Bab 1 Kehidupan di Tempat Lain
Kehidupan terkadang bagaikan anak nakal yang usil. Saat Anda tidak memerhatikannya, ia tiba-tiba memberi Anda sebuah kejutan. Namun, ketika Anda menaruh harapan kepadanya, ia justru mengabaikan Anda. Oleh karena itu, kita hanya bisa bertahan, melewati hari-hari yang paling mengecewakan tersebut, barulah kita dapat berjumpa dengan kejutan berikutnya.
Cuaca mulai menghangat, tetapi air laut masih terasa sedikit sejuk. Di hari yang baru ini, setelah kami menghabiskan waktu beberapa bulan untuk tiba di Laut Es, hari ini adalah hari keseratus tiga puluh satu aku tinggal di sini, dan juga merupakan hari ulang tahunku yang ke-21.
Di perjalanan dari Laut Hijau menuju Laut Es, saat aku merayakan ulang tahunku yang ke-20, permohonan yang kuucapkan adalah agar pada hari ulang tahunku yang ke-21, aku dapat bersua kembali dengan Xingchen. Entah aku yang kembali ke Laut Hijau untuk mencarinya, atau dia yang datang ke Laut Es untuk menjemputku, keduanya sama saja dengan mewujudkan impian. Namun, aku ditakdirkan tidak bisa kembali ke Laut Hijau pada hari ini, dan aku juga tidak yakin apakah Xingchen akan datang, karena aku telah menunggu begitu lama, tetapi dia tidak kunjung datang memenuhi janji.
Pipibao telah lebih dari sekali membujukku agar berhenti menunggu, dan mengatakan bahwa mungkin Xingchen tidak akan datang lagi. Bagaimanapun, saat ini dia adalah Raja Laut Hijau, sangat sulit baginya untuk meninggalkan kaumnya demi datang ke Laut Es untuk mencariku. Terlebih lagi, ada orang lain yang selalu menanti di sana, dan sudah saatnya aku berbalik untuk melihat ke belakang.
Namun, aku tahu dengan jelas siapa orang yang sedang kutunggu, siapa wajah yang terpatri dalam benakku di setiap lamunan tengah malam, dan aku lebih tahu seperti apa pria itu. Selama dia mengatakan akan datang, dia pasti akan datang, hanya saja aku tidak tahu berapa lama harus menunggu. Akan tetapi, hanya karena aku bersedia menunggu, maka dia bersedia untuk muncul, bukan begitu?
"Sangluo, Sangluo, Glaucus merundungku lagi!" Teriakan Maja menghentikan lamunanku. Dalam sekejap mata, Maja bahkan telah berusia sepuluh tahun, tetapi kepolosan dan keluguannya masih belum pudar. Setiap hari ia menghabiskan waktu dengan santai, bermain bersamaku dan Pipibao, atau bertengkar dengan Glaucus.
Berbicara mengenai pertengkaran antara Maja dan Glaucus, sangat mudah untuk menebak bahwa hal ini telah menjadi kegiatan pertama yang harus mereka lakukan setiap pagi, yaitu saling beradu nyanyian. Seiring dengan semakin lamanya kami tinggal di Laut Es, tidak ada seorang pun yang tidak mengetahui kebiasaan mereka berdua ini. Setiap pagi, sekelompok besar duyung Laut Es selalu berkerumun di depan kediaman Glaucus, menunggu Maja datang untuk menantangnya.
Awalnya mereka hanya membandingkan suara nyanyian, melihat siapa yang memiliki warna suara terindah. Namun, suara tinggi wanita yang bagaikan alunan surgawi dan suara rendah pria yang penuh daya tarik magnetis pada dasarnya memiliki keunggulan masing-masing serta berimbang. Sama sekali tidak dapat ditentukan suara siapa yang lebih merdu, dan hanya bisa dinilai berdasarkan preferensi pendengarnya. Kendati demikian, berdasarkan kesukaan sebagian besar duyung Laut Es terhadap suara, Maja dapat dianggap keluar sebagai pemenang dalam hal ini, karena mayoritas duyung yang datang mendengarkan nyanyian akan mendukung Maja sebagai yang unggul dalam hal warna suara.
Kemudian, mereka mulai membandingkan melodi dan suasana lagu. Keduanya memiliki jenis lagu andalan masing-masing, dan pada mulanya sangat sulit untuk membedakan siapa yang lebih unggul. Akan tetapi, lambat laun lagu-lagu yang dipelajari Maja semasa kecil telah habis dinyanyikan. Karena mereka berdua memiliki perjanjian yang cukup aneh bahwa setiap hari tidak boleh menyanyikan lagu yang sama, hal itu berujung pada pertarungan harian mereka yang hampir selalu menggunakan lagu-lagu baru hasil ciptaan di Laut Es sehari sebelumnya. Bagaimanapun juga, Maja masih anak-anak, baik dalam hal emosi maupun pengalaman hidup, ia jauh tertinggal dibandingkan Glaucus yang kaya akan pengalaman. Oleh karena itu, tidak butuh waktu lama bagi Maja untuk menelan kekalahan dalam hal melodi dan suasana lagu.
Akibatnya, Maja merasa tidak senang dan meminta untuk mengubah cara perlombaan. Sejak saat itu, setiap hari mereka tidak lagi sekadar membandingkan warna suara dan melodi, melainkan mulai mencari berbagai cara untuk menggunakan ilmu ilusi guna membius lawan, membuat pihak lawan terpaksa kehilangan kemenangan dalam pertandingan. Namun, kedua orang ini memiliki bakat yang dapat disetarakan dengan Raja Laut Emas, mana mungkin mereka bisa dengan mudah terbius pikirannya oleh lawan? Alhasil, situasi pertempuran menjadi semakin sengit, dan kami pun menikmati tontonannya dengan semakin antusias.
Hanya ada satu kejadian ketika Maja sebelumnya menyuap Pipibao untuk membantunya. Saat beradu nyanyian dengan Glaucus, ia menyuruh Pipibao dan Beibao membuat kekacauan di tengah jalan untuk mendistraksi perhatian Glaucus, sehingga Maja berhasil memanfaatkan celah tersebut untuk membius pikiran Glaucus sejenak dan memenangkan pertandingan hari itu.
Meskipun Glaucus tampak tidak peduli di luar dan tidak mau ambil pusing dengan Maja, secara diam-diam ia mulai mempelajari dan menguji metode yang sebelumnya diceritakan oleh Zhimi, yaitu cara menggabungkan ilmu ilusi dengan hipnotis.
Ngomong-ngomong, hal yang wajib disebutkan adalah bahwa Glaucus menjalani hari-harinya di Laut Es dengan sangat produktif. Selain beradu nyanyian dengan Maja di pagi hari, pada siang hari ia pergi untuk mempelajari ilmu pembekuan dari Raja Laut Es, Lie Ren—alasan mengapa ia bersikeras untuk tidak belajar ilmu pembekuan dari Lie Yan akan dijelaskan secara rinci nanti. Di malam hari, Glaucus akan datang ke tempatku dan Su Nianwu, bergabung bersamaku untuk belajar hipnotis dari Su Nianwu.
Justru karena Glaucus juga mempelajari hipnotis, kami berdua sering kali meneliti metode Zhimi bersama-sama. Meskipun tidak pernah benar-benar sukses, lambat laun metode tersebut membuahkan hasil sedikit demi sedikit, dan hasil inilah yang dipraktikkan tepat pada Maja.
Pagi ini, Glaucus menyatakan ingin menentukan menang atau kalah dengan Maja serta meminta kejelasan atas hasil akhirnya. Artinya, pihak yang menang berhak memanggil pihak yang kalah dengan sebutan "guru besar", dan pihak yang kalah tidak diperbolehkan lagi memanggilnya "guru". Sejak saat itu, aku hanya akan memiliki satu guru, sementara pihak yang lain akan terjerumus ke dalam nasib tragis sebagai cucu murid kecil.
Maja langsung menyetujuinya, karena ia, seperti halnya Glaucus, selalu merasa terganggu dengan kenyataan bahwa aku memanggil salah satu dari mereka dengan sebutan guru, sementara keduanya sama-sama meyakini bahwa merekalah satu-satunya guru nyanyiku. Menghadapi hal ini, aku pun merasa tidak berdaya dan tidak pernah mampu mengatasi dua orang kekanak-kanakan yang keras kepala ini.
Oleh karena itu, terjadilah adegan Maja yang berteriak meminta keadilanku sebelumnya. Pagi tadi, Glaucus memasukkan unsur hipnotis ke dalam ilmu ilusinya. Meskipun tekniknya belum begitu matang, itu sudah lebih dari cukup untuk menaklukkan Maja. Alhasil, Maja kalah dalam pertandingan tersebut dan dikejar-kejar oleh Glaucus yang memanggilnya dengan sebutan guru besar, hingga akhirnya ia berlari ke tempatku untuk mengadu.
"Sangluo, tolong atasi Glaucus itu, aku sama sekali tidak mau memanggilnya guru besar!" Maja mengguncang lenganku sambil bermanja-manja dan mengeluh.
"Lalu kenapa tadi kamu langsung menyetujuinya di awal?"
"Bukannya aku mengira aku pasti akan menang..." gumam Maja pelan.
"Kalau begitu, terimalah kekalahan dengan lapang dada, coba panggil sekali." Glaucus sangat suka menggoda gadis kecil bernama Maja ini.
"Tidak mau!" Maja menolak secara tegas.
"Kalau begitu, jangan salahkan aku jika membekumu dengan ilmu pembekuan ya." Sambil berkata demikian, Glaucus mengangkat tangannya untuk menakut-nakuti Maja. Karena ketakutan, Maja langsung kabur terbirit-birit.
"Guru, sudahlah, jangan menggoda Maja terus. Kalau nanti dia ketakutan sampai kabur keluar Laut Es, Guru sendiri yang harus mencarinya," kataku sambil tersenyum.
"Mana mungkin, anak kecil ini sangat cerdas. Entah nanti dia pergi mencari Lie Ren atau mencari Su Nianwu untuk terus mengadu tentangku. Seandainya aku juga punya anak seusia itu alangkah senangnya," ujar Glaucus sambil memandang Maja yang lari menjauh, tampak diliputi oleh perasaan seperti itu.
"Guru, apakah Guru ingin menikah? Sebenarnya, masalah itu sudah berlalu begitu lama. Bi Meng meskipun masih tetap bersikap dingin, toh dia masih mau meladeni Guru, dan Guru juga bersedia tinggal di sisinya untuk terus menjaganya. Kenapa tidak buru-buru menikahinya saja? Usia kalian berdua juga tidak muda lagi. Su Nianwu tidak jauh lebih tua dar kalian, tetapi orang itu bahkan sudah menjadi seorang nenek."
"Benar juga. Seandainya Sangluo kita tidak bisa kembali ke Laut Hijau untuk mencari orang yang dicintainya, serta tidak tertarik pada pangeran kecil di Laut Es, mungkin Su Nianwu sudah menjadi buyut sejak lama." Glaucus menjadi jauh lebih ceria setelah datang ke Laut Es, sehingga secara alami ia pun semakin sering melontarkan candaan kepada orang lain.
"Jika Guru bergurau atasku lagi, aku tidak akan memedulikanmu. Sekarang kita sedang membicarakanmu, jangan mengalihkan pembicaraan."
"Kamu kan tahu sendiri, kondisi hatinya saat ini sedang bermasalah. Apakah menurutmu gurumu ini perlu menikahi seseorang yang kondisi kejiwaannya tidak stabil?" Glaucus terkadang gemar menyembunyikan isi hatinya yang sebenarnya di balik kata-kata, persis seperti wanita.
"Sudahlah, jangan memasang muka sok kuat di hadapanku. Aku kan sudah sangat mengenalmu, kamu sebenarnya takut dia saat ini belum bisa memastikan apakah perasaannya terhadapmu itu adalah cinta atau sekadar rasa ketergantungan. Kamu ingin dia bersumber dari cinta yang murni saat bersamamu." Aku tidak kuasa menahan diri untuk membongkar kedok Glaucus.
"Sudah tahu segalanya tapi masih saja gemar bertanya usil, pasti ini menular dari si Lie Yan itu."
Begitu suara Glaucus mereda, sebelum aku sempat merespons, suara lain sudah menyahut dengan nada membela diri: "Aduh, pantas saja aku merasa ada firasat buruk begitu bangun pagi tadi, rupanya ada orang yang sedang membicarakan keburukanku di belakang. Aku rasa aku mengajari Sangluo jauh lebih baik daripada caramu mengajarinya. Setidaknya setelah dia selesai belajar dariku, dia bisa mengalahkanmu, bukan begitu?"
Tiba-tiba aku juga merasakan firasat buruk dan sangat ingin melarikan diri, tetapi sebelum sempat undur diri, wajah Lie Yan sudah muncul di hadapanku.
Baiklah, berhubung situasinya sudah menjadi seperti ini, mari kita bahas saja alasan mengapa Glaucus lebih memilih belajar ilmu pembekuan dari Lie Ren—Raja Laut Es yang jenis kelaminnya saja tidak jelas—daripada bersedia belajar dari Lie Yan. Mulanya, saat kami tiba di Laut Es, persis seperti dugaanku, Glaucus dan Lie Yan yang sama-sama berkarakter unik ini langsung merasa sehati dan langsung akrab sejak pertemuan pertama. Namun, justru karena kepribadian mereka yang mirip, tidak butuh waktu lama bagi tabiat asli keduanya untuk muncul ke permukaan. Mereka saling melontarkan serangan verbal, saling berdebat sengit, dan sering kali terlibat dalam pertengkaran lidah yang seru hingga membuat mereka sama-sama asyik.
Sama seperti saat ini, begitu kedua orang itu bertemu, perdebatan pun langsung dimulai.
"Setelah selesai mengajari orang lain, ya harus bisa mengalahkan orang tersebut dong. Entah siapa sekarang yang peluang menangnya paling tipis. Bagaimanapun juga, sekarang aku juga sudah menguasai ilmu pembekuan. Dengan menggabungkan kemampuan dari berbagai kaum sekaligus, Sangluo tetap bisa memanggilku guru dengan sewajarnya. Namun, jika kau menyuruhnya tetap memanggil guru kepada seseorang yang hanya menguasai ilmu pembekuan, aku tidak tahu apakah di dalam hatinya dia bisa menerimanya, meskipun di mulutnya dia tidak mengatakannya." Glaucus menggelengkan kepala dengan gestur yang tampak tak berdaya.
"Orang tua, jangan selalu membawa-bawa kemampuan ras campuran sebagai dalih. Kalau tidak terima, mari kita bertarung secara jantan." Aku tahu Lie Yan selalu ingin bertarung dan menguji kemampuannya dengan Glaucus, tetapi Glaucus tidak pernah menuruti keinginannya dan lebih memilih untuk beradu argumen dengannya.
Sebenarnya aku tahu apa alasannya. Jika Glaucus mengerahkan kemampuan dari keempat kaum untuk bertarung melawan Lie Yan, jangankan Lie Yan, hampir tidak akan ada seorang pun yang bisa menjadi tandingannya seorang diri. Namun, berdasarkan perangai Glaucus, ia akan menganggap bahwa bertarung melawan duyung non-campuran dengan cara seperti itu adalah tindakan menindas, sehingga ia merasa enggan melakukannya. Cara yang lebih ia sukai adalah: jika lawannya berasal dari kaum tertentu, maka ia akan menggunakan kemampuan dari kaum yang sama untuk bertanding melawan orang tersebut. Oleh karena itu, aku menduga sebelum ia mampu menguasai ilmu pembekuan dengan luwes, ia tidak akan sudi meladeni pertarungan dari Lie Yan.
Benar saja, persis seperti dugaanku, Glaucus mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh dan berkata, "KAU masih belum layak sekarang, berlatihlah lebih giat lagi sebelum menantangku." Kemudian ia menoleh kepadaku seraya berkata, "Aku harus pergi melihat ke mana si kecil Maja itu berlari. Aku harus memaksanya memanggilku guru besar. Mana boleh orang kalah tapi tidak mau mengakui kekalahan."
Setelah mengucapkan kalimat itu, ia pergi begitu saja tanpa melirik Lie Yan sedikit pun. Setelah berenang separuh jalan, ia menoleh ke belakang tanpa berhenti dan kembali melontarkan kalimat untuk menjatuhkan mental Lie Yan: "Oh ya, siapa tadi nama si Lie itu? Kalian orang-orang Laut Es ini, kenapa memberi nama anak dan ayah mirip seperti nama saudara kembar kami di Laut Hijau, siapa yang bisa membedakan coba? Terserah deh, pokoknya yang bernama Lie siapa itu, dengar baik-baik, jangan terus-terusan menguntit muridku! Buah yang dipaksa masak tidak akan terasa manis, sadarlah diri sendiri." Usai berkata demikian, tanpa menunggu Lie Yan sempat melancarkan serangan balik, ia langsung menghilang dalam sekejap mata, sama seperti Maja tadi.