Bab Dua Puluh Delapan: Pemotongan Gaji
Baru saja Chen Qingwu duduk dan bersiap melanjutkan mengerjakan tugas, Li Tang masuk sambil mengumpat.
“Ada apa, Kak Li Tang?”
Biasanya Li Tang selalu ramah dan murah senyum, jadi sikapnya yang uring-uringan hari ini pasti karena sesuatu telah terjadi.
“Hari ini hari gajian, si Kepala Bagian Fang itu memotong separuh gaji A Cheng.”
“Memotong gaji? Kenapa?”
“Siapa yang tahu. Kepala bagian itu memang tolol, merasa berkuasa, dan sengaja menindas A Cheng karena dia pekerja paruh waktu tanpa kontrak.” Li Tang menghela napas, “A Cheng benar-benar sial, sudah kerja keras, setengah bulan kerjanya jadi sia-sia.”
“Dia di mana sekarang?”
“Masih di kantor, berdebat sama si tolol itu, tapi kurasa gajinya bakal benar-benar hilang…”
Chen Qingwu tidak menunggu Li Tang menyelesaikan kata-katanya, ia langsung bergegas keluar.
Kantor Kepala Bagian Fang ada di lantai tiga. Pintu kantor itu tidak tertutup rapat, dari celah pintu yang terbuka sedikit, Chen Qingwu melihat Duan Jincheng berdiri tegak di depan meja kerja kepala bagian, sementara Kepala Bagian Fang duduk bersandar di kursi kulit, menyilangkan kaki, sambil berbicara dan menunjuk Duan Jincheng dengan jari yang memegang rokok.
“Kamu ini cuma anak SMA, baru genap enam belas tahun, kami sudah melanggar aturan dengan memberimu pekerjaan, kamu seharusnya berterima kasih, tahu?”
“Saat wawancara dulu, saya sudah bilang masih SMA. Kenapa waktu itu tidak dikatakan kalau gaji anak SMA harus dipotong separuh?”
“Hal seperti itu perlu dijelaskan? Kamu masih anak-anak, pasti kerjanya tidak secepat dan sebaik orang dewasa. Kalau gajimu dibayar penuh, bagaimana pendapat pegawai dewasa lainnya? Mereka pasti keberatan, kan?”
“Kalau ada yang keberatan, suruh saja mereka bicara langsung.”
“Jangan cari gara-gara, ya! Kalau kamu terus ribut, percaya nggak, separuh yang tersisa pun tidak akan kubayar!”
“Kalau begitu, saya akan melaporkan Anda!”
“Mau lapor saya? Anak kecil sepertimu mau lapor ke mana? Kamu tahu pintu pengadilan itu menghadap ke utara atau selatan?” Kepala Bagian Fang menekan ujung rokok yang sudah padam ke bahu Duan Jincheng, dengan gaya tak takut apa pun. “Silakan saja! Aku takut sama kamu?”
“……”
Percakapan pun menemui jalan buntu.
Mendengar itu, tangan Chen Qingwu mengepal keras. Ia sangat ingin masuk dan menampar kepala bagian yang arogan itu, tapi akal sehat menahannya. Bagaimanapun, gaji Duan Jincheng belum diterima. Kalau ribut besar, bisa-bisa gajinya benar-benar hilang.
Setelah berpikir sejenak, ia berbalik dan bergegas menuju ruang karaoke tempat Bibi Chen Yuchuan dan teman-temannya berkumpul.
Kalau kepala bagian itu berani melabrak aturan, maka ia akan bawa pengacara untuk memberinya pelajaran!
Ruang karaoke mereka adalah nomor 301. Saat Chen Qingwu masuk, Chen Yuchuan baru saja mengangkat mikrofon hendak bernyanyi. Melihat Chen Qingwu muncul tiba-tiba, ia sempat mengira matanya salah lihat.
“Qingwu?”
Suara “Qingwu” dari mikrofon terdengar nyaring hingga semua orang menoleh padanya.
Chen Qingwu tak sempat berpikir panjang, langsung menarik tangan Chen Yuchuan keluar ruangan.
“Ada apa, Qingwu?” Chen Yuchuan meletakkan mikrofon, kebingungan mengikuti Chen Qingwu keluar, “Bukannya kamu sedang les privat sama temanmu? Kenapa ada di sini?”
“Bibi, ini ceritanya panjang, nanti akan aku jelaskan, sekarang tolong bantu aku dulu, ya?”
“Mau minta tolong apa?”
“Ada temanku yang kerja paruh waktu di sini. Dari awal masuk sudah bilang masih SMA. Sekarang sudah kerja sebulan, kepala bagian mau potong setengah gajinya cuma karena dia anak SMA.” Chen Qingwu menggenggam erat lengan Chen Yuchuan, sambil memujinya, “Bibi, aku tahu bibi pengacara hebat sekali, pasti ada cara supaya gaji temanku bisa dibayar penuh, kan?”