Bab 90 Mendapat Keuntungan Besar
Dari keempat anggota keluarga, hanya Tang Haor yang tidak mengenal pria yang berdiri di depan pintu itu—pria yang meski belum terlalu tua, juga tak bisa dibilang muda. Orang-orang yang mengenalnya pun tidak menyangka bahwa ia masih punya keberanian untuk melangkah masuk ke rumah ini.
Qin Long menatap pria di pintu itu selama tiga detik, lalu wajahnya menampilkan senyum saat ia berdiri dan berjalan mendekat. "Paman Liu, sudah makan? Kalau belum, ayo makan bersama kami."
Jadi, orang ini ternyata adalah Paman Liu yang terkenal itu?
Tang Haor memandang Paman Liu yang masuk ke halaman dengan bertopang tongkat itu dengan rasa ingin tahu, dalam hati bertanya-tanya, bagaimana mungkin kau masih punya muka untuk masuk ke rumah ini?
"Aku sudah makan, Nak. Jangan repot-repot, kalian lanjutkan saja makan. Aku hanya ingin bicara sebentar, lalu pergi," kata Paman Liu.
"Jangan begitu, Paman. Pepatah bilang, saudara jauh tak sebaik tetangga dekat. Dafeng, kenapa bengong? Ambilkan kursi untuk Paman, seduh teh, pakai Tieguanyin yang dibawa kakak iparmu itu," ujar Qin Long.
Qin Feng mengambil sebuah kursi dengan muka masam dan meletakkannya di depan Paman Liu dengan kasar, lalu berkata datar, "Duduk," dan berbalik masuk ke dalam untuk menyeduh teh.
Untung saja, gadis itu masih mau meladeni Paman Liu; itu sudah cukup memberi muka bagi Qin Long sebagai kepala keluarga.
Paman Liu berbicara sambil tersenyum canggung, menyeret kursi dan duduk dengan kaki pincang, "Aku cuma ingin bicara sebentar, kalian lanjutkan makan saja."
Qin Long tersenyum, menarik kursi dan duduk di hadapan Paman Liu. "Kami sudah hampir selesai makan, Paman. Silakan bicara, saya mendengarkan."
Tang Haor menahan tawa melihat Qin Long. Ia benar-benar tak menyangka, dengan temperamen Qin Long yang selama ini ia kenal, ternyata masih bisa duduk berhadapan dan bicara baik-baik dengan Paman Liu.
Mungkin, bukan karena aku, tapi memang sifat aslinya tak seburuk itu.
Paman Liu melirik Tang Haor dan berkata sambil tersenyum kaku, "Ini pasti istrimu, cantik sekali."
Seluruh desa sudah tahu, Qin Long punya istri yang mengendarai BMW, dulunya teman sekolah, kini membuka perusahaan di kota. Orang yang punya perusahaan pasti kaya.
Qin Long tersenyum pada Tang Haor. "Haor, sapa Paman."
Tang Haor berdiri, namun tidak mendekat. Ia tersenyum sopan dan hanya berkata halo pada Paman Liu. Meminta Tang Haor memanggilnya Paman jelas tak mungkin.
Berani-beraninya mencelakai suamiku, bisa mendapat sapaan saja itu sudah sangat memuliakanmu, itu pun karena menghormati suamiku.
Saat itu, Qin Feng selesai menyeduh teh dan membawanya keluar. Tanpa menatap Paman Liu, ia menyodorkan cangkir teh. "Minum teh, Tieguanyin, harganya ratusan ribu per kilo," katanya.
Qin Long memang menyeduh teh di cangkir besar. Sebenarnya, menurut kebiasaan orang Nanao, harusnya menggunakan peralatan teh kungfu, yang berarti menghabiskan satu seduhan teh sambil menikmati perlahan-lahan, bisa duduk berjam-jam. Tapi menyeduh di cangkir besar, artinya tak ada yang mau menemani minum teh.
Paman Liu, yang sudah kenyang makan asam garam, paham betul dirinya memang tak disukai di rumah ini. Ia menerima cangkir teh dengan kedua tangan, mengucapkan terima kasih, lalu berbalik pada Qin Long dan ibunya, berkata dengan canggung, "Kakak, Long, hari ini aku datang khusus untuk meminta maaf pada Long. Hari itu aku memang khilaf, perbuatanku tak patut. Kakak, Nak, kalau masih kesal, maki saja aku dua kata."
Ibunya Qin Long yang sedari tadi diam, tak tahan mendengar permintaan maaf itu. "Paman, jangan bicara begitu. Kita sudah bertetangga puluhan tahun, tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan. Soal itu pun Long juga kurang bijak, di depan banyak orang tak memberi muka padamu. Anak ini memang kadang tak paham, jangan salahkan dia."
Paman Liu tertawa kaku. "Itu bukan salah Long. Lagipula, aku juga tak berniat tinggal di pulau ini lagi. Soal itu, lupakan saja. Kakak, aku dengar dari istriku kalian mau beli rumah kami, apa benar?"
Ibunya Qin Long menoleh ke arah Qin Long. Qin Long tersenyum pada Paman Liu. "Memang benar, aku dengar dari Bibi kalian mau pindah ke kota. Kebetulan aku juga rencana menikah tahun depan, rumah sudah agak sempit. Rumah kita cuma dipisahkan tembok, kalau Paman mau jual, aku ingin beli, nanti tembok kita buka, dua rumah jadi satu, lebih luas."
Paman Liu pun menyadari kini Qin Long lah yang mengambil keputusan di keluarga itu. Ia menoleh, mengangguk pada Qin Long, "Kau benar, Nak. Tapi istriku ngotot tak mau jual kalau tak tiga puluh juta. Hari ini aku putuskan, kalau kau yang beli, aku kasih potongan dua juta, jadi dua puluh delapan juta."
Qin Long mengangkat alis, mengulurkan tangan pada Paman Liu, "Paman, kau sungguh baik. Tapi jangan sampai gara-gara dua juta ini kau bertengkar dengan Bibi. Bagaimana kalau jadi dua puluh sembilan juta, kau rundingkan dulu dengan Bibi, kalau setuju besok kita urus surat-suratnya."
Tambah uang sendiri? Paman Liu memandang Qin Long dengan heran. Melihat ketulusan Qin Long, ia hampir saja langsung mengiyakan.
Untunglah, Paman Liu segera ingat tujuan utamanya malam ini.
Sudah terlanjur kehilangan muka, tak masalah kehilangan satu juta lagi.
Paman Liu melambaikan tangan, bertopang tongkat berdiri, "Tak perlu dirundingkan, dua puluh delapan juta saja. Besok pagi-pagi kita ke kantor pertanahan urus surat-surat, soal uang dua hari juga tak apa, aku percaya padamu."
Ibu dan adik Qin Long menatap Paman Liu seperti orang asing. Patah kaki satu, sekarang malah berubah sifat, ngasih potongan dua juta, uang dua hari juga tak masalah, kau yakin kau benar-benar Liu Laigui yang kami kenal?
Ini benar-benar sesuai dengan keinginan Qin Long. Kalau terlalu banyak basa-basi, bisa-bisa terlihat bodoh. Qin Long mengucapkan terima kasih berkali-kali, membantu Paman Liu keluar sampai ke depan rumah, baru kemudian kembali. Di jalan pulang yang sepi, ia tak tahan dan diam-diam menjentikkan jari dengan gembira.
Soal koin Jingkang Tongbao itu sama sekali tak boleh diketahui Paman Liu, kalau tidak, pasti ia akan bikin masalah.
Setelah kembali dan duduk, Qin Feng masih terpana memandang Qin Long. "Kak, aku nggak mimpi, kan?"
Tang Haor tertawa pelan, berbisik, "Dia sedang menebus dosa. Mengurangi dua juta, menjual rumah ke keluarga kita supaya hatinya tenang. Walau tak bisa membungkam omongan orang, tapi nanti setiap ada yang menyebut Long menyelamatkannya, pasti juga akan disebut soal rumah yang dijual ke kita. Di mata orang luar, semuanya sudah lunas, bahkan mungkin dianggap kita yang untung."
Qin Feng tiba-tiba mengerti, lalu mencibir, "Dasar, pasti ada maunya. Siapa juga yang sudi rumah bobrok mereka. Kak, kita batal beli saja, minta tanah baru di desa, bangun rumah sendiri."
Qin Long hanya tertawa, mengangkat mangkuk nasi. "Ayo makan, Dafeng. Di kamarku ada sebotol arak enak, ambilkan. Istriku, malam ini temani aku minum, jangan nyetir lagi."
Qin Feng melotot lama pada Qin Long, tak bergerak. Qin Long mengulurkan tangan, menjentik dahinya keras-keras, pura-pura melotot, "Sudah nggak mau nurut sama kakak, mau memberontak?"
Qin Feng sambil memijat dahinya, cemberut dan berjalan ke kamar Qin Long. "Dapat potongan dua juta aja kayak dapat rezeki nomplok. Kalau aku, nggak bakal beli rumah bobrok mereka..."
Tang Haor berkedip memandang Qin Long dengan mata besarnya yang indah. Menurut pengetahuannya tentang Qin Long, sepertinya dia memang senang seperti baru saja mendapat untung besar.
Aneh, bukankah di rekeningmu masih ada dua-tiga ratus juta? Beli vila memang belum mampu, tapi masa cuma dapat potongan dua juta untuk rumah tua saja harus dirayakan sambil minum arak?