Bab 64: Perasaan Tidak Enak
Aku dan Lu Lingyue sama-sama mencium aroma yang begitu menggoda. Saat itu aku sempat tertegun, tak tahu dari mana asal bau harum ini. Anehnya, meski aku belum menemukannya, wangi itu sudah masuk ke hidungku.
Saat itu sudah lewat pukul lima sore. Jalanan jajanan ini telah dipenuhi pedagang kecil. Kebanyakan di antaranya adalah pria paruh baya yang menjajakan makanan ringan. Namun yang membuatku terkejut, di antara mereka ada seorang nenek yang sudah sangat tua, juga ikut berjualan di sana.
Melihat dari penampilannya, nenek itu tampak masih sehat. Meski usianya sudah lanjut, tubuhnya masih tampak bugar. Ia sendirian mendorong gerobak kecil bertiga roda. Di atasnya terdapat tabung gas kecil, dan di sampingnya ada dua panci besar.
Aku dan Lu Lingyue memperhatikan nenek itu. Sebelumnya ia sudah mencari tempat, lalu perlahan membuka tutup kedua panci besar itu. Seketika aroma yang lebih kuat menyeruak keluar, membuat air liur kami menetes. Bau itu berasal dari dua panci besar milik nenek tersebut.
"Rosen, kau mau makan?" tanya Lu Lingyue tiba-tiba.
"Hah?" Pertanyaan mendadaknya membuatku terkejut. "Tentu saja, sudah sampai sini, mana mungkin aku melewatkan makanan seenak ini?"
"Bukan! Maksudku, kalau kau ingin makan, kita makan. Kalau tidak, ya kita pergi saja." Ucapan Lu Lingyue itu membuatku merasa ada yang aneh. Dia pasti sudah menyadari sesuatu dari diriku, makanya menanyakannya seperti itu.
"Ya, mari kita makan," jawab Lu Lingyue.
Mendengar jawabannya, hatiku entah kenapa terasa senang. Aku segera berlari menuju lapak nenek itu. Baru dari dekat aku bisa melihat jelas, ternyata kedua panci besar itu berisi sup putih yang tampak segar.
Aroma harum itu memang berasal dari situ. Bahan-bahan yang digunakan nenek ini sangat sederhana, hanya lobak putih yang mengapung di dalam sup. Tapi aku yakin resep nenek itu tidak sesederhana itu. Kalau hanya lobak putih, rasanya tak mungkin menghasilkan sup seenak ini.
Melihat kami mendekat, nenek itu tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang sudah menguning. Tangannya cekatan menuangkan dua mangkuk sup lobak untuk kami.
Saat menerima sup dari tangannya, entah kenapa aku merasa nenek itu terus memandangiku. Rasanya seperti seekor harimau yang menatap mangsanya, menatapku tanpa berkedip.
Nenek itu tampaknya sadar aku memperhatikan tatapannya. Ia segera mengalihkan pandangan ke tempat lain, tapi sesekali tetap melirik ke arahku.
Waktu itu aku tak terlalu memikirkannya, mengira nenek itu mungkin mengira aku orang yang dikenalnya. Tapi belakangan, justru gara-gara hal sepele ini, masalah besar nyaris terjadi—bahkan hampir merenggut nyawa!
Aku mengambil mangkuk dan menyesap supnya. Rasanya sungguh nikmat, membuatku ingin terus menikmatinya. Lu Lingyue juga meminumnya, tapi raut wajahnya tetap datar, seperti biasa.
"Nenek, kenapa hanya sendirian berjualan di sini?" tanyaku sambil menyeruput sup, mencoba mencari topik pembicaraan.
Nenek itu tertawa kecil. "Di rumah hanya tinggal aku seorang. Suamiku dan yang lain sudah tiada…" Ucapannya itu membuat wajahnya tampak sedih, suaranya pun mulai parau.
Aku jadi kikuk, menyesal telah menanyakan soal keluarganya. Yang bisa kulakukan hanya meminta maaf padanya.
Di usia setua itu, nenek ini masih berjualan demi menghidupi dirinya sendiri. Melihat rambutnya yang seluruhnya telah memutih dan keriput yang jelas di wajahnya, tapi masih gigih berusaha, sungguh membuat hati miris.
Tak lama kemudian, nenek itu kembali tersenyum padaku. "Tak apa, ini bukan salahmu," katanya.
Aku pun tak melanjutkan topik itu lagi. Jujur saja, racikan nenek ini memang luar biasa. Baru sebentar membuka lapak, sudah ada orang yang antre membeli dagangannya.
Beberapa saat kemudian, para pedagang lain mulai berdatangan dan membuka lapak di jalanan ini. Setiap kali mereka lewat di depan nenek itu, mereka menatapnya dengan pandangan heran—seolah-olah mereka sama sekali tak mengenal nenek itu, seperti baru pertama kali bertemu.
Meski banyak pembeli di lapak nenek, para pedagang lain justru tak ada yang mendekat, bahkan memandang nenek itu dengan sinis dan meremehkan.
Aku meneguk sup hingga ke tetes terakhir, lalu tanpa malu-malu bersendawa. Berbeda dengan Lu Lingyue yang tetap menjaga sikap. Setelah membayar, kami pun beranjak pergi, tak lagi melanjutkan keliling jalanan jajanan malam itu.
Kami kembali ke toko peramal Rosen.
Begitu masuk, sudah bisa diduga, Burung Mati itu sudah tergeletak lagi di sofa, kaki diangkat santai, sambil ngecas ponsel dan main game Mobile Legends, sesekali terdengar umpatan dari mulutnya.
"Luban, kau jangan-jangan masih anak SD ya?"
"Mainmu payah sekali, mending pulang tanam jagung saja!"
Itu semua adalah suara teman setim Burung Mati di game, yang terus saja memakinya. Tapi wajahnya tetap tenang, benar-benar kulit muka sekeras pohon.
Sesampainya di toko, hari sudah malam. Aku dan Lu Lingyue sudah kenyang makan di jalanan jajanan, jadi kami tak peduli padanya. Lu Lingyue tidak pernah tidur di toko, ia pulang ke tempatnya sendiri. Aku pun tak khawatir soal keamanannya—seorang pemimpin sekte besar, mana mungkin ada yang berani mengganggunya?
Setelah membersihkan diri, aku langsung rebahan di kasur. Sambil memejamkan mata, pikiranku terus terbayang-bayang pada semangkuk sup lobak yang kumakan tadi. Rasanya masih melekat di lidah, sampai ingin rasanya menambah dua mangkuk lagi.
Meski aku hanya makan lobak di dalamnya, rasa sup itu sungguh sulit diuraikan. Aku benar-benar tak tahu dari mana datangnya aroma harum itu. Tak mungkin hanya dari lobak, dan jelas bukan dari kaldu ayam atau daging. Kalau hanya lobak direbus, tak mungkin seenak itu.
Lalu bahan apa yang digunakan nenek itu dalam supnya?
Mungkinkah ia menggunakan daging ayam, bebek, atau ikan sebagai kaldu? Tapi kenapa aku tidak bisa menebaknya?
Semakin kupikirkan, aku merasa ada yang aneh. Secara logika, orang yang menekuni jalan spiritual sepertiku seharusnya punya kepekaan lebih, kemampuan membedakan rasa jauh lebih tajam dari orang biasa. Tapi aku sama sekali tidak bisa menebak bahan apa yang digunakan...
Kalau bukan kesalahanku, berarti pasti ada yang aneh pada nenek itu...
Menyadari hal itu, aku sontak duduk tegak di atas kasur. Saat itu juga, ponselku tiba-tiba berdering. Aku langsung ingin memaki. Tengah malam begini, siapa pula yang menelponku?
Kulihat layar ponsel, ternyata Lu Lingyue!