Jilid Pertama: Musibah Berawal dari Angin Tenggara, Tujuh Orang Suci Turun ke Dunia Bab Tujuh Belas: Kecerdasan Tertinggi Tanpa Kerumitan, Pedang Berat Menyembunyikan Tajinya
Keesokan paginya, Syue Yun dibangunkan oleh Syue Baishou.
“lkut aku. Akan kuajari cara meracik obat.” Syue Baishou berdiri di sisi ranjang Syue Yun, menatapnya yang masih mengantuk.
Setelah berkata demikian, Syue Baishou meninggalkan kamar dan menuju aula. Syue Yun segera bangun lalu mengikutinya.
Setelah menyiapkan ramuan untuk menempa tubuh, Syue Baishou menyerahkannya kepada Syue Yun, lalu berkata, “Mulai sekarang, tambahkan satu batang lebih banyak untuk masing-masing dari lima bahan obat terakhir setiap hari. Ingat?”
Syue Yun mengangguk dengan pandangan masih kabur. “Ingat.”
Syue Yun menggiling bahan-bahan obat itu hingga menjadi bubuk, lalu menuangkannya ke dalam bak kayu. Setelah itu, ia menambahkan air panas, menanggalkan pakaiannya, dan melompat ke dalam cairan obat beraneka warna tersebut. Sambil menahan rasa sakit yang menusuk hingga ke tulang, ia membenamkan kepalanya dalam-dalam ke dalam cairan, membiarkan seluruh tubuhnya ditempa tanpa menyisakan sedikit pun celah.
Jeritan kesakitan terdengar silih berganti dari dalam Paviliun Obat. Kekuatan cairan obat itu terus meningkat setiap kali, sehingga penderitaan yang harus ditanggung Syue Yun tak pernah berkurang sedikit pun, meskipun kekuatan tubuhnya bertambah dari hari ke hari.
Sejam kemudian, ketika rasa sakit mulai mereda, Syue Yun mengangkat kepalanya dari dalam cairan obat. Baru setelah seluruh tubuhnya benar-benar kehilangan sensasi, ia bangkit dari bak kayu.
Syue Yun mengenakan pakaiannya, membuang cairan obat, lalu mengambil kitab tinju di sisi ranjang dan pergi ke halaman di luar Paviliun Obat. Dengan sangat berhati-hati, ia berlatih tanpa berani mempercepat gerakannya. Ia hanya mampu melancarkan jurus pertama secara perlahan, meski ingin mengeluarkannya dengan sepenuh tenaga.
“Percepat gerakanmu.” Syue Baishou berdiri di tangga luar Paviliun Obat, menatap Syue Yun.
“Kalau kecepatanku bertambah, bukankah…” Syue Yun tampak cemas.
“Jika kau terus berlatih dengan kecepatan seperti ini, sampai seumur hidup pun hasilnya akan tetap sama. Jika tidak mempercepat gerakan, bagaimana kau bisa mengetahui batas kemampuan tubuhmu? Jika kau tidak tahu seberapa besar kekuatan yang mampu kau tanggung, bagaimana mungkin kau dapat menembus batas?”
Syue Baishou berbicara dengan wajah serius.
“Baik!”
Syue Yun pun mempercepat pukulannya. Ia sebenarnya sudah menduga bahwa ketika kecepatannya meningkat, tenaga yang mengalir dari gelang itu akan berada di luar kendalinya. Meskipun ia telah bersiap menghadapi kekuatan tersebut, saat benar-benar berhadapan dengannya, Syue Yun kembali merasakan dengan jelas betapa besarnya jarak antara dirinya dan kekuatan itu.
Tubuh Syue Yun terseret oleh kekuatan tersebut, lalu terhempas keras ke tanah. Ia mencoba berkali-kali, tetapi hasilnya tetap sama. Setelah beberapa kali jatuh, seluruh tubuhnya telah dipenuhi memar kebiruan.
“Tidak bisa. Tidak bisa. Tidak bisa.” Syue Baishou terus menggelengkan kepala sambil menatap Syue Yun yang terjatuh di hadapannya, keningnya berkerut rapat.
Akhirnya, seolah menemukan jalan keluar, Syue Baishou berbalik dan kembali ke dalam Paviliun Obat.
Ketika muncul lagi di ambang pintu, ia membawa sebilah pedang raksasa berwarna hitam. Tubuh pedang itu dipenuhi pola-pola aneh yang tak dipahami Syue Yun.
Pedang tersebut tidak memiliki mata maupun ujung runcing. Alih-alih sebilah pedang, benda itu lebih menyerupai kotak besi berbentuk persegi panjang, dengan panjang sekitar empat hasta, lebar lima inci, dan ketebalan kira-kira dua inci.
Syue Baishou menancapkan pedang raksasa itu ke tanah, lalu menatap Syue Yun.
“Kemari.”
Mendengar panggilan itu, Syue Yun menghentikan latihannya. Ia mengusap tubuhnya yang pegal, lalu berjalan perlahan ke hadapan Syue Baishou.
“Guru! Apa ini? Besar sekali!” Syue Yun menatap pedang di sisi Syue Baishou dengan penuh kebingungan.
“Ini pedang raksasa. Namanya Sembunyi Tajam.”
“Mulai sekarang, gunakan pedang ini untuk berlatih. Pertama-tama, latih kekuatanmu.”
“Bukankah aku seharusnya berlatih menggunakan gelang ini? Mengapa sekarang berubah menjadi pedang?” Syue Yun mengusap gelang hijau giok yang melingkar di pergelangan tangannya, masih tidak mengerti.
“Aku terlalu terburu-buru. Gelang ini tidak cocok digunakan oleh orang yang baru mulai menempa tubuh. Pada tahap awal, kekuatan seseorang masih terlalu lemah. Begitu kecepatannya meningkat, ia sama sekali tidak akan mampu mengendalikan tenaga gelang itu.”
“Mungkin saat itu dia tidak memikirkan hal ini. Bagaimanapun, dia bukan seorang ahli penempa tubuh.” Syue Baishou bergumam, lalu menyodorkan Sembunyi Tajam kepada Syue Yun.
“Pegang baik-baik.”
Syue Yun mengulurkan tangan dan menerima Sembunyi Tajam. Namun, saat Syue Baishou melepaskan tenaganya, seluruh berat pedang itu langsung menekan kedua lengan Syue Yun.
“Wah!”
Syue Yun berseru kaget.
Buk!
Syue Yun benar-benar tak sanggup menahan pedang raksasa itu. Sembunyi Tajam langsung jatuh dan menghancurkan ubin yang terhampar di tanah.
Syue Yun menatap pedang tersebut, lalu mengangkat kepala dengan wajah penuh keheranan.
“Guru, sebenarnya seberapa berat pedang ini?”
“Sekitar lima puluh kilogram. Kau baru berusia dua belas tahun. Cobalah membiasakan diri dengan berat lima puluh kilogram terlebih dahulu. Setelah kau mampu mengayunkan pedang seberat ini, barulah akan kutambah bebannya.”
“Berat Sembunyi Tajam masih bisa ditambah?”
“Benar.”
“Lalu, bagaimana cara berlatih menggunakan Sembunyi Tajam?”
“Menarikan pedang. Ketika kau sudah mampu mengayunkan Sembunyi Tajam seberat lima puluh kilogram ini dengan lancar, aku akan menambah beratnya. Setelah kau mampu mengayunkan Sembunyi Tajam seberat lima ratus kilogram, seharusnya kau sudah dapat berlatih menggunakan gelang di tubuhmu.” Syue Baishou tampak berpikir sejenak.
“Untuk sementara, lepaskan semua gelang di tubuhmu. Kenakan kembali setelah kau mampu mengayunkan Sembunyi Tajam seberat lima ratus kilogram.”
“Baik!” Syue Yun mengangguk, lalu melepaskan keempat gelang dari tubuhnya.
Setelah menyimpan gelang-gelang itu, Syue Yun menggenggam gagang pedang dan mengerahkan seluruh tenaga. Namun, ia tetap tidak mampu mengangkat Sembunyi Tajam. Dengan pasrah, ia hanya dapat menyeretnya selangkah demi selangkah. Baru berjalan beberapa langkah, keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya.
Buk!
Syue Yun telah kehabisan tenaga. Gagang pedang terlepas dari telapak tangannya dan jatuh, kembali menghancurkan ubin di tanah.
Sepanjang pagi, Syue Yun terus mengulangi gerakan sederhana: mengangkat Sembunyi Tajam, menurunkannya, mengangkatnya lagi, lalu menurunkannya kembali.
Pada sore hari, sekelompok wajah yang terasa asing sekaligus akrab datang ke Paviliun Obat. Mereka adalah para murid baru angkatan ini, yang datang untuk mempelajari pengetahuan tentang ilmu pengobatan.
Paviliun Obat segera menjadi ramai. Sekelompok besar murid baru membanjiri aula hingga nyaris tak menyisakan ruang.
Syue Baishou berdiri di hadapan para murid baru. Sambil memandangi seluruh murid di aula, ia menjelaskan tentang bahan-bahan obat dan prinsip-prinsip pengobatan.
Namun, tak seorang pun dari para murid baru itu mendengarkan. Mereka sibuk melakukan hal-hal yang mereka sukai. Sebagian berdebat dengan suara ribut, sebagian lain menunjuk-nunjuk Syue Baishou, dan bahkan ada yang berlarian ke sana kemari di dalam aula Paviliun Obat, sama sekali tidak menganggapnya serius.
Seandainya akademi tidak mewajibkan murid baru mempelajari ilmu pengobatan, tak seorang pun dari mereka yang bersedia mendengarkan pelajaran Syue Baishou. Lebih tepatnya, tak ada yang mau diajar oleh guru tak berguna seperti dirinya.
Dengan wajah tak berdaya, Syue Baishou memandangi para murid di dalam Paviliun Obat. Ia memanggil Syue Yun, yang duduk paling belakang dan sungguh-sungguh menyimak pelajaran, ke hadapannya. Setelah itu, ia berkata kepada para murid baru yang tampak tidak sabar, “Kalian ulangi dahulu apa yang baru saja kujelaskan.”
Setelah berkata demikian, Syue Baishou membawa Syue Yun keluar dari Paviliun Obat.
Begitu Syue Baishou meninggalkan paviliun, suasana di dalamnya menjadi semakin riuh. Sebagian besar murid bersorak gembira sambil mengantar kepergian mereka.
Setelah melewati beberapa tempat, Syue Baishou membawa Syue Yun ke sebuah halaman yang sunyi.
“Taman Angin Sejuk!” Syue Yun menatap papan nama di atas gerbang dengan wajah bingung.
“Guru, untuk apa kita datang ke sini?”
“Paviliun Obat terlalu berisik. Ini adalah tempat tinggal Tetua Feng. Mulai sekarang, setiap kali aku mengajar murid baru, kau akan berlatih di sini. Biarkan Yichen menjadi lawanmu.”
Syue Baishou mendorong pintu halaman. Syue Yun mengikuti di belakangnya memasuki Taman Angin Sejuk.
Saat pintu halaman terbuka, dua orang yang muncul di ambang pintu menarik perhatian dua orang yang sedang bertarung di dalam halaman.
Feng Yichen menghentikan gerakannya, lalu menghampiri Syue Baishou dengan sikap hormat.
“Kakek Syue!”
Yu Mo berdiri di kejauhan dan menatap Syue Baishou dengan tenang.
“Tabib Syue.”
Syue Baishou mengangguk kepada Feng Yichen. Kemudian ia menoleh dan memandang Yu Mo dengan sorot mata penuh makna, sebelum kembali mengalihkan pandangannya.
“Kakek Syue, tunggu sebentar. Akan kupanggil Kakek.” Feng Yichen berbalik hendak pergi, tetapi Syue Baishou segera menarik lengannya.
“Tidak perlu. Saudara Feng masih sedang berlatih. Aku tidak ingin mengganggunya. Sebenarnya, tujuan utamaku datang hari ini adalah mencarimu.” Syue Baishou melepaskan lengan Feng Yichen dan tersenyum.
Feng Yichen menatapnya dengan bingung.
“Hah? Mencariku? Boleh tahu untuk apa, Kakek Syue?”
“Murid-murid baru sudah mulai datang ke Paviliun Obat untuk mempelajari ilmu pengobatan, sehingga tempat itu menjadi agak bising. Mulai sekarang, setiap kali mereka belajar, aku ingin kau berlatih tanding dengannya dan mengajarinya beberapa teknik pertempuran.”
“Tidak masalah. Serahkan saja kepadaku.” Feng Yichen menyetujuinya dengan lapang hati.
“Kalau begitu, aku pergi dahulu.”
Setelah berkata demikian, Syue Baishou berbalik dan meninggalkan Syue Yun di Taman Angin Sejuk.
Feng Yichen berjalan menuju Yu Mo, lalu menatap Syue Yun yang berdiri diam di tempatnya. Ia tersenyum dan berkata, “Adik seperguruan, kemarilah.”
“Kakak seperguruan.”
Syue Yun menghampiri Feng Yichen.
“Kemarilah, Kakak akan memberitahumu sesuatu.” Feng Yichen meletakkan tangannya di bahu Syue Yun, lalu menunjuk ke arah Yu Mo. “Kau melihat pria berjubah hitam di depan sana?”
Syue Yun mengikuti arah yang ditunjuk Feng Yichen, kemudian mengangguk.
“Ya.”
“Itu Kakak Yu Mo. Kakak Yu Mo sangat kuat. Sebentar lagi kita akan menyerangnya bersama-sama.”
“Ya.”
Setelah mendengar jawaban Syue Yun, Feng Yichen baru tersenyum dan menatap Yu Mo.
“Kakak Yu Mo tentu tidak keberatan, bukan?”
Yu Mo menatap mereka berdua sambil menyilangkan kedua tangan di belakang punggung. Wajahnya tenang dan santai.
“Tidak masalah. Kalian maju bersama.”
“Adik seperguruan, ikuti aku.”
Feng Yichen tersenyum tipis, lalu melontarkan tinjunya ke depan.
“Langkah Embusan Angin!”
Kecepatan Feng Yichen meningkat hingga batas tertinggi. Bayangan-bayangannya tertinggal berturut-turut di belakang tubuhnya. Ia mengangkat telapak tangan dan menghantam wajah Yu Mo tanpa gerakan yang berlebihan.
“Telapak Angin Penghancur!”
Kilatan petir ungu berkelebat di kedua mata Yu Mo. Tepat ketika telapak tangan Feng Yichen sudah berada sangat dekat dan Syue Yun mulai mencemaskan keselamatan Yu Mo, sosok Yu Mo tiba-tiba menghilang. Pada detik berikutnya, ia sudah berada di belakang Feng Yichen dan melayangkan tinju ke punggungnya.
Seolah memiliki mata di belakang kepala, Feng Yichen memiringkan tubuh dan menghindari pukulan itu. Ia lalu berbalik dan menghantam dada Yu Mo dengan telapak tangannya. Pertarungan mereka berlangsung dengan saling berbalas pukulan dan telapak.
“Tinju Penghancur Langit, Jurus Pertama—Pasir Berterbangan!”
Syue Yun berteriak sambil mengepalkan tinju dan menerjang Yu Mo.
Yu Mo memiringkan tubuh untuk menghindari serangan cepat Feng Yichen, lalu mengulurkan satu tangan dan dengan mudah mencengkeram tinju Syue Yun.
Syue Yun mengertakkan gigi dan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menarik kembali tinjunya. Namun, tangan Yu Mo terasa seperti rawa berlumpur. Semakin kuat ia berusaha, semakin erat telapak Yu Mo mencengkeramnya. Pada akhirnya, menggerakkan tinjunya sedikit saja terasa sangat sulit.
Yu Mo menariknya dengan kuat hingga Syue Yun terhuyung ke hadapannya. Kemudian ia mengangkat tangan dan menekuk jari tengahnya.
Tok!
Jari Yu Mo menjentik dahi Syue Yun dengan keras, menimbulkan bunyi tumpul.
“Ck…”
Syue Yun mundur beberapa langkah, lalu mengusap dahinya kuat-kuat dengan tangan. Wajahnya menahan sakit.
“Ingat, ketika bertarung melawan musuh, jangan menerjang membabi buta. Jangan pula membiarkan musuh mengetahui niat seranganmu. Dan jangan…”
Sebelum Yu Mo sempat menyelesaikan ucapannya, Feng Yichen menendangnya hingga ia terjungkal ke tanah. Percakapan antara Yu Mo dan Syue Yun pun berakhir lebih awal.
“Dan jangan menjadi seperti Kakak Yu Mo, yang hanya memperhatikan musuh di depan mata hingga melupakan musuh di belakang.”
Syue Yun mengangguk, lalu menurunkan tangannya.
“Sekali lagi.”
Yu Mo bangkit dengan satu gerakan dan menatap mereka berdua.
Pertarungan ketiganya berlangsung sekitar dua jam.
Pada akhirnya, mereka semua kelelahan dan duduk di halaman sambil terengah-engah. Feng Yichen dan Yu Mo masih tampak baik-baik saja. Selain pakaian mereka yang sedikit kotor oleh debu, tidak ada luka lain.
Namun, keadaan Syue Yun jauh lebih menyedihkan. Selama berlatih tanding melawan Yu Mo, ia tak tahu sudah berapa kali dahinya dijentik. Kini seluruh dahinya membengkak tinggi dan berubah menjadi warna biru keunguan.