Bab 34 Kemarahan Longkodo
Akhirnya, Pengurus Tong memutuskan untuk mengirimnya kembali ke kediaman atas pertimbangan sosok yang berada di dalam istana.
Meskipun Pengurus Zhou tidak tahu bagaimana keadaan klan Wuyaha selanjutnya, ia segera melaporkan kejadian tersebut kepada sang Adipati.
"Hehe, tidak sampai tewas itu sudah merupakan keberuntungan baginya. Jika lain kali mulutnya masih kotor lagi, hajar saja dia lagi. Aku ingin melihat apakah sosok di istana itu masih berani melindunginya."
Walaupun klan Wuyaha hanyalah golongan *booi*, secara pribadi mereka semua menganggapnya sebagai keluarga mertua kaisar. Benar-benar sebuah tindakan yang nekat.
"Benar, Tuan. Baru saja pelayan datang melapor bahwa orang dari kediaman Tong telah mengantarnya pulang."
"Bagus, kau harus membalas budi ini."
Keduanya saling bertukar pandang dan tersenyum. "Adipati memang sangat bijak. Dengan cara ini, informasi yang ada di tangan hamba bisa menjadi bentuk terima kasih yang tulus."
Peng Chun menepuk-nepuk tangannya perlahan. "Jangan sampai keluarga Tong mengecewakan kita."
Keesokan harinya, Pengurus Zhou mengirim pesan ke kediaman keluarga Tong. Pengurus Tong harus melapor kepada tuannya sebelum menemui pengurus dari kediaman lain.
Tong Guowei tampak bingung. "Kau yakin hanya karena masalah ini?" Ia tidak merasa kejadian kemarin mengharuskan seseorang datang langsung untuk berterima kasih. Biasanya, masalah kecil antar pelayan hanya diselesaikan dengan saling bertukar hadiah. Jarang sekali ada yang datang secara pribadi, karena hal-hal yang tidak diangkat ke permukaan dianggap sepele.
"Tuan, apakah hamba harus memenuhi undangan tersebut?" tanya Pengurus Tong ragu.
Setelah merenung sejenak, Tong Guowei mengangguk. "Pergilah. Buat janji di restoran milik keluarga Tong, dan aku akan meminta Longkodo untuk mendengarkan dari sisi lain."
Selama beberapa tahun ini, meskipun keluarga Tong sangat dipercaya oleh kaisar, ia sadar bahwa semua itu dibangun di atas fondasi kesetiaannya. Hubungan seperti ini akan membuat kaisar curiga jika ada sedikit saja kepentingan pribadi. Oleh karena itu, bagi Tong Guowei, masalah kecil pun bisa menjadi masalah besar. Ia bukan sekadar ipar kaisar, melainkan juga abdi setianya. Beberapa hal harus dihindari.
Pengurus Tong mengangguk, memahami rencana tuannya. Dengan kehadiran Tuan Muda, ia merasa lebih tenang.
Ketika Longkodo dipanggil oleh ayahnya, ia sempat bingung, namun setelah mendengar apa yang disampaikan Pengurus Tong, keningnya berkerut. Ia tidak memiliki kesan baik terhadap klan Wuyaha.
Ia tahu betul bagaimana keadaan kakaknya di istana, karena ia adalah abdi dekat Kaisar Kangxi. Ia tahu jauh lebih banyak daripada orang lain. Ia juga menaruh harapan besar pada Pangeran Keempat. Mengenai masalah nona dari kediaman Donggo, ia pun tahu, namun baginya itu hanyalah ketertarikan sesaat kaisar. Di istana masih ada Selir Liang, dan nona Donggo itu tidak akan pernah bisa melampaui posisi Selir Liang secantik apa pun dia.
"Aku akan ikut melihatnya. Jika ini benar-benar menyangkut Kakak, aku sendiri yang akan mengambil keputusan," ujar Longkodo menyanggupi.
Kemudian, ia pergi ke restoran bersama Pengurus Tong. Pengurus Zhou sudah menunggu di sana; ia tidak menyangka Longkodo akan ikut datang.
"Terima kasih atas kejadian kemarin," ujar Pengurus Zhou sambil memberi hormat kepada Pengurus Tong yang baru duduk. "Kemarin saya benar-benar sedang emosi, tapi Adipati saya berpesan bahwa kesalahan ada pada pihak Wuyaha, jadi tidak perlu takut."
Pengurus Tong mengangguk. Meskipun mereka pelayan, mereka mewakili tuan mereka. Jika tuan sudah berkata tidak perlu takut, maka sebagai pengurus, mereka pun tidak perlu takut.
"Namun, saya tetap harus berterima kasih kepada Saudara Tong," ucapnya sambil menuangkan minuman.
Setelah beberapa cawan berlalu, Pengurus Zhou mulai membicarakan pokok permasalahan. Saat sedang asyik berbincang, Longkodo di ruang sebelah tidak sabar lagi. Ia melangkah keluar dari ruangannya dan menerobos masuk ke ruangan Pengurus Zhou.
"Ulangi lagi apa yang kau katakan tadi?" Longkodo datang dengan amarah yang meluap, wajahnya sedingin es.
Pengurus Zhou sampai menjatuhkan cawannya karena terkejut. "Hamba memberi hormat kepada Tuan Longkodo."
"Tidak usah banyak bicara, ulangi lagi!" desak Longkodo dengan tatapan tajam.
Pengurus Zhou segera mempersilakan Longkodo duduk. "Masalah ini terungkap saat Adipati kami merasa khawatir terhadap Nona. Jika Tuan Longkodo tidak percaya, Tuan bisa memeriksanya sendiri."
"Aku pasti akan memeriksanya. Namun, jika ada satu kata pun yang bohong, keluarga Tong dan keluarga Donggo akan menjadi musuh bebuyutan!"
"Tuan Longkodo tenang saja, saya tidak akan berani berbohong mengenai hal ini," jawab Pengurus Zhou tanpa rasa takut.
"Huh, lancang sekali klan Wuyaha itu, berani-beraninya mereka merencanakan sesuatu terhadap Kakakku!" Longkodo sangat marah. "Apakah ada buktinya?"
Pengurus Zhou menyerahkan bukti bahwa Selir De meracuni Selir Agung. "Ini adalah tanda terima kasih dari keluarga Donggo."
Longkodo menerima bukti tersebut, semakin dibaca, semakin ia terbakar amarah. "Bagus, rencana yang bagus. Seorang pelayan berani mencelakai tuannya, benar-benar nekat."
Ia yang tadinya menaruh simpati pada Pangeran Keempat, kini merasa jijik. Ternyata Pangeran itu menjalin hubungan dengan Selir De bahkan saat kakaknya sedang mengandung. Sungguh keluarga yang sangat dekat. Selama bertahun-tahun, ketulusan kakaknya hanya sia-sia.
"Benda ini akan kubawa. Sampaikan terima kasihku kepada Adipati. Jika semua ini benar, keluarga Tong pasti akan membalas budi ini dengan setimpal." Longkodo yang masih muda dan penuh semangat tidak bisa menahan amarahnya; itu adalah kakaknya sendiri.
Setelah mereka pergi, Pengurus Zhou duduk sejenak sebelum kembali ke kediaman. Peng Chun sangat senang mengetahui Longkodo sudah turun tangan. Tugas yang diberikan putrinya telah selesai.
"Masalah ini tidak perlu kita urus lagi. Kau luangkan waktu untuk memantau Nona. Aku masih kurang tenang jika hanya ada dua orang bayangan di sana," ujar Peng Chun. Baginya, keselamatan putrinya jauh lebih penting.
"Baik, Tuan."
Setelah Pengurus Zhou pergi, sang Istri Adipati masuk.
"Tuan."
"Istriku, kemarilah. Ada yang ingin kubicarakan." Mingzhu pergi ke Kuil Jingran, dan istrinya belum tahu alasannya. Melihat lingkaran hitam di bawah matanya, sepertinya sang istri tidak bisa tidur semalaman.
Sebelum istrinya bertanya, Peng Chun menceritakan apa yang telah didiskusikannya dengan putrinya.
"Jadi, jika kau punya waktu, pergilah menjenguk Mingzhu di Kuil Jingran."
"Kasihan anakku, mengapa dia harus terjebak dalam masalah seperti ini?" Karena Mingzhu tidak menceritakan mimpinya kepada ibunya, sang istri tidak tahu bahwa jika putrinya menempuh jalan pemilihan selir yang normal, hidupnya akan hancur.
Peng Chun tahu tentang mimpi itu, dan ia bersedia bertaruh demi putrinya. Setelah peristiwa di medan perang, ia sangat yakin bahwa mimpi itu adalah kenyataan. Yang bisa ia lakukan hanyalah membantu putrinya mengubah takdir keluarga Donggo yang ada dalam mimpi tersebut. Bagaimanapun, gelar kebangsawanan akan berakhir di generasinya, dan saat Zengshou mengambil alih nanti, gelar itu tidak akan ada lagi.