Bab XVII: Kabut Misteri yang Menyelimuti
"Bagaimana menurutmu tentang kepala desa ini?" tanya Ning Chuan sambil berjalan.
"Ada yang tidak beres. Secara logika, seharusnya dia tidak begitu mudah memberitahu kita soal orang yang gantung diri. Kita sudah bilang bos kita agak percaya hal-hal mistis, tapi dia malah langsung blak-blakan. Apa dia pikir kejadian itu sudah lewat sepuluh tahun, jadi tidak akan berpengaruh?"
"Aku juga merasa aneh. Mungkin ini memang sengaja diatur oleh Rumah Hantu, semacam petunjuk untuk kita. Ayo kita coba tanya orang lain, terutama para orang tua."
Mereka berjalan sebentar, lalu melihat sekelompok orang tua duduk di sudut tembok, sedang mengobrol. Ning Chuan perlahan mendekat.
"Kakek, mau coba rokok? Ganti suasana sedikit."
"Terima kasih, anak muda. Biar kakek coba yang mahal. Benar juga, rasanya beda."
"Kakek, kami baru pertama kali datang ke desa, ingin tahu cerita-cerita mistis yang unik. Boleh dong ceritakan sedikit."
"Kalau bicara soal hal mistis, memang pernah ada. Dulu, ada seorang janda yang difitnah punya hubungan gelap. Nama baiknya tercoreng, dan tak ada yang membela. Karena merasa tertekan, dia akhirnya gantung diri. Setelah itu, tiga orang meninggal berturut-turut, semua tewas tercekik tali di leher. Tapi setelah diselidiki, tidak ditemukan pelakunya. Ada satu pola, korban adalah pria atau wanita yang berselingkuh. Jadi orang-orang percaya janda itu berubah menjadi arwah penasaran yang membalas dendam. Kasusnya pun akhirnya tak terpecahkan. Sejak itu, tak ada lagi orang meninggal, dan desa jadi lebih tertib."
"Begitu ya, kakek ada cerita lain?"
"Tidak ada lagi. Desa kita, Desa Huanxi, sangat tenang."
"Baik, terima kasih kakek. Rokok ini buat kakek saja."
"Terima kasih, anak muda. Kalau ada yang ingin ditanyakan, datang saja ke kakek."
"Sampai jumpa, kakek."
Awalnya mereka pikir sudah menemukan asal muasal arwah penasaran, tapi setelah mendengar cerita kakek, justru timbul kebingungan.
"Ning Chuan, arwah janda itu hanya membunuh orang yang berselingkuh. Kita semua tidak termasuk, jadi sepertinya bukan dia pelakunya kali ini. Kakek juga bilang tidak ada kejadian lain di sini, lantas siapa sebenarnya pelakunya?" tanya Zhang Guang.
"Sulit ditebak. Aku juga awalnya mengira janda itu arwah pembunuh, dan kita harus waspada dengan tali. Tapi sekarang ternyata bukan. Bisa jadi Rumah Hantu sengaja membuat kita bingung. Yang jelas, kita tetap harus hati-hati dengan tali."
Saat itu Jiang Wen tiba-tiba berkata, "Sebenarnya, kita melupakan satu kelompok penting, anak-anak. Orang dewasa sering menyembunyikan sesuatu, tapi anak-anak tidak. Orang tua juga suka menakut-nakuti anak-anak dengan cerita horor agar mereka patuh. Lewat anak-anak, mungkin kita bisa dapat petunjuk."
"Bagus juga idenya. Amin, belikan camilan di warung, nanti kita cari anak-anak buat tanya-tanya," perintah Ning Chuan.
"Siap, urusan belanja aku paling bisa!"
Tak lama, Amin sudah kembali membawa satu kantong besar camilan.
Mereka mulai berkeliling desa, mencari anak-anak. Sudah lama berkeliling, tapi tak satu pun anak ditemukan, membuat mereka heran.
"Mustahil di desa tidak ada anak-anak. Ini aneh banget."
"Cari terus. Anak-anak adalah kunci kita. Semakin aneh, semakin pasti ada sesuatu."
Saat mereka bingung, tiba-tiba di depan ada seorang anak kecil. Tapi begitu melihat mereka, anak itu langsung lari.
"Lihat! Ada anak kecil! Kejar!" Ning Chuan dan yang lain akhirnya menemukan titik terang.