Bab 50 Tujuan Zhang Mei
Yang Xia gemetar ketakutan, tetapi melihat putra kesayangannya diperlakukan seperti itu, ekspresi di wajahnya langsung berubah menjadi mengerikan.
Sorot matanya menjadi kejam. Entah dari mana datangnya kekuatan, ia merangkak bangkit dari lantai, lalu mengambil tongkat yang tadi dijatuhkan oleh sang dukun dan mengayhkkannya ke arah Zhang Mei.
Tongkat itu memang memiliki sedikit kekuatan magis, tetapi kekuatan itu sama sekali tidak cukup untuk melukai Zhang Mei saat ini.
Apalagi tongkat itu dipegang oleh seorang wanita tua biasa, sehingga sama sekali tidak memiliki daya gentar.
Zhang Mei melambaikan tangan besarnya, dan Yang Xia langsung terjatuh ke lantai akibat hempasan hawa dingin.
Prang—
Tongkat di tangannya terjatuh ke lantai dan tepat menghantam betisnya.
"Ah—"
Baru saja ia mengeluarkan pekikan terkejut, sedetik kemudian lehernya tiba-tiba dicengkeram erat oleh sebuah tangan pucat kebiruan.
"Heh~ Jangan terburu-buru, bagaimana bisa aku melewatkanmu, ibu mertua tersayang yang akan meratapiku~"
Zhang Mei untuk sesaat mengesampingkan Li Gar, lalu mendekat ke telinganya dan berbisik dengan suara menyeramkan yang terdengar sangat 'lembut'.
Hawa dingin dari tubuhnya merasuk ke dalam tubuh Yang Xia, membuat tubuh wanita tua itu bergidik ngeri secara refleks. Belum sempat ia bereaksi, di detik berikutnya, ia merasakan sensasi dingin yang menyakitkan di wajahnya.
Plak—
Waktu Zhang Mei sudah tidak banyak lagi.
Ia kembali malam ini untuk melampiaskan dendam kesumatnya, tentu saja ia tidak akan memberi kesempatan bagi ibu dan anak itu untuk bernapas lega.
Plak, plak, plak—
Suara tamparan yang semakin lama semakin keras itu membuat warga desa yang lain merasa puas sekaligus ketakutan.
Terutama karena mereka takut Zhang Mei yang telah menjadi arwah penasaran dan kehilangan kemanusiaannya akan memperlakukan mereka dengan cara yang sama.
Memang benar mereka memiliki keberanian besar dan suka menonton keramaian, tetapi mereka tidak pernah menyangka keramaian kali ini akan begitu mengerikan.
Di dalam hati, mereka sedikit banyak mempercayai dewa dan hantu, tetapi belum pernah ada di antara mereka yang melihat hantu secara langsung. Saat ini, mereka semua berjongkok di sudut seperti burung puyuh kecil, tidak berani bersuara.
Seluruh ruangan begitu sunyi hingga yang terdengar hanyalah suara Zhang Mei yang terus-menerus menampar Yang Xia dan Li Gar, serta jeritan kesakitan dari ibu dan anak tersebut.
Adapun sang dukun yang diundang oleh keluarga Li——
Saat ini ia turut bersembunyi di sudut bersama para warga desa, berlagak seperti burung puyuh.
Sebenarnya ia ingin maju untuk menaklukkan arwah penasaran tersebut.
Sayangnya, ia hanyalah seorang dukun pemandu arwah yang hanya bisa sedikit membaca sutra penyeberangan. Selama lebih dari dua puluh tahun berkecimpung di bidang ini, baru kali ini ia melihat pemandangan sebesar ini.
Menyelamatkan nyawa adalah yang utama, lebih baik tidak memprovokasi arwah penasaran.
An An mendengarkan kutukan demi kutukan dan suara pelampiasan amarah Zhang Mei, membuat hatinya merinding ketakutan.
Sambil menahan rasa takutnya, ia kembali menggenggam ponselnya. Ia tidak berani bersuara, dan hanya bisa mengetik untuk bertanya kepada Shi Yi.
"Idola, apa, apa kamu masih di sana?"
Kamera terus mengarah ke arah Zhang Mei dan yang lainnya, sehingga para warganet sama sekali tidak bisa melihat keadaan An An saat ini. Namun, mereka tahu bahwa berada di situasi langsung pasti sangat menakutkan, jadi mereka mengirimkan rentetan komentar dengan cepat untuk menghiburnya.
Shi Yi juga tahu bahwa An An sedang tegang, maka ia mengetik untuk menenangkannya.
"Jangan takut, dia tidak akan menyakiti kalian, dia bahkan tidak akan benar-benar membunuh Li Gar dan ibunya. Dia hanya sedang melampiaskan dendam kesumatnya. Lihatlah, energi kebencian di tubuhnya perlahan-lahan sedang memudar."
An An mengikuti perkataan Shi Yi dan mengangkat kepalanya untuk melirik Zhang Mei yang masih membabi buta membalas dendam pada ibu dan anak keluarga Li tersebut.
Di matanya, hantu tetaplah hantu, dan ia tidak bisa melihat adanya perubahan apa pun.
"Dia tidak berniat membunuh, dia hanya menyimpan dendam. Lagipula, orang di balik layar tidak akan membiarkannya membunuh orang. Dia masih memiliki urusan penting yang belum diselesaikan. Selain itu, jika dia membunuh seseorang, orang di balik layar harus menanggung karma yang tidak kecil, sehingga mereka pasti tidak akan membiarkan dia bertindak semaunya. Mereka hanya membiarkannya melampiaskan amarah dan menguraikan kebenciannya agar dia bisa pergi melapor ke akhirat dengan tenang."
Ucapan Shi Yi berhasil menarik perhatian An An dan para warganet. Belum sempat An An mengetik pertanyaannya, sudah ada warganet yang mewakilinya untuk bertanya.
【Master, apa maksud perkataan Anda? Mungkinkah Zhang Mei bisa muncul di sini karena ada seseorang yang membantunya?】
【Wah, wah, wah, tadinya aku tegang setengah mati, tapi jadi penasaran. Master, sebenarnya apa yang terjadi, bisa tolong jelaskan?】
Shi Yi tidak langsung menjelaskannya secara blak-blakan, melainkan menyuruh mereka untuk menyaksikannya sendiri.
Di sisi lain, Zhang Mei telah menghajar ibu dan anak Li Gar hingga setengah mati.
Tentu saja, tidak ada bekas luka fisik yang terlihat di tubuh mereka. Setiap kali ia memukul mereka, hawa dingin merasuk sedalam satu inci ke dalam tubuh mereka.
Ia sangat bisa mengendalikan diri, hawa dingin itu tidak akan menyebabkan kematian, melainkan membuat mereka merasakan sakit selama setahun atau bahkan satu setengah tahun.
Bahkan jika mereka mendatangi rumah sakit-rumah sakit besar di seluruh negeri, penyakit itu tidak akan bisa disembuhkan.
Zhang Mei akhirnya berhasil melampiaskan seluruh amarah dan penderitaan yang ia pendam selama beberapa tahun pernikahan ini. Ia menatap ibu dan anak keluarga Li yang terkapar lemas di lantai, lalu melayang tepat di atas mereka dan berkata dengan suara dingin dan menyeramkan:
"Hak asuh anakku harus diserahkan kepada orang tuaku. Jika kalian tidak menyerahkannya, maka aku akan menyeret kalian berdua ke neraka bersama-sama!"
"Baik... baiklah, aku akan memberikan hak asuh itu... kepada mereka, asal, asal kau melepaskan aku dan ibuku..."
Li Gar saat ini merasa begitu kesakitan hingga untuk berbicara pun rasanya sangat sulit, bagaimana mungkin ia masih berani memancing amarah wanita itu.
Di mulutnya ia menyetujui untuk memberikan hak asuh kepada mertuanya, tetapi di dalam hatinya ia berpikir bahwa begitu malam ini lewat, ia harus pergi mengundang seorang Taois untuk menyingkirkan Zhang Mei!
Hak asuh anak? Jangan harap!
Zhang Mei pernah menjadi istrinya, bagaimana mungkin ia tidak mengetahui niat licik suaminya itu.
Ia mencemooh dingin, air mata darah mengalir dari sudut matanya. Ia maju mendekat, wajahnya merapat ke wajah pria itu, hanya berjarak setengah jari saja.
"Li Gar, jangan dikira aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan. Apa kau pikir aku tidak punya persiapan lain?"
Zhang Mei tersenyum menyeringai dengan kejam dan berkata, "Kau benar-benar sangat bodoh, aku benar-benar menyesal mengapa dulu mata ini bisa buta hingga memilihmu dan masuk ke dalam keluarga kalian yang sudah busuk dan bobrok ini."
"Apa kau pikir hal-hal yang kulakukan secara sembunyi-sembunyi itu tidak diketahui siapa pun? Heh, bukti saat kau tidak sengaja melakukan pembunuhan bertahun-tahun lalu sudah kusuruh orang tuaku serahkan kepada pihak kepolisian. Kalau tidak, menurutmu kenapa mereka tidak muncul di hari ketujuh kematianku?"
Mata Li Gar langsung terbelalak lebar, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Kau—"
Plak—
Senyuman di wajah Zhang Mei seketika lenyap. Dengan wajah dingin, ia kembali melayangkan tamparan keras ke wajah pria itu, langsung membuatnya pingsan seketika.
Ia kemudian mendatangi Yang Xia yang sedang gemetar ketakutan dan sudah tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.
"Putramu akan segera dijebloskan ke dalam penjara. Setelah itu, jika kau berani memainkan trik apa pun lagi, aku akan langsung membuatnya mati di dalam penjara. Bagaimanapun juga, aku sudah mati dan menjadi arwah gentayangan, aku sama sekali tidak takut pada kalian."
"Kau... Xiao Mei, Xiao Mei, aku mohon padamu, kumohon jangan bunuh Xiao Gar, dia kan suamimu—"
Plak—
Satu tamparan lagi melayang.
"Tutup mulut busukmu itu, kalian berdua benar-benar membuatku jijik. Aku hanya memperingatkanmu, setelah dia masuk penjara, jika kau tidak menyerahkan anakku kepada orang tuaku, aku pasti akan pergi ke penjara untuk membunuhnya dan membuatnya menemaniku, lalu kita lanjutkan menjadi pasangan suami istri hantu."
"Aku mati lebih dulu darinya, dendamku lebih besar darinya, dan tanganku sudah berdarah karena nyawa manusia. Dia tidak akan bisa mengalahkanku dan hanya akan menuruti perkataanku. Pada saat itu, aku dan dia akan menjadi pasangan hantu yang bebas dan bahagia, dan kau tidak akan pernah bisa melihat cucumu lagi!"
Mendengar itu, ekspresi di wajah Yang Xia dipenuhi rasa benci dan geram, hanya saja ia tidak berani melontarkan penghinaan verbal apa pun kepada Zhang Mei karena takut hantu itu akan membunuh putranya sekarang juga.
"Tidak akan... tidak akan, asal kau tidak membunuh Xiao Gar, aku akan mengantarkan Chen Chen ke sisi kakek dan neneknya."
Meskipun ia merasa berat hati berpisah dengan cucunya, jelas bahwa putranya jauh lebih penting.
Zhang Mei mencibir dingin. Ia mengatakan semua itu semata-mata karena ia sudah sangat mengenal ibu dan anak tersebut.
Melihat tujuannya telah tercapai, ia kembali menendang mereka berdua dengan kuat sebagai pelampiasan, lalu menyeret mereka ke dalam alam mimpi buruk untuk menyiksa mereka sekali lagi.
Mereka berdua memang sudah terbiasa mengingkari janji, jadi mereka harus diberi kesan yang mendalam agar rasa takut terhadapnya benar-benar tertanam di dalam diri mereka dan tidak berani memunculkan niat untuk membalas dendam lagi.