Bab 32 Keberanian
Halaman (1/3)
“Direktur Li, maaf sekali. Ini bukan salah Manajer Liu, perusahaan kami memang benar-benar belum siap. Begini saja, setelah permainan ini selesai, saya akan segera mengirimkannya kepada Manajer Liu. Bagaimana menurut Anda?”
Selama tiga tahun menjadi sekretaris, Xiao Xiao selalu berbicara dengan sangat sopan dan tepat.
Mendengar alasan itu, lawan bicaranya segera menghela napas lega.
Setelah berbincang akrab dan bersahabat mengenai langkah selanjutnya, orang itu pun buru-buru mengakhiri panggilan.
Xiao Xiao menutup telepon. Layar komputer Chi Cheng telah menghitam.
Setelah suasana hening menyelimuti ruangan, Xiao Xiao memutuskan untuk mengingatkan Chi Cheng.
“Direktur Chi, apakah Anda membuat Meijia takut dengan masalah saham itu?”
Chi Cheng tidak menjawab. Ia hanya mengetukkan ujung jarinya ke permukaan meja dengan acuh tak acuh.
“Sebenarnya, selama kita menahan Hiburan Fengyun, urusan Meijia akan datang dengan sendirinya. Tidak perlu terburu-buru seperti ini.” Xiao Xiao berbicara dengan hati-hati, mengeja setiap kata dengan cemas, “Mengutak-atik saham akan menimbulkan kegaduhan besar.”
Xiao Xiao menelan ludah, lalu memejamkan mata rapat-rapat, menunggu dimarahi.
Namun, jarum jam terus berdetak, sementara Chi Cheng tidak mengatakan apa pun. Xiao Xiao berdeham. Baru saja ia hendak pergi, Chi Cheng akhirnya membuka suara.
“Dengar! Sejak awal Zhang Xi sudah mengenali bahwa kau adalah sekretarisku, tetapi Gu Zilin tetap tidak menemukan kita. Itu berarti Zhang Xi dan Gu Zilin bukan berada di pihak yang sama.”
Tangan kirinya bertumpu pada dagu, mengusap lembut bulu-bulu kasar yang mulai tumbuh di sana.
“Kalau begitu, mari kita buat ini sedikit lebih menarik.”
Kilatan cahaya berpendar di mata Chi Cheng.
Jantung Xiao Xiao serasa terantuk. Firasat buruk segera menyergapnya.
“Hubungi Zhang Xi dan katakan bahwa aku ingin bertemu dengannya. Waktu dan tempat akan kutentukan. Setelah semuanya siap, beri tahu dia.”
Saat mengucapkan kata-kata itu, sudut mata dan alis Chi Cheng dipenuhi senyum.
Xiao Xiao sama sekali tidak setuju. Ini jelas-jelas seperti masuk ke sarang harimau demi menangkap anaknya!
Chi Cheng hendak menjadikan dirinya umpan bagi harimau.
Bagaimana jika Zhang Xi dan Gu Zilin bekerja sama memasang jebakan?
Bagaimana jika Zhang Xi memang dikirim oleh Gu Zilin?
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Xiao Xiao tidak berani mengambil risiko!
Pesan terakhir ibu Chi Cheng masih menggema di telinganya. Ia sama sekali tidak boleh mempertaruhkan nyawa Chi Cheng.
“Direktur Chi! Zhang Xi itu aneh. Sebaiknya Anda tidak menemuinya.” Xiao Xiao cemas, wajahnya memerah menahan gelisah. “Kalau Anda benar-benar ingin membuat semuanya lebih menarik—”
Xiao Xiao mengertakkan gigi.
“Biar saya yang berterus terang kepada Zhang Xi. Dengan begitu, Anda masih punya jalan keluar.”
Hahaha...
Chi Cheng tertawa dua kali.
“Jalan keluar?”
Sambil tertawa, sudut mata Chi Cheng mulai berkilau oleh air mata. Ia mengangkat tangan dan menyekanya. Ekspresinya lalu berubah menjadi sangat tegang.
“Kau menganggapku orang seperti apa? Pengecut yang bersembunyi di balik seorang perempuan?”
Tawa lepas Chi Cheng berubah menjadi tawa dingin.
“Kau punya nomor telepon Zhang Xi?” tanya Chi Cheng.
Dengan enggan, Xiao Xiao membuka nomor itu di ponselnya lalu menyerahkannya kepada Chi Cheng. Sesuatu yang membuat Xiao Xiao tercengang pun terjadi. Begitu menerima ponsel itu, Chi Cheng langsung menekan tombol panggil.
Tut...
Tut...
Setiap bunyi dering terasa seperti genderang besar yang menghantam dan menghancurkan hati Xiao Xiao.
“Kau mencariku?”
Chi Cheng menyipitkan mata, seolah sedang tersenyum. Namun, tak ada sedikit pun kehangatan di dasar matanya.
-
Agar Chi Cheng dapat keluar dengan aman tanpa diketahui siapa pun, Xiao Xiao menyewa sebuah mobil yang seluruh kacanya dilapisi film hitam. Setelah membawa mobil itu ke pintu belakang gedung perusahaan, ia menunggu di sana.
Chi Cheng membungkuk dan masuk ke dalam mobil.
Ia duduk di kursi belakang, lalu menoleh memandang ke luar jendela. Untuk sesaat, berbagai emosi bergolak di dalam hatinya. Ia pun memejamkan mata.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Xiao Xiao mengemudikan mobil, membawa Chi Cheng langsung menuju Gunung Qingyang.
Gunung itu merupakan yang tertinggi di Kota Jiangcheng. Tempatnya sunyi, terpencil, dan jarang didatangi orang. Kawasan itu baru saja dikembangkan menjadi objek wisata. Di atas Gunung Qingyang terdapat sebuah pelataran pandang sekaligus tempat parkir, tetapi hanya sedikit orang yang mengetahuinya.
Di kaki gunung, Xiao Xiao menghentikan mobil tepat di hadapan Zhang Xi.
Ia menurunkan kaca jendela.
“Direktur Zhang, Anda duduk di belakang.”
Zhang Xi semula mengira tidak ada siapa pun di dalam mobil. Ia mengangguk, lalu membuka pintu belakang. Tak disangka, Chi Cheng ternyata duduk di dalam. Zhang Xi terkejut hingga terpaku sesaat.
Zhang Xi membungkuk dan bertatapan dengan Chi Cheng dalam keheningan yang menegang.
“Kenapa? Sudah tidak mengenaliku?”
Chi Cheng tersenyum dengan maksud yang sulit ditebak.
Tatapan Zhang Xi jatuh tanpa perlindungan pada lengan kaus pendek Chi Cheng yang menggantung kosong. Wajahnya seketika berubah, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa. Dengan menahan keberanian, ia masuk ke dalam mobil.
Begitu mendengar pintu tertutup, Xiao Xiao menyalakan mesin dan mulai melaju.
Untuk sesaat, suasana di dalam mobil begitu sunyi.
Zhang Xi memalingkan wajah. Tatapannya terpaku pada pemandangan di luar jendela. Cahaya lampu kota tampak timbul tenggelam di antara pepohonan. Matanya terasa panas diterpa cahaya itu.
Perlahan, rasa panas tersebut turun dan menjalar hingga ke ujung hidungnya.
Ia mengendus pelan.
“Sudah lama tidak bertemu. Kau tidak berniat mengatakan sesuatu?”
Chi Cheng menyilangkan kaki panjangnya, seolah tak terjadi apa-apa, menunggu jawaban Zhang Xi.
“Mengatakan... mengatakan apa?”
Suara Zhang Xi terdengar serak.
Chi Cheng tertawa dua kali, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
“Ceritakan tentang kejadian tahun lalu. Kau datang menemuiku untuk wawancara, lalu mengapa tiba-tiba menghilang?”