Bab 52: Pemakaman
Saat Xiao Xiao hendak membuka kunci pintu mobil, Liao Huaizuo bergerak lebih cepat dan menguncinya kembali.
Mobil melaju kencang di jalan tol perkotaan, hanya menyisakan suara deru angin di dalam kabin.
"Pikirkan baik-baik sebelum melompat, di belakangmu ada banyak mobil."
Liao Huaizuo menatap Xiao Xiao dari kaca spion.
"Aku tidak takut mati."
"Apakah orang-orang yang mengemudi di belakangmu juga tidak takut mati? Jika mereka menabrakmu pada kecepatan ini, mobil mereka akan terpelanting. Mereka mungkin sedang berlibur bersama keluarganya, atau pasangan muda yang baru pulang untuk menjenguk orang tua di desa."
Liao Huaizuo kembali melihat ke kaca spion.
Xiao Xiao juga sedang menatap kaca spion, sorot matanya memancarkan kewaspadaan yang tidak ditutup-tutupi.
Liao Huaizuo kembali memasang imej dokter yang lembut.
"Kamu tidak sekejam itu, jadi jangan melakukan hal bodoh."
Pertahanan Xiao Xiao runtuh.
Ia menarik kembali tangannya, jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Apa yang ingin kamu lakukan?"
"Ikut aku ke suatu tempat."
Gunung Shuhu.
Liao Huaizuo memarkirkan mobilnya di depan Pemakaman Pinglin. Setelah turun, ia membukakan pintu belakang untuk Xiao Xiao.
Xiao Xiao duduk di tempatnya, tampak ragu-ragu.
Kondisi fisiknya sedang buruk, datang ke tempat dengan energi negatif yang begitu pekat seperti ini membuatnya tidak yakin apakah ia akan sanggup bertahan.
"Untuk apa datang ke sini?"
Xiao Xiao bertanya dengan penuh kehati-hatian.
"Adikku dimakamkan di sini."
Liao Huaizuo memegang pintu mobil dengan satu tangan, menatap jauh ke bagian dalam pemakaman. Mungkin karena teriknya matahari, matanya dengan cepat memerah.
Xiao Xiao tertegun.
"Aku bukan kakak yang baik. Setelah ia dimakamkan, aku tidak pernah datang ke sini. Saat Hari Qingming, aku bergumul lama sekali, tetapi tetap tidak memiliki keberanian untuk datang. Aku hanya memarkir mobil di sini dan memandangnya untuk waktu yang lama."
Ketika Xiao Xiao menyadari apa yang sedang ia perbuat, ia sudah berjalan mengikuti Liao Huaizuo memasuki area pemakaman.
Anehnya, ia sama sekali tidak merasa tidak nyaman.
Sebaliknya, embusan hawa sejuk yang berlapis-lapis merambati tubuhnya, membuat sekujur tubuhnya justru merasakan aliran kehidupan.
"Kamu tidak mau masuk ke dalam karena merasa bersalah?"
Xiao Xiao bertanya.
Hari ini bukan akhir pekan, apalagi hari libur, pemakaman itu sangat sunyi.
Sesekali terdengar suara kepakan sayap burung di antara pepohonan. Xiao Xiao menatap punggung tegap Liao Huaizuo, merasa sedikit kesulitan untuk menebak isi hatinya.
"Ya."
Liao Huaizuo berjalan lurus ke depan.
"Saat ia bunuh diri, aku sedang melakukan operasi. Padahal seharusnya pada jam itu, aku menemaninya berjalan-jalan di taman."
Xiao Xiao sedang sekarat, jadi ia sedikit banyak memahami pola pikir orang yang ingin bunuh diri.
"Tidak ada gunanya. Sekalipun kamu menjaganya siang dan malam, itu tetap tidak ada gunanya."
Ucapan itu terdengar sangat kejam, tetapi itulah kenyataannya.
"Kamu juga sama?"
Liao Huaizuo balik bertanya.
Xiao Xiao tersenyum. Menyongsong sinar matahari, senyumannya jauh lebih cemerlang daripada cahaya mentari itu sendiri.
"Masih ada urusan yang belum ku selesaikan."
Mendengar jawaban itu, Liao Huaizuo tidak merasa terkejut. Xiao Xiao memiliki urusan yang sangat penting, urusan penting macam apa yang bisa membuat bahkan kematian pun untuk sementara ia kesampingkan...
Adik perempuan Liao Huaizuo bernama Liao Junyi.
Ia menyukai tempat yang tinggi, jadi saat memilih lokasi makam, Liao Huaizuo sengaja memilihkan tempat di puncak bukit untuknya.
"Lihat, di titik yang paling tinggi itu."
Mengikuti arah yang ditunjuk oleh Liao Huaizuo, Xiao Xiao melihat seseorang.
Tiba-tiba, langkah Liao Huaizuo terhenti, aura di sekitarnya berubah total. Kepalan tangannya mengerat, urat-urat di lengannya mendadak menonjol dan berdenyut.
Bahkan sebelum Xiao Xiao sempat bereaksi, Liao Huaizuo sudah berlari menerjang.
Di depan sebuah batu nisan, ia mencengkeram tengkuk seorang pria dan menariknya ke belakang dengan kuat. Sebelum pria itu sempat menghindar, ia ditarik oleh Liao Huaizuo menuruni lereng bukit hingga berguling-guling ke bawah.
"Huaizuo,"
Pria itu bangkit berdiri, raut wajahnya menyiratkan kepanikan yang dibalut rasa bersalah.
Xiao Xiao merasa sedikit linglung.
Ia tidak tahu apakah itu hanya halusinasi, tetapi pria ini tampak cukup familiar.
"Gu Jie, bagaimana kamu masih punya muka untuk datang ke sini?"
Suara Liao Huaizuo terdengar tercekat, ia berdiri melindungi batu nisan Liao Junyi. Bahkan hanya dengan melihat pria di hadapannya itu saja, ia sudah merasa telah mengabaikan tanggung jawabnya.
"Huaizuo, maafkan aku!"
Gu Jie...
Xiao Xiao seketika pahan, ia akhirnya teringat siapa pria itu!
Dia adalah tuan muda dari Grup TC, sekaligus mantan tunangan kedua Cheng Jiaro.
Heh.
Xiao Xiao menghela napas panjang. Dunia ini sangat kecil, begitu kecil hingga terasa seperti *bug* dalam sebuah permainan. Ia mengamati hubungan di antara mereka dengan teliti. Pria bernama Gu Jie ini pasti memiliki masa lalu dengan Liao Junyi.
"Bagaimana bisa kamu masih punya muka untuk datang menjenguk Junyi?"
Ujung mata Liao Huaizuo memerah.
"Kecelakaan mobil yang dialaminya itu terjadi karena kamu balapan liar! Setelah ia menjadi cacat, kamu langsung mencampakkannya begitu saja!"
Di hadapan batu nisan, Gu Jie yang sekujur tubuhnya penuh lumpur berlutut di hadapan Liao Huaizuo.
"Maafkan aku, maafkan aku... Aku tidak bermaksud begitu. Tapi ibuku menekanku, ayahku juga menekanku. Maafkan aku, aku tidak tahu kalau Junyi akan bunuh diri."
Liao Huaizuo menundukkan kepalanya.
"Pergi."
Sepatah kata maaf yang diucapkan begitu ringan tidak akan pernah bisa menghapus sebuah nyawa.
Tepat pada saat itu, terdengar suara sepatu hak tinggi menaiki anak tangga.
Xiao Xiao berbalik untuk melihat, dan lututnya mendadak lemas.
Orang yang datang ternyata adalah Cheng Jiaro...
Ia seolah tidak melihat keberadaan Xiao Xiao, Cheng Jiaro berjalan cepat melewati sisi Xiao Xiao dan langsung menerjang ke arah Gu Jie. Setelah menghujani pria itu dengan pukulan bertubi-tubi bagaikan badai, dunia pun kembali tenang.
"Gu Jie! Bagaimana bisa kamu datang untuk menjenguk mantanmu?!"
Cheng Jiaro mengibaskan rambutnya.
"Tunggu saja, aku akan pulang dan mengadu pada ibumu! Keterlaluan sekali perlakuanmu ini."
Heh!
Xiao Xiao tidak bisa menahannya lagi, ia mendengus tertawa.
Cheng Jiaro mencampakkan Chi Cheng, dan Gu Jie mencampakkan Liao Junyi. Kedua orang egois ini benar-benar pasangan yang serasi, semoga mereka saling mengunci satu sama lain selama tujuh turunan.
"Kenapa kamu ada di sini?"
Cheng Jiaro berbalik dan melihat Xiao Xiao, emosinya langsung meledak.
Xiao Xiao sudah mempersiapkan mentalnya sejak awal, ekspresinya tampak tenang.
"Kamu merasa bersalah?"
Disapu oleh tatapan meremehkan dari Xiao Xiao, Cheng Jiaro mendadak bertingkah seperti orang gila.
"Kamu itu apa? Cuma seekor anjing peliharaan keluarga Chi saja. Batang hidung tuanmu saja tidak tahu mati di mana, tapi anjingnya malah sudah belajar menggonggong."
Cheng Jiaro dengan rambut berantakan sama sekali tidak menyisakan imej seorang gadis dari keluarga terpandang.
Di belakangnya, Gu Jie menarik lengannya untuk memperingatkan.
"Jaga sikapmu, kamu bisa difoto orang."
Cheng Jiaro mengibaskan tangan Gu Jie dan berbalik memukulnya.
"Tempat apa yang kamu cari ini, penuh dengan hantu! Mana ada orang?!"
Ia menarik Xiao Xiao, emosi di dalam matanya tampak begitu rumit.
"Apa yang harus ku rasakan bersalah? Chi Cheng itu mati karena ulahnya sendiri! Apa aku harus hidup menjanda seumur hidup untuknya?" Ia memutar bola matanya malas. "Kalau kamu menyukainya, sana nikahi saja dia."
Xiao Xiao yang tadinya merasa lemas mendadak mendapatkan kembali tenaganya.
Ia mengibaskan tangannya ke belakang dan mendorong Cheng Jiaro menjauh.
"Nona Cheng, Direktur Chi sudah meninggal. Apa kamu tidak takut? Masih berani datang ke pemakaman. Apa kamu tidak takut, kalau dia juga dimakamkan di sini?"
Satu kalimat itu berhasil membuat wajah Cheng Jiaro menjadi pucat pasi.
Ia menjadi kalap dan menerjang maju untuk mencabik mulut Xiao Xiao.
Liao Huaizuo menggunakan tubuhnya untuk memisahkan mereka, dengan kokoh melindungi Xiao Xiao di belakangnya. Melihat pemandangan itu, Cheng Jiaro sengaja menunjuk ke arah Liao Huaizuo untuk menyindir Xiao Xiao.
"Sekretaris kecil, Chi Cheng kan sudah mati, bukankah perhatianmu sekarang juga sudah berpindah ke pria lain?"
Khawatir masalah ini akan menjadi semakin besar, Gu Jie menarik-narik dan menyeret Cheng Jiaro pergi dari sana.
Di atas gunung, suasana akhirnya kembali tenang.
Angin musim panas yang membawa harum aroma pohon pinus di pegunungan berhembus lembut menerpa Xiao Xiao. Liao Huaizuo berdiri di belakangnya, memandang jauh ke arah dua orang yang sedang menuruni gunung itu. Tatapannya berangsur-angsur menjadi serius.
"Chi Cheng, itu Xie Qiang, ya?"
Seketika, Xiao Xiao berbalik dan menatap tajam ke arah Liao Huaizuo. Ia tidak tahu bagaimana cara Liao Huaizuo bisa menebaknya, tetapi sampai pada situasi seperti ini, menyembunyikannya pun sudah tidak ada gunanya lagi.
Kakinya terasa lemas, ia berjalan menuju ke dekat sebatang pohon.
Xiao Xiao bersandar di batang pohon, emosinya perlahan-lahan mereda.
"Jika kamu berani melakukan sesuatu untuk menyakitinya, aku akan merenggut nyawamu."
Ia mengatakannya dengan sangat tenang, seolah-olah ia sedang menghafalkan sebuah naskah.
Liao Huaizuo tiba-tiba tersenyum dan bertanya.
"Kamu mencintainya?"
Xiao Xiao tertegun oleh pertanyaan yang datang tiba-tiba itu. Kedua matanya menatap kosong, isi kepalanya mendadak menjadi putih bersih.
Entah sudah berapa lama berlalu, ia menggelengkan kepala menyangkalnya.
"Aku dan dia tidak terlalu dekat, ibuku adalah seorang pengasuh di rumah keluarga Chi. Ibunya Chi Cheng adalah orang yang sangat baik, beliau adalah penyelamat bagi keluarga kami."
Liao Huaizuo tidak berbicara lagi, ia hanya mendengarkan suara Xiao Xiao dalam diam.
Suaranya begitu lembut, begitu halus, bagaikan kicauan seekor burung kecil yang rapuh di tengah hutan.
-
Malam harinya, Chi Cheng pulang ke rumah.
Begitu ia mendorong pintu terbuka, ia melihat meja makan di ruang makan sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan.
Lampu sorot menyinari makanan-makanan tersebut, setiap hidangan memancarkan kilau yang menggugah selera. Chi Cheng berdiri di depan meja, melirik sekilas ke arah Xiao Xiao yang sedang membereskan dapur.
"Hei, hari ini kamu sangat santai rupanya?"
Chi Cheng bertanya.
Xiao Xiao berbalik menatap Chi Cheng.
Ia ingin mengatakan sesuatu namun ragu-ragu, dan pada akhirnya ia menelan kembali niatnya untuk jujur. Jika bukan karena konspirasi itu, mungkin saat ini pria itu sudah menikah dengan Nona Cheng.
Tetapi, perangai Nona Cheng yang seperti itu...
Xiao Xiao meratapi betapa tidak pastinya dunia ini.
Musibah yang menimpa Chi Cheng, dalam arti tertentu, mungkin bukanlah hal yang sepenuhnya buruk.
"Ada apa denganmu? Bod..."
Pria itu mendadak menghentikan ucapannya, menelan bulat-bulat kata "oh" yang hampir meluncur keluar.
Xiao Xiao menyodorkan mangkuk dan sumpit untuknya, menyuruh Chi Cheng makan selagi hangat. Chi Cheng melirik sekilas ke arah makanan di atas meja. Hidangan-hidangan itu mendadak muncul dari lubuk ingatannya yang paling dalam.
Ia duduk di depan meja, lalu mencicipi sedikit.
Rasanya, ternyata sangat ia kenal.
Perasaan itu membuatnya merasa tidak nyaman. Chi Cheng menundukkan kepalanya, lalu berkata dengan suara berat, "Jangan menghabiskan waktumu untuk hal-hal tak berguna seperti ini, tidak ada artinya."
"Oh."
Jawab Xiao Xiao secara mekanis.
Lambungnya kembali terasa nyeri. Setelah pura-pura makan beberapa suap, ia beralasan masih ada urusan dan kembali ke kamarnya. Berbaring di atas tempat tidur, keringat dingin Xiao Xiao membasahi rambutnya.
Xiao Xiao menarik laci, mengeluarkan sebutir pil kecil, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Itu adalah obat pereda nyeri.
Saat ia melangkah keluar dari kamarnya, keempat porsi hidangan dan satu mangkuk sup di meja sudah tandas. Xiao Xiao menatap Chi Cheng yang duduk di sofa.
"Kamu, menghabiskan makanan itu?"
Wajah Chi Cheng memerah.
"Aku lapar. Meskipun rasanya tidak terlalu enak, tapi aku benar-benar lapar."
Xiao Xiao mengucapkan "oh", lalu mulai membereskan mangkuk dan sumpit.
Baru saja ia melangkah masuk ke dapur, ia kembali mendengar suara Chi Cheng.
"Hei, kalau lain kali kamu mau memasak, masak saja sesukamu, aku tidak akan melarangmu. Kamu adalah karyawanku, aku tidak boleh merampas hak asasi manusia yang seharusnya kamu miliki."
Ia mengucapkan kalimat yang cukup panjang, membuat Xiao Xiao merasa sedikit bingung, ia pun menatap pria itu dengan tatapan kosong.
Ia merasa dilema...
Chi Cheng memakannya karena ia sedang lapar. Jika ia tidak lapar, makanan sebanyak ini pun tidak akan habis ia makan sendiri... Jadi, apakah lain kali ia harus memasak atau tidak ya?
Bzzst, bzzst...
Tepat saat Xiao Xiao sedang kebingungan, ponselnya berdering.
Ia buru-buru menyeka air di tangannya, lalu mengangkat ponselnya.
"Wei Liang..."
Melihat nama yang tertera di layar penelepon, ia merasa sangat heran, tanpa sadar ia melirik ke arah Chi Cheng.
Wei Liang sudah bekerja di Tiancan selama tiga bulan, dan ini adalah pertama kalinya ia menelepon Xiao Xiao di luar jam kerja.
Mungkinkah kantor kembali mengalami masalah?
Memikirkan kemungkinan buruk itu, helaian rambut di kepala Xiao Xiao meremang.
"Halo..."
Suara Xiao Xiao terdengar sedikit bergetar.