Bab Dua: Menemukan Tempat Bernaung
Cahaya fajar pertama menyusup ke dalam kamar, dan Gu Yun membuka matanya.
Hari ketiga setelah genap sepuluh tahun di dunia ini, ia masih belum mengalami serangan dari bangsa dewa dalam tidurnya.
Langit biru dan awan putih di luar jendela, segalanya tampak begitu penuh harapan dan kehidupan.
Ia membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk memahami seluk-beluk dunia ini.
Sebuah planet yang kaya akan sumber daya, tanah yang subur—jika mengabaikan kehadiran roh jahat yang muncul di malam hari, tempat ini boleh dikatakan sebagai dunia yang damai dan stabil.
Cita-cita para remaja bukanlah mengikuti turnamen bela diri, ataupun bergabung dengan organisasi tentara bayaran, melainkan belajar di sebuah institusi bernama “Universitas.”
Adik perempuan Gu Yun adalah salah satu dari sekian banyak pelajar yang menempuh jalan itu.
Krisis besar dunia ini rupanya bukanlah invasi bangsa dewa, melainkan krisis finansial.
Sekalipun hingga kini ia belum sepenuhnya memahami makna krisis finansial, ayah mereka yang secara resmi tercatat sebagai orang tua, kehilangan pekerjaannya di tengah krisis itu.
Tak lama kemudian, sang ibu pun meninggalkan rumah, meninggalkan Gu Tiantian yang baru saja masuk SD.
Syukurlah, akhirnya sang ayah mampu bangkit kembali.
Setelah meninggalkan sepucuk pesan, “Aku akan menjadi pemburu harta karun,” ia pun menghilang tanpa jejak.
Meski sudah lima atau enam tahun lamanya tak terdengar kabar dari ayahnya, Gu Yun percaya bahwa sang ayah pasti sedang berjuang seorang diri di suatu sudut dunia ini.
Itulah getaran yang hanya dapat dipahami sesama lelaki.
Dulu, para tetua pun mengaum, “Pergilah ke dunia lain untuk mencari harta karun agung!” lalu mengirimnya ke dunia ini.
Kendati saat itu para tetua tersenyum dengan penuh amarah dan wajah yang garang, Gu Yun merasa bahwa dalam senyum itu tersimpan harapan besar kepada dirinya.
Ia pun tidak mengecewakan ekspektasi para bangsawan, dan berhasil menemukan harta karun.
Harta karun agung itu adalah adiknya—Gu Tiantian.
Adiknya yang kala itu baru berusia empat tahun datang menghampirinya, matanya melengkung seperti sabit bulan.
“Kakak besar, apakah kau tersesat?”
Pada saat itu, Gu Yun merasa jiwanya seolah dimurnikan.
Dalam pertarungan yang tiada akhir, tak pernah sekalipun ia merasakan ketenangan seperti itu.
Hal itu membuatnya yakin bahwa harta karun agung yang dimaksud oleh para tetua memang ada di sini.
Namun, yang datang berikutnya justru adalah serangkaian kesulitan dan bahaya.
Ketika secara kebetulan ia mengetahui bahwa dunia ini dihuni makhluk adikodrati, Gu Yun pun sadar bahwa dunia ini terlalu berbahaya bagi adiknya.
Maka, Gu Yun pun membuat keputusan bulat—
Sebelum para tetua dan bangsawan datang ke dunia ini,
Sebelum ayah mereka yang menjadi pemburu harta karun pulang ke rumah,
Ia harus menjaga harta karun itu!
Namun, seolah-olah dunia pun ikut berubah bersamanya.
Para pelajar yang pergi ke sekolah, pekerja kantoran, pemilik gerai barbeque, hingga sopir bus, semuanya berubah menjadi berambut Mohawk; mereka menyeringai, seolah setiap saat siap menerkam Gu Tiantian.
Tiba-tiba, semua orang berubah menjadi musuhnya!
Kekuatan satu orang sangatlah terbatas. Untuk menjaga harta karun, selain kekuatan diri sendiri, ia harus menguasai cukup banyak informasi.
Sebelum Gu Tiantian tumbuh menjadi manusia terkuat, ia harus melenyapkan segala ancaman sejak dini!
Maka, sekutu pun menjadi keharusan.
Setiap pagi selama sepuluh tahun ini, Gu Yun selalu terbangun dengan pikiran yang sama.
Jika makhluk adikodrati benar-benar ada, pasti di suatu tempat di dunia ini tersembunyi sebuah lembaga misterius yang mampu menandingi mereka.
Dan ia, tak pernah berhenti mencari.
Setahun yang lalu, ia telah menemukan secercah petunjuk.
Seorang pria bersetelan rapi mengumpulkan mereka, memberitahu bahwa di dunia ini ada organisasi bernama Yayasan yang secara khusus menangani peristiwa adikodrati.
Pria bersetelan itu mengaku sebagai auditor Yayasan, dan asalkan membayar biaya administrasi 648 yuan, ia dapat merekomendasikan mereka ke markas besar.
Gu Yun pun membayar iuran saat itu juga, dan pria itu dengan serius memintanya pulang untuk menunggu pemberitahuan dari markas besar.
Sayangnya, sejak saat itu, ia tak pernah menerima telepon dari Yayasan.
Meski adiknya bersikeras bahwa ia telah tertipu, bahkan mengeluh berhari-hari, Gu Yun tetap percaya kepada pria itu.
Alasan mereka tak menghubunginya lagi, mungkin karena sang auditor gugur dalam sebuah pertempuran, sehingga bahkan tak sempat menyerahkan daftar ke markas besar.
Bagaimanapun, malam hari di kota ini penuh dengan bahaya.
Setelah selesai membersihkan diri, Gu Yun duduk di meja makan.
Di atas meja, sudah tersedia sarapan yang disiapkan adiknya sebelum berangkat sekolah; roti yang diolesi selai stroberi, susu di mangkuk yang telah mendingin dan membentuk lapisan tipis di permukaannya.
Di samping mangkuk terdapat secarik kertas kecil:
“Maaf ya, Kak. Karena hari ini ada ujian penting dan aku belajar sampai larut malam kemarin, sikapku agak buruk padamu. Lain kali aku akan lebih hati-hati! Tapi, Kakak, sesekali coba cari pekerjaan juga, aku baca di internet kalau terlalu lama diam di rumah bisa berdampak buruk pada kesehatan jiwa dan raga.”
Membaca isi kertas itu, mata Gu Yun memerah, ia menggenggam tangannya dengan penuh emosi, dan dalam sekejap kertas itu berubah menjadi abu.
Ternyata, kemarin hanyalah ilusi.
Adiknya masih sangat peduli padanya!
Namun, mencari pekerjaan adalah sesuatu yang mustahil.
Di depan ada roh jahat, di belakang ada orang berambut Mohawk, dalam situasi musuh di segala penjuru, bagaimana mungkin seorang kakak bisa tenang mencari kerja?
Saat ini, yang paling mendesak adalah segera menghubungi Yayasan.
Memikirkan hal itu, Gu Yun mengeluarkan sebuah brosur kecil yang sudah lusuh dari saku dalam jasnya.
“Rekrutmen Yayasan, Seri Kedua!”
Judul itu tercetak jelas pada brosur.
“Apakah kau penasaran dengan sisi lain dunia ini? Apakah kau merasa memiliki kemampuan yang luar biasa? Apakah kau ingin memahami makna kehidupan? Ingin benar-benar... hidup?”
“Datanglah, temui kami.”
“Waktu kegiatan: 2 November, pukul 11 pagi, lantai bawah tanah Plaza Kota Wanluo.”
“Kegiatan tidak menyediakan makan siang, harap membawa uang tunai.”
“Kontak: Wang.”
…
Usaha tak mengkhianati hasil.
Setelah satu tahun, Gu Yun akhirnya menemukan jejak Yayasan lagi.
Setiap kalimat dalam brosur itu menyentuh hatinya.
Dengan kekuatan manusia biasa, mustahil menandingi roh jahat sekelas yang ia hadapi kemarin.
Oleh karena itu, Yayasan perlu merekrut anggota baru yang memiliki kekuatan di luar nalar.
Dan dua kalimat terakhir adalah inti dari segalanya.
Benar.
Memiliki kekuatan luar biasa saja tidak cukup; untuk melawan roh jahat, diperlukan keberanian yang sepadan.
Kalimat terakhir jelas memperingatkan para pelamar, bahwa memburu roh jahat bukanlah hiburan, bahaya yang mengintai tak terlukiskan, dan hanya mereka yang benar-benar memahami arti kehidupan yang mampu memikul tanggung jawab ini.
Gu Yun yakin, kekuatan, ketekunan, daya juang, serta tekadnya pasti memenuhi standar Yayasan.
Bahkan iuran 648 yuan pun ia kumpulkan dengan berhemat.
Auditor sebelumnya gagal menyerahkan daftar mereka ke markas besar, mungkin iuran pun hilang saat pertempuran.
Adapun permintaan iuran, Gu Yun menganggapnya wajar.
Yayasan adalah lembaga besar, untuk menjaga operasional sehari-hari, diperlukan dana yang tak sedikit, apalagi aktivitas mereka tak menghasilkan keuntungan ekonomi.
Setelah bertahun-tahun ia menangani roh jahat, tak pernah sekalipun ada yang memberinya uang.
Dengan cepat ia menghabiskan sarapan, lalu merenggangkan otot-ototnya.
Tenanglah, Tiantian.
Kakakmu telah menemukan organisasi yang tepat!