Seratus tahun yang lalu, Dinasti Tai Yu lenyap dalam sekejap, hancur bagai debu di angin, dan segenap penguasa bangkit, saling bertarung memperebutkan kekuasaan. Seratus tahun kemudian, delapan dinasti agung muncul, membagi-bagi wilayah Tai Yu yang telah terpecah belah.
Dentuman-dentuman senapan bergema hebat di sebuah gudang tua yang gelap, meletup-letup bagaikan biji kacang yang dilempar ke bara api.
Di bawah cahaya tembakan yang berkilat-kilat, samar terlihat sesosok bayangan yang melesat laksana arwah, berkelit di antara tumpukan barang rongsokan gudang, seolah mampu menandingi kecepatan peluru yang melesat dari moncong senjata.
Usai rentetan tembakan memekakkan telinga, sebuah suara terdengar dari luar gudang, “Satan, akhirnya aku berhasil menangkapmu!”
“Maria, tak kusangka kau rela bekerja sama dengan Biro Investigasi untuk memasang jebakan ini. Kali ini, aku memang harus mengakui kekalahanku.” Di dalam gudang, suara yang tenang dan ramah menjawab. Walau terdesak dalam situasi genting, tak sedikit pun ketakutan tergambar dari ucapannya. Ia tetap setenang bias, kendati dari perkataannya jelas ia telah dijebak, namun emosinya tetap terjaga, tak bergelombang.
“Satan, mengapa kau masih juga enggan sadar? Tidakkah kau tahu, andai saja kita bergandeng tangan, seluruh dunia akan tunduk di bawah kaki kita. Namun kau, mengapa begitu keras kepala? Hanya demi satu janji yang telah lama hangus, kau rela melepaskan singgasana yang sudah di depan mata! Apa kurangnya aku dibanding Mary si jalang itu? Bukankah aku selalu memperlakukanmu dengan baik? Aku telah mengangkatmu setara raja, kuinginkan sendiri mengantarmu duduk di takhta, seluruh diriku kupersembahkan untuk mendukungmu. Namun di hatimu, tetap hanya ada Mary si perempuan hina itu! Dia adalah utusan dari Huaxia yang memang dikirim untuk