Bab Seratus Dua Belas: Memberi Makan Ikan Saja Sudah Cukup
Li Qingyu menginjak ponsel milik pria itu hingga hancur berkeping-keping. Barulah amarahnya sedikit mereda.
Kemudian ia berkata, “Chen Youguang, sekarang katakan kepadaku, mengapa perusahaan ini tidak boleh didaftarkan? Kalau kau tidak bisa memberikan alasan yang masuk akal, akan kubongkar kantormu!”
Wu Yan yang berdiri di sampingnya sampai melongo. Ia tidak menyangka Li Qingyu bisa begitu brutal saat marah.
Itulah pertama kalinya Wu Yan melihat Li Qingyu begitu garang.
Chen Youguang bangkit dari sofa. Ketika melihat ponselnya telah diinjak hingga hancur, ia langsung murka dan berkata, “Kau tahu siapa aku? Kau benar-benar sedang mencari mati! Berani-beraninya kau menghancurkan ponselku, lalu berteriak-teriak dan mengancamku di sini?!”
Li Qingyu berkata dengan sengit, “Memangnya kenapa kalau aku mengancammu? Apa begini sikap seorang pemimpin? Kau memegang ponsel dan bermain gim di sini. Kami datang untuk mengurus sesuatu, tetapi kau malah terus bermain gim. Kalau kau suka bermain gim, pulang saja dan bermain di rumah! Kau benar-benar bajingan, bajingan kelas kakap!”
Li Qingyu terus memaki tanpa ampun. Chen Youguang tentu saja tidak tahan diperlakukan seperti itu.
Selama ini ia selalu dihormati di tempat tersebut. Belum pernah ada orang yang berani berbicara seperti itu kepadanya.
Kini, seorang wanita bukan hanya memakinya habis-habisan, tetapi juga menghancurkan ponselnya. Ia benar-benar tidak sanggup menahannya.
“Dasar perempuan hina! Kau sedang mencari mati!”
Sambil memaki, Chen Youguang melayangkan tamparan ke arah Li Qingyu.
Pada saat itu, Wu Yan melangkah ke depan Li Qingyu, meraih lengan Chen Youguang, lalu membantingnya dengan keras hingga tersungkur ke lantai.
Wu Yan sudah menahan diri cukup lama. Bajingan itu terus mengabaikan mereka dan bermain gim. Sekarang ia bahkan memaki istrinya dan hendak memukulnya. Wu Yan tentu saja tidak akan tinggal diam.
Chen Youguang jatuh terguling. Ia bangkit dari lantai seperti singa yang sedang mengamuk, lalu menerjang Wu Yan.
“Berani memukulku? Akan kubunuh kau!”
Chen Youguang mengayunkan tinjunya ke arah Wu Yan.
Wu Yan tertawa dingin. Melihat Chen Youguang yang sudah kehabisan tenaga, pria itu masih ingin memukul orang?
Wu Yan menendang ke depan tepat mengenai perutnya.
Chen Youguang langsung terjatuh ke lantai. Kedua tangannya memegangi perut, sementara napasnya tercekat dan rasa sakit yang luar biasa menyiksa tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, barulah ia bisa bernapas lagi dengan susah payah. Keringat dingin membasahi seluruh dahinya.
“Kalian sedang mencari mati? Berani memakiku dan bahkan memukulku? Satpam! Satpam, di mana kalian? Apa kalian semua sudah mati?!”
Saat itu, dua satpam bertubuh kekar bergegas masuk dari luar. Mereka membawa tongkat listrik di tangan.
Chen Youguang berkata, “Cepat tangkap kedua orang ini! Cepat!”
Kedua satpam itu melihat pecahan ponsel di lantai dan manajer mereka meringkuk di atas kursi sambil memegangi perut. Mereka tahu telah terjadi masalah, lalu segera menerjang Wu Yan.
“Enyah!”
Gerakan Wu Yan sangat cepat. Ia melayangkan dua pukulan.
Kedua satpam itu bahkan tidak mampu menahan satu serangan pun. Mereka langsung terkapar di lantai dan tidak sanggup bangkit lagi.
Kali ini, Chen Youguang menyadari bahwa Wu Yan sangat kuat. Ia telah berhadapan dengan lawan yang tangguh.
Dengan gigi terkatup dan mata dipenuhi urat merah, Chen Youguang berkata, “Seumur hidupku, hanya aku yang memukul orang. Tidak pernah ada yang memukulku! Belum pernah ada seorang pun yang berani menyentuh seujung jariku, tetapi kalian bajingan malah berani memukulku!
“Dengarkan baik-baik, sekali aku menelepon, aku akan membuat kalian menyesal seumur hidup!”
Wu Yan berkata, “Bagus. Telepon saja. Aku ingin melihat bagaimana kau akan membuat kami menyesal.”
Hari itu Wu Yan sudah bertekad untuk melawan pria tersebut. Ia harus memberi pelajaran yang benar-benar keras kepada bajingan itu.
Chen Youguang memegangi perutnya dengan kesakitan. Kemudian, dengan tubuh yang lemas, ia menyeret diri dan duduk di kursi.
Melihat ponselnya telah hancur, ia mengambil ponsel salah satu satpam, lalu segera melakukan panggilan.
Tak lama kemudian, wajah Chen Youguang kembali dipenuhi kesombongan. Ia berkata, “Kalau kalian memang berani, jangan pergi! Sebentar lagi kalian akan ditangkap!”
Wu Yan dan Li Qingyu duduk di sofa di samping mereka. Mereka sama sekali tidak berniat pergi.
Mereka ingin melihat orang seperti apa yang akan dipanggil bajingan itu.
Wu Yan tidak suka mencari masalah, tetapi ia juga tidak pernah takut menghadapi masalah.
Sekitar dua puluh menit kemudian, dua mobil Audi hitam berhenti di luar gedung perkantoran.
Dari dalam mobil Audi turun delapan pria berkacamata hitam dengan wajah garang. Kedelapan pria itu langsung masuk ke lift. Aura mereka begitu kuat hingga orang-orang lain tidak berani mendekat ketika mereka naik.
Kedelapan orang itu tiba di kantor Manajer Chen.
Pemimpin mereka adalah seorang pemuda berusia sekitar dua puluhan. Ia mengenakan pakaian bermerek dari ujung kepala sampai ujung kaki dan memiliki kemiripan sekitar empat puluh hingga lima puluh persen dengan Manajer Chen.
“Kak, sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang memukulmu?”
Pria itu adalah adik Manajer Chen, Chen Xiaobao.
Manajer Chen menunjuk Wu Yan dan berkata, “Bocah inilah yang memukulku. Xiaobao, seret dia keluar, patahkan kedua kakinya, lalu lemparkan ke laut untuk memberi makan ikan!”
Chen Xiaobao berkata, “Kak, mematahkan kedua kakinya tidak masalah. Tapi soal memberi makan ikan, lupakan saja! Kalian, patahkan kedua kaki bocah ini! Gadis ini lumayan cantik. Bawa dia pergi dan suruh menemani aku malam ini!”
Wu Yan sangat terkejut. Orang-orang ini sebenarnya siapa? Mengapa mereka begitu berkuasa?
Li Qingyu langsung memaki, “Dasar bajingan! Berani-beraninya kalian! Dengarkan, kalau kalian berani menyentuh kami, aku akan menelepon polisi dan membuat kalian semua ditangkap!”
Chen Xiaobao mencibir. “Mau menelepon polisi? Silakan saja. Coba lihat apakah ada gunanya.”
Tujuh pria berpakaian hitam di belakangnya mengepung Wu Yan. Wu Yan hanya tersenyum tak berdaya.
Ia menerjang pria yang berada paling depan, lalu dengan satu tangan mencengkeram lehernya dan mengangkat tubuh pria itu.
Kemudian ia melemparkannya ke belakang. Empat pria yang berada di belakang langsung tertimpa dan jatuh tersungkur ke lantai.
Dua pria yang tersisa bahkan belum sempat bereaksi ketika Wu Yan melayangkan dua pukulan tepat ke dada mereka. Keduanya terpental dan menghantam dinding yang berjarak empat hingga lima meter.