Buku Pertama Bab 50: Kemiskinan di tengah keramaian tak ada yang peduli, kekayaan di pedalaman gunung punya banyak kerabat jauh.
Provinsi Jiangnan, Kota Jinling.
"Chen Kecil, kudengar kau sekarang sangat kaya. Belakangan ini desa sedang mengalami kekeringan, hasil panen tidak laku dijual. Bisakah kau meminjami Paman Kedua belas atau dua ratus ribu? Tidak banyak kok, nanti akan kukembalikan."
"Chen Kecil, keponakanmu mau menikah, dia harus membeli rumah di kabupaten. Hubungan kita dulu cukup baik, pinjami Bibi Sulung lima puluh ribu ya. Nanti kalau keponakanmu sudah punya uang, pasti dikembalikan."
"Chen Qi, aku, apa kau masih ingat? Dulu Jiang Chen, anakmu, pernah makan di rumahku. Rumahku sudah terlalu tua dan mau direnovasi, pinjami aku sedikit ya, tidak usah banyak-banyak, cukup lima puluh ribu saja. Kita kan tetangga lama."
Tengah hari, Chen Qi mengajak Jiang Mengyao pulang untuk makan siang. Baru saja tiba di depan pintu unit apartemen, mereka langsung dikerumuni sekelompok orang yang semuanya datang untuk meminjam uang.
Ia tidak tahu bagaimana orang-orang ini bisa tahu bahwa ia memiliki uang dan berhasil menemukan tempat ini.
Chen Qi mengerutkan kening tipis. "Maaf semuanya, uang itu milik anakku. Aku harus menyimpannya untuk biaya pernikahannya kelak."
Paman keduanya langsung melangkah maju. "Chen Kecil, sikapmu ini tidak benar. Kita semua adalah kerabat, saat ada kesulitan, masakan kau hanya diam saja?"
Bibi sulungnya buru-buru menimpali, "Betul! Keluargamu dulu miskin, kami bahkan pernah membantumu. Lagi pula, masih lama bagi Jiang Chen untuk menikah, usianya masih berapa."
Tetangganya tersenyum dengan nada menjilat. "Chen Qi, kita sudah bertetangga selama sepuluh tahun, kan? Jiang Chen dan anakku dulu tumbuh besar bersama, memakai celana pendek yang sama. Kau tidak boleh menolak untuk membantu urusan ini."
"Ada juga aku, aku bibi kecilmu, kita..."
"Aku..."
Anggota keluarga jauh lainnya juga berbondong-bondong maju untuk mencari hubungan kekerabatan, tujuannya hanya satu: meminjam uang!
"Pergi sana!"
Jiang Mengyao tiba-tiba menerobos maju dengan penuh amarah dan mengusir orang-orang tersebut. Ia mendelik ke arah paman keduanya. "Paman Kedua? Aku ingat selama beberapa tahun kakakku mengulang ujian sekolah, kau tidak sedikit pun berhenti mengejek keluarga kami. Kau bilang kakakku bodoh, selamanya tidak akan bisa lulus kuliah, dan sudah hancur. Kau bahkan memanfaatkan saat ibuku tidak ada di rumah untuk merampas semua ladang kami, benar kan?"
"Dan Bibi Sulung."
Sambil berbicara, ia menoleh ke arah bibi sulungnya. "Waktu aku masih kecil dan keluarga kami miskin sampai tidak ada makanan, ibuku memohon pinjaman sepuluh rupiah kepadamu, tetapi kau memarahi ibuku seharian penuh sebelum akhirnya meminjamkan satu rupiah. Tidak sampai beberapa hari, ibuku bahkan sudah mengembalikannya beserta bunga satu rupiah! Kerabat macam apa kau ini."
"Lalu Bibi Wang."
Jiang Mengyao menatap tetangganya itu. "Dulu kau sering menyuruh anakmu numpang makan di rumah kami. Jelas-jelas kami lebih miskin daripada keluargamu, tetapi kau selalu datang untuk memanfaatkan kebaikan kami."
"Ada lagi Bibi Kecil, uang saku yang dikirim ibuku untukku, kalian curi dari Kakek! Kalian mau pinjam uang? Jangan harap!"
Ia menatap orang-orang itu dengan penuh kemarahan.
Selama tujuh tahun sejak Chen Qi membawa Jiang Chen bersekolah di Kota Jinling, ia tetap tinggal di kampung halaman di Prefektur Huizhou.
Ia sudah sejak lama melihat dengan jelas sifat asli dari kerabat-kerabat ini!
Paman keduanya langsung menegakkan punggung dan memasang sikap sok tegar. "Anak kecil sepertimu, kenapa bicara sembarangan? Aku berkata begitu karena aku gemas kalian tidak kunjung sukses, tahu tidak? Aku ini peduli pada kalian."
Bibi sulungnya membelalakkan mata. "Anak sialan, sekarang sudah di kota jadi berani melawan, ya? Kalau bukan karena keluargaku yang menolong keluargamu dulu, kalian bertiga sudah mati kelaparan!"
"Betul, betul! Ayahmu mati muda, kalau bukan karena bantuan kami, bagaimana kalian bisa bertahan hidup? Gadis kecil yang tidak tahu balas budi."
"Semuanya."
Chen Qi melindungi Jiang Mengyao—yang masih ingin berbicara—di belakang punggungnya. Ia menatap orang-orang itu dengan ekspresi lelah dan berkata, "Uang anakku, aku sama sekali tidak akan menyentuhnya. Aku ada sedikit tabungan pribadi, itu bisa kupinjamkan kepada kalian."
Mendengar itu, paman keduanya langsung tidak terima. Ia membelalakkan mata dan membentak dengan marah, "Tabunganmu? Berapa banyak uang yang bisa kau simpan? Kau hanya seorang staf kantor biasa yang mengandalkan gaji tetap, bisa punya uang berapa banyak memangnya? Yang kuminta itu ratusan ribu!"
"Apa maksudmu uang anakmu? Bukankah uang Jiang Chen sama dengan uangmu? Jangan mencari-cari alasan, ya. Bagaimana mungkin seorang anak SMA seperti Jiang Chen bisa mencari uang? Kalau tidak mau meminjamkan pada kami, katakan saja terus terang!"
Bibi sulungnya berkacak pinggang, menunjuk tepat ke hidung Chen Qi, dan memaki dengan keras, "Sudah punya uang sekarang sampai-sampai tidak mengakui kerabat sendiri, hah? Tidak tahu malu!"
Pada saat ini, para penghuni lain di kompleks perumahan tersebut mulai mendengar keributan dan berkerumun mendekat.
"Staf kantoran biasa, bagaimana bisa mendapatkan jutaan? Ck ck, jangan-jangan menggunakan cara-cara kotor."
"Siapa tahu, sekarang demi uang, apa sih yang tidak bisa dilakukan orang?"
Mereka berbisik-bisik di antara sesama warga.
"Kau benar-benar tidak mau meminjamkan? Kami ini kerabat sesama desa, sengaja datang jauh-jauh menjengukmu, tetapi kau tidak mau membantu?"
Paman kedua menatap tajam ke arah Chen Qi dengan nada penuh ancaman.
Sekelompok orang yang datang ini berjumlah lebih dari belasan orang, dan mereka semua berasal dari desa yang sama.
Chen Qi menggelengkan kepala dengan tegas. "Tidak!"
Bukannya ia pelit, bukan pula ia tidak mau membantu sesama warga desa, apalagi karena ia menyayangkan uangnya.
Melainkan karena dulu sewaktu di kampung, ia selalu dikucilkan dan dibicarakan di belakang oleh mereka.
Hanya karena ia berolek cantik!
Seorang janda cantik di desa yang membesarkan dua anak sendirian, orang lain tidak akan pernah bisa membayangkan betapa berat terpaan gosip dan fitnah yang harus ia tanggung!
Berbagai macam rumor dan caci maki tidak pernah berhenti.
Meskipun kerabat-kerabat itu tidak mengatakannya secara terang-terangan di depan umum, justru merekalah yang paling giat menyebarkan gosip terburuk di belakangnya!
Belakangan, saat Jiang Chen berprestasi dalam belajar, mereka masih berpura-pura bersikap baik di permukaan, sampai akhirnya Jiang Chen gagal lulus ujian masuk universitas setelah mengulang empat tahun.
Mereka pun berhenti berpura-pura sama sekali!
Adapun Jiang Mengyao, nilai akademiknya selalu cemerlang.
Namun, baik warga desa maupun kerabat menganggapnya hanya seorang anak perempuan yang kelak pada akhirnya akan menikah dan pergi dari keluarga, sehingga mereka tidak pernah menganggapnya penting.
Bukan hal yang mudah bagi mereka bertiga untuk bertahan hidup hingga hari ini. Bisa dibilang, satu-satunya orang yang benar-benar pernah membantu mereka hanyalah sang Kakek.
"Bagus, bagus sekali."
Bibi sulungnya tertawa karena geram. "Kudengar kau punya jutaan, huh? Kau seorang staf kantoran biasa, bagaimana bisa menghasilkan jutaan? Jangan-jangan kau mengandalkan sedikit kecantikanmu untuk merayu bosmu, ya."
"Benar, betul sekali."
Tetangganya menimpali, "Dulu di desa juga tidak tahu diri, kerjanya mau menggoda suamiku saja, cih! Sudah kpergoki beberapa kali, perempuan tidak tahu malu! Begitu sampai di kota pun sifatnya tidak berubah."
"Betul, betul, dia juga pernah menggoda suamiku. Aku sudah sejak dulu melihat bahwa perempuan ini tidak benar, memang watak asalnya sulit diubah."
Melihat Chen Qi tetap tidak mau meminjamkan uang, warga desa dan para kerabat itu pun berhenti berpura-pura.
Mereka semua melontarkan caci maki dengan murka.
"Wah, kalau boleh jujur, kalau aku pun pasti akan memilih janda Chen itu. Jauh lebih menarik daripada sekumpulan wanita desa di sana."
"Kau tidak takut tertular penyakit? Belum dengar apa kata mereka tadi, perempuan itu tidak benar."
"Makanya, coba pikirkan. Seorang janda cantik yang bekerja sebagai staf kantoran, tiba-tiba punya jutaan rupiah, apa itu masuk akal?"
"Tentu saja tidak masuk akal, pasti jadi simpanan orang."
"Betul juga ya, ada benarnya juga katamu."
Para penghuni kompleks kembali berbisik-bisik.
Semua orang berpendapat bahwa seorang karyawan perusahaan biasa mustahil bisa memperoleh uang jutaan dengan cara yang halal.
Itu adalah akal sehat.
Oleh karena itu, kalau tidak melanggar hukum, pastinya ia telah melakukan hal-hal yang melanggar batas moral!
Di mata mereka, Chen Qi persis seperti apa yang dikatakan oleh warga desa dan para kerabatnya.
"Kalian semua bicara omong kosong!"
Jiang Mengyao memelototi seluruh orang yang hadir. "Ibuku bukan perempuan seperti itu! Uang itu adalah hadiah dari sekolah untuk kakakku!"