Bab Enam Puluh Dua: Pura-Pura Berlagak
Saat ini, Chen Qingwu tinggal di pinggiran Kota Chu, jauh dari pusat kota, di sebuah rumah kecil bergaya Tionghoa dua lantai dengan dinding putih dan atap hitam kebiruan yang dilengkapi taman. Di lantai satu, ada tiga ruangan menghadap utara, dua di antaranya terang dan satu agak gelap. Ia menggabungkan dua ruangan terang menjadi studio kerjanya, sementara ruangan gelap di sebelahnya dijadikan perpustakaan pribadi. Lantai dua digunakan sebagai kamar tidur dan kamar tamu. Bagian barat diubah menjadi dapur dan ruang makan, sedangkan sisi timur disisakan untuk garasi.
Mobil mewah berhenti di depan gerbang rumah.
Chen Qingwu nyaris melarikan diri turun dari mobil, namun setelah berdiri dengan tenang, ia tetap berkata sopan, “Sampai jumpa lain waktu.”
Duan Jincheng menunduk, tampak sedang membalas pesan di ponselnya, tidak menoleh padanya, dan tak terlihat ekspresi apapun di wajahnya.
“Sampai jumpa,” sapa Hu Tu sambil melambaikan tangan padanya.
Chen Qingwu menatap kepergian mobil itu, barulah syarafnya yang tegang perlahan mereda. Namun begitu ia teringat akan segera harus hidup berdampingan dengan Duan Jincheng, kepalanya mulai pusing lagi.
Ya ampun, kenapa ia menerima pekerjaan ini?
Padahal ia tahu pria itu tidak akan senang bertemu dengannya lagi.
Andai bisa memilih sekali lagi... sudahlah, toh ia melakukannya demi mempromosikan dan memperkenalkan seni ukir biji zaitun. Dengan siapa pun ia bekerja sama, apa bedanya? Diberikan kesempatan kedua pun, ia tetap akan menerima pekerjaan ini.
Asisten Jia Jia sudah menunggunya di studio. Begitu melihatnya pulang, Jia Jia langsung menyambutnya seperti burung pipit hijau yang lincah.
“Kak Qingwu, bagaimana hasilnya?”
Chen Qingwu mengira ia bertanya soal pekerjaan, baru hendak menjawab, tapi Jia Jia buru-buru menambahkan, “Gimana, Duan Jincheng aslinya setampan di televisi nggak?”
Ia sejenak bingung harus menjawab apa.
Tentu saja pria itu tampan.
Dan ketampanannya kini bahkan tak bisa lagi dibandingkan dengan masa lalu. Dahulu, sehebat apapun penampilannya, ia masih tetap seorang pemuda polos. Kini, garis wajahnya semakin tegas, posturnya lebih gagah, auranya ditempa waktu menjadi lebih tangguh dan dewasa. Anak muda itu telah menjelma menjadi pria penuh kharisma, sekaligus semakin dingin.
“Beberapa hari lagi dia akan datang ke sini. Nanti kamu bisa lihat sendiri,” jawabnya.
“Apa? Duan Jincheng mau ke sini?” seru Jia Jia.
Chen Qingwu pun menceritakan bahwa sutradara meminta Duan Jincheng datang ke studionya untuk belajar seni ukir biji zaitun. Jia Jia begitu girang, sampai hendak menelepon sahabatnya untuk pamer, namun segera dihentikan oleh Chen Qingwu.
“Selebriti pasti tidak suka jadwal pribadinya diumbar. Lagipula, aku tidak mau rumahku penuh orang.”
Jia Jia baru tersadar. “Benar juga, jangan sampai jadi ramai. Kalau sampai penggemar pada datang, Kak Qingwu juga tidak bisa berkarya dengan tenang.”
Setelah kegembiraannya mereda, Jia Jia langsung sibuk membersihkan seluruh ruangan.
Padahal kemarin studio sudah dibersihkan. Kecuali meja kerja Chen Qingwu yang masih ada sedikit debu sisa ukiran, semua bagian lain sudah sangat rapi. Namun Jia Jia merasa tetap perlu membersihkannya lagi agar layak menyambut bintang besar.
Chen Qingwu yang tadinya sudah tenang, jadi ikut-ikutan gugup karena ulah Jia Jia.
Ia tidak suka perasaan seperti ini, seperti permukaan danau yang tenang dilempari batu. Batu itu segera tenggelam, tapi riaknya tak juga hilang.
“Kak Qingwu, kelopak mawar ini sudah agak menguning. Aku ke taman sebentar, mau memetik bunga segar untuk diganti, ya?”
Di atas meja dekat jendela, sepanjang tahun selalu ada vas bunga abu-abu tua dari kaca bening seperti gletser beku, yang bila terkena sinar matahari tampak berkilauan seperti galaksi. Mawar dalam vas itu ditanam sendiri oleh Chen Qingwu, warnanya merah menyala dan sangat mencolok. Setiap tamu yang datang ke studio selalu bilang, bunga mawar merah tidak cocok dengan ruangan bercita rasa tradisional seperti ini, tapi Chen Qingwu tak pernah menggantinya.
Ia mengakui, selama bertahun-tahun, dirinya memang punya obsesi tersendiri pada mawar merah.
Namun kini, setelah dipikir-pikir, rasanya tak ada lagi keperluan untuk mempertahankan itu.
“Ganti dengan anggrek saja,” ujarnya.
———
Tiga hari kemudian, Duan Jincheng datang ke studio Chen Qingwu.
Ia mengenakan kacamata hitam, seluruh tubuhnya dibalut pakaian hitam yang trendi dan keren, menciptakan jarak dengan sekelilingnya.
Ia tidak datang sendirian, selain Hu Tu, ada juga tim fotografinya.
“Qingwu, maaf, kami perlu merekam sedikit momen saat Ah Cheng belajar seni ukir biji zaitun di sini. Nanti ketika film mulai syuting, dokumentasinya akan digunakan untuk promosi. Sebentar lagi, kru kamera akan memasang dua kamera di studio, saat Ah Cheng tidak di sini kamu bisa matikan, jadi tidak akan mengganggu rutinitasmu,” jelas Hu Tu.
Chen Qingwu memang kurang terbiasa dengan kamera, tapi ia bisa memaklumi.
Seorang aktor yang belajar seni ukir demi peran di film bertema seni, jelas akan memperkuat citra profesional. Meski Duan Jincheng yang sudah terkenal dan berprestasi tak butuh pencitraan lagi, berita ini tetap akan menjadi nilai tambah di mata publik.
“Baik.”
Ia meyakinkan diri, toh hanya beberapa hari saja, tahan sedikit pasti berlalu.
Sambil menunggu kameramen memasang alat, Duan Jincheng duduk di kursi rotan di halaman.
Jia Jia membawakan seteko teh mawar untuknya.
“Tuan Duan, silakan minum teh.”
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Jia Jia kembali ke dalam dan memberi isyarat dengan mata ke Chen Qingwu, seolah menjawab pertanyaan beberapa hari lalu: ketampanan Duan Jincheng memang memukau baik di depan maupun di belakang kamera.
“Ah Cheng, Qingwu, sudah siap!” Hu Tu memanggil dari dalam.
Duan Jincheng melepas kacamatanya, bangkit dan masuk ke studio.
Chen Qingwu mengikutinya.
Padahal ini adalah tempatnya sendiri, tapi ia malah merasa gugup tak karuan.
Hari ini, tugas utama Chen Qingwu adalah memperkenalkan secara singkat tentang seni ukir biji zaitun pada Duan Jincheng.
“Bu Chen, tak perlu gugup, abaikan saja kamera, bersikaplah alami,” ujar kameramen yang sedang mengatur sudut pengambilan gambar.
Chen Qingwu mengangguk pelan.
Namun, kegugupannya bukan sepenuhnya karena kamera, yang lebih menekan justru kehadiran pria di sisinya ini.
Hari ini, Duan Jincheng mengenakan kemeja hitam berkerah tinggi, model kasual tapi tetap memberi kesan serius. Demi menciptakan suasana “mengajar” di depan kamera, ia dan Chen Qingwu berdiri berhadapan.
Setiap kali Chen Qingwu berbicara dan menengadah, ia selalu bertemu dengan tatapan mata pria itu yang dalam dan tajam.
Musim dingin tahun lalu, saat Duan Jincheng syuting, beredar gosip antara dirinya dan seorang aktris di tim yang sama. Penyebabnya adalah makan malam bersama kru, di mana paparazi memotret mereka berdua beradu pandang penuh perasaan.
Aktris itu dikenal berkarakter lugu dan polos, disukai banyak orang. Ia dan Duan Jincheng tampak sangat serasi di satu bingkai, bahkan terlalu sempurna untuk diceritakan.
Itu adalah pertama kalinya dalam beberapa tahun karier Duan Jincheng diterpa gosip asmara, dan kabarnya sangat hangat. Para netizen ramai-ramai mengangkat bendera pasangan idola, namun baik Duan Jincheng maupun aktris itu memilih diam.
Ketika wartawan menghubungi agensi mereka, jawaban resmi pun seragam: itu tidak benar.
Bagaimana bisa tidak benar?
Penggemar pasangan idola tak percaya. Mereka yakin, rasa suka tak bisa disembunyikan, sekalipun mulut tertutup rapat, perasaan tetap akan terpancar dari mata. Sorot mata Duan Jincheng dianggap sebagai bukti segalanya.
Meski agensi sudah membantah, masih saja ada yang memaksakan pasangan itu, hingga penggemar fanatik Duan Jincheng jadi kesal, merasa aktris itu hanya numpang tenar.
Beberapa hari kemudian, seorang penggemar fanatik mengunggah foto Duan Jincheng sedang syuting di desa. Ia duduk di atas tumpukan jerami, seekor anjing desa lewat, dan Duan Jincheng mengulurkan tangan mengelus anjing itu. Tatapannya pada anjing itu persis sama dengan tatapannya pada aktris tadi.
Penggemar itu menulis, “Ah Cheng menatap anjing pun penuh perasaan.”
Ya, inilah sepasang mata yang bahkan menatap anjing pun penuh perasaan, namun kini menatap Chen Qingwu, sedingin serpihan batu giok.
“Dunia dalam setitik biji, keagungan tersimpan dalam ukiran biji zaitun. Seni ukir biji zaitun adalah seni mikro yang menggabungkan nilai estetika, keindahan saat disentuh, dipakai, maupun dikoleksi,” ujar Chen Qingwu mengingatkan dirinya bahwa ini adalah pekerjaan, jadi ia tak perlu peduli pada sikap pria itu.
Ia menunjuk beberapa karya ukir biji zaitun yang dipajang di studio, menghindari tatapan Duan Jincheng, lalu melanjutkan, “Tuan Duan, silakan lihat. Sebiji kecil biji zaitun, tak lebih besar dari jari, diukir oleh seniman sesuai bentuk, tekstur, dan warna aslinya. Dalam proses mengukir, sang seniman akan menuangkan pengalaman hidup dan selera artistiknya, lalu menggunakan imajinasi yang kaya untuk menghasilkan karya mikro yang tak hanya indah secara teknik, tapi juga penuh perasaan.”
Nada bicaranya sangat formal, ekspresinya pun resmi.
Duan Jincheng menatap beberapa karya di etalase kaca, semuanya bertanda nama.
Di atas dudukan kecil yang ditempeli nama karya, tanpa terkecuali, semuanya dibubuhi cap merah bertuliskan “Qingwu”, sebesar kuku jari, tampak sederhana namun penuh kerendahan hati.
“Semuanya karya Bu Chen?” tanyanya.
“Benar.”
“Bu Chen luar biasa.”
Pujian yang sangat canggung, terdengar tanpa ketulusan. Mungkin ia sendiri enggan memuji, tapi di bawah sorotan kamera, diam saja juga tidak pantas.
Chen Qingwu tiba-tiba merasa, dengan adanya kamera, bersikap pura-pura di depan Duan Jincheng justru terasa lebih mudah.
“Terima kasih. Mari, Tuan Duan, saya perlihatkan proses pembuatan ukiran biji zaitun.”
Chen Qingwu mulai terbiasa dengan suasana dan irama kerja ini. Ia berjalan ke meja kerjanya, dan ketika berbalik, gaun panjangnya berkibar, menyentuh celana pria itu.
Duan Jincheng meliriknya sejenak. Mungkin ia tak tahu hari ini akan direkam, Chen Qingwu tidak mengenakan riasan, tapi kulit putih bersihnya tetap tampak memesona, alisnya tanpa pensil sudah indah, bibirnya merah alami, memberi kesan segar dan nyaman.
Aroma lembut kayu cendana susu menguar di udara, entah berasal dari dirinya atau dari studio ini.
Ketika sepenuhnya tenggelam dalam pekerjaannya, Chen Qingwu memancarkan kepercayaan diri yang alami.
“Biasanya, pembuatan ukiran biji zaitun melewati sebelas atau dua belas tahap. Langkah pertama adalah memilih bahan. Pemilihan bahan sangat penting, karena kualitas biji zaitun menentukan hasil karya. Biji zaitun yang baru tiba ini berasal dari Guangdong. Biji sebesar ini hanya bisa dihasilkan oleh pohon berusia lima belas sampai tiga puluh tahun.” Ia mengambil satu biji zaitun dan menyerahkannya pada Duan Jincheng. “Silakan dicoba, Tuan Duan.”
Interaksi mendadak ini jelas di luar dugaan Duan Jincheng, namun karena kamera menyorot, ia tetap harus menerima.
Biji zaitun itu kecil, saat berpindah tangan, jari mereka tak terelakkan bersentuhan, tapi Duan Jincheng cepat-cepat menarik tangannya, sehingga Chen Qingwu tak sempat merasakan apakah kulitnya dingin atau hangat.
“Setelah pemilihan bahan, dilanjutkan dengan membuat sketsa, membentuk, memberi garis, lalu mulai ukiran awal, penghalusan, pembentukan detail, kemudian penggosokan, pemolesan, hingga tahap akhir pengeboran dan pengemasan. Prosesnya rumit, tapi setiap langkah sangat penting. Dalam beberapa hari ke depan, saya akan membimbing Tuan Duan mengenal satu per satu tahapan ukiran, semoga ada manfaat yang didapat.”
“Terima kasih, Bu Chen.”
Tatapan mereka bertemu, dan itu adalah satu-satunya kali hari ini mata mereka bersitatap dengan kehangatan.