Bab Delapan: Rahasia Musim Bunga
Kakek Chen Changsheng akhirnya mengetahui kejadian pelecehan yang menimpa Chen Qingwu. Menurut cerita Bibi Chen Yuchuan, kakek sangat marah, sampai-sampai datang ke kantor polisi dan mengancam akan memenggal kepala Wei Mingwei.
Chen Qingwu sendiri belum pernah melihat kakeknya kehilangan kendali emosi dengan siapa pun. Dalam ingatannya, kakek selalu duduk tenang di ruang kerjanya, seolah telah menanggalkan segala suka dan duka, sepenuhnya tenggelam dalam seni ukir inti zaitun. Tak pernah ia bayangkan, kakeknya ternyata juga bisa begitu berapi-api.
Namun, kakek tidak pernah menunjukkan apa pun di hadapannya, bahkan tidak sedikit pun menyinggung peristiwa itu. Ia tahu, kakek pasti takut ia akan bertambah sedih, dan berharap ia bisa segera melupakan pengalaman pahit itu.
Chen Yuchuan kemudian meminta izin dua hari dari sekolah untuk Chen Qingwu dengan alasan kurang sehat. Mulanya, ia ingin mengajak Chen Qingwu keluar agar suasana hatinya membaik dan tidak terus memikirkan kejadian itu. Namun Chen Qingwu memilih berdiam diri di kamar selama dua hari penuh.
Hal ini akhirnya benar-benar membuat Chen Yuchuan khawatir.
“Chen Qingwu!” Pada malam hari kedua, Chen Yuchuan mengetuk pintu kamar Chen Qingwu. “Kalau hatimu masih ada yang mengganjal, jangan dipendam sendiri. Kalau ada apa-apa, ceritalah pada bib—eh, kamu sedang apa?”
Chen Yuchuan menunduk dan melihat Chen Qingwu sedang membungkuk di depan meja belajarnya, tangannya memegang amplas halus dan menggosok sebuah inti zaitun. Pada permukaan inti zaitun itu terukir daun teratai dan seekor ikan mas, ekor ikan mengibas indah, tampak hidup dan nyata.
“Itu ukiranmu?”
“Iya.”
“Dua hari ini kamu yang mengukirnya?”
“Iya.”
Chen Yuchuan diam-diam merasa takjub. Beberapa tahun lalu, ia pernah mendengar ayahnya berkata bahwa Chen Qingwu punya bakat dalam seni ukir inti. Waktu itu, ia sama sekali tidak menanggapi, mengira sang ayah sudah terlalu ingin mencari penerus, sampai-sampai anak yang belum genap sepuluh tahun pun diharapkan bisa mewarisi keahliannya. Namun sekarang, tampaknya sang ayah memang tidak salah.
Anak perempuan ini memang punya bakat.
“Daun teratai dan ikan mas, apa maknanya?”
“Rezeki dan kebahagiaan yang melimpah.”
Chen Yuchuan mengambil ukiran inti zaitun bermakna “rezeki dan kebahagiaan” itu, lalu mengamatinya di telapak tangan. Detail kecilnya begitu halus, nyaris sempurna. Siapa pun yang tidak tahu pasti takkan menyangka ukiran ini hasil karya seorang pemula.
“Bagus juga, Chen Qingwu. Kamu memang berbakat.”
“Hanya bibi saja yang memuji. Kalau kakek yang melihat, pasti sudah menunjuk banyak kekurangannya,” sahut Chen Qingwu.
“Bapak tua itu memang terkenal perfeksionis. Jangan hiraukan. Kamu kan belajar sendiri, hasilnya sudah sangat baik.”
Sambil memainkan inti zaitun itu, Chen Yuchuan berkata, “Aku sih suka, bagaimana kalau kamu berikan saja padaku sebagai kenang-kenangan?”
“Eh, tidak bisa!” Chen Qingwu langsung bangkit dan merebut kembali ukiran itu dari tangan bibinya. “Aku mau memakainya.”
Dua hari ini, ia sengaja mengukir motif “rezeki dan kebahagiaan” itu sebagai hadiah ulang tahun untuk Duan Jincheng. Setelah berpikir panjang, ia merasa tak ada yang lebih bermakna selain hadiah buatan tangan sendiri.
“Lihat, pelit sekali. Kalau memang tidak boleh, tidak usah marah begitu dong,” cibir Chen Yuchuan. “Mau kamu berikan ke seseorang, ya?”
“Bukan... bukan.”
“Masih ngotot? Chen Qingwu, dari kecil kalau bohong pasti gagap. Sudahlah, untuk siapa sebenarnya?”
“Benar-benar bukan,” wajah Chen Qingwu memerah, ia melambaikan tangan, mengusir bibinya. “Bibi, keluarlah. Aku mau istirahat.”
Chen Yuchuan hanya tertawa. Ia tahu, gadis seusia lima belas atau enam belas tahun pasti sudah punya rahasia kecilnya sendiri. Ia pun tidak bertanya lebih lanjut, hanya berpesan, “Baiklah, kau istirahat saja. Kalau ada apa-apa, jangan lupa cerita pada bibi. Bagaimanapun juga, bibi seorang pengacara, bisa melindungimu. Jangan lagi bertindak nekat dan membahayakan diri sendiri.”
“Iya.”