Bab 26: Sandiwara Menjadi Nyata
Mendengar ucapan pengawal itu, Li Chengsi tidak lagi punya alasan untuk menyalahkan siapa pun, meski hatinya masih merasa kesal. Memang benar dirinya sendiri yang tidak mendengarkan peringatan Shen Qingru dan bersikeras pergi ke Kuil Chenghuang hingga akhirnya tertimpa masalah ini.
Kini, timbul rasa sesal sekaligus syukur di hatinya. Untunglah sang ibu cukup bijaksana untuk mengirim pengawal melindunginya, jika tidak... Awalnya, ia berniat melakukan sandiwara untuk mencari simpati di depan nenek dan ayahnya, namun siapa sangka sandiwara itu justru menjadi kenyataan yang pahit.
Melihat pakaiannya yang kotor, amarah Li Chengsi kembali meluap. Ia ingin memerintahkan kedua pengawal itu untuk menghajar para pengemis tadi, namun saat menoleh, para pengemis itu sudah lenyap tanpa jejak. Li Chengsi bergegas masuk ke dalam kuil untuk memeriksa, namun bangunan tua itu sudah kosong melompong. Si orang bodoh itu ternyata hanya berpura-pura, dan kini sudah melarikan diri tanpa jejak.
Para pengemis itu tentu tidak bodoh. Begitu melihat kedua pengawal yang datang membawa pedang di pinggang—tanda bahwa mereka adalah orang yang terlatih—mereka langsung kabur. Mereka hanya ingin memeras uang dan menakut-nakuti pemuda kaya itu, tidak berniat mempertaruhkan nyawa.
Karena tidak ada tempat untuk melampiaskan kemarahannya, Li Chengsi dengan kasar merampas pedang dari pinggang pengawal yang diam saja, lalu menebas tumpukan jerami yang kosong dengan membabi buta. Pengawal itu tertegun karena tidak menyangka Li Chengsi akan bertindak nekat seperti itu. Ia hanya bisa membatin bahwa sepulangnya nanti, ia pasti akan dihukum latihan tambahan oleh sang pangeran.
Li Chengsi menghancurkan tumpukan jerami yang tadinya tersusun rapi itu, namun hatinya masih terasa sesak. Ia memungut pemantik api dari atas meja persembahan dan hendak membakar tumpukan jerami itu untuk melampiaskan emosinya. Pengawal yang tadi berbicara segera mencegahnya, "Tuan Muda, jangan lakukan itu."
"Mengapa tidak?!" bentak Li Chengsi murka.
"Tuan Muda, meski tempat ini sudah usang, ini tetap berada di dalam ibu kota. Jika membakar tempat ini memancing kedatangan aparat, itu akan sangat merepotkan."
Li Chengsi merasa argumen itu masuk akal dan akhirnya berhenti. Meski masih mendongkol, ia melemparkan pedang itu ke tanah dengan kasar dan berteriak, "Ayo pulang!" Sambil berjalan, ia masih bergumam penuh dendam, "Setelah kembali, aku pasti akan mengirim orang untuk menghabisi para pengemis itu!"
Kedua pengawal itu saling melirik. Melihat tatapan tajam dan nada bicara Li Chengsi yang penuh kebencian, mereka membatin bahwa pewaris kediaman Marquis Anle ini sepertinya tidak akan menjadi orang besar di masa depan.
Salah satu pengawal mengikuti Li Chengsi, sementara yang lain tertinggal untuk memungut pedang yang tergeletak di tanah. Ia mengusap pedangnya dengan penuh kasih sayang, menganggap senjata itu sebagai sahabat yang telah menemaninya melewati hidup dan mati. Sambil menyarungkan pedang, ia bertanya-tanya dalam hati, mengapa pangeran dan Nona Shen begitu waspada terhadap kediaman Marquis Anle. Sebagai seorang prajurit yang terbiasa bertindak lugas, baginya, lebih mudah jika mereka langsung melenyapkan kediaman Marquis Anle saja. Tentu saja, ia belum memikirkan bagaimana cara membersihkan kekacauan setelahnya.
Setelah menyusul Li Chengsi, ia bertanya dengan hati-hati, "Tuan Muda, apakah kita langsung kembali ke kediaman Marquis?"
"Memangnya ke mana lagi?" Li Chengsi melotot ke arahnya. "Lihat kondisiku seperti ini, menurutmu aku bisa pergi ke mana?"
Melihat kondisinya sendiri, Li Chengsi merasa jijik hingga ingin muntah. Jika orang lain melihatnya dalam keadaan seperti ini, bagaimana ia bisa menjaga martabat di ibu kota? Pengawal yang lain, yang jauh lebih tanggap, menyarankan, "Kondisi Tuan Muda memang kurang pantas dilihat orang. Mari kita sewa kereta kuda saja agar Tuan Muda bisa pulang tanpa terlihat oleh orang lain."
Setelah Li Chengsi mengangguk, kedua pengawal itu berbagi tugas. Satu orang menjaga Li Chengsi, sementara yang lain pergi menyewa kereta. Setelah sibuk beberapa saat, mereka akhirnya berhasil membawa Li Chengsi kembali ke kediaman Marquis Anle.
Begitu turun dari kereta, Li Chengsi langsung berlari ke paviliun timur dan memerintahkan pelayan untuk menyiapkan air mandi. Para pelayan yang melihat kondisi Li Chengsi yang kotor berusaha bersikap seolah tidak melihat apa-apa, namun tatapan mereka yang menghindar tidak bisa menyembunyikan keterkejutan. Li Chengsi yang tidak bodoh tentu menyadari hal itu.
Ia merasa bau badan pengemis yang memeluknya tadi masih melekat di tubuhnya! Awalnya ia mengira pengemis itu benar-benar bodoh, namun tak disangka pengemis itu justru mencuri kantong uangnya! Memikirkan hal itu, wajahnya berubah masam. Ia segera melepas jubah luarnya, teringat bahwa saat pengemis itu berpura-pura bodoh, air liurnya sempat menempel di jubah tersebut.
Li Chengsi melempar jubah itu ke lantai dengan rasa jijik yang luar biasa, "Bawa pergi dan buang jubah ini! Tidak, bakar saja!" Ia tidak ingin melihat jubah itu lagi!
Saat Shen Qingru datang, paviliun timur sedang dalam kekacauan. Kabar mengenai apa yang terjadi di kuil sudah sampai ke telinganya lebih dulu. Mengetahui bahwa Li Chengsi mengalami nasib sial di Kuil Chenghuang, Shen Qingru merasa sangat puas.
"Si'er?" panggil Shen Qingru, namun ia dihadang oleh pelayan.
"Nyonya, Tuan Muda sedang mandi."
Shen Qingru merasa sedikit menyesal karena tidak bisa melihat langsung betapa menyedihkannya Li Chengsi, namun ia memasang raut wajah penuh kekhawatiran, "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Pelayan itu menggeleng, ia pun tidak tahu pasti, "Hamba juga tidak tahu, Nyonya. Tuan Muda pulang dalam keadaan penuh dengan 'noda' dan langsung meminta untuk mandi..." Pelayan itu ragu-ragu sejenak, membatin bahwa ia juga tidak tahu ke mana Tuan Muda pergi, hingga pulang dengan bau asam yang sangat menyengat...
"Apakah Tuan Muda pulang sendirian?" tanya Shen Qingru berpura-pura tidak tahu. Setelah mendapat konfirmasi bahwa Li Chengsi dikawal oleh para pengawal, ia segera bergegas mencari mereka. Sebelum pergi, ia berpesan, "Nanti, suruh Tuan Muda menemui saya."
"Baik, Nyonya," jawab pelayan itu dengan hormat, seraya berpikir betapa baiknya Nyonya terhadap Tuan Muda.
Shen Qingru segera menyampaikan pesan itu kepada sang pemeran utama pria. Sementara itu, ia juga tidak lupa menjalankan perannya sebagai ibu yang peduli dengan memberi tahu Nyonya Song dan Li Jincheng. Begitu mendengar Li Chengsi ditindas di luar, Nyonya Song seketika merasa sehat kembali dan langsung berlari ke paviliun timur untuk menemui cucu kesayangannya.
Li Jincheng saat itu tidak berada di kediaman, namun untuk masalah sebesar ini, orang kepercayaannya pasti akan segera melapor. Tak lama kemudian, terlihat Li Zhong diam-diam menyelinap keluar untuk menjemput Li Jincheng kembali. Keduanya terlalu fokus memikirkan kondisi Li Chengsi hingga tidak menyadari bahwa gerak-gerik mereka sudah diawasi.
Tak lama setelah mereka kembali, Shen Qingru sudah memegang alamat tempat tinggal Ye Erya yang akurat. Ia meremas kertas berisi alamat itu hingga jemarinya memucat. Hatinya merasa geli; tidak heran kedua orang itu bisa pulang-pergi dengan cepat, ternyata tempat tinggal Ye Erya hanya berjarak beberapa puluh meter dari kediaman Marquis Anle.
Begitu dekatnya jarak itu, namun di kehidupan sebelumnya ia sama sekali tidak menyadari bahwa Li Jincheng dan Ye Erya selama ini bermesraan tepat di depan matanya sendiri!