Bab Tujuh: Harapan Ulang Tahun
Chen Qingwu pergi ke toko kue di sebelah untuk membeli sebuah kue kecil berukuran empat inci, lalu duduk di bangku batu di seberang jalan dan menunggu. Dari sudut ini, ia bisa melihat kasir swalayan melewati pintu besar, tetapi tidak bisa melihat Duan Jincheng, jadi ia tidak tahu apa sebenarnya pekerjaan Duan Jincheng di dalam.
Di tengah-tengah, sebuah truk boks datang, penuh dengan minuman kotak besar. Sopir masuk dan memanggil, dua pria yang sedang merokok keluar dari dalam, Duan Jincheng mengikuti di belakang mereka.
Salah satu pria yang agak gemuk menoleh dan berkata sesuatu pada Duan Jincheng, lalu terlihat Duan Jincheng menginjak pagar di sisi truk, naik dua langkah, dan dengan lincah melompat ke dalam bak truk.
Selanjutnya, Duan Jincheng memindahkan kotak-kotak minuman satu per satu kepada dua pria itu.
Karena iseng, Chen Qingwu menghitung jumlahnya, ada enam puluh lima kotak barang.
Ia benar-benar tak menyangka, seorang juara kelas seperti Duan Jincheng ternyata mengambil cuti untuk bekerja kasar. Sepertinya uang lima puluh yuan yang kemarin ia berikan secara sepihak benar-benar membuat Duan Jincheng merasa tidak nyaman.
Setelah menunggu dengan susah payah hingga pukul enam, Duan Jincheng akhirnya keluar dari swalayan tepat waktu, bersama dua pria yang tadi membantunya menurunkan barang.
Pria yang agak gemuk itu adalah yang pertama melihat Chen Qingwu, ia mengangkat sikunya dan menyenggol Duan Jincheng.
"Wah, hebat juga kau, Cheng, masih SMA sudah punya pacar, dan pacarmu juga cantik. Aku sudah setua ini masih saja melajang."
Pria satunya menyambung, "Bandingkan dirimu dengan Cheng, di rumah mungkin tidak ada cermin, tapi kan ada air kencing? Kau juga harus lihat, wajah Cheng seperti apa. Kalau aku setampan dia, dari TK juga sudah punya pacar."
Duan Jincheng tahu mereka hanya bercanda, malas menanggapi, ia langsung berjalan ke arah Chen Qingwu.
"Mengapa kau belum pulang juga?"
"Hari ini ulang tahunmu, aku menunggumu untuk makan kue bersama."
Chen Qingwu mengangkat kue di sampingnya, memperlihatkannya pada Duan Jincheng.
Kue itu sangat sederhana, krim putih membalut bolu, di tengah hanya ada satu hati merah, tanpa hiasan berlebihan.
Duan Jincheng menatap hati merah itu.
"Tunggu, jangan salah paham, hati ini tidak bermaksud apa-apa, hanya karena aku tidak pesan sebelumnya, dan di toko kue hanya tersisa model ini, jadi aku membelinya," jelas Chen Qingwu dengan gugup, menyadari tatapan Duan Jincheng.
Duan Jincheng terdiam, beberapa saat kemudian baru berkata, "Aku tidak terbiasa merayakan ulang tahun."
"Apa?"
"Aku bilang, aku tidak pernah merayakan ulang tahun."
Di benaknya, kenangan tentang ulang tahun dan kue itu kosong. Orang tuanya tidak mampu merayakan ulang tahun untuknya. Lama-lama, ia pun merasa hari lahirnya tidak ada yang istimewa. Chen Qingwu entah dari mana tahu hari ini hari ulang tahunnya, sedangkan ia sendiri sudah lupa.
"Aku sudah beli kuenya," saat melihat Duan Jincheng hendak pergi, Chen Qingwu mencegatnya, "Makan kue dulu sebelum pergi, jangan disia-siakan."
Tatapan matanya sama seperti semalam di depan warung bakar, polos dan keras kepala, seolah-olah tanpa makan kue ini, hari ini tidak bisa dilalui.
Akhirnya, Duan Jincheng pun duduk di samping bangku batu itu.
Chen Qingwu membuka kotak kue, baru saat mengambil lilin ia sadar tidak membawa alat untuk menyalakannya.
"Tunggu sebentar," ujar Chen Qingwu, meletakkan kue di pangkuan Duan Jincheng, lalu berlari ke swalayan. Saat kembali, di tangannya sudah ada sebuah pemantik api dan dua botol susu kalsium AD Wahaha.
"Pemilik toko tahu hari ini ulang tahunmu, katanya ini fasilitas karyawan," ia menyerahkan satu botol susu kalsium kepada Duan Jincheng, sekalian menanyakan hal yang paling ingin ia tahu, "Sudah lama kau bekerja di sini?"
"Ya."
"Sejak kapan?"
"Sejak liburan musim panas setelah ujian akhir SMP."
"Kau rajin sekali," kata Chen Qingwu, teringat liburan musim panas setelah ujian akhir SMP-nya yang ia habiskan dengan jalan-jalan bersama bibinya ke berbagai kota, sama sekali tidak terpikir untuk mencoba bekerja.
"Aku butuh uang," jawab Duan Jincheng.
Tentu saja, ia tidak berharap gadis kaya yang suka membuang uang ini paham seperti apa rasanya "butuh uang".
Chen Qingwu memang tidak terlalu paham rasanya kekurangan uang. Meski sejak kecil orang tuanya tidak ada bersamanya, kakeknya tidak pernah pelit dalam soal uang.
Menyadari ini bukan topik yang menyenangkan, Chen Qingwu buru-buru berkata, "Lebih baik kita tiup lilin dan berdoa saja."
Karena Duan Jincheng bilang ia tidak pernah merayakan ulang tahun, setelah menyalakan lilin Chen Qingwu mengingatkannya, "Bisa membuat tiga permohonan, dua boleh diucapkan, satu disimpan dalam hati."
Dalam cahaya lilin yang redup, mata Duan Jincheng seperti dua bulan yang menghangatkan.
Lama kemudian, ia mendengar suara Duan Jincheng yang ringan.
"Kalau begitu, semoga rejeki lancar dan rumah penuh emas permata."