di rumah, mengerjakan soal-soal untuk mengisi waktu. Kadang, saat ia sedang serius mengerjakan soal, tangannya tiba-tiba tak terkendali menggambar siluet punggung Duan Jincheng dan Xu Xiaoxiao di kertas coretan, dan pikirannya pun ikut melayang tak tentu arah.
Sebenarnya, hubungan seperti apa yang terjalin antara Duan Jincheng dan Xu Xiaoxiao? Mengapa mereka terlihat begitu akrab dan dekat? Terutama Xu Xiaoxiao, ia tampak begitu santai di hadapan Duan Jincheng, setiap gerak-geriknya sangat alami, sama sekali tidak seperti Chen Qingwu yang selalu canggung, setiap ucapan dan tindakannya harus dipikir ulang berkali-kali.
Selain itu, waktu ulang tahun Duan Jincheng yang lalu, Xu Xiaoxiao juga orang pertama yang tahu, karena ia yang pertama kali memberi hadiah. Barulah gadis-gadis lain ikut-ikutan... Tentu saja, di antara gadis-gadis yang ingin ikut-ikutan tapi akhirnya gagal, ada pula Chen Qingwu.
Dugaan, penyangkalan, kecemasan, dan kegelisahan memenuhi seluruh masa liburan, hingga untuk pertama kalinya Chen Qingwu merasa bahwa liburan tak lagi menyenangkan.
Namun, pada hari terakhir liburan, akhirnya terjadi satu hal yang membuatnya bahagia.
Bibi kecilnya, Chen Yuchuan, akhirnya membawa pulang pacar yang selama ini ia sembunyikan.
Hari itu, ketika Chen Qingwu baru bangun tidur, ia sudah mendengar suara tawa ceria kakeknya, Chen Changsheng, dari halaman. Dalam ingatannya, sudah lama kakeknya tidak tertawa sebahagia itu.
Ia membuka jendela dan melihat Chen Yuchuan berdiri berdampingan dengan seorang pria di hadapan kakeknya. Pria itu mengenakan setelan jas dan dasi, setiap helai rambutnya tertata rapi dan formal. Sekilas saja, Chen Qingwu langsung mengenali pria itu sebagai orang yang pernah ia lihat di KTV tempo hari.
“Qingwu!” Kakeknya menoleh ke atas, tepat saat ia menjulurkan kepala dari jendela. “Cepat turun, temui calon paman barumu.”
Panggilan “paman” itu menandakan kakeknya benar-benar menyetujui pria di hadapannya. Chen Qingwu menjawab singkat, lalu buru-buru mencuci muka. Setelah itu ia memilih baju lama di lemari, akhirnya mengenakan pakaian baru yang beberapa hari lalu dibelikan bibi kecilnya.
Bagaimanapun, calon pamannya berpakaian sangat rapi, sebagai keluarga bibi, ia juga harus tampil sedikit formal.
Chen Qingwu turun ke bawah, lalu Chen Yuchuan memperkenalkan pria itu padanya.
Calon paman barunya bernama Han Ruize. Ia mengelola sebuah restoran Barat di kawasan Seratus Plaza. Tahun lalu, restoran itu sempat berselisih dengan pengelola plaza karena masalah biaya properti. Han Ruize pun mendatangi Kantor Hukum Jiahe untuk mencari bantuan hukum, dan kebetulan Chen Yuchuan yang menangani kasus tersebut. Dari situlah mereka saling mengenal.
Selama proses penyelesaian sengketa, Han Ruize terpikat oleh kemampuan profesional Chen Yuchuan dan mulai menyimpan perasaan terhadapnya. Setelah masalah antara restoran dan plaza terselesaikan dengan baik, Han Ruize pun mulai mendekati Chen Yuchuan dengan sungguh-sungguh.
Selama bertahun-tahun, Chen Yuchuan tidak pernah benar-benar menjalani hubungan cinta. Han Ruize tinggi, tampan, lembut hati, perhatian, sukses dalam karier, dan selalu bisa memberi jawaban atas segala hal. Ia seperti kekasih ideal yang diciptakan Tuhan sesuai dengan bayangan dalam hati Chen Yuchuan. Tak butuh waktu lama, Chen Yuchuan pun jatuh hati. Setelah berpacaran, ia menemukan bahwa kepribadian mereka saling melengkapi dan prinsip hidup mereka pun sangat serasi. Rencana masa depan mereka pun hampir sama, sehingga ia yakin bisa menjalani hidup bersama Han Ruize. Maka, memanfaatkan libur Hari Buruh, ia membawa Han Ruize untuk bertemu keluarga.
Chen Changsheng awalnya masih khawatir putrinya tidak mencari jodoh. Siapa sangka, diam-diam ia malah membawa pulang pacar yang begitu tampan dan luar biasa. Kakek pun merasa kaget sekaligus gembira.
“Yuchuan ini memang suka berbuat semaunya. Membawa pacar pulang itu kan urusan besar, tapi sama sekali tak memberitahu lebih dulu. Jadinya, kakek tak sempat menyiapkan apapun,” ujar sang kakek.
“Kalau aku bilang lebih dulu, mungkin sekarang sudah banyak sanak saudara datang ke sini,” jawab Chen Yuchuan.
“Ruize sehebat ini, apa yang perlu kau tutupi dari orang lain?” tanya kakeknya.
“Iya, apa kau pikir aku memalukan?” goda Han Ruize sambil berpura-pura marah, melirik Chen Yuchuan.
Chen Yuchuan buru-buru merangkul lengan Han Ruize, “Sayang, aku bukannya takut orang melihat. Aku justru takut ada yang merebutmu.”
Melihat cara bibi kecilnya dan calon paman barunya saling menatap penuh cinta, Chen Qingwu merasa geli sekaligus iri. Namun, ia pikir, mungkin inilah wujud cinta yang paling indah.