Bab Empat Puluh Empat: Raja Iblis dan Makhluk Keberuntungan—Pendukung Terkuat!
“Itu…”
Beberapa li jauhnya dari Kota Raja Ular, di sebuah hutan pegunungan, langkah Jiang Che terhenti. Ia mendengar suara bising yang sangat dikenalnya.
Ia menoleh ke belakang, dan benar saja, di langit tak jauh dari Kota Raja Ular, tampak beberapa helikopter sedang terbang.
Mata harimau Jiang Che menyipit, hatinya menegang. Manusia secepat itu sudah memanggil bala bantuan?
Jangan-jangan Kedua celaka?
"Kalau Kedua sampai mati, aku benar-benar rugi besar. Di mana lagi aku bisa menemukan target seistimewa dia—berbakat luar biasa dan membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya!"
"Haruskah aku kembali? Menyelamatkan…"
Jiang Che ragu di dalam hatinya.
Setelah bimbang cukup lama, ia akhirnya memutuskan untuk tidak kembali.
"Kedua itu reinkarnasi Raja Iblis zaman kuno, seharusnya tidak semudah itu mati. Lagi pula, dengan kekuatannya sekarang, dia belum sanggup melawan manusia. Kemungkinan besar dia sudah kabur jauh!"
Demikian pikir Jiang Che dalam hati.
Keanehan yang ditunjukkan kakaknya juga menarik perhatian Nangong Luo. Mengikuti arah pandang kakaknya, ia juga menemukan beberapa helikopter itu.
"Sepertinya manusia sudah mengincar Kakak Kedua!"
Nangong Luo teringat pada burung aneh yang pernah ia lihat, dan hatinya pun paham.
Ia sama sekali tidak berniat menolong Kedua. Justru, sorot kegembiraan tampak jelas di matanya yang berwarna emas pucat.
"Rasakan itu! Sombong sekali, sekarang kau dikejar militer manusia. Kalau tidak mati, kau pasti babak belur!"
Dengan rasa puas, ekor harimau emas di belakang Nangong Luo bergoyang di udara.
"Roar!"
Nangong Luo mendesak Jiang Che untuk segera melanjutkan perjalanan.
Kesempatan kali ini, Pohon Suci Bodhi tumbuh di provinsi Ning yang bersebelahan dengan provinsi Jiang. Meski mereka menempuh perjalanan siang dan malam, kemungkinan butuh sepuluh hari baru sampai.
Lagi pula, mereka sebagian besar harus berputar lewat daerah liar, yang sangat memakan waktu.
Jiang Che menoleh dan mengikuti Nangong Luo, lalu menghilang di balik hutan lebat.
Waktu berlalu, dua hari telah lewat.
Jiang Che dan Nangong Luo hampir mencapai perbatasan dua provinsi, sebentar lagi akan memasuki wilayah Ning.
Tak lama setelah itu, kedua harimau tiba di sebuah hutan pegunungan.
Di sana tumbuh deretan pohon kenari sebesar tong air, semuanya berjajar rapi, cabang-cabangnya penuh dengan kenari emas yang matang, aroma buahnya memenuhi udara.
Melihat pohon kenari yang tertata begitu rapih, Jiang Che tahu bahwa sebelum kebangkitan energi spiritual, tempat ini adalah perkebunan kenari buatan manusia, tapi sekarang jelas sudah ditinggalkan.
Melihat buah kenari kuning keemasan yang bergelimpangan di tanah, Jiang Che menunduk dan mengendusnya, lalu tak memperdulikannya lagi—tidak ada aroma daging…
Ia menengadah dan melanjutkan langkah mengikuti Nangong Luo di depan.
Belum berjalan jauh, kedua harimau mendapati sosok besar yang bergerak di bawah sebuah pohon tak jauh dari sana.
Ketika didekati, ternyata seekor beruang raksasa yang tampak garang.
Beruang itu bertubuh kekar, bahu dan punggungnya sangat lebar, keempat kakinya kokoh, sekujur tubuhnya dilapisi bulu cokelat keabu-abuan yang tebal, tampak seperti sebuah bukit kecil.
Yang paling istimewa adalah lehernya, di mana melingkar pola ungu yang mencolok.
Saat ini, beruang raksasa itu sedang mencari kenari matang di tanah, memasukkan satu per satu ke dalam perutnya.
“Auu!”
Beruang itu tampaknya sangat waspada.
Begitu Jiang Che dan Nangong Luo mendekat, ia langsung menyadari kehadiran mereka.
Beruang itu tiba-tiba mengaum keras, punggungnya melengkung, pola ungu di lehernya berpendar cahaya, lalu menyerbu dengan garang, cakarnya terayun ganas.
Jiang Che tetap diam, matanya terpaku pada pola ungu di leher beruang, hatinya dipenuhi rasa ingin tahu.
Ada sesuatu yang aneh!
Ia menyadari bahwa pola ungu itu tampaknya bukan berasal dari bulu, keduanya bukan satu kesatuan.
Pola ungu itu seperti aliran air, terus bergerak di antara bulu beruang, melingkari lehernya, tampak sangat misterius...
"Roar!"
"Baru tingkat satu menengah, berani-beraninya sombong? Hari ini akan kubuat kepalamu benjol-benjol!"
Jiang Che tetap tenang, justru Nangong Luo yang semangat bertarungnya bangkit, ia memandang rendah pada beruang di hadapannya.
Dengan auman nyaring, sosok emas itu melesat maju.
Duar!
Beberapa saat kemudian, kedua binatang raksasa saling bertabrakan, cakar harimau keemasan dan cakar beruang yang tebal saling beradu, suara dentuman menggema, memenuhi hutan, seolah-olah seluruh hutan kenari bergetar hebat.
Tiba-tiba, sosok emas terlempar jauh ke belakang, jatuh beberapa meter.
Nangong Luo segera bangkit, menatap beruang raksasa yang hanya mundur beberapa langkah, penuh kebingungan di matanya.
Padahal lawannya baru tingkat satu menengah, mengapa bisa menahan serangannya?
"Tidak mungkin! Biar kulihat seberapa hebat kekuatan aslimu!"
Nangong Luo bersikeras, tak mau kalah, ia mengerahkan seluruh kemampuannya tanpa ragu.
Cahaya emas dan kilat berkilauan muncul dari tubuh harimau, cahaya keemasan dan ungu menyala terang di tengah hutan yang suram, menembus lapisan dedaunan, menyebar ke seluruh penjuru.
Bunyi tajam memecah udara, petir menggelegar, cahaya emas terkumpul membentuk sebilah bilah cahaya sepanjang satu meter lebih, melayang di udara, berkilau indah.
Kemudian, kilatan-kilatan petir ungu meloncat, aliran listrik berwarna ungu cepat mengelilingi permukaan bilah cahaya emas.
Krak! Krak!
Bilah cahaya emas itu dibalut petir ungu, kilat menari, cahaya ungu dan emas saling berpadu, sebilah bilah cahaya ungu keemasan bergetar hebat di udara, seolah menyimpan kekuatan besar yang siap meledak kapan saja!
Duar!
Dengan satu kehendak Nangong Luo, bilah cahaya ungu keemasan melesat terang, terbang menebas ke arah beruang raksasa, meninggalkan jejak pilar cahaya lurus di langit.
Bilah cahaya ungu keemasan itu melaju tak terbendung, seakan ingin membelah segalanya!
“Auu!”
Beruang raksasa meraung marah, pola ungu di lehernya bersinar terang, kedua cakarnya menepak tanah keras.
Duar! Duar! Duar!
Lima dinding batu besar dan tebal muncul dari tanah, bertumpuk-tumpuk, menghadang di depan.
Bugh! Bugh! Bugh!
Bilah cahaya ungu keemasan menghantam dinding batu dengan kekuatan dahsyat, menembus tiga lapisan sebelum akhirnya lenyap.
"Bagaimana bisa?"
Nangong Luo terengah-engah, matanya membelalak tak percaya. Ia benar-benar tidak bisa menerima, seekor beruang tingkat satu menengah punya kekuatan sebesar ini?
Duar!
Untung saja, Jiang Che turun tangan, melempar bola petir yang langsung menghancurkan semua dinding batu. Tanpa memberi kesempatan beruang itu bereaksi, beberapa bola petir melesat bertubi-tubi, menyambar tubuh beruang dengan kejam.
Auu!
Beruang raksasa menjerit, tubuhnya dibalut kilatan petir, jatuh tak berdaya, terus menggigil, keempat kakinya bergerak liar di udara.
Saat Jiang Che kembali menyiapkan beberapa bola petir, hendak menghabisinya sekaligus, pola ungu di leher beruang tiba-tiba bercahaya, lalu hidup, berubah menjadi seekor hewan kecil berwarna ungu.
Hewan kecil itu tampak seperti anak kucing ungu, di bawah bulunya terdapat sisik ungu, di kepalanya tumbuh sepasang tanduk mungil, matanya besar dan bening menatap Jiang Che dan Nangong Luo, terlihat sangat menggemaskan.
Nangong Luo tertegun, lalu teringat sesuatu, seberkas keterkejutan melintas di matanya.
Jangan-jangan ini… sang Maharaja Siluman dari kehidupan lalu—Makhluk Keberuntungan?
Makhluk Keberuntungan, menurut legenda memiliki darah makhluk mitos kuno Qilin, lahir sebagai hewan pembawa keberuntungan, mampu berubah-ubah wujud.
Jika ia berubah menjadi pola tempur ungu dan menyatu dengan makhluk lain, kekuatan pihak itu akan melonjak pesat, kemampuannya sangat istimewa, konon makhluk pendukung terkuat di kehidupan lalu.