Bab Empat Puluh Enam Perkelahian
Chen Yuchuan sedang tidur ketika mendengar suara ketukan di pintu. Ia mengira itu Chen Qingwu, jadi langsung mempersilakan masuk.
Han Ruize masuk dengan membawa bunga dan hadiah, lalu berteriak, “Kejutan!”
Mendengar suara pacarnya, Chen Yuchuan terkejut sampai langsung duduk tegak di atas ranjang.
“Aduh, kenapa kamu datang nggak bilang-bilang dulu sih!” Chen Yuchuan tertawa sambil menutupi wajahnya. “Chen Qingwu, kamu ngapain sih motret-motret aku? Aku belum sikat gigi, belum cuci muka, rambut masih berantakan, kamu motretin buat apa? Mau ngasih aku aib ya?”
“Bukan, Bibi. Paman bilang mau rekam buat dipakai nanti pas acara pernikahan.”
Wajah Chen Yuchuan memerah, ia mengayunkan tinjunya ke Han Ruize, pura-pura jual mahal, “Siapa juga yang mau nikah sama dia?”
Han Ruize langsung memeluk Chen Yuchuan, “Orang tua kita sudah saling bertemu, kalau kamu nggak nikah sama aku, mau nikah sama siapa lagi?”
“Ih, dasar! Yang ngejar aku itu bisa bikin pintu kantor pengacara kita jebol tahu nggak? Emangnya cuma kamu aja yang naksir aku?”
“Iya, iya, kamu memang paling banyak penggemarnya.”
“……”
Mereka berdua mulai bersenda gurau. Chen Qingwu merasa suasana sudah terlalu manis, sampai-sampai bulu kuduknya meremang. Ia buru-buru meletakkan ponsel dan mundur pelan-pelan.
Karena Han Ruize menahannya sebentar, Chen Qingwu jadi keluar rumah sepuluh menit lebih lambat, ketinggalan satu bus, lalu harus menunggu lagi lima belas menit.
Habis sudah, telat selama ini pasti bakal dimarahi habis-habisan sama Wu Minya.
Chen Qingwu bergegas ke Plaza Hefeng. Karena akhir pekan bertepatan dengan tanggal 20 Mei yang istimewa, plaza itu sangat ramai. Chen Qingwu sudah berkeliling, tapi tidak juga menemukan Wu Minya.
Saat ia sedang bingung, tiba-tiba melihat Wu Minya berjalan dari arah air mancur dengan membawa kantong plastik.
“Yaya!” Chen Qingwu khawatir kehilangan dia lagi di tengah keramaian, jadi langsung melambaikan tangan dan berlari menghampiri.
Wu Minya juga melihatnya, lalu segera berjalan ke arahnya.
“Chen Qingwu, kamu kenapa sih? Aku kira kamu nggak jadi datang!”
“Maaf ya, Yaya. Tadi ada urusan mendadak pas mau keluar rumah.” Chen Qingwu sekilas melirik kantong plastik di tangan Wu Minya. Dalam kantong plastik bening itu ternyata ada cairan antiseptik, kapas, dan plester. “Kamu terluka?”
“Bukan aku, tapi Duan Jincheng.”
Chen Qingwu kini sudah tak peduli lagi dengan ucapan aneh Wu Minya. Yang ia tangkap cuma Duan Jincheng terluka.
“Kok bisa dia terluka? Dia di mana?”
“Aku juga nggak tahu dia ke mana. Barusan masih di sini, aku cuma ke apotek sebentar, eh dia sudah nggak ada.”
“Sebenarnya ada apa?”
“Kamu tahu Fei Qingbo dari sekolah teknik sebelah, kan?”
Chen Qingwu mengangguk. Fei Qingbo ini memang terkenal tukang bikin onar di sekolah teknik. Karena wajahnya sedikit mirip aktor Jepang Takuya Kimura, dia sering datang ke sekolah utara buat godain cewek-cewek di sana. Belakangan ini dia sempat bikin heboh waktu membentangkan spanduk menyatakan cinta pada Xu Xiaoxiao di depan gerbang sekolah utara.
Waktu itu, guru BP sudah berusaha membujuk tetap nggak berhasil, bahkan hampir sampai harus panggil polisi.
“Jadi ada hubungannya sama dia?”
“Iya. Duan Jincheng hari ini kerja paruh waktu di plaza. Fei Qingbo itu datang bawa dua temannya buat cari gara-gara, lalu mereka bertiga bawa pengeras suara, teriak-teriak di tengah plaza, bilang…”
Wu Minya ragu sejenak.
“Bilang apa?” Chen Qingwu langsung meraih lengan Wu Minya, “Mereka bilang apa?”
“Mereka bilang ayah Duan Jincheng itu pencuri kelas teri, suka nyuri duit orang, sekarang masih dipenjara.”
Chen Qingwu menghirup napas dalam-dalam. Ia tiba-tiba teringat malam itu, ketika anak laki-laki itu berdiri di depan gerobak sate, sosoknya tampak bersih namun kesepian dan tak berdaya, lalu kemarahannya yang sempat ia lihat tanpa sengaja.
Soal ayahnya memang selalu jadi wilayah terlarang baginya.