Bab 48 Kesempatan Terakhir
Jiang Xiaotian langsung mengangkat tubuh Qin Bingxue tanpa ragu-ragu, lalu bergegas keluar. Wajahnya saat ini tampak begitu dingin.
Satu-satunya obat yang dapat menyembuhkan kondisi ini tidak tersedia di sini, dan sudah terlambat untuk meminta seseorang mengantarkannya.
Saat melihat Jiang Xiaotian, Qin Bingxue menghela napas panjang dalam hatinya. Sepasang lengannya secara spontan melingkar di leher Jiang Xiaotian, dan suara lembutnya terdengar di dekat telinga pria itu.
"Terima kasih sudah datang untuk menyelamatkanku. Karena kau sudah datang, aku tidak punya penyesalan lagi. Kejadian ini terjadi murni karena aku terlalu lengah."
"Aku tidak menyangka mereka masih bisa merencanakan hal seperti ini terhadapku saat ini."
"Aku tahu aku telah ceroboh, namun aku harus menanggung akibat dari kecerobohan ini. Sebelumnya, aku selalu mengatakan tidak akan membiarkanmu mendekatiku, tetapi sebenarnya jauh di dalam lubuk hati, aku sudah mulai menurunkan kewaspadaanku."
"Karena aku tahu kau sama sekali bukan tipe orang yang akan memaksaku melakukan hal-hal yang tidak kuinginkan. Namun, kenyataan kini telah berada di depan mata."
"Tidak ada jalan untuk berontak, tidak ada cara untuk menolak, bahkan di dalam hatiku sempat terbesit keinginan agar kau melakukan sesuatu yang berlebihan kepadaku. Aku tahu aku telah terpengaruh obat ini."
"Kumohon, bantulah aku. Tapi jangan di tempat terbuka seperti ini, bisakah kita pulang ke rumah?"
"Jika itu tidak memungkinkan, di dalam mobil pun tidak apa-apa. Mobilku terparkir di tempat parkir sebelah sana."
Saat mengucapkan kata-kata tersebut, napasnya menjadi semakin berat. Hawa panas dari embusan napasnya menerpa wajah Jiang Xiaotian, membuat debar di dada pria itu tak kuasa berpacu semakin cepat.
Ia tahu bahwa saat ini adalah kesempatan terbaik. Jika ia mau, ia bisa saja menaklukkan Qin Bingxue kapan pun dan di mana pun, tetapi itu bukanlah hasil yang ia inginkan.
Jiang Xiaotian menggertakkan giginya. "Istriku, tenanglah. Aku sudah katakan sebelumnya, kaulah orang yang paling kuciintai di dunia ini. Aku tidak akan pernah membiarkanmu menderita ketidakadilan apa pun, bahkan jika aku menginginkanmu."
"Aku ingin kau dengan sepenuh hati dan kerelaan sendiri menjadi wanita-milikku, alih-alih merenggutmu saat kau sedang menahan penderitaan seperti ini."
"Aku tidak memiliki niat serendah itu."
Begitu selesai berbicara, ia segera berlari cepat menuju mobil, membaringkan Qin Bingxue di dalam kendaraan untuk sementara waktu, lalu menyalakan mesin.
Meskipun belum memiliki surat izin mengemudi, ia bisa mengemudi, dan keterampilannya sangat mahir.
Mobil itu melesat cepat dan lenyap ditelan kegelapan malam, lalu berhenti di depan sebuah toko obat tradisional.
Jiang Xiaotian langsung menerobos masuk.
Setelah meminta belasan jenis bahan obat, ia kembali menghilang ke dalam pekatnya malam.
Waktu sudah tidak memungkinkan lagi untuk pulang ke rumah. Ia tahu gejala yang dialami Qin Bingxue semakin parah. Belasan bahan obat itu langsung ia hancurkan menggunakan kekuatan asalnya untuk memeras sarinya, lalu ia menyerahkan sebuah pil yang telah jadi kepada Qin Bingxue.
Wanita itu menelan pil tersebut tanpa sadar, tetapi setelah itu bibir merahnya langsung menggigit tangan Jiang Xiaotian.
Sepasang mata indahnya yang jelita telah kehilangan kesadaran, menyisakan tatapan yang dipenuhi bara penuh gairah.
Tangan kecilnya yang lembut langsung mencengkeram erat Jiang Xiaotian, sementara kilau bara api di mata pria itu semakin jelas terlihat.
"Jangan lari!"
"Berikan padaku!"
Sambil meracau demikian, ia langsung menerkam dan merubuhkan Jiang Xiaotian ke lantai.
Jiang Xiaotian sempat tertegun sejenak, tidak pernah menyangka istrinya bisa menunjukkan sisi yang begitu memikat.
Jantungnya berdegup kencang tak beraturan, bahkan hampir tak dapat ia kendalikan.
Secercah senyum cerah perlahan terukir di wajahnya.
"Istriku, sebenarnya aku bisa melakukan apa saja sekarang, tetapi aku tidak akan memanfaatkan situasi di saat kau tidak berdaya."
Sambil berucap demikian, ia langsung menekan titik akupunktur di tubuh Qin Bingxue.
Qin Bingxue perlahan jatuh pingsan.
Pada saat itu, Jiang Xiaotian sama sekali tidak memikirkan hal lain. Ia hanya bisa menghela napas panjang; jika situasi itu terus berlanjut, ia benar-benar tidak yakin bisa bertahan.
Kini, ia mengalihkan pandangannya ke sekeliling, dan ekspresi di wajahnya berubah semakin dingin.
"Kepala Keluarga Zhou, biarkan kau hidup beberapa hari lagi. Aku pasti akan membuatmu tahu seberapa parah akibat dari perbuatan yang menyinggungku."
Sementara itu, di kediaman Keluarga Zhou.
Melihat manajer bermarga Zhou yang terkapar di lantai, ekspresi Kepala Keluarga Zhou terlihat semakin muram. Tatapannya dipenuhi amarah yang membara. Pada saat seperti ini, ia sudah tidak perlu lagi menyembunyikan emosinya, bahkan ia sangat ingin mencincang orang di hadapannya itu berkeping-keping.
"Apa yang kau katakan? Semua rencana telah gagal, dan setelah Jiang Xiaotian pergi ke tempatmu, dia berani memukulmu?"
"Dan kau sama sekali tidak melakukan apa pun terhadap Qin Bingxue?"
"Sebelum sempat berbuat apa pun, Jiang Xiaotian sudah menerobos masuk dan merusak seluruh rencana kalian?"
Mendengar hal itu, manajer Zhou mengangguk-angguk seperti burung mematuk padi. Wajahnya masih menyisakan rona penuh kepedihan. Rasa sakit akibat tendangan Jiang Xiaotian masih terasa samar-samar di wajahnya, bahkan bentuk hidungnya telah sedikit miring.
Menderita luka separah itu, ia tidak langsung pergi ke rumah sakit, melainkan berlari menuju kediaman Keluarga Zhou.
Ia tahu bahwa hanya jika Kepala Keluarga Zhou memaafkannya, ia baru bisa dengan tenang pergi berobat; jika tidak, ia bahkan tidak akan tahu bagaimana cara ia mati nanti. Kepala Keluarga Zhou bukanlah orang baik hati yang akan membantunya begitu saja.
Mengingat hal itu, ekspresi di wajahnya berubah menjadi sangat mengerikan.
Bahkan pada detik ini, ia tidak dapat menahan seluruh tubuhnya agar tidak gemetar ketakutan.
Kemarahan Kepala Keluarga Zhou nyaris membuat paru-parunya meledak. Semula ia ingin membuat Jiang Xiaotian merasakan penderitaan yang sesungguhnya, sekaligus memperlihatkan seperti apa rasanya kehilangan ketika putranya sendiri dianiaya.
Ia memang telah mengatur rencana semacam itu, tetapi ia tidak menyangka pria bertubuh tambun ini begitu tidak becus dalam bekerja.
Gigi-giginya bergemeretak, sementara api amarah berkobar di dalam manik matanya.
"Apakah kau tahu tindakanmu sekarang telah membuatku sangat murka? Saat melihatmu, aku bahkan ingin langsung menendangmu..."
"Kenapa Jiang Xiaotian tidak langsung menghabisimu saja?"
Memikirkan hal itu, matanya tiba-tiba menyipit tipis, memancarkan kilau cahaya dingin yang mematikan.
Ketika manajer Zhou menyadari omelan itu telah berhenti, ia tanpa sadar mengangkat kepalanya.
Ia lantas menangkap sorot mata yang terpancar dari Kepala Keluarga Zhou, membuat jantungnya berdegup kencang dengan liar.
Bahkan pada saat itu, ia telah merasakan ancaman kematian yang nyata. Hatinya bergemuruh hebat, dan ia langsung berlutut di lantai sambil bersujud dengan keras.
"Kepala Keluarga Zhou, maafkan aku. Kegagalan tadi sepenuhnya adalah kesalahanku. Seharusnya aku tidak bersikap terlalu berhati-hati dan ragu-ragu. Seharusnya aku langsung bertindak sesuai dengan instruksi Anda. Mohon beri aku satu kesempatan lagi, aku tidak akan mengecewakan Anda. Kali ini aku pasti akan menuntaskan misi Anda."
Kepala Keluarga Zhou terkekeh dingin. Menatap ekspresi si pria tambun, raut wajahnya perlahan berubah menjadi penuh teka-teki.
"Sebenarnya, ada satu cara yang kini berada di hadapanmu, tergantung pada apakah kau berani melakukannya atau tidak!"