Kehidupan Baru Sebagai Istri Prajurit (Bagian Satu)
Setelah kembali ke dalam ruang itu, Lily pun merasa menyesal. Begitu ia kembali, kecerdasannya pun ikut kembali. Ia teringat betapa banyak kebodohan yang ia lakukan demi mengejar kekuatan, bahkan rela mengorbankan kecerdasan. Ia sendiri heran bagaimana bisa selamat di tangan Lin Pingzhi. Saat ia cerdas saja, tak ada jaminan untuk bertahan, anehnya ketika ia bodoh, Lin Pingzhi justru begitu menurut padanya. Kadang, ketika mengingat tindakannya sendiri, ia merasa malu dan kesal hingga ingin menutupi kepala dan merintih.
"Selamat, tugasmu telah selesai." Suara pria dingin itu kembali terdengar, membuat Lily tersadar. Ia pun teringat, ketika baru memasuki dunia Siauw Ngo Tjio, pria inilah yang memberinya sesuatu untuk dimakan, sehingga tugasnya tidak gagal. Ia menata kembali pikirannya yang kacau, buru-buru berkata, "Terima kasih. Aku tahu, karena kamulah tugasku tidak gagal."
Suara itu terdiam sejenak, lalu berkata, "Karena tugasmu sudah selesai, aku bisa memberimu perlakuan istimewa sebagai hadiah." Begitu suara itu usai, mendadak di langit berbintang itu kembali muncul data diri Lily.
Jenis kelamin: perempuan (bisa berubah)
Nama: Lily
Usia: 21 tahun
Kecerdasan: 48 (skor maksimal 100)
Penampilan: 59 (skor maksimal 100)
Kebugaran: 57 (skor maksimal 100)
Kekuatan: 10 (skor maksimal 100)
Keahlian: tidak ada
Keistimewaan: tidak ada
Daya tarik: 20 (skor maksimal 100)
Kali ini, Lily memperhatikan bahwa semua nilainya naik sedikit, terutama daya tarik yang bertambah dua poin. Pria tampan berjubah sutra dan mahkota giok itu tidak muncul, tetapi seolah tahu apa yang ada di hati Lily, ia berkata:
"Perasaan Lin Pingzhi padamu telah melampaui cinta biasa, jadi aku tambahkan satu poin lagi."
Jawaban itu benar-benar di luar dugaan Lily. Ia tertegun, tak menyangka Lin Pingzhi yang dalam ingatannya tampak tidak sabar padanya, ternyata rasa sukanya melampaui sekadar cinta. Ia pun teringat ekspresi Lin Pingzhi saat ia meninggal, membuat hatinya terasa perih.
Ia samar-samar mengerti bahwa tugasnya kali ini bukanlah untuk hidup bersama Lin Pingzhi selamanya, melainkan untuk mendapatkan cintanya. Dua hal inilah yang paling disesali Yue Lingshan sebelum mati. Ia telah melakukannya, maka tugasnya pun dianggap berhasil. Namun, teringat ucapan pria itu, Lily pun terdiam cukup lama, tak mampu berkata-kata.
"Kali ini aku tetap akan memberimu satu poin. Mau kau tambahkan di mana?" Pria itu tidak banyak bicara, langsung bertanya.
Lily yang pernah merasakan pahitnya kurang cerdas, tanpa pikir panjang langsung berkata, "Kecerdasan."
Pria itu terdiam sejenak, tak lama kemudian data di layar berubah menjadi:
Jenis kelamin: perempuan (bisa berubah)
Nama: Lily
Usia: 21 tahun
Kecerdasan: 49 (skor maksimal 100)
Penampilan: 59 (skor maksimal 100)
Kebugaran: 57 (skor maksimal 100)
Kekuatan: 10 (skor maksimal 100)
Keahlian: tidak ada
Keistimewaan: tidak ada
Daya tarik: 20 (skor maksimal 100)
Nilai-nilainya memang masih rendah, tapi Lily sudah merasa cukup puas.
"Mau lanjutkan tugas berikutnya, atau beristirahat sejenak?" Saat menyebut istirahat, pria itu tampak ragu sejenak. Lily teringat Lin Pingzhi yang ditinggalkannya setelah ia mati, lalu menjawab dengan tenang, "Aku ingin beristirahat sebentar, boleh?"
"Boleh." Setelah itu, ruang itu pun menjadi sunyi. Lily menatap gugusan bintang yang terus berubah, lama ia termenung. Untuk pertama kalinya ia merasakan betapa seorang pelaksana tugas pun harus tahan menghadapi ujian. Ia juga punya perasaan. Setelah tahu perasaan Lin Pingzhi padanya, hatinya terasa berat.
"Kau sudah melakukan yang terbaik." Entah kenapa, pria tampan itu membuka suara. Sosoknya muncul di depan layar cahaya, membuat Lily sedikit lega, setidaknya saat ini ada seseorang yang berbicara padanya, hatinya jadi lebih tenang.
Namun, Lily melihat wajah pria tampan itu agak pucat tak wajar. Pakaiannya masih sama, jubah sutra dan mahkota giok, tetapi tubuhnya tampak semakin transparan, seolah bisa lenyap kapan saja.
"Keinginan Yue Lingshan, kau telah menuntaskannya lebih baik dari yang ia bayangkan." Ucapan itu terdengar seperti penghiburan. Lily mengangguk. Meski pria itu tak banyak bicara, namun setelah mendengar kata-katanya, perasaan Lily jauh lebih baik. Ia tahu, cepat atau lambat ia akan meninggalkan alur cerita Siauw Ngo Tjio. Perasaan Lin Pingzhi padanya dulu tak ia mengerti saat ia masih bodoh, dan saat ia mengerti, semuanya sudah terlambat. Lily pun tak tahu apa yang bisa ia lakukan, mungkin ia hanya ingin ada yang memberinya kepastian bahwa ia sebenarnya tak berbuat salah.
Kesedihan di hatinya segera ditekan. Ia menegakkan punggung, berusaha tegar. "Aku siap menjalani tugas berikutnya."
Melihat Lily cepat pulih, pria tampan itu hanya mengangguk diam-diam. "Baik, akan kukirim kau ke sana." Setelah berkata begitu, sosoknya berkelebat dan menghilang di antara bintang-bintang.
"Aku berangkat!" Suara dingin seorang pria terdengar, sementara Lily masih merasa sedikit linglung. Ia refleks mengangguk, dari sudut matanya ia melihat sosok berbaju hijau zaitun membuka pintu dan keluar, punggungnya tampak tegap dan kokoh. Gelombang informasi besar menyerbu ke dalam benaknya, membuat Lily sudah bersiap dari awal. Meski kepalanya seperti mau pecah, ia tetap tak mengaduh.
Kali ini, Lily tiba di dunia baru sebagai seorang wanita bernama Lily. Ia juga baru menikah, belum lama. Kini, ia menjadi istri seorang tentara.
Suami Lily kali ini bernama Wan Zhu, seorang pria desa dari selatan yang merantau ke ibu kota untuk menjadi tentara. Latar cerita kali ini berada di akhir tahun tujuh puluhan. Karena Wan Zhu sering menorehkan prestasi gemilang, ia pun telah diangkat menjadi komandan salah satu resimen. Tahun ini Wan Zhu baru berusia dua puluh sembilan tahun. Di usia semuda itu menduduki jabatan tersebut, ia benar-benar tergolong muda dan berprestasi.
Wan Zhu sendiri pernah menikah sebelumnya. Pernikahan pertamanya merupakan hasil perjodohan orang tua. Istrinya dulu bernama Zhao Qing, seorang wanita mungil, manis, dan memikat. Wan Zhu awalnya sangat menyukainya.
Namun, suatu ketika Wan Zhu harus menjalankan tugas ke luar negeri selama sekitar dua tahun, tanpa kabar sama sekali. Misi itu sangat berbahaya, banyak yang menduga ia telah meninggal. Pada awalnya, Zhao Qing masih menunggu, tetapi setelah satu setengah tahun, ia tak sanggup bertahan. Ia kemudian menjalin hubungan dengan putra seorang komandan di kota yang sama. Kecantikan Zhao Qing memang mudah menarik perhatian, apalagi ketika suaminya jauh, dan pria yang mendekatinya juga tampan dan berasal dari keluarga baik-baik. Saat menikah dengan Wan Zhu, usia Zhao Qing masih tujuh belas tahun, akhirnya ia tak mampu menahan godaan dan menjalin hubungan dengan pria yang mengejarnya itu.
Tak disangka, Wan Zhu ternyata selamat dan bahkan berhasil menyelesaikan tugasnya dengan sempurna. Sepulangnya, ia pun naik jabatan dengan pesat. Wan Zhu pada dasarnya sangat menjaga harga diri, dan baginya, yang paling tak bisa diterima adalah jika istrinya mengkhianati. Begitu tahu Zhao Qing berselingkuh dengan putra komandan itu, ia sangat marah dan langsung menceraikan Zhao Qing.