Bab 3: Keraguan
Di dalam ruangan, Huo Xingjian duduk rapi di depan meja kerjanya, sorot matanya di balik kacamata sama sekali tak menunjukkan emosi.
Sementara itu, perempuan yang tadi ada di sana terjatuh ke lantai, pakaiannya berantakan dan tidak karuan.
Mu Ci terkejut melihat pemandangan di depannya, hampir saja tak bisa memegang kopi yang dibawanya.
Tiba-tiba Huo Xingjian berkata, “Keluar!”
Mu Ci tersentak, secara naluri berbalik hendak pergi.
Namun Huo Xingjian menambahkan, “Bukan kamu yang kumaksud.”
Mu Ci spontan menghentikan langkahnya, lalu melihat perempuan berpakain awut-awutan itu bangkit dengan tertatih, meninggalkan ruangan sambil terisak pelan.
Mu Ci menarik napas dalam-dalam, lalu dengan sangat hati-hati meletakkan kopi di meja kerja Huo Xingjian. Suaranya terdengar sangat ragu, “Tuan Huo, kopi Anda.”
Huo Xingjian hanya mendengus pelan, tanpa berkata apa-apa lagi.
Mu Ci tak kuasa menahan diri untuk melirik Huo Xingjian, selalu merasa pria itu seperti dewa di kuil—dengan satu gerakan tangan, seseorang bisa langsung mencapai kesuksesan, sementara yang lain malah tertimpa bencana bertubi-tubi.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” Sebuah suara dalam tiba-tiba terdengar di telinganya. Mu Ci buru-buru menunduk, “Tidak… tidak ada, saya hanya teringat ada pekerjaan yang belum selesai, saya…”
“Kalau sudah di sini, bantu aku rapikan berkas-berkas di atas meja teh itu.”
Kening Huo Xingjian berkerut. “Semuanya jadi kotor.”
Mu Ci mengikuti arah pandangannya, melihat berkas-berkas yang berserakan di atas meja, bahkan ada yang jatuh ke lantai.
Tadi, perempuan yang baru saja keluar itu memang terjatuh di situ.
Mu Ci mengiyakan, lalu berjalan mendekat dengan patuh, mulai merapikan barang-barang yang berserakan di atas meja teh.
Ada satu dokumen kontrak yang jatuh ke bagian paling bawah meja, tak bisa dijangkau. Awalnya ia ingin merangkak mengambilnya, tapi karena ia mengenakan rok setengah lutut, terpaksa ia berlutut menghadap Huo Xingjian di atas karpet untuk mencarinya.
Huo Xingjian mengangkat pandangannya, menatap gerak tubuh perempuan itu yang membungkuk.
Barangkali karena terburu-buru, ia membungkuk sangat rendah, sehingga lekuk lehernya sama sekali tak tersembunyi.
Namun Mu Ci hanya fokus memunguti dokumen, tak menyadari tatapan tajam pria itu.
Baru setelah semua dokumen beres, Mu Ci menghela napas lega, “Tuan Huo, sudah saya rapikan.”
Huo Xingjian menyahut singkat, nadanya santai, “Silakan duduk di sofa dan beristirahat sebentar. Nanti akan ada anggota dewan direksi yang datang, kamu tolong siapkan teh.”
Setelah membereskan semuanya, Mu Ci memang merasa cukup lelah.
Ia duduk dengan hati-hati di sofa, dan tak lama kemudian rasa kantuk menyerangnya.
Tatapan Huo Xingjian terlepas dari kontrak, beralih menatap perempuan kecil yang tertidur setengah sadar di sofa. Tiba-tiba ia berdiri dan berjalan mendekat.
Mu Ci bermimpi.
Dalam mimpinya, ia duduk di sofa dan tak bisa bergerak. Seorang pria entah sejak kapan sudah berdiri di hadapannya, mengangkat tubuhnya dengan lembut, lalu mencium ujung alisnya dengan penuh kasih.
Setelah itu... jemari dingin membelit kakinya.
Semua yang terjadi selanjutnya persis seperti mimpi-mimpinya sebelumnya, hanya saja kali ini tak berlanjut sampai akhir.
Mu Ci sangat ketakutan, namun rasa takut itu tak membuat pria itu berhenti.
Dengan sisa kesadarannya, Mu Ci memaksa membuka mata, dan langsung bertemu sepasang mata dalam yang menatapnya.
Huo Xingjian tersenyum tipis, “Lelah bekerja?”
Mu Ci terengah-engah, spontan menunduk. Saat melihat pakaiannya masih rapi, ia merasa lega, lalu menengadah. Ia melirik sekeliling ruangan, memastikan hanya ada dirinya dan Huo Xingjian.
Tapi mimpi tadi...
Ia buru-buru berdiri, mundur beberapa langkah menjauh dari Huo Xingjian, “Maaf, Tuan Huo! Saya… saya tidak seharusnya tertidur!”
Ia menundukkan kepala, namun hatinya masih bergejolak akibat mimpi itu.
Huo Xingjian tersenyum samar, lalu berjalan ke dispenser dan menuangkan segelas air, menyerahkannya padanya.
“Minumlah sedikit air.”
Ia membenarkan kacamatanya. “Baru mulai kerja, memang belum terbiasa. Nanti juga akan terbiasa.”
Mu Ci menunduk, suara lirih, “Terima kasih.”
Ia menerima air yang diberikan Huo Xingjian, namun pandangannya tiba-tiba jatuh pada pergelangan tangan kanan pria itu—tanda lahir merah itu persis sama seperti tangan yang mencengkeramnya dalam mimpi.
Sekejap, bulu kuduknya berdiri, bahkan gelas di tangannya hampir terlepas.