Misteri adalah nutrisi yang membuatku tidak lagi biasa-biasa saja. Sudah dua puluh tahun sejak aku tiba di dunia yang mirip dengan Eropa pada masa modern awal. Berkat kecerdasan yang kumiliki sejak mu
Pada pagi hari di akhir musim gugur, suasana di Jalan Kalmar yang bergaya Eropa modern sudah ramai dengan lalu lalang kereta, kuda, dan pejalan kaki. Ada kereta berat yang membawa barang, layaknya truk pengangkut. Ada juga kereta sewaan yang mengangkut penumpang, mirip seperti taksi. Selain itu, terdapat kereta mewah yang ditarik kuda berwarna polos, milik pribadi seperti mobil kelas atas. Di sepanjang trotoar, tampak pria dan wanita yang berjalan cepat, tergesa-gesa berangkat kerja. Ada pula ibu rumah tangga yang memeluk kantong kertas berisi makanan, baru saja selesai berbelanja dan sedang dalam perjalanan pulang. Tak ketinggalan, bocah penjual koran dengan tas kain selempang yang riuh menawarkan dagangannya.
Setelah sarapan, Ferlin membuka pintu “Biro Identifikasi Ferlin”, dan pemandangan seperti itu langsung menyambut matanya. Adegan itu telah ia saksikan selama dua puluh tahun penuh, namun Ferlin tetap merasa seolah semuanya tidak nyata, seakan berada dalam mimpi.
Dalam hati Ferlin menyimpan sebuah rahasia: jiwanya bukan berasal dari dunia ini, melainkan dari sebuah planet biru. Hanya saja, berbeda dengan para pendahulu yang berpindah dunia, ia tidak mendapatkan keistimewaan atau kekuatan khusus, setidaknya hingga saat ini. Meski tanpa anugerah itu, dengan kecerdasan di atas rata-rata, ia berhasil menguasai sebuah keahlian. Di usia dua puluh tahun, ia sudah memiliki biro identifikasi perhiasan dan barang antik sendiri, dengan penghasilan sekitar empat keping emas setiap minggu.
Satu keping emas setara dua puluh shilling, satu shilling setara dua be