Bab Dua Puluh Satu: Nilai Matematika
Chen Qingwu menyadari bahwa dia tertukar buku tugas matematika miliknya dengan milik Duan Jincheng. Bel tanda masuk kelas pun berbunyi tepat waktu, dan guru matematika yang selalu disiplin itu sudah melangkah masuk bersamaan dengan bunyi bel, sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk menukar kembali buku tugasnya.
Ketika teringat soal-soal salah yang penuh dengan tanda silang dan lingkaran di bukunya, ia langsung menyesali sikapnya yang terlalu tergesa dan dingin saat tadi menyerahkan buku tugas, bahkan jika ia sempat melihat sebentar saja, kejadian konyol seperti ini pasti takkan terjadi.
Lebih sial lagi, hari ini guru matematika justru ingin membahas beberapa soal dengan tingkat kesalahan tertinggi di buku tugas.
Chen Qingwu melirik diam-diam ke arah Duan Jincheng dan mendapati pemuda itu sudah membuka buku tugas miliknya, sedang memegang kertas coretan miliknya dengan ekspresi merenung, menatap tulisan tangannya di atas kertas itu.
Apa?
Kemarin setelah mengerjakan tugas, ternyata dia juga menyelipkan kertas coretan itu ke dalam buku tugas? Kertas yang penuh dengan catatan ngawur dan omong kosongnya itu?
Tolonglah, apa dia sudah melakukan dosa besar apa sampai begini? Kalau pintu hidupnya sudah ditutup oleh Tuhan, kenapa jendela terakhir juga harus dipatri mati?
Chen Qingwu putus asa menelungkupkan diri di atas meja.
"Chen Qingwu."
Guru matematika tampaknya tak suka melihat sikap ogah-ogahan seperti itu, langsung memanggilnya untuk berdiri dan menjawab soal.
"Soal kedua dari belakang di halaman tiga belas, coba jelaskan langkah pemecahanmu."
Chen Qingwu mana punya langkah pemecahan. Soal-soal yang hari ini dipilih guru untuk dibahas karena tingkat kesalahannya tinggi, semuanya ia salah kerjakan.
"Mengapa diam saja?" Guru matematika menegurnya lagi saat melihat ia tak bersuara.
Sebenarnya, Chen Qingwu hanya perlu membuka buku tugas Duan Jincheng di halaman tiga belas, lalu mengulang langkah-langkah pemecahannya, maka ia bisa lolos dari situasi ini.
Tapi, apa bedanya dengan mencontek kalau hanya meniru begitu saja?
Chen Qingwu berpikir sejenak, lalu dengan jujur berkata, "Bu, saya tidak bisa mengerjakan soal ini."
"Kalau tidak bisa, ya dengarkan baik-baik! Menelungkup begitu bisa paham apa? Ujian bulan lalu saja kamu paling bawah, apa masih mau jadi paling bawah lagi?" Guru matematika memang terkenal tajam lidahnya.
Chen Qingwu merasa malu bukan kepalang. "Maaf, Bu."
"Sudahlah, duduk kembali." Guru matematika melihat ia cukup tulus, akhirnya memaafkannya.
"Ada yang bisa mengerjakan soal ini?"
Guru matematika memandang ke sekeliling, tak ada yang mengangkat tangan, akhirnya ia menunjuk seseorang yang dianggap bisa diandalkan.
"Duan Jincheng, jelaskan langkah pemecahanmu waktu mengerjakan soal ini."
Chen Qingwu merasa habislah sudah. Buku tugas Duan Jincheng ada padanya, sekarang ia harus menjelaskan langkah pemecahan padahal yang ada hanya catatan kacau miliknya; bukankah itu menyulitkannya?
Tapi, siswa jenius tetaplah siswa jenius.
Duan Jincheng hanya melirik sekilas pada soal, lalu dengan cepat dan tanpa salah mengulang kembali langkah pemecahan yang pernah ia tulis sebelumnya. Apa setelah mengerjakan sekali saja, sudah menancap di kepalanya?
Chen Qingwu begitu berharap bisa punya daya ingat seperti itu.
"Kalian ada waktu, belajarlah dari Duan Jincheng, lihat betapa ringkas dan jelas langkah-langkah pemecahannya." Guru matematika mempersilakan Duan Jincheng duduk dengan pandangan penuh pujian, sembari menambahkan sindiran, "Ada juga yang langkah pemecahan ditulis setengah halaman penuh, hasil akhirnya tetap salah. Ibarat ibumu menyuruh beli cuka, sudah lari setengah jalan eh malah salah arah, bukankah itu melelahkan?"
Chen Qingwu tahu sindiran itu untuknya, dan menunduk makin dalam.
Padahal setelah insiden di balai remaja, kakeknya sempat berpikir untuk mendaftarkannya ke bimbingan belajar lain, tetapi ia sudah punya trauma tersendiri, dan melihat penolakannya yang kuat, sang kakek tak lagi memaksa.
Namun, nilai matematikanya benar-benar bikin pusing.