Bab 17 Tamu Misterius
Halaman (1/3)
Siaosiao duduk di kantor direktur utama, kepalanya sedikit dimiringkan.
Dengan pura-pura menopang dagu, ia menyentuh earphone Bluetooth-nya pelan-pelan untuk menguji suara bersama Ceng Cih yang berada di dalam ruangan.
“Sudah siap. Orangnya sebentar lagi datang. Yang pertama bernama Cang Si. Dia lulusan universitas Ivy League, dan riwayat hidupnya tampak sangat cemerlang. Akan kuambilkan fotonya untukmu.”
Suara Ceng Cih dari earphone terdengar dingin dan jernih.
“Suruh dia pulang. Langsung ganti dengan kandidat kedua.”
Siaosiao tertegun sesaat, lalu mengangkat ponselnya. Masih ada dua menit.
“Direktur Ceng, dia sebentar lagi sampai di atas. Apa terjadi sesuatu?”
Ceng Cih mengirimkan tangkapan layar kamera pengawas di lantai bawah kepada Siaosiao. Tepat di tengah gambar, orang yang dilingkari merah itu memang Cang Si.
“Dia orangnya, kan?”
Suara Ceng Cih terdengar dari earphone Siaosiao.
“Ya.”
Siaosiao langsung waspada dan melirik ke arah pintu.
Di balik pintu kaca buram itu tidak tampak bayangan siapa pun. Barulah Siaosiao bertanya, “Kau pernah bertemu dengannya?”
Ceng Cih bukan hanya pernah bertemu, ia bahkan pernah mewawancarai Cang Si secara langsung.
Pria itu bernama Cang Si, seorang jenius serba bisa lulusan universitas Ivy League. Kemampuannya dalam algoritma dan pemrograman berada di tingkat teratas dunia.
Identitasnya cukup rumit.
Pekerjaan terakhirnya adalah direktur pengembangan gim di perusahaan gim Hiburan Angin Awan, yang berbasis di Kota Jing.
Ketika Ceng Cih hendak mengembangkan gim kelas tiga A, ia diam-diam merekrut orang-orang berbakat di Kota Jiang. Entah melalui jalur apa, Cang Si mengetahui rencana itu dan langsung menghubungi Ceng Cih dengan harapan bisa bergabung.
Saat Ceng Cih hendak memberinya tanggung jawab besar, Cang Si menghilang.
Belakangan, Ceng Cih baru mengetahui bahwa Cang Si sebenarnya tidak sungguh-sungguh ingin bekerja di sana. Ia hanya sedang menyelidiki keadaan. Hobinya adalah berburu—setiap kali muncul perusahaan gim baru, ia pasti akan datang untuk memeriksanya dan mencari tahu apakah ada perkembangan baru.
“Katanya, kalau mengenal diri sendiri dan mengenal lawan, kita akan menang dalam setiap pertempuran.”
Ceng Cih mencibir.
“Yang membuatku heran, wajar kalau dia tertarik pada perusahaan besar. Tapi Cacat Langit…” Suara Ceng Cih di earphone mendadak tenggelam dalam lamunan.
Tok, tok, tok…
Pintu kaca diketuk. Siaosiao segera duduk tegak.
“Baiklah. Akan kusuruh dia pergi.”
Cang Si masuk sambil memeluk berkas lamaran.
Tubuhnya membungkuk, benar-benar menyerupai seorang lulusan baru yang rendah hati. Siaosiao sedikit mengangkat sudut bibirnya, lalu memberi isyarat agar ia duduk di hadapannya.
Siaosiao mengamati pemuda di depannya. Usianya tampak baru sekitar dua puluh satu atau dua puluh dua tahun. Kacamata berbingkai hitam yang bertengger di wajahnya membuatnya terlihat semakin muda. Sulit dipercaya bahwa ia pernah menjadi direktur di Hiburan Angin Awan.
“Aku sudah membaca riwayat hidupmu,” kata Siaosiao setelah berhenti sejenak. “Sangat mengesankan. Aku ingin tahu, berapa gaji yang kau harapkan?”
Di seberang meja, Cang Si menatapnya dari balik lensa kacamata dengan ekspresi malu-malu.
“Nona Siao, bagaimana kalau Anda lebih dulu menjelaskan bidang usaha perusahaan ini? Setelah saya tahu apakah saya mampu mengemban pekerjaannya, barulah kita membicarakan soal gaji?”
Siaosiao mengatupkan bibir.
“Kenalilah diri sendiri dan kenalilah lawan.” Rupanya ia benar-benar mahir memainkan trik itu.
Namun, Cacat Langit baru saja didaftarkan, dengan modal terdaftar hanya satu juta. Bagaimana perusahaan sekecil ini bisa menarik minat seorang direktur seperti Cang Si?
Siaosiao tersenyum dari balik berkas lamaran itu.
“Kami membuat gim sederhana. Fokus utamanya adalah menarik pengguna melalui laman web, lalu mendorong mereka mendaftar di situs belanja.” Siaosiao mulai mengarang seenaknya. “Belakangan ini, gim berjudul Babi Kecil Berlari Cepat sangat populer dan berhasil menciptakan keajaiban bernilai belasan miliar. Kami ingin membuat gim semacam itu.”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Senyum di wajah Cang Si semakin lebar.
“Oh, begitu.”
Siaosiao terus mengamati ekspresinya. Meskipun masih tersenyum, sorot matanya mulai menunjukkan ketidaksabaran.
“Asalkan kau mampu memikat hati para pelanggan, kau boleh menentukan sendiri gajimu. Sistem kerja kami sangat fleksibel…”
“Kau bisa memilih gaji pokok, atau memilih sistem bagi hasil.” Semakin lama Siaosiao semakin bersemangat.
Di seberangnya, Cang Si justru melirik jam dengan tidak sabar.
“Direktur Siao, maaf, sepertinya saya kurang cocok dengan perusahaan Anda.”
Di ruang rahasia, sudut bibir Ceng Cih miring ke atas.
“Kerja bagus.”
Di lantai bawah, begitu keluar dari pintu perusahaan, Cang Si berbalik. Tatapannya jatuh pada dua kata “Cacat Langit”.
Sorot matanya perlahan menjadi semakin dalam.
—
Setelah “mengantar” Cang Si pergi, Siaosiao mewawancarai empat pelamar.
Salah satunya bernama Wei Liang dan meninggalkan kesan yang sangat mendalam baginya.
Pendidikan pemuda itu tidak tinggi. Ia hanya lulusan biasa dari jurusan komputer di sebuah universitas, tetapi selama kuliah ia belajar sendiri tentang animasi dan pembuatan gim.
Namun, hasratnya terhadap gim begitu besar hingga Siaosiao ikut tergerak.
“Direktur Siao, ini gim yang saya buat. Silakan Anda lihat.”
Wei Liang membuka laptop yang selalu dibawanya dan memutar gim buatannya untuk Siaosiao.
Selama empat tahun kuliah, ia bekerja sambil belajar secara mandiri. Hampir seluruh waktu dan uangnya ia curahkan untuk mempelajari pembuatan gim.
“Mengapa negara kita tidak boleh memiliki gim kelas tiga A? Saya bersedia berusaha demi mewujudkan hal itu. Sekalipun untuk saat ini saya hanya mampu membuat gim sederhana, saya akan tetap bertahan.”
Otot-otot wajahnya bergetar.
Tatapan Siaosiao tak pernah beranjak dari layar komputer. Ia mengamati dengan saksama cara Wei Liang memainkan gim tersebut. Gim yang dibuat Wei Liang sangat rapi dan berkualitas, bahkan sulit dipercaya bahwa semuanya diselesaikan seorang diri.
Dari segi kemampuan teknis, ia tidak bermasalah.
Hanya ada satu hal yang membuat Siaosiao agak ragu.
“Pekerjaan terakhirmu adalah di perusahaan Media Agregasi Kota Shen, tetapi kau pergi sebelum masa percobaan berakhir. Boleh aku tahu alasannya?”
Di ruang gelap, Ceng Cih tersenyum penuh pengertian.
Ia memperbesar volume earphone dan mendengarkan suara dari dalam ruangan dengan serius.
Setelah cukup lama, suara dari earphone akhirnya terdengar.
“Atasan kecil di tim proyek kami mengirim pesan-pesan cabul kepada junior saya. Saya menghajarnya, lalu saya juga dipecat oleh perusahaan…”
Siaosiao sama sekali tidak terkejut.
“Baik, aku mengerti.”
Ada seorang pelamar perempuan lain yang baru lulus.
Namanya Qu Siaosing. Ia lulus dari jurusan matematika. Karena bercita-cita menjadi seorang programmer, sejak tahun kedua kuliah ia mengambil jurusan komputer sebagai mata kuliah tambahan.
Dua bidang studi yang sama-sama berat itu membuat penglihatannya merosot hingga minus seribu setelah masuk universitas.
Kini, di wajahnya bertengger dua lensa tebal seperti dasar botol arak.
Setelah itu, Siaosiao mengajukan beberapa pertanyaan yang sangat teknis kepadanya. Ceng Cih dapat mendengarnya dengan jelas melalui earphone.
“Suruh mereka semua pulang dan menunggu kabar.”
Suara Ceng Cih mengalun dari earphone. Siaosiao mengantar pelamar terakhir pergi, mengunci pintu perusahaan, lalu kembali ke ruang rahasia.
Ceng Cih sedang berbaring di ranjang, seolah tengah memikirkan sesuatu.
“Direktur Ceng, siapa yang ingin kau pertahankan?”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Siaosiao bertanya.
Tak disangka, Ceng Cih justru balik bertanya, “Kau yang mewawancarai mereka. Menurutmu, siapa yang harus dipertahankan?”
Siaosiao mengeluarkan riwayat hidup Qu Siaosing dan Wei Liang, lalu meletakkannya di sisi tangan Ceng Cih.
“Kedua orang ini cukup menonjol.”
“Baiklah. Kita ikuti saja pendapatmu.”
Keputusan Ceng Cih terdengar begitu sembarangan hingga Siaosiao tertegun.
“Direktur Ceng, aku hanya sekretaris. Hal seperti ini harus kau putuskan sendiri!”
Ceng Cih bangkit dan menatap Siaosiao lurus-lurus.
“Kau cukup ahli.”
Siaosiao tertawa tanpa daya.
“Sudah tiga tahun. Wajar kalau lama-lama aku bisa belajar.”
Ceng Cih menggeleng pelan.
“Bukan itu maksudku. Wawancaramu tadi sangat profesional. Apa sebelumnya kau pernah mempelajari perusahaan gim?”
Untuk pertama kalinya dipuji oleh Ceng Cih, wajah Siaosiao memerah.
Ternyata, selama sebulan terakhir, di sela-sela mengurus berbagai prosedur, Siaosiao selalu meluangkan waktu untuk mempelajari segala hal tentang gim.
Mulai dari persiapan awal hingga pembagian tugas dalam proses pembuatan gim, ia sudah memahami sebagian besarnya.
“Terima kasih atas pujianmu, Direktur Ceng.”
Wajah Ceng Cih mendadak menjadi dingin.
“Siapa yang memujimu? Dua orang yang kau pilih hari ini sama-sama tidak memiliki pengalaman mengembangkan gim yang berhasil. Mereka hanya bisa mengerjakan pekerjaan kasar. Pertanyaanmu yang dangkal tadi paling-paling hanya cukup untuk menilai apakah mereka cocok atau tidak.”
Wajah Siaosiao memucat.
Dana perusahaan terbatas. Setiap sen harus digunakan pada tempat yang paling penting.
“Aku akan terus mencari orang lain.”
Ceng Cih mengibaskan tangannya.
“Jangan boros. Untuk sementara, kedua orang ini bisa kita pakai.”
Tatapan Siaosiao dipenuhi kecurigaan saat memandang wajah Ceng Cih. Meskipun Ceng Cih pernah diam-diam mendirikan perusahaan gim, rencana itu pada akhirnya gagal sebelum sempat terwujud. Benarkah ia mampu?
“Kenapa melihatku seperti itu?”
Ceng Cih kembali ke meja kerja dan menyalakan komputer.
“Kau meragukan kemampuanku.”
Siaosiao menggeleng cepat seperti mainan pegas.
“Bukan.”
Kilatan tajam melintas di mata Ceng Cih. Sorotnya mendadak mendingin dan menusuk Siaosiao.
“Kau hendak mengatakan bahwa aku sama seperti mereka, sama-sama tidak memiliki pengalaman mengembangkan gim. Namun, ucapanmu tadi justru mengingatkanku pada sesuatu.”
Siaosiao memasang wajah bingung. Ia bahkan sudah lupa apa yang baru saja dikatakannya.
“Kalau begitu, kita berlatih dulu dengan gim semacam itu.”
“Gim apa?”
“Babi Kecil Berlari Cepat.”
Siaosiao hampir tersedak sampai mati. Gim Babi Kecil Berlari Cepat yang ia karang sembarangan itu ternyata benar-benar didengarkan oleh Ceng Cih…
Halaman (3/3)