Bab Empat: Teman Masa Kecil yang Hidup dalam Cerita Orang Lain
Ucapan yang disampaikan Ye Meng sebelumnya sebenarnya bukanlah harapan sungguhan agar Gu Yun Yun memberikan tanggapan. Itu hanyalah candaan spontan yang keluar tanpa pikir panjang, tak terlintas di benaknya bahwa lawan bicaranya benar-benar akan menjawab hal itu dengan serius.
Tak disangka, Gu Yun Yun malah terdiam sejenak.
Setelah itu, raut wajahnya berubah menjadi penuh kenangan.
“Sebenarnya hubungan aku dengan dia memang tidak terlalu dekat, hanya sebatas tetangga waktu kecil saja. Tapi dulu saat berangkat dan pulang sekolah, kami kadang berjalan bersama.”
Ye Meng tak mengira Gu Yun Yun benar-benar akan menanggapi ucapannya dan menyebutkan hal itu. Matanya pun tampak berbinar penuh harap, mendesak Gu Yun Yun untuk melanjutkan ceritanya.
“Bagian resepsionis pernah bilang kalau tetanggamu itu benar-benar tampan, sampai banyak orang dibuat jatuh hati. Itu bukan sekadar omong kosong, kan?”
Mendengar pertanyaan itu, wajah Gu Yun Yun tampak tersenyum.
Dengan tulus, Gu Yun Yun mengangguk mengikuti ucapan Ye Meng, “Memang benar seperti itu.”
“Meskipun sekolah kami tidak pernah mengadakan pemilihan siswa atau siswi terpavorit, namun ketampanan Chu Liao Yu sudah diakui oleh beberapa tingkat waktu itu!”
“Setiap Hari Valentine, dia pasti menerima banyak cokelat dari gadis-gadis.”
Ye Meng yang mendengar cerita Gu Yun Yun itu sampai menutup mulut menahan tawa.
Ia menggoda, “Kalau dari ceritamu, hubungan kalian berdua bisa dibilang teman masa kecil yang sangat dekat, ya?”
Ucapan itu langsung membuat wajah Gu Yun Yun memerah malu.
Ia buru-buru melambaikan tangan menolak, “Mana ada seperti yang kamu bilang, cuma teman yang kadang bertemu saja. Lagi pula, aku sudah bertahun-tahun tidak bertemu dia.”
Ye Meng mendengar itu jadi penasaran dan mengangkat alis.
Gu Yun Yun melanjutkan, “Aku tahu kabarnya juga cuma karena waktu itu saat ke makam, secara kebetulan bertemu ibunya dan sempat mengobrol sebentar. Tidak seakrab yang kalian bayangkan.”
“Tidak seakrab yang aku bayangkan?” Ye Meng mengulang perkataan Gu Yun Yun dengan nada sedikit heran.
Hal itu membuat Gu Yun Yun merasa bingung dan menoleh ke arahnya, “Memangnya ada yang aneh?”
Ye Meng menyentil kening Gu Yun Yun dengan ujung jarinya.
“Kamu ini benar-benar tidak jujur!” Ye Meng menepuk dadanya pura-pura menahan emosi, sampai Gu Yun Yun makin bingung.
Ia menatap Ye Meng dengan mata penuh tanda tanya.
Ye Meng lalu menggeser kursinya mendekat ke sisi Gu Yun Yun, “Kamu masih saja tidak mau bicara jujur. Mana mungkin cuma tetangga biasa? Kalau benar cuma tetangga, tidak mungkin setelah bertahun-tahun, sekali bertemu, dia langsung mengenalimu, kan?”
Kebingungan Gu Yun Yun terhadap ketidakpercayaan Ye Meng akhirnya terjawab. Ia kini tahu siapa biang keladinya.
Pasti gara-gara Lin Ke Xin yang tak bisa menahan mulut di meja resepsionis!
Sepertinya sudah waktunya mencari cara agar bocah itu berhenti membocorkan rahasia!
Sayangnya, Ye Meng yang begitu ingin tahu tidak memberi kesempatan Gu Yun Yun untuk menuntut Lin Ke Xin. Ia langsung menahan Gu Yun Yun di kursinya.
“Jujur saja, hubunganmu dengan klien itu sebenarnya seperti apa? Hanya dari penampilan saja dia bisa langsung mengenalimu…”
Ucapan Ye Meng belum selesai, Gu Yun Yun yang menangkap inti pembicaraan langsung bereaksi berlebihan.
Tatapan matanya pada Ye Meng seperti melihat makhluk aneh.
“Kemarin waktu aku siaran langsung jualan, jangan-jangan kamu menonton juga?”
Keterkejutan itu membuat suara Gu Yun Yun agak tinggi, tanpa sadar terdengar oleh semua orang di kantor.
Keramaian itu tentu menarik perhatian banyak orang.
Seorang lelaki di depan meja Gu Yun Yun yang memakai pakaian olahraga, bernama Zhang Le, langsung menoleh dan mengacungkan jempol.
“Namanya juga pertama kali siaran, kami harus lihat bagaimana hasilnya. Jujur saja, kamu hebat banget, sampai aku tak tahan ikut beli beberapa bungkus camilan pedas itu buat dicoba!”
Saat itulah, Gu Yun Yun benar-benar merasa bagai tertimpa petir di siang bolong.
Setiap ucapan mereka rasanya menusuk hati Gu Yun Yun.
Ia sampai ingin naik roket dan pergi ke Mars.
Sepertinya hidup di Bumi sudah tidak cocok lagi untuknya.
Menyadari ekspresi Gu Yun Yun yang seperti hidup segan mati tak mau, Ye Meng yang sudah berpengalaman di dunia kerja segera mengalihkan pembicaraan untuk menghiburnya.
“Siaran langsung memang harus menunjukkan perasaan dan kejujuran, makanya kemarin itu siaranmu jadi topik hangat di platform. Para host sebelumnya pun belum ada yang bisa seperti kamu.”
Zhang Le juga mengangguk setuju, “Menurutku kamu kerja di sini kurang cocok, jadi host penjualan online itu lebih pas buatmu! Siapa tahu nanti bisa jadi bintang di perusahaan ini.”
Mendengar itu, Ye Meng langsung memeluk bahu Gu Yun Yun, “Sudah, cepat lanjut kerja. Ada saja yang kamu pikirkan!”
Bicara soal gosip memang membuat siapa saja susah untuk tenang.
Ye Meng masih saja penasaran soal hubungan Chu Liao Yu dan Gu Yun Yun.
Dengan semangat ingin tahu yang tak kunjung padam, ia bertanya lagi, “Kita ini kan sahabat baik di kantor, kasih tahu dong sedikit saja?”
Gu Yun Yun paham betul apa yang ingin didapatkan Ye Meng.
Ia menggaruk kepala dengan sedikit putus asa, “Sudah kubilang tidak ada hubungan dekat apa-apa!”
Jelas sekali Ye Meng tidak percaya, “Benar bukan teman masa kecil yang akrab?”
Gu Yun Yun mengepalkan tinju, “Kamu terlalu banyak berimajinasi!”
Percakapan itu membuat Ye Meng sadar tak akan mendapat jawaban dari Gu Yun Yun, akhirnya ia pasrah mengangkat bahu, “Kirain temanku ini sudah punya pacar ganteng, ternyata masih jomblo juga!”
Ye Meng lalu menggeser kursi dan kembali ke meja kerjanya.
Dengan wajah penuh kegalauan, ia memusatkan perhatian ke dokumen di layar komputer yang belum selesai dikerjakan.
Gu Yun Yun yang merasa akhirnya terbebas dari gangguan Ye Meng, belum sempat merapikan meja, tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan pesan baru di grup kerja.
“Ayo, cepat ke ruang rapat. Kalau lambat, Pak Wu bakal ngomel!”
Begitu semua orang selesai mengumpulkan dokumen dan tiba di ruang rapat, Wu Tian sudah duduk di kursi utama, menunggu semua hadir.
Tak lama kemudian, rapat pun dimulai.
Wu Tian memang punya wajah dingin, hanya duduk saja sudah memberi tekanan besar pada semua orang.
Saat ia bicara, suaranya pun terdengar bagai butiran es yang jatuh perlahan.
“Laporan kinerja kuartal lalu baru saja keluar. Sepertinya semua laporan sudah terkirim ke email kalian, ada pendapat setelah membacanya?”
Tatapan Wu Tian yang dingin menyapu wajah semua orang di ruang rapat.
Ia jelas tidak berharap ada yang berani menjawab.
Ia pun langsung menjawab sendiri, “Sangat buruk!”